KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mimpi Indah

 

Apa saja kan kulakukan hanya untuk melihat keindahan. Walaupun pagi-pagi harus mandi, meski jarang mandi pagi hari. Walaupun harus dibentak oleh suara ibu berusia 43 tahun, “Mau kemana, bereskan dulu kamarnya”. Walaupun tak pernah lari di minggu pagi.

Minggu pagi. Aku siap berolahraga dengan hati menyimpan sebuah misi, “Di dalam tubuh yang sehat tersimpan Juniar di hati”. Kutatap bayanganku di cermin, kulihat janggut tipis di dagu, “Nggak jauh ama Alex Del Piero”, batinku bicara dengan penuh percaya diri. Dan akupun tersenyum mendengar celotehnya.

Kupakai kaos berwarna putih, pakaian ini kubeli karena di koran kulihat Del Piero memakainya, di tengahnya terdapat tulisan “ITALIA”. Supaya serasi kupakai  training tim sepakbola Italia dengan logo macan lagi lompat trade mark dari merk puma. Tambah pede aja aku menjelang lari pagi yang akan segera kulakukan.

***

Langkah demi langkah tak terasa aku mulai mendekati sebuah wartel. Kutengok. Di seberang jalan, “Sial!!!”, respon yang keluar dari batinku karena tak melihat bidadari yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku.

Aku berhenti. Kupandangi wartel itu, nampak tulisan “TUTUP”, lalu kulihat jam di tanganku, jarum pendek menunjuk angka tujuh dan jarum panjang menunjuk pada angka dua, “Apa gua kepagian”, tanyaku pada diri sendiri dan itu keluar dari mulutku.

Secara tiba-tiba dari arah belakang bahuku terhentak, dan itu mengagetkanku, “Dhan!!!”, kata seorang lelaki sambil berlalu.

Lalu kupandangi Ia, “Dik!!!”, teriakku.

Ia menoleh lalu melambaikan tangannya. Dikdik lelaki berambut gondrong sebahu sama kayak aku hanya saja rambutnya sedikit lebih panjang dan lurus, Ia teman sekampusku. Kulihat di sampingnya ada seorang gadis, kurasa gadis itu pacarnya.

Kembali kupandangi wartel itu, “Ah… entar juga ketemu, kan bidadarinya bersolek dulu”, lagi-lagi batinku sambil berlalu.

Satu orang. Sepasang lelaki dan wanita. Tiga orang lelaki. Empat orang lelaki. Dua orang wanita. Tiga orang wanita. Ayah, Ibu, satu anak lelaki, satu keluarga. Datang silih berganti dalam penglihatanku. Aku terus berjalan dan mempercepat langkahku.

“Dhan, lu lama banget?, kata Adam, temanku yang di sabtu sore aku janjian dengannya, “Besok pagi kita lari yuk?”, dan jawaban dari pertanyaan itu adalah, “Siapa takut”.

“Siap Dam”.

“Dari tadi”.

Kamipun berangkat menuju alun-alun.

***

“Dam, lu liat Juniar gak?”.

“Nggak, emang Juniar suka lari pagi yah?”.

“Kata teman gua”.

Sudah dua putaran kami berkeliling di seputar alun-alun namun belum nampak juga bidadari itu. Aku mulai lelah, kurasa Adampun begitu. Kami memutuskan untuk duduk di trotoar jalan.

Keluarga. Aku melihat keluarga dalam dudukku. Satu ayah, satu ibu, dan satu anak kecil, seorang lelaki. Ia minta pada ayahnya yang lagi memegang erat tangan kecilnya untuk menunggangi seekor kuda yang lagi stand bye dekat kumpulan parkir motor. Terlihat sang ayah berkomunikasi dengan sang ibu membicarakan perihal keinginan anaknya itu.

