Enuansiasi Jiwa
November 17th, 2007 by ayub wahyudin
Namaku Rafa’. Aku seorang cucu dari nabi Adam, tapi aku bukan yang dikenal diantara para leluhur, bukan pula yang terjun diantara serigala ditengah gelombang duka. Rafaku dengan dlammah yang berkumpul mengajukan “bingungku”. Tebaklah aku! Aku adalah seorang “pelangi” yang memberi warna pada hamparan sajadah, memberi tempat bagi para penyair, aku rafa’ karena ada jiwa. Kata “orang”, jiwa adalah paduan jasad dan ruh yang bergerak merangkak, berlari, dan terbang menemui kekuasaan tuhan, melalui ayat-ayatmu.Akan tetapi, aku tetap mencari keberadaan jiwa dari referensi yang tersirat dan tersurat.
Oleh karenanya, aku sibuk membuka lembaran usang yang ada di rak itu. Lembaran usang itu hanya satu dari sekian ribu buku yang tertata rapih disana. Aku mengunjungi tempat ini, ketika berkeluh dan saat para penyihir meminta pertanggungjawaban atas dustaku. Tempat ini adalah pelarianku dari kejaran peluru yang meminta jawaban atas langit dan bumi.
“akhirnya kutemukan juga” kataku.
“hmmm..ini datanya..ini yang membuatku pening”.
Seorang murid bertanya “siapa yang berhak mendapatkan bahagia saat matahari terbenam dan siang berganti malam? Siapa yang mendapatkan duka saat malam berganti, dan cahaya itu masuk melalui celah jendela?.
Aku berfikir terlalu lama untuk menjawab soal tersebut, kuputuskan untuk mencarinya di lembaran kusam ini. Lembaran ini sering menjadi “kelam” bagi yang membacanya, apalagi bagi mereka yang menghapal dan mengamalkannya. Mereka dicerca oleh kaum berdasi. Mereka menjadi tempat umpatan para aktivis yang banyak menghabiskan waktu, bahkan jika umpatannya ditulis oleh pena merah yang penuh kebencian, akan setebal tesis atau skripsi.
Lembaran yang kubaca itu berwarna kuning, bukan putih, karena putih hanya milik yang maha putih. Dalam kuning dan putih ada jiwa, ada makna bahkan ada dusta. Kuning itu sebagai bukti konkret bahwa manusia ini tidak ada yang putih tetapi mendekati putih iya..
“Anak itu memang cerdas! Tapi kenapa dia tertarik dengan pelajaran yang membuatnya menjadi bodoh dilihat orang!”.
“Ahh..aku juga bodoh kenapa aku mengajarkannya?. Kenapa sekolah mengadakannya?,” padahal tidak ada sekolah lain yang memberikan pelajaran ini”, lembaran ini terlalu egois, bahkan setiap tulisan dan rangkaian kata ini menunjukan kalo ini adalah tulisan dewa, tulisan yang mengisyaratkan agar aku tetap melangkah meski siapapun menghunuskan pedang”.
Lembaran itu aku buka, bolak-balik, tanpa peduli akan kernyitan dahi serta lalu lalang orang mencari jawaban di rak sebelah.
“Nashab…Iya ini adalah Nashab!!
“kamu… Kamu anak kecil. Kamu yang bertanya tentang itu..kamu yang percaya tentang lembaran ini, kamu juga yang belajar dariku, kamu juga yang mengamalkannya, Ah sungguh luar biasa!!”
Keesokan harinya, aku bergegas menuju Madrasah (nama lain dari sekolah). Saat itu kakiku berjalan cepat menyingkirkan debu jalanan yang terbang gembira, aku tersenyum saat kakiku berada di depan pintu Madrasah. Kulihat satu-persatu diantara para siswa, wajahku berubah. “Ah..kenapa dia tidak ada?”.
Anak-anak, dimana Nashab?
Seorang murid bernama Fathah melangkah mendekatiku, membawa selembar kertas yang terbungkus dalam amplop kecil!
