KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kan Ku Kenang Selalu

              Ah… Indonesia ! Aku tersenyum sambil menghambur ke pelukan mamaku. Kalau ini 2 tahun lalu, aku pasti malu melakukan hal itu. Tapi sekarang aku cuek aja, sudah 2 tahun aku nggak ketemu mama. So, aku nggak peduli kalau ada orang yang berpikir ‘cowok kok manja!’, yang penting rinduku tersalur.

      Mama mencium pipiku, membuatku merasa nggak rugi meninggalkan negara Jerman tempatku selama ini belajar. Bukan maksudku lebih menyukai Jerman ketimbang Jakarta , tapi ada beberapa faktor yang menyebabkan aku lebih betah tinggal disana lebih dari Jakarta .

      Alasan utamaku adalah Felle, gadis paling cerewet, centil dan manja yang pernah mengisi hari-hariku dan sekarang malah dibahas oleh Mama. Dasar Mama nggak tahu perasaan anaknya sendiri.

      â€œKamu kok lama nggak menghubungi Felle? Dia beberapa kali tanya nomer telepon kamu ke mama lho,” Mama memberitahuku setelah kami berdua memasuki mobil dan meninggalkan Soekarno Hatta menuju rumah kami.

      â€œTerus Mama kasih?” tanyaku.

      â€œ Kan kamu yang larang mama kasih,” jawaban Mama membuatku lega. Aku memang pernah berpesan pada Mama agar jangan memberitahu Felle. Bukannya aku benci pada gadis itu, sejujurnya hatiku ini masih rindu melihat senyum manisnya.

      Tapi…kejadian beberapa tahun lalu langsung terputar dengan cepat diingatanku. Bagaimana dia sebagai seorang sahabatku malah menjerumuskanku ke dalam masalah. Ia yang membuatku kehilangan pacarku waktu itu, Joanne yang sangat cantik, sangat manis, sangat sexy dan juga menarik. Pokoknya tipe cewek yang bakal membuat semua kaum Adam tertarik. Well, kalau dipikir-pikir bukan kesalahan dia sepenuhnya sih, memang aku aja yang terlalu menuruti nafsu kelakianku—menduakan Joanne. Memang cowok itu nggak pernah puas ya?

      Alhasil, Joanne memutuskan aku padahal sehari sebelumnya aku berjanji akan mengakhiri hubungan dengan sephiaku. Kayaknya waktu itu Dewi Fortuna lagi nggak berpihak padaku. Pokoknya sejak saat itu aku memusuhi Felle karena aku tahu dialah kandidat utama pembocor rahasia, mengingat dia satu-satunya orang yang mengetahui masalah ini.

      Bukan masalah besar kalau seandainya perasaanku pada Joanne nggak sedalam itu, yang parahnya baru aku sadari setelah cewek itu menjauh. Makanya aku memutuskan melanjutkan studi di Jerman, mencoba melupakan bayangan Joanne sekaligus menghindari Felle yang terus-terusan meminta maaf—padahal seharusnya akulah yang patut disalahkan atas semua kejadian itu.

      ***

       

      â€Andrei, kamu nggak njenguk Felle?” tanya Mama saat melihatku yang  baru saja turun dari kamarku di lantai dua.

      â€Memangnya Felle kenapa?” tanyaku. Heran, kok tiap hari Mama bahas Felle terus sih? Memang sih, mama Felle dan mamaku adalah teman akrab, tapi kan nggak perlu membicarakan Felle terus.

      â€Lho, kamu lupa ya. Mama kan pernah bilang kalau dia sakit,” Ah iya, minggu lalu mama memberitahuku kalau Felle sering nggak masuk kuliah. Waktu itu aku cuma menanggapi dengan gumaman cuek.

      â€Kapan-kapan aja, Ma. Hari ini Andrei mau jalan-jalan sama temen, udah janji nih,”

      Mama tidak mengatakan apa-apa tapi terlihat jelas raut kekecewaan di wajahnya. Aku berpura-pura tidak melihatnya dan mengecup pipi mamaku sebelum melenggang pergi keluar dari rumah.

      ***

       

      â€Andrei, Felle menanyakan kamu terus lho,” lagi-lagi Mama mengingatkanku, padahal pagi baru saja menjelang. Aku mendengus agar Mama sadar kalau aku nggak berminat pada topik pembicaraan itu.

      â€Kamu nggak njenguk dia? Sebentar aja kenapa sih? Mama heran deh, kan rumahnya nggak jauh dari rumah kita, cuma selisih 6 rumah, ” Mama kembali menyuruhku, seakan nggak terganggu dengan dengusan setengah jenglelku.

      â€Males ah, Ma,” kali ini aku menjawab sejujurnya. Nggak sepenuhnya jujur sih, karena seperti pernah kubilang, aku merindukannya juga. Bagaimana enggak, selama 10 tahun kami bertetangga, dia sudah menjadi sahabat terbaikku. Pelipur laraku saat ditinggal cewek, dimarahi mama  ataupun mendapat nilai jelek. Walau dia satu tahun lebih muda dari aku, perkataannya selalu membuatku tenang dan nggak murung lagi.

      â€Sakitnya tambah parah lho,”

      Aku tersedak makanan yang baru saja kumasukkan dimulutku. Cepat-cepat kuraih air jeruk yang ada di meja makan dan menegaknya.

