KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Gastro Enteritis

      “Mas, masa kita cuma gandengan tangan sih? Cium aku dong mas!” rayu Lina. Aku pun mulai gemetaran, sehingga aku pun mulai mencium dia. Tapi tiba-tiba…byur…aku merasakan tubuhku disiram air. “Hei Leo! Bangun! Sudah jam 7, nanti telat, molor melulu!” ternyata Radit yang menyiramku dengan air. “Aduh Tuhan! Kenapa semua orang di sini suka menyiramku dengan air? Nggak Radit, nggak Baim, semua menyebalkan! Bisa nggak sih membangunkan baik-baik?” keluhku setelah Radit berlalu meinggalkanku. “Aduh gawat! Tadi khan aku mimpi berciuman dengan Lina. Mimpi basah nggak ya? Aduh sial! Bagaimana aku tahu kalau mimpi basah karena semua tubuhku basah disiram Radit, tapi tunggu dulu…(hidungku mengendus-ngendus) seperti bau kotoran manusia. Aduh Tuhan! Lagi-lagi aku mencret di celana. Bodoh ah, nanti saja mencuci sprei kamar tidur dan celana! Aku sekarang mau mandi…mau kuliaaah” omelku panjang lebar, setelah itu aku terburu-buru menuju kamar mandi. Setelah aku mandi, aku langsung melihat jam dinding kos “Hah…jam 7.15, aduh Tuhan mati aku! Mana hari ini waktunya Pak Monster lagi…sial sial sial” lagi-lagi aku mengomel sambil berlari menuju kampus.

      Sesampainya di kampus, aku melihat jam tanganku menunjukkan pukul 7.40 dan itu berarti aku telat 10 menit. Aku memberanikan diri membuka pintu ruang kuliah dan tiba-tiba Pak Monster eh maksudku Pak Johan melotot kepadaku. “Leo! Darimana saja kamu? Sudah tahu kuliah bapak jam 7.30 pas, kamu masih saja telat” tanya Pak Johan kepadaku sambil marah. Belum sempat aku jawab, Radit berteriak kencang “Leo molor terus pak!”. Baim pun menyahut “Ya pak, dasar pemalas tuh pak!”. “Diam! Saya tidak tanya kalian” ganti Pak Johan memarahi Radit dan Baim. “Begini saja…sebagai hukuman, sekarang kamu presentasikan materi kuliah minggu kemarin!” suruh Pak Johan, sehingga aku pun terpaksa presentasi. Untungnya aku masih ingat, sehingga presentasiku lumayan lancar. Tapi parahnya, habis presentasi perutku mules. Aku pun meminta ijin ke toilet dan sekilas kulihat Radit dan Baim tertawa lirih sambil mengarahkan kepadaku tangan dengan posisi jempol di bawah. Setelah dari toilet, aku segera menuju ruang kuliah lagi.

      “Leo, ternyata kamu hebat juga ya soal kuliah” bisik Lina kepadaku. Aku hanya tersipu malu, tapi kulirik Radit dan Baim tidak senang melihatku akrab dengan Lina. Karena aku kesal dengan mereka, akhirnya aku bertingkah seolah-olah akrab banget dengan Lina. Untungnya tidak ketahuan Pak Johan, sehingga aku merasa puas membuat jengkel Radit dan Baim. Setelah 1 jam pemberian materi kuliah, tiba-tiba Pak Johan berkata “Oke anak-anak, silahkan buku-buku dimasukkan ke dalam tas, kita ulangan untuk materi hari ini. Dan segera atur tempat duduk kalian!”. Meski anak-anak menyatakan keberatan, namun Pak Johan tetap bersikukuh untuk mengadakan ulangan. “Eh singa, aku dan Baim duduk di sebelahmu. Kamu harus kasih tahu jawaban kalau kami minta!” ancam Radit. Enak saja menyebutku singa, mentang-mentang Leo adalah lambang zodiak bergambar singa. “Enak saja minta contekan, saatnya aku balas dendam” kataku dalam hati. Saat ulangan berlangsung, setiap kali Radit dan Baim meminta jawaban, aku selalu bilang belum selesai. Sampai akhirnya ulangan selesai dan aku tidak memberikan contohan sama sekali untuk mereka. Setelah Pak Johan meninggalkan kelas, mereka pun menghampiriku dan mengancam lagi “Singa sombong, kami tidak akan membiarkanmu. Lihat saja! Kamu akan basah kuyup setiap pagi karena kamu tidak memberi kami jawaban ulangan”. “Aduh Tuhan! Untung mereka tidak memukuliku” kataku lirih setelah mereka berlalu.