Juniar… kubayangkan kamu adalah sang ibu dan aku (tentu saja suamimu) sang ayah, dan anak kecil itu adalah buah hati kita, hasil peleburan cinta antara aku dan kamu yang sudah di ikat oleh altar suci, sebuah ikatan perkawinan. Indah sekali. Anak itu kuberi nama Raul. Mengapa Raul?, karena aku suka nama itu mirip bintang sepakbola Spanyol yang sekarang jadi pangeran di kota Madrid, Real Madrid (Entahlah… apakah kamu tahu tim sepakbola ini?), kenapa bukan Alessandro atau Del Piero, Ia memang idolaku tapi namanya kedengaran asing bagi anak Indonesia, kalau Raul kan agak keindonesiaan (bukan keindonesiaan tapi keindiaan mungkin yah, bila di tengahnya ada huruf H, jadi Rahul).

Anak itu tak menangis meski ditinggal sendiri menunggang kuda oleh kedua orang tuanya. Sambil menggenggam erat tangan istrinya melingkar di bahu hingga ke pinggang. Suami istri itu nampak mesra melihat anaknya yang gagah berani menunggang kuda. Itu keluarga kita Juniar, kamu dengan sweater biru langit, celanamu jeans selutut dan rambutmu di ikat sementara aku memakai kaos putih dan training biru, ada rambut-rambut tipis di dagu dan di bawah hidungku. Kucium keningmu sambil arah pandang kita mnuju Raul. Kita pasangan muda bahagia.

“Dhan, lu mau minum apa?”, kata Adam.

Nih buat lo”, lanjutnya sambil memberiku air mineral seharga lima ratus rupiah.

“Heh…”, lumayan mengagetkanku.

***

“Lu masih gak liat Juniar?”, kataku.

“Nggak”.

“Di mana yah?”.

“Ah. Gak lari pagi kali”.

Orang datang silih berganti dalam pandanganku, mungkin juga dalam pandangan Adam. Terlihat lambaian tangan mirip dahan pohon yang lagi tertiup angin dari kumpulan yang mirip pemain-pemain bola Indonesia lagi latihan menjelang piala Asia, menuju arahku.

“Dhan”, Dikdik, Ia menepuk bahuku.

“Heh…”, dengan isyarat wajahku.

“Kenalin Dhan, namanya Rena”, Ia memperkenalkan gadis itu.

“Rena”, sambil menjulurkan tangannya.

Kami saling jabat tangan seperti telah terjadi sebuah perjanjian.

Rena adalah pacarnya Dikdik, begitu akunya. Dan Renanya sendiri membenarkan kata-kata Dikdik. Dikdik bertanya kepadaku, Ia heran tak biasanya aku lari pagi. Dan aku jujur bilang padanya, “Gua lagi nunggu bidadari”. Ah… tak taulah, dia percaya atau tidak, yang pasti Ia hanya tersenyum.

Setelah ngobrol dan beli dua botol minuman dingin, Dikdik dan Rena memutuskan untuk beranjak dari tempat kami dengan berjalan santai sambil tangan mereka berpegangan erat, tangan kanan Dikdik pegang erat tangan kiri Rena. Sepasang kekasih yang lagi asyik-asyiknya menikmati hidup lewat status pacaran.

***

Hampir dua jam kami berada di alun-alun, mataharipun mulai menyala membuat kami berjalan seperti berempat. Aku pulang sepertinya tak kan membawa hasil dari misiku, namun dua jam bukanlah waktu yang lama untuk menanti seorang bidadari. Saat Adam mau nyebrang, kuyakin tujuannya adalah gang menuju rumahnya, keyakinan itu membuatku berkata, “Jangan dulu nyebrang, gua mau liat bidadari gua, siapa tau dia ada di wartel”.

“Juniar maksud lo”, responnya.

Aku menganggukkan kepala sebagai isyarat membenarkan.

Beberapa meter dari wartel denyut jantungku berdegup kencang mirip suara drum yang ditabuh untuk mengantarkan lagu biar tambah mantap didengar. Degupan kencang itu mempengaruhi langkahku, kaki ikut-ikutan bergetar. Ada niat untuk menghentikan langkahku, namun ini akan membuatku malu oleh Adam.

DEG… posisiku tepat di depan wartel, tak kutolehkan wajahku ke arah wartel juga ke arah Adam, pandanganku lurus ke depan. Getaran itu membuatku melakukan hal seperti itu. Aku hanya bisa memandangi sang bidadari bila Ia tak tahu aku melihatnya, aku

cuman bisa curi-curi pandang, karenanya aku melakukan hal ilegal. Tanpa izin.

