KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Menunggu Malam

        Malam ini masih seperti malam-malam yang lalu. Aku menunggunya. Angin berhembus lirih membawa hawa dingin yang sulit ditepis. Rembulan yang muram dengan perlahan semakin meninggi. Cahayanya yang redup menambah kesuraman dihatiku. Suara-suara malam mulai bermunculan. Jangkrik. Kodok. Doggi, anjing tetangga yang selalu berubah ganas jika malam hari terus menggonggong seperti mengabarkan pada majikannya bahwa ada orang asing yang ada diluar rumah. Sebenarnya aku bukan orang asing. Tapi entah kenapa anjing itu selalu terserang amnesia padaku ketika malam telah menyapa.

        Menunggu adalah sesuatu yang menjemukan dan aku paling tak suka. Kata-kata itu selalu kukatakan padanya. Tapi yang kudapatkan hanyalah senyuman manis dan sentuhan lembut tangannya dirambutku.

”Engkau kan tahu sayang, aku adalah manusia yang tidak bisa dibatasi oleh waktu. Setiap aku pergi, aku tak pernah tahu kapan akan kembali lagi. Jam tangan aku tak punya. Dan aku memang tak memerlukannya karena aku tak suka barang itu”

”tapi dengan semua itu, kau telah membuat diriku menjadi orang dungu yang hanya bisa termangu saat menunggumu”

”Aku mencintaimu sayang. Dan aku tak mau kau menungguku”

Selalu kalimat itu yang dia ucapkan sebagai tanda bahwa dia tak menyenangi topik pembicaraan ini dan menutup semuanya seakan tak terjadi apa-apa.

        Menjadi seorang wanita memang terkadang ribet. Sesuatu yang sangat sepele bisa berubah menjadi hal yang luar biasa. Masalah menunggu adalah sepele tapi menjadi sesuatu yang tak biasa jika semua itu telah dialami oleh wanita. Siapa yang bisa disalahkan? Dia selalu mencintaiku (setidaknya begitu yang dia ucapkan) dan tidak suka bila aku menunggunya. Bagaimana dengan diriku? Apakah aku akan pergi tidur atau sekedar melamun dan menuruti kata-katanya bila sampai larut malam dia tak kunjung datang? Dan jawabannya adalah TIDAK. Aku tetap menunggunya.

Jam didalam rumah berdentang 12 kali. Itu menandakan bahwa sudah jam 12 malam. Tapi dia belum datang juga. Aku menggeser posisi duduk. Kursi yang ada diteras ini setiap malam menjadi teman setia yang tak pernah berbicara.

”Kau akan pulang kapan?” tanyaku 1 bulan yang lalu. Aku tak pernah bertanya ’kau akan pergi lagi?’ karena bagiku, urusan pergi adalah haknya. Dia akan pergi kemana, melakukan apa bukanlah urusanku. Tapi justru kepulangannyalah yang kutanyakan karena disitu aku punya andil. Yaitu menunggunya. Aku berubah. Yah, itulah yang terjadi. Aku tak suka menunggu. Tapi bila semua itu telah menjadi kebiasaan, hal yang wajar jika pada akhirnya aku menyukainya. Betul-betul menyukainya.

”Malam purnama bulan depan” jawabnya mantap.

”Aku akan menunggumu”

”Aku mencintaimu sayang. Dan aku tak mau kau menungguku”

Pembicaraan berhenti dan diapun pergi.

        1 bulan telah lewat. Malam ini dia berjanji akan datang. Tapi hampir lewat tengah malam dia belum datang juga. Dinginnya malam membuatku menggigil. Tapi aku tetap tak beranjak dari tempatku duduk. Aku memandang rembulan. Cahayanya yang suram lambat laun menjadi cemerlang. Namun entah mengapa mataku yang terbuka justru lambat laun menutup tanpa menyisakan celah sekecilpun. Aku terlelap. Duduk disebuah kursi diteras. Menunggunya.

Entah pukul berapa sekarang. Mungkin hampir fajar karena kokokan ayam mulai terdengar. Aku terbangun oleh sebuah kecupan dikening dan suara tangis yang tertahan.

”Kau sudah pulang?” tanyaku.

”Kenapa kau tidur diluar?”

”Aku menunggumu”

”Kenapa?”

”Karena aku menyukainya”

Diluar dugaan, dia justru semakin keras menangis dan menelungkupkan kepalanya dipangkuanku.

 ”Aku tak suka kau menungguku. Kau tahu kenapa?” tanyanya.

Aku diam saja. Dia mendongakkan kepalanya dan mencari-cari mataku.

”Kau menungguku ketika aku pergi. Itu adalah bukti cintamu padaku. Dan aku benci mengetahui hal itu. Aku tak pantas dicintai…”

Diam.

”Karena selama ini aku telah mengkhianatimu…”

Diam lagi.

”Setiap malam aku pergi kerumah wanita simpananku. Aku…”

        Dia terguguk semakin keras. Aku hanya diam saja. Kenapa kau harus mengaku? Aku tak menyuruhmu untuk membuka topeng yang selama ini kurindu bila tak ada dihadapanku. Aku juga tak memintamu mengungkapkan semua ini. Walaupun sebenarnya aku sudah mengetahuinya jauh-jauh hari dan tak mempermasalahkannya. Tapi toh akhirnya kau akui jugs semuanya.

”Sekarang kau tak perlu menungguku, sayang”

”Kenapa?” tanyaku, heran.

”karena aku tak akan pergi lagi. Aku akan selalu disini, disisimu”

”Aku senang menunggumu. Aku menyukainya. Pergilah. Aku akan menunggumu”

”Tapi istriku…”

”Pergilah! Atau aku harus membuatmu pergi?”

Dia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dengan langkah gontai.

”Aku akan menunggumu”

Tak ada sahutan.

        Malam itulah terakhir aku melihatnya. Dia tak pernah pulang. Walaupun setiap malam aku selalu menunggunya disebuah kursi diteras ini. Dia tak pernah datang.

Tinggalkan Komentar