My Prince
November 17th, 2007 by meutiafitrihasan
“Tita!!!!!!Bangun!!!!!”
“I,Iya Tante,”
“Kamu mau sekolah gak sih!”
Hmmm!Pagi yang sama.Seperti pagi-pagi sebelumnya. Hari yang membosankan,tapi harusnya aku bahagia. Toh,masih banyak orang lain yang nasibnya lebih parah daripada aku. Tapi, mereka tetap semangat untuk hidup.Jangan mau kalah Tita!Dengan terburu-buru, akhirnya aku sudah siap dengan baju seragamku dan seluruh keperluan sekolahku.
“Pagi Tante,”
“Pagi Tita, eh Tante buatin nasi goreng buat kamu, ntar kamu sakit kalau gak makan, ayo dihabisin,”
“Makasih Tante!”
Tante Lisa, dialah yang merawatku setelah kedua orang tuaku meninggal. Kedua orangtuaku adalah konglomerat. Mereka berdua meninggal dalam kecelakaan pesawat. Sebenarnya adikku Andrea juga ikut dalam penerbangan hari itu. Dan ia pun terkena dampaknya.
“Mana adikmu, sepertinya ia belum bangun. Cepat bangunkan dia. Nanti nasi gorengnya keburu dingin”
“Iya Tante”
Aku segera beranjak ke kamar adikku. Kulihat dia sedang tidur pulas. Kasihan dia. Akibat kecelakaan pesawat itu, kedua kakinya harus diamputasi. Karena itu juga, dia tidak mau sekolah lagi. Aku mengerti perasaannya. Dia masih terlalu kecil untuk mengalami semua ini. Sebenarnya mungkin kalian bertanya-tanya, untuk apa aku menumpang di rumah Tanteku. Sementara aku seorang anak konglomerat. Setelah kepergian kedua orangtuaku, seluruh keluarga besarku memperdebatkan warisan mereka. Walaupun di surat wasiat tertulis bahwa yang berhak menerima warisan itu adalah aku, TIFANY JORDICK, dan adikku ADRIANA ANDREA JORDICK. Mereka tetap saja keras kepala. Mereka malah membujukku untuk tinggal di rumah mereka dan membagi warisan itu dengan mereka. Namun, aku memutuskan untuk tinggal di rumah Tante Lisa, yang merupakan satu-satunya keluargaku yang tidak rakus dengan harta dunia. Warisan itu, aku simpan di bank. Aku tidak mau memakainya sekarang. Aku tahu, suatu saat aku akan memerlukan uang itu. Aku pindah sekolah, menjadi anak biasa, tinggal dengan tante dan adikku di rumah yang sederhana.
“Kok bengong?” Tanya Tante Lisa.
“Gak papa Tante, Andrea masih tidur kok!” Jawabku.
“Tifa…..Tifa…mau barengan gak?” terdengar sebuah teriakan dari luar.
“Dave, “ pikirku.
“Tante, Tita pergi dulu ya, Dave udah nunggu”
“Hati-hati sayang….!”
Dave, temanku. Aku mengenalnya disaat Masa Orientasi Sekolah SMA Rajawali, SMA Favorit tempatku bersekolah sekarang. Ayah Dave seorang PNS, Ibunya tukang cuci.Dave sendiri sering bekerja sambilan.Kami berdua masuk sekolah itu karena beasiswa, karena itu senior-senior bersikap agak dingin dan beda terhadap kami berdua. Memoriku langsung melayang ke saat pertama kali kami bertemu.
“Nama loe siapa?”Tanya Dave
“Tifany Jordick, kalau loe?”balasku
“David Winarto, nama loe lucu ya. Pasti loe dipanggil Tifa di rumah. Kayak nama alat musik tradisional aja!Hahaha…”
“Enak aja, nama panggilan gue Tita!”
“Eh, kalian berdua. Ribut aja! Cepet lari keliling lapangan!”teriak salah satu senior
Akhirnya kami sampai di sekolah. Yah, seperti biasa semua murid disini ke sekolah naik mobil. Kami yang berjalan kaki sering jadi sasaran. Dan hal itu terjadi lagi. Tiba-tiba sebuah mobil Honda Jazz warna Pink lewat, mobil itu ngebut sekali dan melewati genangan air disebelah kami. Bisa ditebak, kami berdua basah kuyup terkena cipratan genangan air itu. Shasa, sang pemilik mobil membuka spion mobilnya dan berkata:
“Sorry ya, gue gak tahu kalian disitu!Makanya, kalo kere gak usah sekolah disini!”teriak Shasa.
Setelah itu, kami berdua terlambat masuk sekolah karena harus ke toilet, untuk membersihkan noda-noda di baju kami. Ketika masuk kelas kami berdua dimarahi Bu Nadia, guru Matematika kami.