Beberapa meter menjauh dari wartel, “Lu liat Juniar gak?”, tanyaku.

Adam, Ia bertingkah seperti seseorang yang lagi lepas tangan dari sebuah masalah.

“Lu liat wartel itu kan?”, tanyaku lagi.

“Makanya kalo lu pengen liat, ya liat, jangan jaim gitu”.

Kami terus menjauh dari wartel, “Sekarang kemana?”, lanjutnya.

“Balik lagi, mungkin nanti ada… bidadarinya”.

“Awas yah! Lu entar jangan jaim”.

Aku mengangguk setengah tak janji.


***

Kami berputar dan menyebrang. Kembali saat mendekati wartel, getaran itu menghinggapiku. Panas matahari seperti knalpot motor yang tersentuh oleh kakiku, hanya saja tak membuat pundakku luka bakar, kulihat Adam jalan lurus seperti tak ada beban, kutemukan lelehan keringat di sekitar pundak yang membuat bajunya terlihat basah.

Saat ini kami berada tepat di seberang wartel. Aku masih dalam posisi seperti tadi, pandangan lurus ke depan. Samar-samar kurasa ada seorang gadis lagi duduk di kursi panjang, “Dhan, tuh bidadari lo!”, kata Adam.

Mendengar itu aku jadi tambah tegang, ingin kutolehkan wajahku ke samping kanan. Kendaraan sudah banyak yang lalu lalang. Kami berada di trotoar. Kuberanikan diri untuk menoleh, “Mana Dam???”.

“Tertipu”.

Adam!!! Dia bohong. Gadis itu bukan bidadariku. Ia bukan Juniar. Siapa dia?, aku tak mau ambil pusing.

Di samping kiri wartel ada warung, melihat itu Adam bilang, “nongkrong di sana yuk?

”.

“Heh…”, aku bersemangat mendengar ajakannya.

Kurasa warung ini milik sepasang suami istri, aku melihat kesibukkan, mereka lagi siap-siap menyajikan barang dagangannya, mungkin mereka kesiangan.

“Lagi siap-siap Pak?”, tanyaku.

“Iya Sep”, yang menjawab istrinya,sang suami hanya mengangguk.

“Kopinya dua Bu”.

Kemudian kuhampiri Adam yang sudah dari tadi duduk. Ia kelihatan asyik dengan rokoknya, melihat itu aku jadi terdoga. Kunyalakan sebatang rokok lalu melihat ke arah wartel.

Gadis itu mengenakan pakaian berwarna hijau, aku tak tahu nama pakaiannya yang pasti bukan kemeja hanya saja pakaian itu ada kancingannya tapi bukan kemeja. Celananya jeans selutut, wajahnya putih, aku rasa Ia seumur dengan sang bidadari, mungkin juga Ia  temannya, cantik tapi tak membuat hatiku bergetar, beda dengan seorang gadis bernama Juniar.

“Cantik yah!!”, katanya.

“Iya”.

“Pasti temennya Juniar”, katanya lagi.

Adam kulihat tatapannya dalam, “Lu dapetin Juniar, gua…dia”, lanjutnya.

Lelaki melihat wanita, akan ada kesan yang terjadi. Berlanjut atau hanya untuk saat itu saja. Saat itu saja (mungkin) yang terjadi antara kami dengan gadis itu.

***

Kembali sebuah keluarga membuat otakku berkhayal. Aku melihat seorang ayah mengenakan pakaian muslim yang suka dipakai oleh Ustadz gaul (Ust. Uje), seorang ibu mengenakan pakaian jilbab putih yang tak melupakan sentuhan fashion, nampak anggun.  Dan dua orang anak, masih kecil-kecil, satu lelaki dan satunya lagi perempuan, mereka bersaudara, yang lelaki kakaknya. Lagi-lagi kubayangkan itu adalah keluarga kita (aku dan kamu). Juniar… dengan jilbab itu para bidadari di surga telah terkalahkan oleh kejelitaanmu, dan aku nampak berwibawa dengan bajunya Ust. Uje itu. Raul mengenakan baju yang sama denganku hanya saja warnanya hitam, warna bajuku putih.