      “Hai Leo! Kok bengong aja sih dari tadi, kenapa? Nonton yuk! Nanti ada film baru lho…katanya sih bagus, mau ya?” tanya Lina mengagetkanku. “Boleh saja (setelah itu aku mengucapkan “Yes” dalam hatiku)…tapi (aku memancingnya) apa pacar kamu tidak marah nanti?” timpalku. “Pacar? Pacar dari Hongkong? Sudahlah! Mau ikut nggak nanti?” dia terlihat agak kesal. Akhirnya aku mengiyakan saja karena feelingku mengatakan kalau Lina itu suka sama aku. Setelah sampai di bioskop, memang benar sih filmnya bukan film horor tapi tetap saja ada cerita horor di dalamnya. Pas tayangan horor, Lina merasa takut sehingga secara spontan dia menutup muka dengan kedua tangannya. Tak cukup begitu, dia tiba-tiba memegang lenganku sambil mengarahkan mukanya ke bawah pundakku. Aduh Tuhan, aku merasa gugup sekali Lina bertingkah seperti itu. Akhirnya rasa mulasku muncul dan aku pamit ke toilet. Setelah itu, aku kembali lagi ke dalam bioskop. Kali ini Lina bertingkah lagi, tiba-tiba saja dia merasa pusing karena ada bau rokok dari belakang. Langsung dia pegang tanganku dan kepalanya disandarkan kembali ke pundakku. Aduh Tuhan aku merasa gugup lagi, nggak tahu kenapa setiap Lina mendekatkan dirinya kepadaku aku merasa gugup sekali, apa karena aku suka dia. Karena gugup lagi, aku ijin untuk pergi ke toilet dan bisa ditebak…aku mencret,  untung tidak di celana. Setelah filmnya selesai, Lina marah-marah kepadaku tetapi dia tidak bilang kenapa dia marah, dia cuma mengatakan “Aku marah, benci, kecewa kepada kamu Leo”. Untung aku bisa menenangkannya.

      Seminggu kemudian aku berulang tahun dan aku ingin merayakan dengan Lina. Sebetulnya aku berencana merayakan ulang tahun bersama kedua teman kosku yakni Radit dan Baim, tetapi mengingat perlakuan mereka padaku setiap pagi (selalu menyiramku dengan air saat membangunkanku) dan setiap kuliah (selalu mengolok-olok di depan teman kuliah dan dosen), aku membatalkan niatku. Lebih baik aku mengajak Lina untuk makan malam di tempat yang romantis sambil memanfaatkan momen makan malam untuk mengucapkan cinta pada Lina. Saat yang ditunggu telah tiba dan aku bingung sekali menjelang makan malam. Aku membuka lemariku untuk mencari baju dan celana yang paling cocok yang belum pernah aku pakai, aku pun sibuk membersihkan wajahku dengan pembersih bahkan aku menyempatkan diri untuk mengunci kamar tidurku karena aku mau memakai masker wajah. Kalau tidak dikunci, bisa-bisa Radit dan Baim akan menertawakanku habis-habisan dan pasti akan memberi julukan banci. Setelah selesai pakai masker, aku berjalan secara sembunyi-sembunyi menuju kamar mandi agar tidak ketahuan Radit dan Baim. Tapi sialnya, aku bertemu dengan Baim secara tidak sengaja…lha kok dia berteriak “A…a…a…ada hantuuu!”. Aku pun tertawa geli, tapi aku segera menuju kamar mandi, takutnya Radit dan Baim kembali melihat hantu (aku). Saat aku keluar dari kamar mandi, tiba-tiba Radit sudah berada di depan pintu. “Ada apa kamu?” tanyaku ketakutan karena jangan-jangan Radit akan menginterogasi aku. “Eh, singa, kamu harus hati-hati kalau sendirian! Baim barusan bertemu hantu. Jaga diri kamu!” sahut Radit. Setelah dia meninggalkanku, aku pun tertawa terbahak-bahak tetapi kemudian aku terdiam sambil berkata dalam hati “Ternyata Radit baik juga sebagai teman, mau peduli dan mengingatkanku terhadap hantu. Kukira…dia akan selamanya menyebalkan”. Tapi lamunanku segera kuhentikan mengingat waktu telah menunjukkan sore hari. Itu berarti aku harus bersiap-siap menyiapkan kosmetika cowok baik hand and body lotion untuk cowok, shampoo dan minyak rambut untuk cowok, serta sabun mandi sporty khusus cowok.

