Mempertanyakan Profesionalisme
November 17th, 2007 by anang_rakhman
Profesionalisme secara empiris merupakan sebuah pandangan hidup (paham) yang menekankan kompetensi atau kapabilitas sebagai syarat pekerjaan. Kompetensi berkaitan dengan pendidikan, sedangkan kapabilitas bisa juga berkaitan dengan pendidikan tetapi lebih banyak berkaitan dengan pengalaman keahlian (skill). Seorang lulusan ekonomi yang kemudian bekerja sebagai programmer atau web design adalah salah satu contoh kapabilitas seperti halnya seorang lulusan komunikasi yang bekerja sebagai guru privat alat musik. Fenomena ini banyak kita lihat di Indonesia yang menggambarkan ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan saat ini, tapi itulah profesional. Ketidaksesuaian itu dikarenakan adanya kompetisi yang semakin berat karena faktor banyaknya lulusan setiap tahunnya untuk semua jenis disiplin ilmu (kedokteran, farmasi, psikologi, ekonomi, dan sebagainya), sehingga sebagian lulusan menggunakan ketrampilan yang dimilikinya di luar ketrampilan yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan untuk mencari pekerjaan. Kalau kompetensi bisa menggambarkan kesesuaian antara latar belakang pendidikan dengan pekerjaan saat ini, seperti : dokter karena lulusan kedokteran, perawat karena lulusan keperawatan, teknisi karena lulusan tehnik, dan sebagainya.
Namun, akhir-akhir ini banyak bermunculan pelanggaran profesionalisme. Mungkin kita masih ingat fenomena Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri yang menggunakan kharisma ayahnya-Sang Proklamator sekaligus presiden pertama Ir. Soekarno. Tampak jelas kemampuan Mega yang berbeda dengan Soekarno, sehingga dalam kepemimpinan Mega Indonesia kehilangan Pulau Sipadan dan Ligitan. Seorang dokter terkenal yang juga menginginkan anaknya menjadi seorang dokter, sehingga memaksakan kehendak kepada anak untuk sekolah di kedokteran, seorang pengusaha sukses yang ingin melanggengkan aset kekayaannya dengan memaksa anaknya untuk sekolah di ekonomi manajemen, adalah contoh penerapan pola dinasti. Pola dinasti hampir mirip seperti nepotisme, yang diadopsi dari sistem kepemimpinan kekaisaran dan kerajaan, bahwa pengganti kekuasaan orang tua (terutama ayah) adalah anak. Ini juga yang terjadi pada jaman pemerintahan Mantan Presiden Soeharto yang jelas-jelas menjadikan Siti Hardiyanti Roekmana (Mbak Tutut) sebagai Menteri Sosial.
Penyebab Pola Dinasti
Pertama, sistem pendidikan keluarga konvensional. Era pasca kemerdekaan sampai tahun 1970 an, pola pendidikan keluarga masih belum seperti saat ini, demikian juga dengan pola masalah keluarga. Seorang anak dalam sistem pendidikan konvensional masih mengalami semacam pola militerisasi. Sebuah pola yang bagus karena untuk membentuk jiwa kedisiplinan, namun jika tidak diimbangi dengan komunikasi yang baik, hanya akan tampak sebagai sebuah kediktatoran. Padahal sistem pendidikan keluarga sangat mempengaruhi karakter anak, di samping faktor eksternal seperti pergaulan. Seorang anak hasil pendidikan konvensional, jika sudah menikah akan menerapkan pola pendidikan konvensional kepada anaknya. Ditambah lagi pada bidang keilmuan tertentu seperti kedokteran, pola pendidikan masih seperti militer yakni masih mengunggulkan senioritas. Sehingga, perpaduan antara pola pendidikan konvensional dengan pola pendidikan kedokteran membuat para dokter memiliki jiwa militeristik. Tidak heran jika hampir semua dokter memaksakan anaknya menjadi seorang dokter, sampai saat ini. Jika seorang koki (juru masak) salah memasukkan bumbu dalam adonan masakannya, hanya berpengaruh pada rasa masakannya. Tapi jika seorang dokter salah memberikan terapi (pengobatan), maka nyawa pasien yang menjadi taruhannya. Maka dari itu, pola dinasti kedokteran menjadi sebuah momok dalam dunia kesehatan Indonesia.
