Diantara Dua Pilihan
November 17th, 2007 by quavi
(for all playboy around the world and special thx buat Amel Fernandez yang bikin cerpen Menantu Pilihan Papa sehingga muncullah ide cerpen ini)
Vinci menggeliat diatas kasurnya yang empuk. Ia melirik jam dinding di kamarnya dengan mata yang masih setengah terpejam sambil berusaha mengingat-ingat hari apakah itu. Jam dinding berbentuk segiempat berlatar belakang warna putih polos itu menunjukkan pukul 07.15 yang langsung membuat mata Vinci terbuka lebar seiring ingatnya dia bahwa hari ini hari Sabtu. Munculnya ingatan itu diikuti dengan serentetan informasi yang muncul sepersekian detik kemdian: hari Sabtu bukan hari libur, hari Sabtu harusnya ia berada di sekolah dan informasi yang paling menjengkelkannya—ini sudah jam 7 lewat yang berarti ia terlambat.
Secepat kilat cowok dengan bodi kerempeng itu berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Baru dua langkah, ia berhenti. Ia baru saja mengingat informasi yang nggak kalah penting dari informasi sebelumnya: hari ini ada rapat kinerja guru yang berarti LIBUR!!!
Fiuh!
Vinci menghembuskan nafas lega sambil menghempaskan badannya lagi ke kasurnya. Masih belum yakin sepenuhnya, Vinci berusaha mengorek lagi ingatannya. Tatapan Vinci nyalang beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangguk mantap dengan senyum tipis tersungging di bibirnya. Yup, hari ini gue libur!
Tanpa dikomando pikiran Vinci sekarang berpindah ke wajah seorang gadis. Nivvy—gadis itu telah merajai—ups..meratui pikiran Vinci selama seminggu terakhir ini. Dan gadis ini pulalah yang membuat Vinci sulit tidur kemaren malam. Dalam seminggu terakhir ini Vinci telah melakukan PDKT pada Nivvy yang seperti gadis-gadis lainnya selalu menanggapi Vinci dengan baik. Padahal sih tampangnya cuma masuk dalam kategori lumayan, tapi entah kenapa dari sekian banyak cewek yang pernah mampir ke kehidupannya hanya secuil saja yang berani mengambil keputusan untuk menolak tawaran cinta si cowok berkulit putih ini. Makanya nggak heran kalau Vinci lebih berani lagi dalam memberikan tawaran kasih sayang kepada para gadis (berhubung si Vinci masih normal, so…girls only!!) yang membuatnya mendapat julukan:
-
- Penakluk cewek dari temen-temen cowoknya yang tahu dengan pasti berapa jumlah cewek yang jadi koleksinya
- Playboy dari para cewek yang belum kenal dekat dengannya dan membencinya karena sering gonta-ganti cewek
- Cowok keren dari para cewek yang ngantri jadi pacarnya
- Mata keranjang dari para cowok yang iri dengan keberhasilan Vinci
- Cowok bangsat—yang sudah jelas dari siapa: cewek yang diputusin Vinci secara sepihak.
Julukan sebanyak itu ternyata malah membuat Vinci semakin gencar mengobral cinta tanpa rasa bersalah. Well hampir tanpa rasa bersalah karena kadang setelah ia jadian dengan seorang cewek rasa bersalah itu menyelimutinya ketika dilihatnya seorang cewek yang lebih menarik dari ceweknya sekarang lewat di depannya. Secara langsungnya sih rasa bersalah pada diri sendiri kenapa ia sampai nggak tahu keberadaan cewek cakep (cewek kedua yang baru saja lewat) dan malah mengahabiskan waktunya dengan cewek yang lain?(cewek pertama yang udah jadi ceweknya).
So, alasan itulah yang selalu membuat Vinci berpikir keras semalaman sebelum ia memutuskan untruk menyatakan cinta kepada seseorang. Dan…setelah kemaren ia berpikir keras dengan mempertimbangkan sisi buruk dan baiknya, Vinci mendapat suatu keputusan. Ia akan nembak Nivvy besok—yaitu hari ini (Sabtu).
Hati dan bibir Vinci tersenyum membayangkan cewek itu sudah menjadi pacarnya. Hm…setelah menjomblo hampir 2 bulan akhirnya ia bisa mendapat belaian seorang cewek yang juga bisa ia pamerkan pada teman-temannya yang tentunya akan semakin gencar meminta tips-tips darinya tentang cara menggaet cewek. Senyuman tipis itu kembali membawa Vinci ke alam mimpi.
”Vinci…bangun dong,” sebuah suara yang lembut membuat Vinci membuka matanya dengan sangat pelaaaan sekali.
”Sudah hampir jam 12 lho sayang,” si suara memakai taktik kedua agar Vinci mau bangkit dari tempat tidur yaitu menyebutkan pukul berapa sekarang. Vinci cuma bergumam nggak jelas lalu membalikkan badannya memunggungi orang yang membangunkannya—cara halus untuk mengatakan: ’hush…pergi sama!!!’