“Alasan tuh Bu!Mereka berdua itu pacaran dulu tadi! Makanya telat,” Jawab Shasa
“Bukannya loe yang nyiprat kami sampe kami telat karena harus membersihkan noda-noda di baju kami!Gak usah nyari kesalahan orang dong!” Jawabku kesal
“Ya,udah kalau kalian berdua bisa mengerjakan soal di papan tulis ini, kalian boleh duduk,” kata Bu Nadia sambil memberikan spidol kepada kami berdua. Karena kami berdua adalah pemenang Olimpiade Matematika tingkat nasional, tentu saja ini bukan hal yang sulit. Awas kau Shasa!Kubalas kau nanti!Sepulang sekolah kami berdua langsung pergi ke tempat kerja kami, sebuah toko Pizza yang terkenal. Kami berdua kerja part time sebagai pelayan. Ketika bekerja kami berdua melihat wajah yang tak asing. Shasa!Ngapain dia disini!Gawat kalo dia tahu!Kami harus berlari!Tapi terlambat, dia keburu datang dan bilang:
“Loe Tita kan?Loe juga Dave kan?Hahaha dasar kere, apa kalian gak punya duit lagi sampai kerja kayak ginian!Kasihan!Kalo mau duit nih gue kasih!” teriak Shasa sambil melemparkan uang di wajahku.
“Sabar Ta! Sabar!Dia cuma mau manas-manasin loe” kata Dave.
Keesokan Harinya….
“Kak Tita, Bangun!” teriak Andrea.
“Ada apa sayang?” jawabku ,“Ini kan hari Minggu,”
“Kak, Lihat nih!Ada kontes! LIBE, merk baju terkenal itu, mau mencari model buat iklan!Kakak ikut ya?”
“Iya Tita!Tante pikir itu juga bagus!” kata Tante Lisa
“Hm! Gimana ya? Kayaknya gak deh, aku gak berbakat jadi model,”
“Kakak!Andrea mohon banget deh, kakak ikut ya…?”
“Tapi kalau kalah, kakak gak tahu ya?”
Dengan ditemani Dave, aku pergi untuk mendaftar lomba tersebut. Ternyata Shasa juga ikut. Oh my God..Kenapa dia harus ada disaat aku lagi tidak mengharapkan keberadaannya. Dia hanya melihatku dengan tatapan sinis. Sepertinya dia meremehkanku. Lihat saja! Aku akan menampilkan yang terbaik. Aku berjanji, demi semua yang telah mendukungku.
Malam Grand Final….
Oh my God…aku benar-benar tak sadar kalau aku bisa masuk 20 besar. Aku tidak menyangka bahwa nyanyianku bisa membuat semua juri terpukau ketika babak penyisihan. Shasa yang tidak masuk 20 besar menangis sejadi-jadinya di ruangan penilaian waktu itu. Aku dan Dave tertawa didepan wajahnya.
“Puas kalian!Tita lihat saja!Loe tak mungkin menang!” teriak Shasa
Aku tertawa kecil mengingat kejadian itu. Salah satu finalis lain mencolek pinggangku.
“Tita, sadar!10 menit lagi naik panggung nih!Finalis lain nervous, Loe kok malah ketawa sendiri disini!Udah gila ya?”
Hm,aku kembali dari lamunanku. Mana Dave?Dia selalu menemaniku, tetapi mengapa pada saat aku butuh dia,dia tidak ada?Aku mengintip dari balik layar. Mencoba melihat kursi penonton, mungkin Dave ada disitu. Tapi, tiba-tiba ada seseorang menarik gaun putihku dari belakang.
“Kak Tita!”
“Tante…Andrea!Ngapain kalian”
“Good luck ya Ta!Kami dukung kamu!”
“Makasih, mana Dave? Kok dia gak ada?”
“Kak Tita…Kak Dave…,”
“Dave kenapa?”
“Gak papa kok Ta! Ya udah kamu siap-siap sana!Tante sama Andrea mau duduk di kursi penonton,”
Dave, kenapa dia?Aku merasa tak enak.
“Semua finalis harap menuju panggung, Acara akan segera dimulai.” Suara dari speaker di ruang ganti mengejutkanku. Aku harus bisa menunjukkan yang terbaik.
“Inilah dia TIFANY JORDICK , finalis no.10. Tifany, silahkan tunjukkan bakatmu.” Kata MC acara itu.
Tanganku dingin. Sekali lagi aku melihat kearah bangku penonton. Mana Dave?Tapi aku harus lakukan ini demi Dave. Tak Peduli dia disini atau tidak. Dave telah setia menemaniku sampai sekarang.
“Ayo Tifany, kenapa bengong?”kata MC itu sekali lagi
Aku memilih lagi “Stand Up For Love” dari Destiny’s Child. Lagu ini adalah lagu kesukaan Dave. Aku berusaha menyanyikannya dengan sepenuh hatiku. Saat selesai, tiba saatnya salah seorang juri melemparkan pertanyaan.
“Tifany Jordick, mengapa kamu memilih lagu ini?”Tanya salah seorang juri.
“Saya memilih lagu ini karena lagu ini sangat menginspirasi saya. Membuat kita tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga berkorban demi kepentingan orang lain. Dan lagu ini juga lagu kesukaan sahabat saya”Jawabku dengan tenang.
Dibalik panggung setelah acara berakhir……
“Selamat ya kak! Benar kan yang kubilang, kakak pasti menang, habis ini kakak pasti terkenal. LIBE itu kan merk yang sangat terkenal. Dan kakak jadi bintang iklannya!”
