KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Dua Tubuh Sebelum Subuh

Inikah kau, Nu, dengan jemari jatuh di tepi dunia yang lain? Aku melihatmu, bayang yang berhembus dari ruang ke ruang. Inikah kau, Nu, sepi yang tumbuh di antara dua mata yang tidak menatap ke manapun? Hujan luruh dari helai-helai rambut. Ucapkan sesuatu, agar aku terus berjaga di bilangan keberhinggaanmu. Nama-nama dari yang akan terlahir, berderet dari fragmen waktu dengan warna-warna monokrom. Sisihkan sebuah momen untuk dihidupi, di mana kau bisa berdiang di perapian yang hangat. Dan bisa kau katakan bahwa kau ada, di sini, menggenggam sebilah ranting dari kemboja yang bertahan di warna ungu.

Di sini aku akan terlahir, ucapmu.

Teras memanjang dengan putih yang mengabur di ujung yang lain.

Aku menemukanmu, ucapmu, sebagai hari yang ditapis dari resah warna.

Apa yang tinggal?

Batu-batu di dasar air kali yang mengalir. Rajah dari hulu dengan rindu yang dibisikkan diam-diam, hampir tak terdengar.

Tapi aku mendengarmu, ucapmu, seperti nyanyian yang tua.

Di ujung kampung, salak anjing terakhir sebelum terbunuh. Dengan apa kita akan menebus rindu?

Mungkin sedikit upacara kecil di atas batu nisan yang tak terjangkau berita.

Ucapkan sesuatu, Nu, bila pekuburan tua telah dibasahi bunga-bunga yang ditaburkan. Mereka tengah mengenang sesuatu, mungkin diri sendiri, yang berpijak di antara sisa darah yang mengering.

Aku mendengar suaramu, begitu jauh. Berapa lama kita akan di sini?

Bertahanlah sebentar. Langit akan dipenuhi nyanyian dari wanita-wanita pualam dengan sayap-sayap menadahi cahaya. Biarkan suara-suara akan merebutmu. Tubuh perlahan menjadi hanya bias yang transparan. Tataplah bentang di bawahmu. Wajah-wajah yang tertunduk. Apa yang kau dapati? Bahu-bahu yang berkarat. Legam rasa sakit yang memantulkan warna-warna logam, tersesat di frekuensi radio. Salam akan diucapkan dengan sendat. Parau. Buruh-buruh pabrik memesan minuman soda di tepi jalan yang berdebu.

Inikah kau, Nu, sebalut kain yang menyapu rumput di halaman tua? Kau dengar bisik daun yang terpejam. Mereka tidak tengah tertidur, Nu. Mengucapkan penciptaan sebagai lingkar.

Aku tengah mencari namaku. Di luar begitu gelap. Begitu menggoda. Genggam tanganku agar aku tahu aku ada. Kau ingat merdu jerit itu? Ketika tubuh-tubuh mulai rubuh. Kau ingat waktu bergerak begitu lambat, seperti keabadian. Tidak ada pengkhotbah dan do’a yang menghantarkan perpisahan. Hanya umpatan dan ludah. Tapi gigil itu, bahu-bahu yang gemetar menahan popor senapan, seperti anak kecil yang meringkuk di ujung dongeng hantu pencoleng. Alangkah indahnya.

Kau mengingat warna tanah itu? Menjumpaimu dengan rindu yang tidak tertahan. Kau seolah tidak bisa berkata.

Duduklah sebentar di sini. Kita akan bertahan, mendengarkan nyanyian gergaji dan pilar-pilar beton ditegakkan. Tanah-tanah digemburkan, bernyanyi serupa pecinta. Apakah ini yang merasuki tubuhku, Gairah yang kelewat resah? Berapa tonggak untuk mendamaikanmu? Ini bukanlah perkosaan karena aku telah mandah pada isyarat yang tua. Raihlah sebanyak mungkin pelupaan agar kau bisa berdiri dengan wajah tengadah di atas tubuh-tubuh yang terbaring.

Kau mengingat hari ketika kita melihat kilasan sebuah akhir. Kau berkata tubuhmu dingin dan kau menggigil dengan gairah pada apa yang akan datang.

Aku mulai mengantuk. Aku rasa aku akan tertidur pada penghapusan yang panjang. Apakah kita akan bisa kembali terjaga?

Segalanya mulai redup. Sisakan sedikit ingatan. Tapi untuk apa? Kita akan dirubah sepenuhnya. Inikah kau, daun yang terbaring di halaman ketika senja mulai turun dan panorama mulai menyaru warnamu? Kau akan mengerti sebuah waktu adalah milikmu. Segala bunyi dan geliat dari dunia yang tua akan terdengar samar saja. Buruh-buruh bangunan menepis debu di baju lalu pulang ke bilik-bilik triplek setelah memesan teh manis dan nasi bungkus. Sudut kota ini tak akan lagi kita kenali. Kuburan masal tanpa penanda. Di atasnya akan dibangun taman bermain dan anak-anak mengigau oleh tangis yang lirih. Tidak ada yang tinggal. Dan kita akan tinggal untuk melewati malam terakhir ini.

Nu, biru senyummu. Seperti kabut yang perlahan terangkat ketika kau berjalan dari sebuah arah bila kita pertama bertemu. Kau mengingat pakan yang riang dan sepeda dan gerobak dan sapi saling menyahut wajah-wajah dusun yang menggelar sayur dan buah. Kau telah ditemukan oleh sebuah tempat di mana kau akan berbaring. Dan kau tidak lagi berpaling. Dan aku telah melupakan jalan pulang karena rumah, Nu, adalah sebongkah batu ketika kau duduk meminum air tebu dan berkata lupa adalah anugerah.

Hening malam. Lampu-lampu tertunduk pada bayang-bayang yang datang. Waktu telah diringkas di sebuah padang. Di sini pernah anak-anak bermain bayang di bawah bulan dan remaja saling menitipkan cinta yang malu-malu. Semuanya telah kembali untuk terakhir kali. Gelak yang akan kita jaga hingga hari perjanjian. Duduklah di sini, Nu, meski tubuh kita perlahan menguap pada udara dan jemari yang bertaut mengasap ke arah yang berbeda. Harum tubuhmu. Kau berkata bahwa kau terhibur oleh senyuman. Kau berkata bahwa kau tidak pernah mendapati semuanya sebelumnya. Kau berkata kau telah digenapi oleh perjamuan. Nah, marilah kita pergi karena subuh telah memanggil kita.

2 Responses to “Dua Tubuh Sebelum Subuh”

  1. on 18 May 2008 at 18:54embunpagi

    Teruslah menulis!

  2. on 26 May 2008 at 21:59herys

    trims atas komentarnya. pendek banget
    herismo.wordpress.com

Tinggalkan Komentar