      â€Memangnya dari dulu belum sembuh?” aku menyuarakan keherananku. Sakit apa sih dia? Cewek secentil dan seaktif dia bisa sakit ya? Lama banget lagi. Kabar pertama dia sakit kuterima saat aku baru seminggu di Indonesia, sedangkan sekarang ini sudah hampir 3 bulan aku disini dan ia masih sakit?

      â€Iya, Mama juga heran. Kata Tania ( Tania adalah Mama Felle), mulanya Felle itu mengeluh pusing dan lemas. Beberapa hari dia sembuh, terus kambuh lagi. Waktu kambuh itu dia malah nekad masuk kuliah, jadinya malah tambah parah. Sekarang ini dia udah nggak masuk hampir 1 bulan,”

      Aku terkejut. Memangnya penyakitnya parah sekali ya?

      â€Dia sakit apa, Ma?” tanyaku, sekarang aku benar-benar tertarik pada pembicaraan ini.

      Mama angkat bahu, ”kalau nggak salah hepatitis B,”

      Aku cuma terdiam, tidak tahu apakah penyakit itu termasuk penyakit yang membahayakan atau tidak.

      â€Sudah, kok malah nglamun. Dihabisin tuh sarapannya. Katanya mau pergi ke Surabaya sama kakakmu?” Mama menegurku.

      ***

       

      Akhirnya, setelah 3 bulan menunda-nunda, aku melangkahkan kaki ke dalam kamar Felle. Tatanan kamar itu masih seperti dulu hanya saja suasananya tidak lagi ceria. Suram. Pengap.

      Disudut kamar itu, diatas tempat tidur, terbaring Felle. Wajahnya terlihat pucat, aku sama sekali tidak melihat adanya sinar kehidupan saat ia menoleh ke arahku. Susah payah ia mencoba tersenyum, tapi bibirnya hanya tertarik sedikit membuatnya seakan tersenyum sinis.

      Perut dan dadaku bergemuruh. Itu respon yang kurasakan dalam hatiku pertama kali. Seakan tiba-tiba ada beban seberat satu ton yang mengganjal perut dan hatiku. Aku balas tersenyum, mencoba meneguhkan hatinya, walaupun sejujurnya aku lebih memilih angkat kaki dari sini. Bukan karena aku masih membencinya, tapi perasaanku inilah yang menjadi masalah: gabungan antara rasa bersalah karena nggak segera menjenguknya dan kekecewaan kenapa aku harus melihatnya dalam keadaan seperti itu.

      Kudekati ranjangnya dan kulihat nafasnya tersendat-sendat seakan udara yang ada diruangan ini nggak cukup. Hatiku terasa pilu melihat sahabat yang sudah lama aku hindari harus terbaring tanpa daya.

      Aku nggak tahan berlama-lama di kamar Felle. Dalam hati aku bersumpah aku nggak akan menemui Felle lagi sampai ia sembuh. Pengecut? Ya, aku tahu itu. Aku seorang pengecut.

      ***

       

      Akhirnya, 3 1/2  bulan waktu liburankupun habis. Aku harus meninggalkan Indonesia, kembali melanjutkan kuliahku. Aku tidak menjenguk Felle lagi, padahal Tante Tania mengatakan melalui Mama kalau keadaan Felle tambah memburuk, setelah sempat membaik beberapa hari setelah kehadiranku. Ia memintaku menjenguk Felle lagi tapi berkali-kali aku mengemukakan alasan agar bisa terhindar dari tugas yang dibebankan padaku. Kata Mama, Felle nggak ingat siapa-siapa lagi kecuali Mama Papanya. Betapa parah penyakit yang dideritanya. Aku masih nggak habis pikir bagaimana ia bisa terkena penyakit separah itu.

      Dua bulan sudah berlalu sejak aku kembali ke Jerman. Dan hari ini, pagi-pagi jam 7 waktu setempat, Mama mengabari via telepon kalau Felle—ya, Felleku, sahabatku yang aku hindari selama 2 tahun belakangan ini—telah pergi ke rumah Bapa. Ia sudah meninggalkan dunia ini, meninggalkan penyesalan yang dalam di hatiku. Belakangan keluarga Felle mengetahui kalau Felle juga menderita leukimia, itulah yang telah membunuhnya.

      Kucengkram handler teleponku erat-erat sampai buku jariku memerah. Mama memberitahuku kalau Felle sudah meninggal sebulan yang lalu, tapi ia menungguku sampai hari ini untuk mengatakan padaku. Aku lega mama memilih langkah itu. Aku pasti akan lebih shock kalau mendengar berita itu pada hari H-nya. Entah kenapa, aku merasa lebih nggak bisa nerima kenyataan itu kalau Mama memberitahuku saat itu juga.

      Aku termenung dan menerawang. Seandainya waktu pertama kali mendengar berita itu aku lansung menuju kerumahnya tanpa mengemukakan alasan yang panjang dan lebar, mungkin—aku berharap mungkin saja aku bisa melihat senyuman dan keceriaan Felle. Seandainya aku juga nggak terlalu takut melihat kilauan kesakitan dan kesedihan dimatanya, mungkin aku masih bisa membisikkan padanya kalau aku sudah memaafkannya, hanya saja terlalu gengsi untuk mengungkapkannya. Tanpa sadar setitik air mata menetes dari mataku, dalam hati aku berharap air mata ini bisa membilas semua kepedihanku. Sayangnya itu nggak mungkin, penyesalan ini akan selamanya ada dalam hatiku.

Tinggalkan Komentar