KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Perempuan di Kursi Belakang

perempuan di pinggir jalan melambaikan tangan. tubuh semampai berdiri limbung, begitu rapuh pada hembusan angin. kau menepikan mobilmu. antarkan aku ke bandara. kau tersenyum mengangguk, mengaktifkan argo. derum pelan awal malam. akhir pekan dengan warna-warna akrilik. kau melirik wajahnya di cermin mobil. satu di antara perempuan tercantik yang pernah kau temui. kau bersukur bahwa bandara berada cukup jauh di pinggiran kota. bola mata yang besar. geraian rambut yang menutupi hampir seluruh keningnya menampilkan bayang mata yang seolah hanya berisi hitam. bias lampu bertebaran masuk di antara kalian berdua. kelam dan cahaya silih berganti. kau menyalakan tape. biasanya mereka cukup sepakat dengan jazz, meski mungkin agak terasing. melodi ringan david benoit. we were two survivors. drifting in the sea. ia tidak berreaksi. mungkin ia tidak peduli. kau berpikir tidak seharusnya kesedihan merenggut irama yang menghampirimu. kau mengingat petak kecil kamar kontrakanmu, tumpukan kertas, ampas kopi di gelas. asbak dengan kerak hitam beraroma pekat. kau bertanya-tanya apakah ia cukup tekun merapikan rumah. mungkin tidak. ia tampak cukup kaya untuk memiliki pembantu. keluarga muda menyeberang jalan dengan anak perempuan menggenggam balon gas. karnaval malam tengah singgah di kota ini dengan tenda-tenda berwarna meriah. tawa yang lindap menusukmu. ia memintamu mematikan pendingin udara. ia berkata ia tidak tahan dingin. kau berpikir kau menyukai dingin, serupa sepi yang dikristalkan. tapi ia tidak mendengarmu. tentu saja. dan kau terus berbicara dengan dirimu sendiri perihal kebisuan dan ketidakjumpaan. langit yang dikosongkan dari pandangan wajah-wajah diterpa cahaya lampu etalase dan geram knalpot. kau berkata kau tengah berada di ambang gumpalan yang akan meledak setiap saat. kehidupan tengah mengalir menuju titik terdalamnya. sejawatmu yang berbicara tentang uang setoran dan rumah yang pengap. menunggu penumpang dengan berselonjor di jok mobil, nomor togel, pelacur tengah malam. dan kau sarjana sastra yang tersesat di belantara jalan dan cahaya bulan diperangkap gelap. 

dering telepon genggam di tas kecil yang ia bawa. ia menatap mungkin sebuah nama di layar telepon. menghembuskan nafas dalam dan meletakkan telepon itu di sampingnya, membiarkan nada potongan lagu klasik itu terus bernyanyi dengan suara polyphonic yang kekurangan bas. kau melirik wajahnya. kerut alis mata dengan tatapan kosong, dunia bergerak tanpa seorang hadir di sana. setelah sekian lama akhirnya dering itu berhenti. seorang akan pergi. seorang mungkin tidak ingin kembali. ia menurunkan kaca pintu di sampingnya, membiarkan hembus angin masuk, berusaha meraih sesuatu. lampu jalan menyala merah. bocah ingusan dengan gitar kecil dan lirik lagu yang sekenanya. cinta yang tidak pernah sampai. kau tertawa pelan dengan nyeri di ulu hati. ia menatapmu, mungkin ingin mengerti. kau menatap lurus dengan jengah. mengalihkan perhatian pada tape yang menyanyikan fourplay. dance with me, come on dance with me. menarilah menuju ketiadaan. apa yang akan kau lakukan.

lampu jalan menyalakan hijau. berderam sekian mesin dengan roda-roda mendengus aspal. ia bertanya berapa lama lagi ke bandara. kau berkata mungkin sekitar dua puluh menit. ia nampak cukup puas. tapi kemudian ia seperti teringat sesuatu.

ia meraih telepon genggam di sampingnya. menunggu seorang akan menjawab.