“Nashab sakit keras, Pak!”
Hahh!! Cuma itu yang terucap, cukup memberi jawaban aku terperanjat. Sepertinya aku harus mencari tahu dimana rahasia Tuhan yang kerap aku temui disini. Saat itu, dia datang ketika raut mukanya yang tersenyum, memegang tumpukan Koran yang dijajakan di perempatan lampu merah. Si pincang itu bernama Nashab , tatapannya tajam dan tiba-tiba dia melompat ke arahku, mendorong keras hingga aku terjatuh ke trotoar. Brakkk..benturan keras itu telah melukai kaki pincang, smentara pengendara motor berflat AB itu menghilang di gang Nila II, setelah beberapa saat menghilang, dia kembali kutemukan disini bersama Kiai Dzar yang menitipkannya padaku.
“jagalah anak ini Baik-baik…”
Tanganku membuka amplop kuning bukan putih, meskipun aku menampakan kebingungan di depan siswa-siswi, aku mencoba melapalkan kata yang tertera pelan dan Cuma aku yang mendengarnya, tulisan ini seperti virus baru yang menyerang pernafasankku..sesak sekali
Teruntuk Jiwa yang tenang…
Sesaat setelah mempelajari lembaran kuning..
Aku sedikit malu dengan mereka yang melemparkan lembaran kusam yang kupelajari, tapi aku sangat berterimakasih jika aku mendapatkan bahagia saat matahari terbenam, dan siang berganti malam, meskipun aku ditemani tanah merah dan ditancap oleh pusara. Akupun sudah mendapatkan duka saat malam berganti dan cahaya masuk melewati jendela. Aku berterimakasih pada kuning yang sejak dulu memperkenalkan aku tentang kebencian manusia yang tidak beretika, mereka merampas tempat berteduhku, merekapun menggali kamar tidurku, tapi aku nashab yang tidak akan goyah oleh kekuatan apapun kecuali Dia, aku nashab yang tetap berdiri tegak dengan lembaran kuning di tanganku. Biarlah aku menemukan hidupku bersama lembaran ini, tapi aku juga ingin lembaran putih yang sangat mahal bagiku, untunglah aku diasuh dan dijadikan anak pungut oleh oleh kiai Dzar…dan aku diberikan tempat berteduh bersama teman-temanku yang gemar membaca shalawat. Tapi aku tahu takdir, jika 40 hari yang terucap terjadi, itulah kehendak pencipta begitupun sebaliknya, aku mengidap kanker, terima kasih Dzar…
Ah..kenapa dia cepat menempuh cita-citanya, mendapatkan bahagia saat matahari terbenam dan siang berganti malam, yang mendapatkan duka saat malam berganti, dan cahaya itu masuk melalui celah jendela. Meskipun kamu Nashab, tapi aku akan tetap Rafa’, aku akan menempuh perjalanan ini untuk mengangkatku menjadi seorang Alim’, alim yang tau tentang lembaran kuning dan alim yang tau lembaran putih, aku akan mengantarkanku melanjutkan cita-citamu yang tidak sempat kamu temui, aku yakin jika kamu mempunyai waktu yang lebih lama, mempunyai kesempatan yang lebih banyak, maka kamu akan menjadi rafa’ yang tujuan utamanya adalah mendapatkan derajat yang tinggi dihadapan manusia dan tuhannya, aku akan mengubah diriku agar tersenyum saat malam berganti dan cahaya itu masuk melalui celah jendela.
Sore ini, aku mengantarkan Nashab ketempat yang dia pertanyakan. Iringan tahlil mengalun seiring langkah menyusuri daerah pekuburan. Binatangpun ikut hanyut dalam gema itu, burung-burung, katak, jangkrik, dan lambaian pohon pisang, yang mempersilahkannya menempati tanah pekarangannya. Kedamaian dalam air mata apa yang membuat mereka ikut bergerak, melantunkan, dan mempersilahkan. kamu memang anak yang baik…