Kedua, pola penyapihan anak. Penyapihan dalam konteks ini bukan berarti menghentikan pemberian ASI, namun menciptakan anak untuk mandiri. Pola pekerjaan anak-anak Indonesia secara general adalah pasca pendidikan tinggi (perkuliahan), meskipun sebagian lainnya juga pasca SMU. Inilah yang menjadi pertimbangan orang tua terhadap anaknya. Jika anak belum mendapatkan pekerjaan yang memadai, maka orang tua masih menanggung beban hidupnya. Tapi jika sebaliknya, maka orang tua bisa menjadikan anak mandiri secara finansial. Karena bagaimanapun juga para orang tua akan mengalami masa pensiun dari pekerjaannya, sehingga di masa tuanya ingin tenang menjalani hidup. Bagaimana bisa tenang kalau masih menanggung biaya hidup anak-anaknya. Dengan demikian, cara yang ditempuh untuk menciptakan pekerjaan yang memadai untuk anak adalah dengan kekuasaan. Saat masih menjabat sebagai profesor, saat sudah menjadi presiden direktur, saat menjadi pejabat, berusaha semaksimal mungkin untuk mencarikan anak pekerjaan yang memadai.
Ketiga, reinforcement self management. Dewasa ini, self management menjadi hal yang sangat diminati. Para orang tua yang mengerti self management akan berusaha menerapkan dalam pola pendidikan keluarganya. Yang dimaksud adalah “aku berfikir, maka aku bisa”, inilah salah satu materi self management yang sering menjadi motivasi bagi pembaca. Bahwa kesuksesan itu tidak terbatas pada karakter seseorang, tapi kesuksesan itu bisa diraih oleh semua orang dengan kekuatan fikiran. Selama ini, yang menjadikan keterpurukan karena tidak mau melangkah untuk mencoba sukses, sehingga belum melakukan sesuatu sudah berkata “sepertinya saya tidak sanggup”. Prinsip ini sebetulnya bagus, namun prinsip ini seolah-olah meniadakan postulat tentang bakat. Masing-masing orang memiliki bakat tersendiri, ada yang memiliki bakat seni, bakat kepemimpinan, bakat pendidik, dan sebagainya. Maka dari itu, para orang tua yang tidak menyadari hal ini menganggap memaksakan sesuatu kepada anak adalah hal yang tidak apa-apa. Memang tidak semua anak yang dipaksa menjadi dokter itu menjadi dokter yang bodoh, demikian juga dengan anak yang dipaksa menjadi manajer perusahaan tidak semuanya menjadi manajer yang bodoh, tapi itu sangat sedikit sekali. Pemaksaan berarti adanya ketidaksenangan, dan ketidaksenangan terhadap sesuatu jelas tidak bisa menimbulkan semangat “aku berfikir, maka aku bisa”.
Pengikisan Profesionalisme
Secara general, dunia kerja di Indonesia tidak mengedepankan profesionalisme, terutama di sektor perbankan BUMN, dunia keartisan, dan bidang jurnalistik, sehingga 3 sektor ini selalu mempunyai angka kompetitif yang sangat tinggi dibandingkan dengan sektor pekerjaan lainnya. Untuk jurnalistik, peniadaan profesionalisme memang bisa dimaklumi karena jurnalistik memiliki ruang lingkup yang luas seperti : kesehatan, ekonomi, politik, gaya hidup, dan sebagainya. Untuk itu sangat wajar jika bidang jurnalistik merekrut lulusan kesehatan untuk meliput berita dan membuat feature kesehatan, merekrut lulusan ekonomi untuk meliput berita dan membuat feature ekonomi, dan sebagainya. Dunia keartisan lebih unik lagi, banyak lulusan perguruan tinggi seni (salah satunya seni peran) hanya berkarir sebagai seniman independen dan pemain teater saja, sementara lulusan SMU banyak yang menjadi artis karena memiliki wajah yang fotogenik dan tubuh yang bagus (meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan seni peran). Karena apresiasi yang besar terhadap dunia keartisan (honor besar untuk artis, ajang pencarian bakat dalam skala nasional, penghargaan bergengsi secara multimedia, popularitas, dan sebagainya), banyak pemuda Indonesia yang bermimpi menjadi artis, sehingga salah satu dampak buruknya adalah ketidakpedulian terhadap pendidikan karena belum tentu pendidikan tinggi akan memperoleh pekerjaan yang layak. Sedangkan, dengan pendidikan yang minim (kebanyakan SMU), asalkan memiliki wajah dan tubuh yang bagus, bisa memiliki kesempatan untuk menjadi artis. Sektor perbankan BUMN juga melakukan pola seleksi dalam rekruitmen calon pegawai, biasanya hanya berupa serangkaian tes psikologi yang bertujuan untuk menyaring jumlah pelamar yang masuk. Jarang didapatkan tes keahlian untuk pola seleksi (tentunya tes keahlian adalah tes manajemen dan akuntansi mengingat bank adalah lembaga keuangan). Meskipun nantinya ada percobaan kerja (training) untuk pegawai yang lolos tes psikologi, namun tetap saja itu tidak mengedepankan profesionalisme. Lebih baik merekrut lulusan yang sudah berkompeten (lulusan ekonomi manajemen, ekonomi akuntansi, dan ekonomi studi pembangunan) daripada lulusan tidak berkompeten, walaupun pada akhirnya akan memiliki kapabilitas yang sama. Biaya operasional BUMN akan lebih hemat jika merekrut lulusan yang berkompeten karena lulusan yang berkompeten hanya akan mendapatkan pelatihan fungsional (seperti : pelatihan komputer), sedangkan lulusan tidak berkompeten akan mendapatkan pelatihan ganda (tidak hanya pelatihan komputer, tetapi juga pelatihan manajemen, dan pelatihan akuntansi).
