KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Surat Cinta

Otot pundak Dhani terasa kaku ketika beranjak dari kasur. Suara adzan di samping rumahnya seperti bel alarm yang diputar orang untuk membangunkannya dari tidur. Ia tak punya jam wecker. Jam dinding pun tak menempel manis di dinding kamarnya, namun karena suara adzan itu, Ia tahu jam berapa sekarang. Malam tadi tidurnya tak nyaman, bayangan seorang gadis telah menjadi mimpi indah sekaligus mimpi buruk baginya.

***

Saat ini Dhani lagi mendengarkan beberapa lagu dari programp winamp komputer sambil bermain game, hampir setiap pagi Ia melakukannya. Di sampingnya dering bunyi HP hampir tak bisa mengalahkan suara musik, namun karena getarannya menganggu layar komputer, Ia jadi tahu ada sms masuk, “Dhan, gue tunggu lo di halaman parkir motor kantor Pak Jayusman”. SMS itu datang dari teman kampusnya yang kebetulan satu bimbingan skripsi dengannya, di layar ponsel tercantum nama Iwan, “Jam berapa???”, Dhani membalas sms.

Selang beberapa detik, “sekarang juga”.

Waktu di komputer terlihat angka 08.35 AM. Ia bergegas mandi. Iringan lagu System Of Down mirip tanjidor yang disewa untuk mengiringi pengantin pria dalam acara perkawinan adat betawi. Kemeja merah diserasikan dengan celana katun berwarna hitam. Ia pakai gel rambut pendeknya yang mirip cepak, namun atasnya dicukur jig jag, “Rapih tapi gaul”, Ia bicara sendiri saat memandangi wajahnya yang putih di cermin.

***

“Wan ko masih nongkrong, kenapa gak masuk?”, tanya Dhani setelah dibukakan pintu gerbang kantor oleh satpam.

“Lagi rapat dosennya. Lu lama banget sih?, jawab lelaki sebaya dengan dia berusia 22 tahun, mengenakkan kemeja kotak-kotak dengan warna biru mendominasi, rambutnya mirip bintang film mandarin, Andy Lau. Nampak kemilau minyak di rambut Iwan, Ia sisir rapih belah tengah.

Sorry, waktu lu sms guanya belum mandi”, Dhani duduk seperti yang dilakukan Iwan, di atas motor yang sedang berjajar rapih. “Masih lama rapatnya?”, lanjutnya.

“Gak tau, tanya tuh ama satpam”.

Matahari di kantor sang dosen tak terasa mulai menampakkan keasliannya. Ia buat Dhani dan Iwan mengeluarkan keringat, setelah itu dibuatnya perasaan keluh dan kesah di antara mereka. Dhani bilang, “Aghhh… lama lagi”. Lalu Iwan bilang, “Aduh… gerah lagi”. Kemudian mereka memutuskan, “Gimana nih???, entar aja lah bimbingannya”.

Namun sebelum keputusan yang mereka buat, ada banyak obrolan yang terjadi :

“Lo kemana aja, gua ke rumah, lu suka gak ada?”, kata Iwan.

“Main ke rumah teman SMU gua”, jawab Dhani.

“Ngapain???”.

“Liat Juniar”.

“Juniar, siapa tuh?”.

Dhani menatap langit, “Rambutnya panjang dan lurus kalo orang-orang iklan tau mengenai rambut nih cewe, mereka akan narik dia jadi model iklan sampo, trus wajahnya putih dan mereka pun akan menariknya jadi model iklan pemutih wajah. Duduknya anggun, bila tersenyum Ia akan mengeluarkan lesungan di pipinya. Saat itu doi pake baju hitam, celananya hanya sampe lutut, nampak putih bagian tubuh dari lutut ke bawah. Gua tergoda!!! Gak tau kenapa?, biasanya gua kalo liat cewe dengan cara pandang itu, cewe tuh akan mudah lenyap dari otak gua. Tapi dia kok nggak yah?”, Ia menuturkan.

“He heh… perasaan lu dah kena kayaknya, mengenai cara pandang lu itu, biasa lelaki kalo lagi bete (birahi tinggi)”, Iwan merespon.

“Gua jatuh cinta wan ama cewe itu, tapi gua gak berani ngungkapkannya, gua malu. Dan gara-gara ini gua jadi susah tidur. Aduh!???!”.

“He heh… kayak anak SMP aja lu mah, lu tuh udah dewasa mau jadi sarjana masih malu katakan cinta”.

“Soalnya gua baru kali ini jatuh cinta”.

“Wah!!!, emang lu hidup di hutan yah?, gak da cewe yah di sana?”

“Sialan lu, gua serius”.

“Dik Dhani, lebih baik adik mengatakan isi hati adik pada gadis itu, karena bila tidak diungkapkan akan berbahaya”, saran pria berusia 30 tahun dengan seragam putih birunya, di atas saku baju sebelah kiri tertera tulisan, Kosin Dirgantara, dan di pinggir saku celananya terdapat pentungan. Satpam itu mendengar obrolan mereka. Ia berdiri berjarak satu tangan.

