Kutu Rambut
November 17th, 2007 by ema
“Eh Jeng Lis, saya sudah larang anak saya deket-deket sama anaknya Arini.”
Arini mengenal suara itu, suara tetangganya, Bu Hasan. Arini berhenti lalu berjalan pelan tanpa bunyi.
“Sasya?”, kata suara lain.
Arini makin penasaran akan pembicaraan para tetangganya. Ia merapat ke tembok.
“Memangnya kenapa, Bu?”, kata yang lain.
Arini tahu siapa saja mereka. Ada Bu Hasan, Lisa, dan Bu Kamil lalu ada Bang Ikmal, tukang sayur keliling.
“Kemaren saya lihat kepang rambut Sasya yang keluar sana-sini…..Nah terus saya betulin. Astaghfirullah! Bukan main saya kaget, Bu!….”, tutur Bu Hasan.
“Ada apa ?”, potong Lisa, “Sayurnya kok layu, Bang ?”
“Kemaren ada pemadaman Neng, kulkas Bang Ikmal mati.”
“He..he..”, Lisa mencibir sambil melemparkan seikat kangkung ke wajah tukang sayur, “Nggak lucu.”
“Terus Sasya kenapa, Bu ?”, tanya Bu Kamil.
Bu Hasan berbicara setengah berbisik dengan pandangan jijik. Arini tidak dapat mendengar kata-katanya. Diantaranya hanya ada jarak 5 meter. Tapi kebisingan kendaraan di jalan raya sangat merugukan Arini.
Arini bisa saja membeli tempat tinggal yang lebih besar, mahal, dan berlokasi di daerah yang tenang tanpa kebisingan. Tapi Arini lebih suka hidup sederhana. Apalagi kehidupan di pemukiman elite tentu tidak baik bagi perkembangan Sasya. Tidak ada toleransi antar warga, semuanya akan sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, setelah melihat dampaknya kini Arini sedikit kecewa menjual rumahnya yang dulu ia tempati bersama suaminya.
“Itu apa ? Saya kok baru denger.”, kata Lisa.
Pembicaraan mereka tenggelam kembali dalam kebisingan kota. Arini dapat memperhatikan gerak-gerik mereka. Bu Hasan terus mengoceh, si Lisa menggigit jari sambil mengerutkan dahi, Bu Kamil berdiri membelakangi penglihatan Arini, sepertinya diam, dan ada si tukang sayur, Bang Ikmal yang sesekali mengambil alih penjelasan Bu Hasan.
***
Tentu saja Arini tahu apa yang dibicarakan para tetangganya itu. Arini tidak habis pikir bagaimana bisa rambut anaknya, Sasya, dihuni ratusan kutu rambut. Itupun baru kemarin ia mengetahuinya ketika anaknya menyodorkan hewan kecil itu dan mengatakan ia mendapatkannya dari jepitan rambut merah jambu miliknya. Lalu dengan polos ia bertanya, “Mah, ini apa ?” Dasar!Anak kota!
Sudah lama Arini tidak melihat hewan itu. Dulu waktu ia masih anak-anak masih tinggal bersama orang tuanya di daerah Gunung Kidul hewan itu sudah menjadi bagian keluarga para penduduk desa. Sudah jadi kebiasaan di tiap sore mereka duduk di teras sambil petan ( mencari kutu ).
Dan hal tersebut seakan membuat suasana akrab antar anggota keluarga maupun antar warga. Sambil merasakan semilirnya angin sore dan sinar mentari yang tidak begitu panas serta menikmati petak-petak tanaman padi yang baru saja ditanam.
Mereka tertawa-tawa sambil jari-jarinya mengejar kutu yang gesit menyelinap di antara batang-batang rambut. Terkadang mereka berlomba-lomba barang siapa menangkap kutu paling banyak dialah pemenangnya. Arini ingat betul peristiwa itu. Mak Sipah paling jago menangkap kutu sedangkan yang dijadikan arena perburuan biasanya rambut Mak Jukri, Mak Sarman, sama Mak Kosim emaknya si Jumin sahabatnya waktu kecil. Kenapa ? Karena memang mereka punya paling banyak kutu dan lagi sulit menangkap kutu dari kepala mereka sebab rambutnya panjang, ikat, dan lebat warnanya juga keabuan mirip warna kutu. Arini juga ingat dulu ia sendiri yang rambutnya palig bersih dari kutu karena rambutnya yang lurus dan licin.
