KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Namaku Astri Faradina. Panggil saja aku Anya. Ini bukan Anya Dwinov artis lumayan cantik, dan berpembawaan ceria di layar kaca. Ini Anya yang gloomy, mendung dan bertampang seolah ingin bunuh diri. Telah 25 tahun aku hidup di muka bumi. Ya, umurku terbilang muda tapi aku merasa berusia senja di dalam jiwa. Hidup itu membosankan, itu statemen terkenalku. Sebaris kalimat yang selalu kutorehkan di di mana saja. buku harian, di dinding, bahkan di balik pintu lemari kosku. Ya, bagiku dunia ini adalah berwarna abu-abu semata. Bukan, bukan karena aku buta warna.

      Sudah tiga tahun ini, Aku tinggal di kamar kos berukuran 2×3 m layaknya kandang sapi di kampungku.. Lima subuh alarm menjerit-jerit tak rela melihatku nyaman dibuai mimpi. Aku bangun dengan hati kosong. Satu lagi hari yang mengerikan akan kujalani. Wudhu, shalat subuh, mandi, menarik seprai sekenanya dikerjakan otomatis. Berangkat.

      Di depan terminal, kusantap dua buah gorengan berminyak hitam dan menunggu Kopaja sesak mengangkutku. Pukul delapan kurang kutekan jempol di scan finger dan memulai rutinitas bertahun-tahun. Melahap setumpuk file, memfotokopi form, bermesra dengan komputer hingga pukul tujuh malam bahkan lebih. Lembur tiap hari. Dengan tubuh remuk kembali kutunggu kopaja bermesra dalam dua jam kemacetan lalu berbaring sepi pukul sepuluh. Tentu saja dengan sedikit gerutu karena teman-teman kosku asyik bercanda ria di depan kamar. Begitu ritme hidupku kecuali hari minggu. Aku tidur seharian.

      Wajah-wajah itu. Wajah teman-teman penuh gosip dan celaan. Dokumen-dokumen itu. Bos bermulut pedas bukan karena melahap sambal. Gaji tak jauh dari standar buruh. Ah. Tak ada waktu untuk punya pacar. Aku tak sempat mencari dan rasanya tak peduli. Tak ada waktu hang out, aku lelah dan tak punya biaya.

      Bukan. Bukan ini yang kuidamkan ketika kuliah dulu. Ketika berangkat ke Jakarta dengan gelar SE penuh semangat. Magna cum laude. Aku gemilang. Lulusan terbaik. Bukan ini. Sungguh jauh dari impianku. Apa bedanya dengan robot? Ya, aku aku masih menangis sedikit dalam tidur singkatku. Sungguh. Pindah kerja? Terlalu suram. Puluhan wawancara yang membuatku dipotong gaji kujalani penuh harap. Gagal. Aku kenyang penolakan. Mereka mungkin merasakan aura muram kental padaku. Dan itu berdampak negatif bagi keriangan pekerja mereka nanti.

      Buntu. Gelap. Ah, Kemana Anya yang selalu menularkan ceria pada kawan-kawan? Anya paling bersinar di kampus? Sungguh, aku ingin muda lagi. Berkarya. Bahagia. Bukannya muram dan migren. Tak punya alasan untuk tersenyum. Ya Tuhan, Aku terjebak.

      Sering kuteriak. Berusaha bertahan. Berulang-ulang kuberbisik, Aku beruntung. Bagaimana pun menyedihkannya, aku bukan pengangguran. Nasibku lebih baik daripada jutaan anak muda pencari kerja di Republik ini. Kupaksakan diriku untuk bersyukur. Biar pun pekerjaan sial ini menghimpitku hingga sesak.

      Sering, aku menangis di toilet wanita. Duhai sepi nian kota kejam ini. Tanpa dukungan sahabat dan teman seorangpun. Ah, sahabat yang mana? Mereka hanya penghisap darah. Kemana mereka saat kubutuh peluk? Aku kian introvert. Teman kantor hanya pengganggu kesendirianku. Memperparah depresiku. Muakkkk…semua ini sanggup membunuh diriku. Aku terbelenggu dalam ruang abu-abu gedung pongah. Gedung ini menelanku. Tuhan..Tuhan..Tolong aku…apakah aku harus berlari menyambutmu dengan luka teriris pisau di nadiku?