Si pemilik suara nggak kehabisan akal. Masih dengan suara lembut yang sebenarnya memendam kejengkelan ia berkata, ”kalo Vinci nggak bangun sarapannya Mama kasih ke Meong aja deh, kayaknya si Meong doyan Sup Asparagus juga tuh.”
Dan…bingo! kali ini siasat si Mama berhasil. Tanpa dikomando dua kali Vinci bangkit dari kasurnya, nyengir konyol sambil menatap mamanya dengan pandangan yang mengatakan: ’Jangan dikasih Meong!! Vinci suka banget Sup Asparagus’, loncat dari kasurnya dan berkata dengan teriakan nyaring, ”tunggu 10 menit.”. 10 menit yang berarti waktu yang ia janjikan untuk turun ke meja makan setelah membersihkan dirinya (dalam artian gosok-gosok badan dengan sabun. Istilah kerennya: Mandi) dari segala ingus, iler, keringat, belek, jigong dan segala kotoran yang melekat ditubuhnya.
Kurang dari 10 menit Vinci sudah selesai melaksanakan ritual paginya (ups…siang) dan menuju ke ruang makan tempat makanan lezat menunggunya. Kurang dari 10 menit pula ia telah menghabiskan 2 mangkuk sup Asparagus dan tanpa perasaan berdosa {karena telah menghabiskan jatah si Meong (si Meongnya pinter juga, dia tahu kalo bakalan dapet Sup Asparagus kalau seandainya si Majikan nggak bangun-bangun) yang dengan setia setengah jengkel (kebalik: jengkel setengah setia) menanti di bawah meja makan sambil mengeong} minta tambah lagi yang berarti jatah adiknya yang berumur 8 tahun dan sebentar lagi pulang sekolah juga ia habisin.
Si Mama mengangurkan mangkuk ke 3 dengan suatu pemikiran yang berkecamuk di otaknya: anak ini mirip siapa sih? Mama Papanya nggak ada yang rakus lha dia kok…
Karena si Mama masuk dalam golongan Mama yang baik jadi segera ditepisnyalah pemikiran itu dan menuju ke pintu depan. Kenapa harus ke pintu depan? Ya karena saat itu ada yang mencet bel pintu yang bunyinya standard banget yaitu ting-tong-ting-tong. Sebenernya pengen beli bel pintu yang bunyinya:
-
- Mbek-Mbek ato Mooo—tapi takut dikira tempat pejagalan
- Meong—yang ini mah nggak perlu, kan udah ada si Meong
- Guk-Guk—kalo bel-nya beneran kayak gini, si Meong bisa pensiun duluan saking takutnya
- Cit-Cit-Cit—suara burung berkicau, bukan tikus
tapi sayangnya nggak ada yang jual bel pintu dengan suara seperti itu, so pasrahlah si Mama (kenapa Mama? Ya karena dia yang beli) dan dengan berat hati membeli bel ting-tong.
Sekarang si Mama udah ada di depan pintu terus dipegang kenobnya dan eng-ing-eng…(inilah namanya keajaiban dan kecanggihan teknologi) kurang dari satu detik Mama bisa melihat daerah lain (yaitu taman depan rumahnya). Ajaib kan! Memang pintu adalah media transportasi cepat untuk berpindah ke dunia lain (ups…area lain)—segeralah beli alat canggih nan mutakhir ini, cepat!! Persediaan terbatas (Ya ampun…jayus banget sih).
Well..kembali ke Mama yang udah bukain pintu. Si Mama tertegun karena di depannya dengan pakaian putih-putih—bukan hantu karena mana ada hantu Indonesia pake baju kerah tinggi beraksen renda warna putih yang dipadu sama rok A Line putih yang juga berenda. Yang ada hantu Indonesia (penekanan pada kata Indonesia) itu pake kain ketutup sampe wajahnya hampir nggak kelihatan (yang beken dengan nama pocong) ato pake baju terusan mini dan ketat warna putih (nama bekennya: si Manis Jembatan Ancol—MJA). Dengan kata lain hantu Indonesia nggak ada yang pakaiannya bagus—semuanya pasti nyeremin. Plus hantu Indonesia jarang ada yang cantik (kecuali si MJA). Plus lagi…jarang ada yang muncul jam 12 siang tet.
Karena si Mama yakin tuh cewek bukan hantu, so Mama bertanya: ”Cari siapa ya?”
Si Cewek tersenyum dengan manis, ”Siang, Tante. Vincinya ada? Saya Stefani—temannya. Temen di tempat les,”
Mama mempersilahkan si gadis masuk dan memanggil Vinci yang selama ia tinggal telah memakan habis mangkuk ke 5 (yang artinya jatah si Papa juga dihabisin). Vinci keluar dengan penasaran.
”Stefani!!” Vinci yang tidak menyangka akan menekan gadis itu di rumahnya meneriakkan nama gadis itu dengan volume hampir maksimal. Teriakan itu membuat si empunya nama terlonjak kaget tinggi ke udara (nggak setinggi Monas sih, tapi cukup tinggi lah)
”Wah…wah…kalau teriakan loe udah segitu kencengnya berati loe udah nggak sakit lagi ya?” Stefani mengembangkan senyum.