sebisanya ia berusaha meneduhkan suaranya dari kalut.

aku akan sampai tengah malam. ajak om menjemput aku di bandara.

ya? yang seperti apa?

nggak tahu. aku lihat bila aku sempat mencari di sini.

aku nggak bisa janji. sabar ya.

lagi apa sekarang?

jangan nonton film terus. sudah belajar?

ok, tunggu tidak terlalu lama lagi ya.

dah, sayang.

kau bertanya-tanya apakah ia sudah memiliki anak. kau berpikir sepantasnya seorang untuk berbahagia. kau tersenyum kecut.

ia bertanya bila kau bisa mengantarnya ke toko mainan. ia harus membeli oleh-oleh untuk keponakannya. tapi kita harus keluar dari arah menuju bandara. tidak apa-apa. masih ada waktu. kau menurut, dan kau senang untuk kebersamaan ganjil yang lebih panjang. di sebuah pertigaan kau membelokkan mobilmu. gerimis mulai turun. orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. berteduh dari alam yang bernyanyi dengan bahasa yang tidak dimengerti. kau tercenung pada air yang merembes di kaca. mengaburkan lanskap dan cahaya lampu pecah dalam gradasi kasar. kau merasa ingin menyanyikan sebuah lagu dari masa lalu, daun-daun yang bersemadi di atas tanah. air yang memercik bersama butiran debu. tapi kau menyadari keberadaan seorang yang tidak kau kenal di kursi belakang mobilmu. seorang dengan kediaman yang berkabut seperti menyatu dengan lanskap yang mengabur. seorang yang tidak kau kenal meski kau merasa tidak asing dengan kesunyian. rambut lebatnya tergerai di bahu, lembab dalam udara. jemari saling bertemu dalam sidekap tangan. di luar kerumunan berdiri di bawah teras rumah dan etalase menyalakan manekin-manekin bisu. wajah-wajah yang tidak saling menatap. semua orang menatap kepada horizon, selalu menepi dari kekinian.

di depan sebuah pertokoan kau menepikan mobilmu. ia berkata ia tidak akan lama. ia berkata ia tidak tahu apa yang ia cari. ia tidak terlalu mengerti anak-anak. kau keluar dan bersandar di bagasi mobilmu hanya untuk melihatnya lebih jelas. kau menyalakan rokok yang sudah meminta-minta sejak tadi. gerimis masih tersisa dengan irisan air begitu tipis mengembuni rambutmu. jam delapan kurang. malam masih panjang. kau melihatnya memilih-milih boneka yang tersusun di rak. sesekali membetulkan syal yang mengelilingi lehernya. jeans hitam dan jaket setinggi lutut. kau menatapnya seolah ia bukan dari dunia yang kau kenal. komposisi yang tersusun dari musim gugur dan salju putih yang sepi. kau berpikir tidak ada salju di negeri ini. matanya memancarkan binar yang belum kau lihat sejak pertama ia masuk ke mobilmu. boneka-boneka itu mungkin mengingatkannya pada sesuatu. tapi sedih yang menyelubunginya terlalu berat, tidak terhapus oleh bayangan seorang anak kecil di sebuah kota yang jauh.

ia masih berputar-putar bingung. menatapi warna-warna ceria dengan tembok toko putih tanpa kejutan. kau berpikir kakinya terlalu panjang. rok panjang akan lebih sesuai untuknya. kau agak salah tingkah ketika ia sepintas menatapmu. mungkin ia butuh bantuan atau berusaha menyampaikan maaf. kau berkata kau menikmati ini. gunakanlah waktumu. kau berpikir untuk mendatanginya, sekedar menyampaikan pendapatmu, tapi kau urung. akhirnya ia mengambil boneka seekor buaya setinggi anak umur enam tahunan, dan seekor panda kecil. kau tersenyum akan kejenakaan pilihannya. kau berpikir hidup masih bisa diselamatkan. selalu ada peluang untuk sedikit keceriaan bahkan bila itu hanya remah-remah. setelah membayar di kasir ia berjalan bergegas menghampirimu. kau mematikan rokokmu, tersenyum kecil mengatakan bahwa boneka buaya itu adalah pilihan yang bagus, bisa menggantikan guling yang terlalu konvensional untuk anak kecil. ia tersenyum tipis, mengatakan bahwa ia memikirkan hal yang sama.