Profesionalisme Di Tengah Krisis Ekonomi
Saat krisis ekonomi sekarang ini, mendapatkan pekerjaan adalah hal yang sangat sulit. PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) justru banyak dilakukan untuk efisiensi. Banyak sarjana menganggur, apalagi lulusan SMU. Angka kriminalitas juga meningkat, yang pada awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok berkembang menjadi sebuah profesi. Jangankan untuk mencari pekerjaan, untuk sekolah saja agar memenuhi wajib belajar sudah sulit. Padahal, pendidikan itu sendiri diperlukan sebagai syarat dasar untuk mencari kerja.
Sektor perbankan BUMN, dunia keartisan, dan bidang jurnalistik bisa dijadikan andalan untuk mendapatkan pekerjaan di saat krisis ekonomi saat ini karena sifat 3 sektor tersebut yang tidak menspesialisasikan profesionalisme tertentu. Tapi itu saja tidak cukup, perlu adanya upaya penyediaan lapangan kerja lainnya. Industri-industri masih merupakan tujuan utama para lulusan SMU untuk bekerja karena profesionalisme kerja bisa dibentuk seiring dengan lama kerja. Begitu banyak pabrik (mulai rokok, makanan ringan, alat musik) tidak mempermasalahkan keahlian tertentu, karena keahlian industri terutama bagian produksi (yang selalu memerlukan banyak karyawan) bisa dipelajari. Dan selama ini memang tidak ada keluhan dari pihak manapun atas keahlian para karyawan bagian produksi yang rata-rata lulusan SMU, kecuali keluhan dari Amerika Serikat beberapa waktu lalu atas kualitas sepatu merek NIKE yang di bawah standar, sehingga terjadi PHK besar-besaran. Fenomena PHK sebetulnya tidak selalu terkait dengan profesionalisme buruh (karyawan), bisa jadi berhubungan juga dengan kualitas material produk, sehingga keluhan dari konsumen meningkat.
Alternatif lainnya adalah peran aktif para guru sekolah untuk menumbuhkan minat menulis pada siswa. Saat ini, menulis memiliki kecenderungan sebagai profesi baru yang bersifat musiman. Artinya event-event penulisan hampir setiap tahun ada terutama saat peringatan hari besar nasional seperti : Hari Kartini, Hari Sumpah Pemuda, dan sebagainya. Belum yang diselenggarakan secara lokal oleh beberapa majalah dan tabloid. Di sekolah sendiri, KIR (Karya Ilmiah Remaja) merupakan suatu ajang penulisan yang bagus. Jika para guru membina para siswa untuk menulis baik untuk KIR maupun untuk majalah dinding sekolah (potensi jurnalistik), secara tidak langsung membantu kewirausahaan siswa.
Rekomendasi
Pada intinya, profesionalisme berdasarkan kompetensi pendidikan tidak bisa diandalkan, sehingga memiliki keahlian di luar ketrampilan pendidikan adalah hal yang sangat perlu untuk mendapatkan pekerjaan dan untuk mendapatkan penghasilan melalui wirausaha (menulis, menjadi guru les privat/tidak terkait dengan Lembaga Bimbingan Belajar, mendirikan sebuah usaha, dan sebagainya). Tetapi bukan berarti pula pendidikan yang semakin tinggi jenjangnya tidak diperlukan karena banyak juga yang mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pendidikannya, bahkan pendidikannya tersebut menjadi syarat yang utama (seperti : dokter, apoteker, teknisi dengan segala macam jenis disiplin ilmu tehnik, bidan, perawat, psikolog, pengacara atau hakim atau jaksa, IT, dan sebagainya). Dengan demikian, semangat untuk belajar pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi harus ekuivalen dengan semangat melatih ketrampilan yang telah dimiliki (biasanya ketrampilan tersebut berupa minat atau bakat), sehingga menjadi manusia yang plus (tidak hanya berkeahlian berdasarkan disiplin ilmu tertentu, tetapi berkeahlian lainnya juga).