      Saat makan malam, kulihat Lina dengan lahapnya menyantap setiap makanan yang tersaji di meja makan. “Gila benar! Apa dia belum makan seharian ini ya? Atau…dia belum pernah menyantap makanan restoran? Ah bodoh! Yang penting aku suka dia” kataku dalam hati keheranan. Aku kembali berkata dalam hati “Untungnya aku memilih restoran yang kelasnya menengah, coba kalau restoran mahal, bisa bangkrut aku”. Tiba-tiba Lina berkata “Alhamdulillah kenyangnya (setelah itu ia bersendawa)…Eh ma’af selamat ulang tahun ya!”. Aku pun mengucapkan terima kasih, setelah itu aku bersiap-siap menyatakan cinta “Lina, sebenarnya…(aku terdiam sejenak) sebenarnya aku ingin mengucapkan kalau…kalau…”. Tiba-tiba rasa mulas di perutku mulai terasa karena aku gugup, aku terpaksa ijin pergi ke toilet. Setelah selesai BAB (Buang Air Besar) karena mencret, aku melihat ada orang menjual bunga mawar merah, langsung saja kubeli. Setelah itu, aku menuju meja makan dimana Lina sudah menungguku. “Lin, ini buat kamu (aku berikan mawar merah yang harum tadi untuknya). Dengan bunga itu, aku ingin bilang kalau…kalau…”. Aduh Tuhan, kenapa aku sial lagi, kenapa rasa mulas kembali muncul…terpaksa aku pamit ke toilet lagi. Setelah aku kembali ke meja makan, kulihat Lina seperti sedang marah. Aku tidak berkata apa-apa lagi, hanya mengajaknya beli es krim spesial sambil berjalan pulang. Untungnya dia kembali tersenyum.

      Karena kecewa dengan peristiwa makan malam, aku memutuskan untuk pergi ke dokter mau menanyakan seputar mencret yang timbul saat gugup. Ternyata tidak ada obat untuk menangkal penyakitku itu, ada sih obat untuk menunda mencret tapi…efek sampingnya menakutkan…katanya sih bahaya terhadap usus, bisa-bisa risiko tidak bisa BAB…aduh Tuhan, takut. Kata dokter aku harus melatih diri untuk tidak gugup karena memang rasa gugup akan menimbulkan berbagai manifestasi, salah satunya defekasi (defekasi=BAB). Habis dari dokter, aku hanya terdiam melamun di rumah. Sebenarnya tidak melamun, cuma ingin sendiri saja. Tanpa terasa, mataku mulai mengantuk…baru beranjak dari tempat duduk, kudengar suara pintu diketuk. Aku pun langsung membukakan pintu karena pasti itu adalah Radit dan Baim. “Terima kasih ya Singa…eh maksudku Leo Aditya yang baik hati” kata Radit aneh. “Kenapa kamu? Mabuk?” tanyaku meskipun mereka tidak terlihat mabuk. “Ehm…bisa tidak kalau kita mengobrol sebentar?” tanya Baim dengan serius. “Baiklah” jawabku dengan sedikit terpaksa. “Begini friend (Baim terlihat sok akrab)…kami berdua sudah diperingatkan oleh ibu kos kalau bulan ini kami tidak sanggup bayar, kami harus angkat kaki dari kos-kosan ini. Ini semua gara-gara Radit (Baim menunjuk Radit dengan kesal, tetapi Radit hanya menundukkan kepala), dia ngajak taruhan untuk mendapatkan hatinya Rani - si cewek pub yang sangat seksi, tinggi semampai, dan cantik. Awalnya aku menolak karena Dio-primadona pub ikut taruhan. Aku khawatir kalah karena Dio memang cute, kaya alias tajir, dan perayu cewek. Tapi Radit selalu bilang kalau Rani belum tentu menginginkan cowok seperti Dio, bisa saja Rani jatuh cinta kepada cowok yang biasa-biasa saja. Karena taruhan itu, kami setiap hari harus ke pub untuk bersaing mendekati dan mentraktir Rani. Tapi sungguh sial, akhirnya Diolah yang berhasil membuat Rani jatuh cinta, mereka jadian. Padahal, tiket untuk masuk pub lumayan untuk makan 3 hari, belum biaya untuk makan, minum, dan sebagainya. Ayolah Leo…tolong bantu kami untuk bayar kos. Kami janji akan segera mengambalikan uang tersebut. Kami takut ketahuan orang tua kami kalau kami sering menyalahgunakan uang bayar kos. Ini saja uang jajan kami mulai menipis” tutur Baim panjang lebar.