      Hingga suatu hari, saat membuat invoice tagihan : teman tapi musuh sehari-hariku, kutersihir membuka window baru. Ada sesuatu mendorongku untuk menulis. Bukan. Bukan mengetik isi form aplikasi. Bukan juga membuat laporan pada bos Jepun. Bagai terhipnotis lancar kuhentakkan jari-jariku berirama dan…menulis sebuah puisi! Ya sebuah puisi! Sahabat lamaku kembali menyapa di kubikel sempit ini! Ahoi, Dia kembali!

      Sejak aku berjuang keras hidup di kota ini. Kulupakan jiwaku dan bergerak layaknya seonggok robot berdaging! Aku melayang. Kupejamkan mata. Sekelilingku tetap sibuk dengan komputer mereka masing-masing. Mata mereka memerah karena paparan radiasi layar. Hanya ketukan irama hambar merabai keyboard terdengar di seluruh ruangan ini. Tak ada kehidupan.hanya robot dikejar waktu. Dalam jiwa, Mereka semua  adalah kembaranku.

      Kutuangkan sekumpulan kerumitan yang ada di dadaku. Sebuah puisi terlahir. Nazla, Seorang perempuan mencari dirinya. Duhai, itukah aku? Kurasa beban berton-ton terlepas saat kedua ujung bibirku tertarik ke atas. Ya ampun, aku tersenyum! Sudah lama sekali aku ingin tersenyum dengan benar. Bukan senyum dan anggukan kewajiban pada bos dan rekan. Senyuman dari hati. Seorang rekan di depanku menatap heran. Ah tak peduli. Aku ekstase.

      Kumenari lagi bersama harmoni indah. Berenang dalam lautan kata-kata. Menyegarkan. Dan terciptalah sebuah seni sekali lagi, setidaknya menurutku. Untuk pertama kalinya aku bersyukur dengan rasa lega. Terima kasih Allah, kau tunjukkan jawaban atas kegelisahanku. Kekosonganku. Untuk pertama kalinya kuberbahagia. Ringan. Berputar. Melayang seperti dalam iklan minuman ringan di TV! Jauh meninggalkan tumpukan arsip, dokumen, meninggalkan teman-temanku, bosku, meja berantakanku….puisiku membuatku terbang…! Sungguh…terbang !

      Ya, Itu kejadian enam bulan lalu namun serasa baru kemarin. Tapi pertemuan kembali dengan puisi sahabatku mengubah hidup seorang Anya seratus persen. Memang, Aku masih saja menjadi buruh di kantor ini. Hidupku tak bisa dibilang fun seperti si fenomenal Jejak Petualang, Riyanni Djangkaru melanglang dunia.

      Tapi kupunya sesuatu kini. Yang membuatku benar-benar hidup. Layaknya iklan rokok saja. Kutemukan sisi indah diriku. Kumencipta disela-sela rutinitas yang memualkan. Rutinitasku demi sesuap makanan dan memenuhi kebutuhan. Semoga tak terdeteksi oleh lirikan tajam bos Jepunku. Kukerahkan segala pede mengirim ke media massa. Tentu saja dengan nama pena. Yang indah dan puitis di telinga.  Ada beberapa dimuat dan banyak yang ditolak. Tak mengapa. Puisiku penyembuhku. Cerpen ini meditasiku. Apa yang kucari lagi?

      Aku bergabung dengan komunitas sejiwa di Jakarta. Kuikut relawan pengumpul buku anak-anak untuk disumbangkan. Aku beribadah dengan khusuk. Penuh syukur atas hidup baru yang lebih berwarna. Tak hanya abu-abu saja. aku mengenal warna baru yang cantik. Penuh gairah.

      Perlahan, kubuka cangkang keterasinganku. “Kamu lucu dan  makin cantik saja! Kamu bukan cewek nerd dan jutek lagi!” goda Lisa ditimpali gelak Erna di sebuah kafe kecil. “Iya, dulu lirikanmu bisa bikin lalat yang lewat mati mendadak!”

Hah? Cewek nerd? Jutek? Lirikan maut dalam arti sebenarnya? Itukah diriku sebelum puisi menemukanku? Aku tersenyum. Legit. Dari hati yang bahagia. Menatap langit sore. Sungguh oranye. Terima kasih Tuhan, ternyata dunia ini indah sekali….

Tinggalkan Komentar