“Maksudnya Pak???”, Dhani tak mengerti.

Pak satpam memandang langit lalu berkata, “cinta… katanya dunia jadi cerah karena cinta, tapi bagi saya kelam. Saya cinta pada teman sekampus saya waktu kuliah  dulu tapi saya gak berani ngungkapkannya. Memang saya juga merasakan cerahnya cinta, saat saya melihatnya. Liat dia tertawa, liat dia lagi bete karena dosen mata kuliah yang disenangi gak ada, Ah pokoknya dia indah banget, dan memang namanya Indah. Tapi selepas itu hari-hari saya kelabu, ngebathin terus”.

“Lalu bahayanya di mana pak?”, tanya Dhani.

“ya… karena saya malu mengatakan bahwa saya mencintainya, saya jadi menderita. Hampir lima bulan perasaan saya pendam. Gak bisa makan, gak bisa tidur, trus saya gak bisa konsentrasi dengan pekerjaan-pekerjaan saya selaku mahasiswa tingkat akhir yang lagi nyusun skripsi. Dan akhirnya…”, Pak satpam terhenti sejenak karena mau ambil nafas dalam-dalam.

“Apa pak???”, Dhani penasaran.

“Iya, apa pak?”, Iwan juga penasaran namun tak sepenasaran Dhani.

“Adik-adik liat!”, Pak satpam sambil menunjuk dirinya. “Saya jadi seperti ini, saya gak lulus ujian. Untung saya punya perawakan yang tinggi, hingga saya bisa jadi satpam”.

***

Dhani termenung. Di tatapnya langit-langit kamar. Posisi tubuhnya mirip seseorang yang lagi berjemur di pantai. Sebelumnya seperti biasa bila ada di kamar Ia nyalakan komputer, dikliknya lagu-lagu dari Dewa 19.

Bukan perkara bimbingan yang tak jadi yang dipikirkannya, karena proposal skripsi itu Ia titipkan pada Pak satpam dengan harapan dapat dibaca oleh dosen pembimbingnya. Dosennya seorang kepala salah satu dinas pemerintahan Indonesia, rapat sudah menjadi biasa seperti makan dan minum bagi makhluk hidup, makanya selalu sibuk. Namun perkataan Pak satpam yang Ia pikirkan, “Karena cinta yang dipendam merusak cita-cita Pak Kosin dan orang tuanya”. Pak Kosin bercita-cita ingin jadi dokter, namun diakhir perjalanannya meraih gelar tersebut, Ia gagal.

“Gua harus mengatakannya, tapi gimana caranya?, bisik hatinya. “Kalo nembak langsung, gua gak bakalan sampai pada kata cinta, soalnya jantung gua langsung loncat duluan. Aduh!???!”.

Terbayang olehnya adegan saat Ia masih duduk di bangku SMU. Ada seniornya yang mengatakan cinta dengan memberinya sebuah poster Dewa 19. Ada juga juniornya yang mengutarakan isi hati kepadanya lewat sebuah lagu. Mereka nembak Dhani langsung di hadapannya. Trus ada juga adegan saat Ia menerima sebuah surat cinta dari pemuja rahasianya. Keahliannya menulis di mading sekolah membuatnya cukup dikenal dan dipuja para gadis, selain itu Ia juga tampan. Namun karena sifatnya yang pemalu menjadikannya ngejomblo sampai saat ini.

***

Assalamualaikum Wr. Wb.

Teruntuk Juniar

Juniar yang baik, mohon maaf bila Dhani lancang telah menulis surat ini. Ada satu kepentingan Dhani pada Juniar, mengapa sampai Dhani melakukan ini. Entahlah Juniar, mengapa Juniar selalu hadir lewat bayang-bayang yang ditampilkan oleh memory otak Dhani. Dan karena ini Dhani berkesimpulan bahwa Dhani mencintai Juniar.

Duduk anggunnya Juniar. Kata, “Waalaikumsalam”, yang Juniar ucapkan ketika Dhani dan teman Dhani bermain ke rumah Juniar. Itulah Film yang digambarkan oleh langit-langit kamar. Dan film ini telah menghiasi keseharian Dhani tiga minggu ke belakang.

Karena itulah Dhani ingin film itu menjadi sebuah kenyataan bukan hanya mimpi bagi Dhani. Supaya film itu menjadi kenyataan maka Dhani ingin mengatakan bahwa, “Aku cinta kamu Juniar, maukah Juniar jadi pacarku???”.

Jawaban Juniar merupakan wujud dari, apakah film itu menjadi kenyataan atau hanya cuman mimpi???, sekali lagi Dhani tekankan, Dhani memohon pada Juniar untuk menjawabnya.

Dan apapun nanti jawaban yang diberikan Juniar, Dhani akan menerimanya. Juniar jawabnya terserah juniar yah, namun Dhani punya solusi buat Juniar. Juniar bisa menghubungi atau sms ke no xxxx xxx xxxxx. Terima kasih!!!

Wassalam

Dhani

***

“Dhan, sekarang bimbingan gak?”, pesan sms dari Iwan.