Ha? Gue sakit? Vinci malah bertanya dalam hati. Emang gue sakit apaan? Dalam dua detik ia mencoba mengorek otaknya—mengingat-ingat pertemuan terakhirnya dengan Stefani. Ah…iya…waktu itu dia telpon gue yang udah nggak masuk les beberapa kali. Gue bilang kalo gue sakit padahal sih gue lagi sibuk ngejar si Nivvy.
”Oh…itu…gue udah nggak sakit lagi kok,” Vinci kali ini berkata jujur—karena kan dia sekarang memang sehat walafiat—kecuali fakta ia hampir menghabiskan semua jatah makan orang rumahnya yang berarti dia hampir mengidap penyakit ’tidak berperasaan’. Ups..hampir kelupaan…kenapa si Vinci mencoba mengingat hanya dalam waktu dua detik? Jawabannya simple banget: soalnya kalo lebih dari dua detik ntar dikira dia LoLa (Loading Lama) dan dia nggak butuh julukan baru apalagi yang menurunkan image seperti itu.
”Wah…rugi dong gue bawain loe brownies. Kirain loe sakit jadi rencananya gue pengen jenguk gitu. Mumpung gue libur, sekolah gue kan cuma sampe Jum’at,” Stefani menyatakan alasan keduanya (kenapa kedua? Well baca dong ucapann dia selanjutnya), “kan gue juga kangen sama loe,” nah…tahu kan sekarang. Istilah ‘njenguk’ tadi cuma dijadiin tameng. Aslinya cewek ini memang kangen berat sama si rakus Vinci.
Vinci terperangah. Dia tahu kalau gadis di depannya adalah tipe cewek yang bakal teriak A kalo dia ngerasa A. Apalagi memang beberapa waktu lalu Vinci sempet suka godain (dalam arti ngerayu gombal kayak orang PDKT) Stefani. Nggak heran sekarang cewek itu berkata demikian (entah itu dalam konsep guyon ato serius) karena menghilangnya Vinci selama semingguan membuat cewek itu merasa kehilangan.
Biar nggak keliatan idiot, Vinci cuma terperangah sepersekian detik aja. Setelah itu ia mengembangkan seyum sambil membentuk sederetan kata, “wah…sama dong sama gue. Gue juga kangen nih. Eh, gimana kabarnya si Barky (bukan nama guk-guk, tapi julukan buat guru les Matematika yang galak banget plus suka nyalak)?”
“Ih, kok malah nanyain si Barky sih?” Stefani memprotes dengan nada genit.
Perbincanganpun berlanjut. Tak terasa hampir 1 jam Stefani menghabiskan waktu dengan Vinci. Dengan berat hati akhirnya Stefani harus berpamitan dengan Vinci dan Mamanya.
”Vinci, gadis itu baik ya? Cantik lagi,” kata-kata Mamanya mengagetkannya.
”Eh? Oh? Iya…” cuma itu yang bisa dikatakan Vinci karena saat ini pikirannya bergelut di udara. Kok gue bisa lupa ada cewek secantik Stefani? Emang sih dibanding sama Nivvy dia lebih cablak—suka ceplas-ceplos. Tapi itulah kelebihan dia. Tapi Nivvy juga punya kelebihan. Walau nggak secantik Stefani tapi dia perhatian banget sama gue. Gue merasa cocok banget sama tuh cewek (Nivvy).
Aduh..gue jadi binggung nih. Nivvy ato Stefani ya? Tanggepan dua-duanya juga baik banget sih—semua pada nerima gue. Kalo misalnya gue nembak, chance terbesar sama siapa ya? Stefani ato Nivvy? Hm…kayaknya dua-duanya juga suka sama gue. Kalo gue sama Nivvy berarti ruang lingkup gue untuk cari jelalatan di skul jadi terbatas soalnya dia sekelas sama gue. Sedang kalo sama Stefani…hm…kadang cewek yang ceplas-ceplos gitu judes banget kalo lagi ngambek. Ya udah deh…gue pilih Nivvy aja. Lagian udah banyak duit yang gue keluarin buat telpon, nyamperin dan beliin hadiah buat Nivvy. Kalo sampe nggak dapet trophy (baca:Nivvy)nya wah…bisa rugi berat gue.
”Kapan-kapan ajak dia main ke sini ya,” kata-kata Mama yang sederhana itu membuat Vinci berpikir lagi.
Wah…ternyata mama suka Stefani. Gimana nih? Kalo gue pilih Stefani berarti restu Mama akan cepet keluar yang artinya duit jajan gue bakalan nambah karena Mama tahu gue lagi pacaran. Tapi kalo sama Nivvy gue nggak bakal dapet uang jajan lebih. Satu persatu pertimbangan muncul di kepala Vinci. Si empunya kepala menggaruk kepalanya padahal kutu-kutu di kepalanya lagi libur dan nggak beraksi. Vinci binggumg banget.
Enaknya pilih yang mana ya? Cewek yang Vinci suka—yaitu Nivvy ato cewek yang Mama Vinci dan Vinci suka yaitu Stefani?
Aaargh!!!
Bisa pilih dua-duanya nggak ya?
Surabaya, 19 July 2006