Sementara berlian mengenakan baju mirip dengan kamu. Hanya saja warnanya biru muda. Berlian adalah nama anak yang kuberikan untuk adiknya Raul. Kita punya dua orang anak, Raul dan Berlian, mereka tampan (mirip aku tidak yah…?), dan cantik (yang ini jelas mirip kamu).

Keluarga kita lagi jalan-jalan. Nampak aku memegang erat tangan Berlian dan Berlian memegang erat tangan Raul sementara Raul memegang erat tangan kamu. Anak kita spontan berlari ketika melihat pedagang mainan. Mereka meninggalkan kita berdua. Kita saling pandang dan tersenyum melihat tingkah mereka. Raul menginginkan pistol-pistolan, Ia acungkan pistol itu dengan tangan kanannya dan tangan kirinya seperti ingin melindungi Berlian. Raul melakukan adegan mirip di film-film. Oh…lucunya. Indah sekali dalam penglihatanku.

“ Lu kenapa???”, tanya Adam.

“Heh…”, kembali Ia mengagetkanku.

“Pulang yuk!???!”

***

Bayanganku kembali hadir, bayangan itu terilhami oleh salah satu produk iklan di Televisi, nama produknya adalah Prenagen, susu untuk ibu hamil.

3 Bulan Kehamilan

“Perempuan”, katamu.

“Laki-laki”, kataku.

“Eittt bukan!!!, ini perempuan”, katamu sambil memainkan jari telunjukmu yang lentik lalu mengusap perutmu.

“Sudah kubilang ini laki-laki”, kataku sambil memegangi perutmu.

6 Bulan Kehamilan

“Penyanyi”, katamu.

“Pemain bola”, kataku.

“Eittt bukan!!! Ia seorang penyanyi”, katamu sambil memainkan jari telunjukmu yang lentik lalu mengusap perutmu.

 “Sudah kubilang Ia seorang pemain bola”, kataku sambil memegangi perutmu.

Saat Melahirkan

“Selamat anak Anda kembar. Mereka semua selamat. Istri Anda menanti di dalam”, ini kata dokter.

Kupandangi dan kucium kening mereka lalu menemuimu yang berada di kamar Rumah Sakit.

“Sayang mereka kembar, sepasang manusia, laki-laki dan perempuan”, kataku sambil memegang erat tanganmu dan mencium keningmu.

Kamu menyambutnya dengan tersenyum.

“Sayang terima kasih. Aku bahagia”, lanjutku.

Kutengadahkan wajahku sembari berkata, “Terima kasih Tuhan”.

Saat Pemberian Nama

Keluargaku dan keluargamu sempat bersitegang mengenai pemberian nama anak kita. Siapa yang tak tergoda untuk memberikan nama kepada anak kita, yang satu tampan dan satunya lagi cantik, mereka semua lucu, ngegemesin. Tapi aku sudah punya nama untuk calon anak kita itu. Tahu kan, yang laki itu namanya Raul (silsilahnya sudah kujelaskan dalam lamunanku yang pertama). Nah, yang perempuan kuberi nama Berlian, mengapa?, karena aku adalah lelaki baik dan kamu adalah perempuan baik. Karena (pede aja lagi) aku tampan dan karena kamu cantik. Sudah tentu hasil yang akan dikeluarkan oleh indikator itu adalah keindahan. Dan Berlian adalah benda yang indah. Jadi deh anak perempuan kita kuberi nama Berlian, dan kamu serta semuanya setuju. Terima kasih.

Mereka Kelak

Raul, anak kita yang laki itu jadi pemain bola yang handal. Sementara Berlian seperti apa yang kamu harapkan, Ia jadi penyanyi terkenal. Tapi yang patut kusyukuri mereka semua anak-anak yang saleh, tahu sama Tuhan hingga mereka tunduk dan patuh padaNya, dan tahu berbakti sama orang tua. Mereka asset kita kelak di surga Juniar.

 


Aduh!!! Aku lupa mendengungkan kebesaran-Nya. Kuhampiri mereka kembali dengan berlari. Kulihat mereka lagi dipegang oleh dua suster. Kunyanyikan seruan-Nya ke telinga mereka. Dan akupun terjaga oleh suara itu.

***

Tinggalkan Komentar