“Besok aja, hari ini gua mau ke kantor pos”, pesan jawaban Dhani.

Pagi yang cerah. Dhani berada di kantor pos. Ia tuju pegawai yang lagi duduk sementara di atas kepala si pegawai tergelantung papan bertuliskan surat kilat. Kantor pos lagi kosong antrian. Ia seperti kendaraan yang masuk jalan tol, bebas hambatan untuk mengeposkan sebuah surat.

“Pak kilat?”, kata Dhani.

Lelaki yang mirip Mike Tyson tapi kulitnya putih itu hanya mengangguk. Karena anggukannya Dhani tak sungkan untuk memberikan surat kepadanya.

Kebanyakan seseorang bila sedang ngeposin surat, hanya menghabiskan waktu kurang lebih lima menit sampai proses pembayaran. Beda dengan Dhani yang menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh menit sampai proses pembayaran. Ini disebabkan karena pegawai pos memberikan lima menit tambahan seperti wasit yang memberikan injury time dengan berbagai pertanyaan kepadanya. Setelah berbagai jawaban diberikan Ia kepada pegawai itu, si pegawai hanya bisa berkata, “Oh gitu yah”, dan tersenyum.

***

“Pagi ini gua tunggu lo di kantor pa Jayusman jam tujuh”, sms dari Iwan untuk Dhani.

Satu hari sudah surat itu melayang. Karena dikirimnya secara kilat, diperkirakan surat itu telah sampai pada tujuan, namun sampai saat Ia melangkahkan kakinya menuju kantor Pak Jayusman, Ia belum mendapatkan balasan dari suratnya. Akibatnya keresahan hati yang selama ini melanda belum terobati.

“Wan dah lama, ko masih nongkrong sih?”, kata Dhani yang baru dibukakan pintu gerbang oleh satpam, Ia melihat Iwan duduk di atas motor yang sedang parkir.

“Lo liat itu!”, jawab Iwan, pengucapannya kurang tegas. Ia menunjuk kumpulan yang telah terancang dengan baik dan rapih mirip upacara bendera yang dilakukan anak-anak sekolah di senin pagi. Kumpulan itu tepat berada di hadapannya berjarak sepuluh meter.

“OooHhh… masih apel pagi”, Dhani merespon lalu duduk di atas motor samping Iwan.

Iwan nanya pada Dhani, “Ngapain lo ke kantor pos?”, belum sempat menjawab Dhani melihat apel sudah beres dilaksanakan. Lalu Ia bergegas pergi menuju Pak Jayusman berada, tapi sebelumnya Ia sempat menepuk bahu Iwan dan berkata, “Ayo cepet, apelnya udah selesei”.

Baru tiga langkah kaki mereka berjalan. Mereka melihat pak Jayusman lagi ngobrol dengan bawahannya. Mereka berhenti. Mereka memperhatikan pak Jayusman dari jarak tujuh meter.

“Penting gak yah obrolan mereka?”, kata Iwan.

“Sama aja lah kayak kita dulu SMU, pasti obrolan mereka gak jauh beda pentingnya sama…”, Dhani terhenti sejenak. “PR fisika lo udah belum?, gua nyontek yah, dan enak aja!!!, susah tau pelajaran fisika itu, gua juga belum, gimana bisa di contek, begitu jawab teman yang satunya lagi”, lanjutnya asal.

“Aghhh… ada-ada aja lu mah, tapi bisa jadi juga, Iya lu ke kantor pos ngapain?”.

“Ngeposin perasaan gua”, jawab Dhani. Belum sempat Iwan merespon Ia sudah mengatakan sesuatu lagi, “Cepet Wan, pa Jayusman udah masuk ke ruangannya”.

***

Dhani menggaruk-garuk kepalanya mirip seekor kera yang kepalanya di gerogoti banyak kutu, namun punggungnya tak digaruk. Ia kena marah sama dosen pembimbingnya melalui perkataan, “Anda ini gimana, serius tidak sama skripsinya, inikan proposal yang sudah saya corat-coret latar belakangnya”.

Mereka baru saja keluar dari sarang harimau (bagi Dhani), sambil berjalan kaki, “Parah lu mah, masa yang gitu aja lupa”, kata Iwan.

“Ga tau nih, parah… parah”, jawab Dhani dengan muka mendung.

“Iya, ngeposin perasaan, maksud lo?”, Iwan kembali menanyakan keperluan Dhani pergi ke kantor pos dengan harapan Dhani menjawab untuk melupakan kejadian tadi.

Masih dengan muka yang tertutup awan, “Surat cinta”, jawab Dhani lirih.

Dari jarak tiga meter Pak satpam melihat mereka, “Pagi adik-adik, gimana bimbingannya?”.

Iwan menjawab dengan senyuman. Sementara Dhani menjawab dengan bertanya, “Pak, bagaimana Indah?”.

“Ia sekarang jadi Ibu dari anak saya, Cecep Dirgantara”, jawab Pak satpam.

Mendengar itu Dhani tersenyum, wajahnya seperti perubahan cuaca yang mendadak dari cuaca kelam jadi cuaca cerah.

***

Tinggalkan Komentar