Cewek Modern
November 17th, 2007 by quavi
(Untuk Meliana yang punya rencana jadi cewek modern, juga untuk Femy dan Rahma: thx atas ide ceritanya)
“Bukunya dipegang yang bener dong.” Neva menegur adik kembarnya yang menaruh setumpuk buku di dadanya tapi hanya menahannya dengan ujung kelima jarinya (ingat: hanya ujungnya saja—finger tip-nya doang!!!) dengan posisi yang nggak nyaman sama sekali. Sedang tangan kanannya menjinjing tas belanjaan hanya memakai satu jari—telunjuk yang membentuk huruf U.
“Ini udah bener.” balas si adik kembar—Vada tanpa mengubah caranya membawa buku padahal dari raut wajahnya terlihat sekali kalau ia ingin menyingkirkan barang bawaannya jauh-jauh.
“Bener apanya?” tukas Neva sembari mengulurkan tangannya menuju jemari Vada dan menekan jari-jarinya supaya menahan buku dengan erat.
“Kakaaak!” Vada memprotes. “Nanti kena kukuku. Kalau patah gimana?”
Ah, jadi itu rupanya pokok permasalahannya. Neva menatap dengan pandangan mencemooh ke arah jemari Vada yang baru saja dipasangi acrylic nail—sejenis kuku palsu dengan corak gambar bunga-bunga kecil berwarna pink dan merah.
”Kalau cara megangmu kayak orang yang takut tertular suatu penyakit gitu lama-lama buku-bukumu bisa jatuh,” Neva menasehati Vada. Ia masih melirik kuku palsu sepanjang 1 cm milik adiknya itu dengan setengah jijik.
Neva nggak habis pikir kenapa adiknya itu suka sekali memakai kuku palsu. Tadi sewaktu mereka berdua menginjakkan kakinya ke Mall untuk mengikuti kursus bahasa inggris yang memang diadakan di lantai 4 Mall, seorang SPG (Sales Promotion Girl) memberikan sebuah brosur pada mereka. Brosur digital nail painting.
Kalau saat itu tidak ada Vada, Neva pasti membuang brosur itu setelah melriknya sekilas. Tapi tidak kali ini. Vada langsung mengambil brosur itu sebelum kakaknya membuangnya ke tempat sampah.
Seperti tertarik oleh magnet, setelah melihat brosur itu, tak henti-hentinya Vada merengek pada kakaknya agar mau menemaninya ke counter yang memberikan jasa digital nail painting tersebut. Neva yang tahu kalau sifat adiknya sama persis dengan dirinya—yaitu keras kepala—cuma bisa pasrah saat Vada—setelah pulang kursus—menarik tangannya dengan semangat ke tempat penawar jasa tersebut.
Dan sekarang, setengah jam setelah proses digital nail panting itu selesai, Neva lagi-lagi harus menghadapi sifat keras kepala adiknya.
”Kalau gitu kakak aja yang bawa bukuku biar nggak jatuh, gimana?” Vada memandang kakanya denagn mata berbinar—seakan ia baru saja mendapatkan ide yang sangat brilian.
Kontan Neva melotot tapi tetap saja ia mengulurkan tangannya menerima buku-buku yang jika tebalnya dijumlahkan pasti nggak kalah dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang sering ia lihat di perpustakaan sekolah. Mereka berdua baru saja mendapat setumpuk buku—lebih tepatnya sih 2 jilid kamus Scrabble—sepulang menghadiri kursus.
Akhirnya kaki mereka membawa mereka ke KFC. Setelah memesan dan menaruh baki berisi nasi, ayam dan soft drink, kedua kakak beradik itu duduk. Neva memijat pelan pundaknya yang serasa mau copot setelah membawa bawaan yang ia pikir beratnya mencapai 10 kilogram.
”Eh, Va,” tiba-tiba sesuatu mengusik benak Neva.
”Apa?” tanya Vada tanpa menoleh ke kakaknya, gadis bermata bulat ini masih asyik mengagumi keindahan kuku barunya.
”Itu…” Neva menunjuk ke arah kuku baru adiknya. ”Gimana caramu makan? Kan harus pakai…tangan…ehm…tanpa sendok.”
Vada terperangah. Benar juga. Sedari tadi ia tidak memikirkan hal itu. Berulang kali ia melirik ayam yang terlihat menggoda di depannya. Saat ini ia lapar sekali apalagi memang sedari tadi ia ingin memakan fried chicken. Kemudian pandangannya beralih ke kukunya yang terlihat menawan. Ia nggak tega jika harus merusak kuku barunya yang tertempel dengan apik di jari mungilnya.
Vada cuma meringis.