      Aku terdiam sejenak, kemudian aku mendapat ide “Baik, aku akan bantu secara cuma-cuma, tidak kuanggap sebagai hutang, tapi…ada syaratnya”. “Apa syaratnya?” tanya Radit dan Baim secara bersamaan. “Begini…kalian tidak boleh pergi ke kafe setiap hari, jadi harus seminggu sekali. Kedua, kalian tidak boleh menyiramku dengan air saat membangunkanku di pagi hari. Ketiga, kalian tidak boleh mengolok-olok aku di depan teman kuliah atau dosen. Jika kalian melanggarnya, maka akan kuanggap sebagai hutang dan kalian harus mengembalikan uang tersebut 2 kali lipat. Jika tidak mampu membayar dalam waktu 1 bulan sejak pelanggaran, maka hp kalian akan kusita dengan paksa” lagakku mengancam. Kulihat mereka berdua berbisik-bisik setelah mendengar persyaratan yang kuajukan. “Bagaimana? Setuju tidak?” tegasku. 1 menit kemudian mereka menganggukkan kepala, setelah itu Radit berucap “Terima kasih ya singa…eh maksudku Leo. Tapi menyebut singa tidak termasuk dalam persyaratan khan?”. Uh, dasar sial! Kenapa aku tidak menyebutkan panggilan singa dalam persyaratan. Dalam 3 minggu kulihat mereka berdua mematuhi persyaratan, aku pun jadi gembira. Sebetulnya aku membuat persyaratan itu demi kebaikan mereka sendiri. Tiba-tiba Baim mengagetkanku “Leo, terima kasih banyak ya. Aku tidak menyangka kalau aku dan Radit bisa menjalani persyaratan yang kamu berikan. Kalau terus begini, kami bisa hemat pengeluaran”. Sejak saat itu, aku, Radit, dan Baim semakin akrab.

      Karena akrabnya, sampai-sampai suatu malam Radit menanyakan sesuatu yang serius “Ma’af ya Leo, aku dan Baim sempat marah saat kamu dekat dengan Lina, memang sih…kami cemburu. Tapi setelah melihat kalian berdua terlalu akrab, kami jadi sadar kalau kalian adalah pasangan yang serasi”. “Ngomong-ngomong, sudah jadian apa belum?” tanya Baim tiba-tiba mengagetkanku. Kemudian aku bercerita tentang kejadian-kejadian saat aku gugup. Mereka tertawa terbahak-bahak, tapi aku maklum soalnya memang lucu sih. Baim menawarkan sarannya “Eh, tunggu sebentar di sini, 5 menit lagi aku kembali”. Aku dan Radit hanya tertegun selama 5 menit…”Masya Allah” begitu ucapku dan Radit bersamaan karena melihat Baim mengenakan rok dan baju perempuan sambil berlagak seperti perempuan. Setelah itu, Baim mendekatiku dan mau mencium pipiku. Tentu saja aku menolaknya, kemudian aku berlari menuju Radit. “Jangan salah paham dulu, siapa tahu dengan latihan seperti ini kamu tidak gugup lagi terhadap cewek yang kamu taksir” jelas Baim. “Tapi aku bukan gay Baim…apalagi orang seperti kamu sangat tidak pantas menjadi cewek” jawabku kesal. “Rok siapa tuh? Darimana kamu dapatkan?” tanya Radit. “Kenang-kenangan dari Rani saat dia memutuskan untuk menerima cintanya Dio…aduh sebel banget kalau ingat kejadian itu” jawab Baim.