Teringat kenangan itu Arini jadi berpikir kenapa juga orang-orang di desanya justru pelihara kutu padahal dikasih peditox juga langsung mati semua. Ngapain repot ngubek-ngubek kepala orang buat cari kutu.
Arini menuangkan cairan peditox ke rambut anaknya. Untung Mbok Nah masih nyimpen peditox. Mbok Nah adalah buruh cuci yang biasa datang tiap pagi mengambil pakaian kotor dari rumah ke rumah. Mbok juga yang biasanya menemani Sasya kalau Arini harus mengurus proyek ke luar kota.
Di tengah kesibukannya itu handphone Arini berbunyi. Sedetik kemudian terdengar suara Totok, pegawai Arini di kantor.
“Ya..udahlah Kamu saja yang dateng ke Sukabumi. Kamu kan dah sering to wakilin saya. Masa’ gitu saja mesti saya juga yang turun tangan.”, jawab Arini sambil meremas-remas rambut anaknya agar cairan peditox merata.
“Tapi Bu..kalau Bu Direktur sendiri yang datang…..”
“Paling saya cuma pidato. Lagian semuanya juga sudah beres. Udah Kamu aja, saya ada urusan. Titik !”, kata Arini lantas memutus sambungan dengan kasar. Sesaat kemudian handphone-nya berbunyi lagi, ketika dilihatnya dari pegawainya yang tadi segera handphone ia non-aktifkan.
Arini mengakui bahwa selama ini ia terlalu sibuk bekerja. Sejak suaminya meningal karena stroke ia harus mengurus Sasya sendiri sekaligus meneruskan kepemimpinan suaminya di perusahaan suaminya itu. Walaupun seorang perempuan, Arini berotak cerdas dalam dunia bisnis.
Arini mencuci rambut Sasya, membersihkan sisa cairan peditox dengan hati-hati agar tidak masuk ke mata anaknya.
“Sekarang Kamu menunduk. Mama mau sisirin Kamu. Nanti kalo’ ada yang jatuh langsung dipites ya! Beneran lho jangan biarin kalo’ ada yang lari. Kutu itu bisa terbang, kan kasihan orang lain yang dihinggapi tu kutu. Sasya! Denger Mama, harus sampai mati ya!”, perintah Arini.
“Mah, tapi kok orang-orang di desa nenek pada punya kutu?”
“Ya Allah jadi dari sana Kamu dapat kutu-kutu ini.”
Arini baru ingat sebulan yang lalu ia mengajak anaknya ke desa menjenguk orang tuanya.
“Nenek Sipah jago lho Ma”
“Nek Sipah? Kamu main sama Nek Sipah ?”
“Iya Ma, kan aku sama Nek Sipah balapan cari kutu di rambutnya Nek Kosim.”
“Nek Kosim ibunya pakde Jumin itu? Aduh Sasya..pantes kamu jadi gini…..Udah nunduk lagi!”
***
Arini sangat malu. Pikirnya pasti sekarang ini ia dan anaknya sudah jadi bahan gunjingan orang. Bu Hasan tukang gosip itu pasti sudah membicarakannya berulang kali. Bagaimana kalau relasi bisninya tahu ? Atau mungkin bawahannya tahu ? Mungkinkah sudah jadi gunjingan di kantor ?
Memiliki kutu rambut di tengah kehidupan metropolis Jakarta bisa jadi suatu aib yang memalukan. Apalagi kutu identik dengan kehidupan miskin dan jorok. Padahal jika ditelusuri sebenarnya Sasya terhitung korban. Mungkin juga anak kota sekarang tak tahu menahu apa itu kutu rambut. Apa sedemikian memalukan sehingga kisah kutu rambut dikubur sebagai hal yang tabu untuk diperbincangkan walau sebagai ilmu pengetahuan ?
Arini mengakhiri pikiran-pikirannya dengan menuangkan shampoo banyak-banyak ke rambutnya lalu meremasnya kuat-kuat.