derum mesin kembali menyusuri jalan. orang-orang kembali bergerak seusai hujan. malam minggu yang dikembalikan kepada gegap. dua pasang remaja melintas dengan raung motor dan gelak tawa. suara-suara yang berjarak dari ruang kemudimu yang dingin. lenny mc dowell dengan beat electric. ain’t no sunshine when it’s cold. tidak ada bulan ketika lampu-lampu dinyalakan. badut-badut melontarkan kembang kertas. kau merasakan dingin itu kembali tertebar dari seorang yang duduk di kursi belakang. kau menghirup pelan aroma parfum tipis yang memancar dari tubuhnya. kau tidak tahu banyak tentang wanita dan semua atributnya, tapi kau berpikir harum itu mengingatkanmu pada gelepar hutan ketika udara kemarau perlahan beranjak menuju malam. segala semadi yang merekah dalam gelap dan jiwa-jiwa yang letih berlindung di antara lengking serangga.

telepon genggam kembali menyanyikan panggilan seorang. ia mengerutkan kening, menatap kosong pada sebuah nama di layar telepon. jemari yang beku berusaha bertahan sebisanya. ia mengerutkan tubuhnya ketika mendapati kau tengah menatapnya dari kaca spion di atasmu. berusaha untuk menyembunyikan gemuruh yang menggelapi wajahnya.

ya.

aku pergi. jangan menunggu aku.

jangan bertanya. aku tidak akan kembali.

jangan katakan itu. sudah cukup.

sudah cukup. tidak ada lagi.

ada yang meruak di antara suaranya. sedan yang coba ditahan.

jangan. semuanya sudah aku siapkan.

tidak perlu. tidak ada yang harus kutanggung dari waktu di belakangku.

tidak ada.

mungkin sedikit hujan, dan…

ada yang tertinggal di beranda.

sesuatu ditanam di antara bunga-bunga kecil.

akan tumbuh, mungkin

entahlah, sedikit menengadah pada matahari.

akan datang.

dari sebuah arah.

entahlah

di sebuah lingkar.

akan terhapus.

aku tidak ada di sini.

suara itu berhenti. dan sepi bahkan semakin dalam, tidak tertutup oleh alunan tape menyanyikan via nueve. kau menatap kosong pada jalan di depanmu, merasakan dirimu tengah terhenyak takjub di antara deretan bangku di kegelapan, menatap pada sebuah sorot lampu di sebuah panggung yang mengapung di kejauhan.

kau telah melewati batas kota. menyusuri jalan lengang dengan bus-bus antar kota berkejaran. sepuluh menit lagi untuk sampai ke bandara. pohon-pohon beringin dan randu berlarian di tepi trotoar. sorot lampu kebas dalam hitam. kau mematikan tape. membiarkan sepi sempurna melingkupimu. hanya derum mobil mendengungkan hilang.

melewati gerbang bandara, kau menghentikan mobilmu di tempat parkir. ia bergerak keluar begitu tenang seolah telah mengetahui segala ihwal jalan dan ketidakjumpaan. kau menawarkan diri untuk membawakan barangnya. ia mengucapkan terima kasih. tidak perlu.lagi pula tidak banyak yang ia bawa. tas kecil dan dua boneka di pelukannya. kau gugup oleh sesuatu ketika ia menyodorkan lembaran uang. melangkah perlahan memasuki pintu bandara. kau menatapnya berjalan setengah melayang, hilang di balik pintu. kau menengadah pada langit gelap. menyalakan rokok. mencari-cari sebuah nama yang sesuai untuknya.

Tinggalkan Komentar