“Makasih Andrea. Sekarang, mana Dave?”
“Dia…..dia…”
“Dia kenapa Tante?”
“Rumah kak Dave kebakaran kak, Kedua orang tuanya terkena luka bakar yang sangat parah, dan kak Dave sedang di rumah sakit menunggu orang tuanya..”
“Kenapa bisa terjadi?”
“Terjadi tegangan arus pendek di listrik rumah kak Dave!”
“Kenapa kamu baru ngomong sekarang Andrea?”
“Aku gak mau merusak konsentrasi kakak, aku gak mau ngelihat kakak khawatir..”
“Ayo cepat, kita ke rumah sakit!” jawabku
Celakanya, baru di depan pintu keluar. Wartawan surat kabar dan televisi sudah megepungku untuk wawancara. Dengan bijak aku menjawab.
“Terimakasih atas kedatangan teman-teman semua. Tetapi maaf, saya ada keperluan penting. Sahabat saya terkena musibah. Dan saya harus kerumah sakit sekarang. Sekali lagi terimakasih dan saya minta maaf.”
Di rumah sakit…..
“Dave…”
“Tita…”
“Gimana keadaan orang tua loe?”
“Lukanya parah Ta, rumah gue ludes, masalah duit sih bisa dicari, sekarang ortu gue dalam keadaan kritis. Belum lagi, pihak rumah sakit gak bakal nerusin pengobatan kalau administrasi belum dibayar. Gue gak tahu harus minjem duit sama siapa..” jawab Dave
Sekarang aku berpikir. Kasihan sekali Dave. Haruskah aku diam disaat dia susah. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku langsung menelpon Tante Lisa.
“Tante, sekarang Tita tahu untuk apa warisan Papa. Tante bisa nemenin Tita ke Bank gak? Ajak Andrea juga, makasih Tante, kita ketemu di bank.”
Beberapa jam kemudian….
“Ta, makasih banyak! Gue gak tau lagi mau ngomong apa! Kalau gak ada loe, mungkin ortu gue udah…” kata Dave
“ Dave, tenang aja kok! Asal ortu loe selamat, gue bakal ngerelain apapun! Gue seneng kok bisa bantu loe!Eh sekalian ding, bukan maksud mau nyinggung perasaan loe ya..Tapi loe tinggal aja di rumah gue, ini alamatnya.”jawabku sambil memberikan alamat rumah lamaku.
“Ta, ini kan kawasan perumaha elit! Dari mana loe bisa punya rumah disitu? Satu lagi, dari mana loe bisa mendapat uang sebanyak itu untuk biaya pengobatan ortu gue?”Tanya Dave.
Terpaksa, aku menceritakan semua kisahku. Tentang siapa aku sebenarnya dan apa yang menyebabkanku seperti ini.
“Oh, begitu! Tapi sebelumnya maafin gue ya Ta, gue gak bisa ngelihat loe menang pas malam grand final. Gue jadi ngerasa gak enak. Makasih juga atas kebaikan loe, gw gak tau dengan cara apa gue bakal ngebalesnya,”
“Biasa aja lagi Dave, gue ikhlas kok. Gue ngerti keadaan loe.”
“Ta, sebenernya gue mau ngomong sesuatu,”
“Apaan Dave?”
Dave mengeluarkan kotak kecil dari sakunya, dan memberikannya kepadaku. Aku pun terkejut melihat isinya.
“Ta, eh maksud gue Tifany Jordick, loe mau kan jadi pacar gue? Gue sadar kok keadaan gue. Kita memang berbeda status. Tapi, asal loe tahu perasaan gue dan mau menerima hadiah ini, gue sudah seneng kok!”
“Tapi Dave…gue…gue…”
“Gue ngerti kok Ta, kalo itu jawaban loe! Gue pergi Ta!”
“Gue juga sayang sama loe,”
“Apa? Gak salah denger gue?”
“Iya! Gue juga sayang sama loe,”
Brak!Tiba-tiba ada bunyi sesuatu barang yang terjatuh. Ternyata yang jatuh adalah…
“Busyet Dave, ada Paparazi, wartawannya banyak banget!”
“ Kabur Ta!!!!!” teriak Dave sambil menarik tanganku
Dari kejauhan, Tante Lisa dan Andrea menertawakan kami.Wartawan-wartawan itu terus mengejar kami. Tapi, gak papa sih diajak berlari. Asal sama Dave.
“Dave, mau kemana nih?”
“Kemana aja, asal sama loe!”
“Gombal!”
The End
iya kali semua cowok tuh gombal…
huh….capek aku bacanya..
tapi mau kasih komen apa ya
ok….bagus dehhh…
jadi si TITA itu multi talent donk!!!
tapi ceritanya dah pasaran jadi ya g’ banyak surprise-nya
klo ntar nulis lagi yang ok ya!!!yang belum pasaran ok
pengorbanan dan cinta
cinta membawakan arti….
cinta adalah curahan sejuta makna
yang tersimpan dalam hati manusia…
cinta itu tak seindah…..
dalam pikiran karena cinta adalah pengorbanan…