∞∞∞
”Inget ya Mbak, setelah keramas jangan dikeringin pake hair dryer, biar kering alami aja, nanti hasilnya pasti lebih bagus,” hair stylist yang bernama Gunawan itu menjelaskan pada Vada.
Vada mengangguk tanda mengerti lalu menuju ke kasir. Di sana kakaknya sudah menunggu. Memang sepuluh menit yang lalu ia mengabari kakaknya via SMS kalo ia sudah selesai.
”Gimana Kak, bagus nggak?” Vada meminta pendapat kakaknya. Rambutnya yang semula hitam lurus kini sudah berubah menjadi coklat kemerahan dan bergelombang.
”Hm…bagus,” jawab Neva. ”Kamu jadi terlihat lebih dewasa.”
”Iya dong, kan tahun ini udah kuliah. Cantik nggak?” tanya Vada sambil memainkan seikat rambutnya yang bergelombang.
Neva mengangguk pasti. Dan memang benar. Wajah Vada yang memang dari sononya sudah cantik jadi terlihat lebih fresh dan ceria.
”Kakak nggak pengen nyoba?” Vada penasaran.
Neva mencibirkan bibirnya. ”Duduk di salon berjam-jam? Ogah lah. Apalagi harus ngabisin duit…kamu bayar berapa tadi? 2 juta ya? Hm…apalagi duit segitu gedhenya cuma untuk ngurusi rambut doang, rugi lah.”
”Kakak…yang namanya buat penampilan itu nggak ada istilah rugi. Ini udah termasuk murah lho. Harga segitu kan udah termasuk hair extension sama highlightnya, nggak cuma ngritingin doang,” Vada mencoba membela diri. Memang bagi gadis ini uang segitu nggak ada artinya mengingat ia berasal dari keluarga yang keuangannya jauuuuh diatas batas standard.
”Iya, aku tahu. Aku cuma sayang aja. Mending dibeliin HP ketimbang buat rambut.” Neva mengutarakan pendapatnya. Cewek ini memang lebih tergila-gila dengan gadgets.
Vada nyengir. “Itu topik yang beda. Masa kakak nggak mau jadi cewek modern? Ubah dong dandanan kakak, masa dari zaman Indonesia cuma pake lampu ublik sampe Indonesia bisa pake lampu disco Kakak terus-terusan pake T-Shirt dan Jeans doang?”
Neva terkikik. “Emang kalo pake kayak gitu nggak bisa dibilang cewek modern? Yang penting itu kan pemikirannya, bukan penampilannya,”
“Memang sih, tapi kan nggak bisa dipungkiri kalo semua orang pada awalnya nglihat penampilan, bukan pemikiran. Lha wong pemikiran nggak kelihatan mata, ya nggak?”
Neva tahu benar bahwa perkataan adiknya tepat sekali. Hanya saja ia memang merasa lebih nyaman memakai pakaian seperti yang ia kenakan sekarang ketimbang harus memakai pakaian ala Vada. Lihat saja gaya pakaian Vada sekarang ini. Hanya untuk pergi ke Mall yang jauhnya nggak sampe ½ jam perjalanan menggunakan mobil, adik Neva itu sudah bergaya seperti artis sinetron yang mau shooting film—jaket jeans dengan detail pada bagian kancing, rok full skirt motif bunga dan sepatu open toe warna senada.
“Eh, Kak, foto yuk,” Vada menggandeng kakaknya menuju ke photo box tanpa menunggu jawaban dari kakaknya.
Vada membetulkan penampilannya dulu sebelum akhirnya berpose. Ia merangkul kakak kembarnya. Pose yang sangat umum sebenarnya. Tapi…
“Vada, kamu ini mau foto wajah apa foto kuku sih?” tukas Neva jengkel. Habisnya kesepuluh jemari Vada disodorkan di depan wajah mereka berdua. Jemari kanan Vada menutupi wajahnya sendiri sedang jemari kirinya menutupi wajah kakaknya yang ia rangkul sehingga hanya mata mereka berdua saja yang terlihat.
Vada cengengesan, “Sekalian Kak. Nail paintingnya kan mahal, jadi ya harus diabadikan dong,” Vada mengutarakan maksudnya.
Neva mendecakkan lidahnya jengkel. Ia sendiri heran bagaimana mungkin ia memiliki adik kembar seperti Vada yang doyan banget mengejar kategori cewek modern. Mulai dari rambut, pakaian, sepatu sampai kuku. Kalau wajah mereka nggak persis sama pasti nggak akan ada yang percaya bahwa mereka kembar.
“Dua yang dibawah nggak sekalian?” sindir Neva sambil mengendikkan wajahnya menatap lantai.