      Tidak berhenti saat itu, Baim terus menawarkan ide-ide konyolnya. Aku dibelikan sebuah patung wanita seperti yang dipajang di stand pakaian mall-mall. Mulanya aku menolak, tapi aku takut mengecewakannya. Akhirnya setiap hari aku menciumi patung, meraba tubuhnya…tetap saja gagal (aku masih gugup saat ketemu Lina) karena memang aku tidak tertarik sama patung. Tidak berhasil dengan cara itu, Baim menawarkan cara yang lebih gila. Aku ditemani Baim pergi ke tempat para PSK mangkal, aku disuruh pura-pura ingin tidur dengan PSK tersebut. Sementara Baim, menunggu dari kejauhan. Cara ini masih gagal juga karena memang PSK yang kutemui semuanya sudah berumur, entah kenapa, apa karena waktu itu yang muda sudah laku dibawa orang atau karena waktu itu bukan malam minggu (jadi tidak ramai). Bagaimana mungkin aku punya gairah kalau sama ibu-ibu seperti yang kutemui. Lagi-lagi Baim menawarkan idenya, kali ini lumayan masuk akal, aku disuruh ikut terapi yoga/meditasi. Tapi apa mau dikata, aku tidak sanggup kalau harus duduk bersila lama-lama karena kakiku pasti kesemutan. Melihat Baim yang selalu gagal membantuku, Radit pun akhirnya bicara kepadaku  “Sudahlah! Kamu tidak usah lagi mengikuti cara-caranya Baim yang konyol. Yang realistis sajalah. Sekarang begini, lebih baik kamu sering presentasi saat kuliah. Kamu juga gugup khan kalau presentasi. Coba itu dulu, kalau berhasil…baru kamu jadian sama Lina”.

      Ternyata caranya Radit berhasil juga, lama-kelamaan aku terbiasa kalau harus presentasi di depan teman-teman kuliah, sudah tidak gugup lagi. Dan ketika bertemu dengan Lina, masih gugup sih, tapi cuma sedikit. Setelah 2 minggu berhasil, akhirnya aku bisa menjadi Leo yang tenang terhadap Lina dan saat itulah aku menyatakan cinta kepada Lina. Aku ceritakan kejadian ini kepada orang tuaku dan mereka menyuruhku untuk segera melamar Lina, padahal aku masih kuliah. Tapi orang tuaku bersikukuh menyuruhku menikah, katanya selama belum bekerja, orang tuaku siap menanggung biaya hidup kami. Untung saja Lina tidak keberatan terhadap sikap over protektifnya orang tuaku. Lina bisa memahami alasan orang tuaku, agar aku tidak terbawa arus pergaulan bebas. Akhirnya detik-detik pernikahan segera tiba, Radit dan Baim selalu mengingatkanku untuk tidak gugup saat akad nikah berlangsung. Mereka juga melatihku untuk melakukan ucapan akad nikah. Tapi entah kenapa, saat hari H, semuanya terasa begitu sakral, sehingga aku merasa gugup sekali. Semua famili dan teman-teman kuliah sudah hadir untuk menyaksikan akad nikah, semua mata tertuju padaku. Saat penghulu melakukan latihan, aku lumayan bisa. Namun, pas saat betulan…tiba-tiba aku merasa sangat gugup. Akhirnya…perutku tiba-tiba mulas dan aku langsung berlari ke toilet. Kulihat Radit dan Baim tertawa terbahak-bahak, sedangkan Lina agak marah. Aduh Tuhan, kenapa harus mencret di saat-saat yang penting.

Catatan: Gastro Enteritis adalah istilah medis untuk diare alias mencret.  

One Response to “Gastro Enteritis”

  1. on 15 Feb 2008 at 14:08Arya

    Ceritanya Ga Jelazzz bangetzzzzz!!!!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Komentar