“Yang dibawah apa?” tanya Vada binggung.
”Itu,” Neva menunjuk kedua jempol kaki Vada yang juga kena poles dengan nail painting. Hanya jempolnya doang soalnya waktu itu hari Senin dan ada program ’Pay 10 painting get 2 free’.
”Maunya sih,” jawab Vada sekenanya. ”Tapi kalo aku ikutin sekalian wajah kakak jadi nggak kelihatan dong.” Selesai mengatakan itu Vada cekikian melihat ekspresi wajah kakaknya yang siap meledak.
∞∞∞
”Jadi beli yang itu Kak?” tanya Vada pada Kakaknya. Kali ini mereka berdua berada di toko HP. Kemarin Neva meminta uang pada Papanya untuk membeli HP baru, padahal HPnya yang terakhir belum ada setahun ia pakai. Hm…memang walau kedua saudara ini kelihatan berbeda, tapi tetap saja isinya sama: suka menghamburkan uang. Dasar orang berduit!
”Menurutmu bagus yang mana?” tanya Neva. ”Silver atau hitam?”
”Sama saja,” sahut Vada. ”Yang pentingkan bisa dipake telpon sama sms,”
”Dasar tidak bisa dimintai pendapat,” gerutu Neva jengkel.
”Jadinya yang mana Mbak?” tanya pramuniaga disitu.
”Sebentar ya, saya pilih dulu,” Neva menimbang-nimbang.
”Tapi harganya sudah oke kan Mbak?” si pramuniaga yang bernama Anita itu memastikan. Ia nggak mau kehilangan pelanggan.
Neva mengangguk. ”Bisa gesek kan?”
Anita mengangguk sembari tersenyum lebar. Barang dagangannya sudah terjual, dengan harga tinggi pula, gimana ia nggak seneng.
Neva masih memilih ketika tiba-tiba ia merasakan seseorang mengelus kepalanya dengan lembut. Sentuhan itu membuatnya menoleh dan melihat siapa yang berani sekurang ajar itu padanya.
”Hi, Neva,” seorang cowok dengan tampang keren—bukan cakep karena cakep itu relatif dan Neva nggak merasa cowok itu cakep—menyapanya. Ah, ternyata dia. Dasar kebiasaan tidak berubah! Neva membatin dalam hati.
”Lho, Haley…sama siapa?” Neva mengenali cowok berambut jabrik dengan kaos putung putih yang memperlihatkan lengannya yang sedikit berotot.
”Ada temenku tapi nggak tahu dimana, kita kepisah tadi. Hi, Vada,” Haley juga menyapa Vada sekilas lalu pandangannya kembali ke Neva yang masih menimang-nimang kedua HP yang siap ia pilih. ”Kamu ngapain? Beli HP? Dopod?”
Neva mengangguk mengiyakan semua pertanyaan cowok yang berstatus mantan pacarnya. Neva menyadari debaran jantungnya tetap normal. Berarti ia memang sudah nggak punya rasa suka pada cowok itu. Memang putusnya mereka beberapa bulan yang lalu disebabkan karena mereka berdua sudah merasa hambar, so mereka memisahkan diri baik-baik. Nggak ada sakit hati karena memang sudah nggak ada rasa sama sekali.
”Eh, Ley, bagusan mana? Hitam apa Silver?” Neva bertanya pada Haley. Mumpung ada yang bisa dimintai pendapat, karena jujur sejujur-jujurnya ia suka keduanya sehingga sedari tadi sulit memutuskan warna apa yang akan ia ambil.
”Silver aja, HPmu yang lalu kan hitam,” jawab Haley. Bener juga. Neva nggak menyangka ternyata mantannya itu masih ingat warna HPnya.
Suara ringtone HP berbunyi dari balik saku celana Haley. Haley mengambil HPnya dan mengangkatnya.
”Eh, Nev, aku duluan ya, temenku udah nunggu ternyata,” Haley berpamitan setelah ia mengatakan sepatah dua patah kata kepada orang yang menelponnya.
Neva mengangguk. ”Ati-ati ya,”
Haley tersenyum, ”Yuk, Va,” cowok itu juga berpamitan dengan adik mantan kekasihnya.
”Itu siapanya Mbak?” tanya Anita si pramuniaga penasaran setelah sosok Haley tidak terlihat olehnya. Sedari tadi cewek ini memperhatikan gerak gerik Haley yang menurutnya memiliki wajah cakep banget.
”Mantan,” jawab Neva sejujurnya. Baru saja ia hendak mengucapkan sepatah kata lagi, si pramuniaga memotongnya.
”Masa sih Mbak?” kelihatannya Anita sama sekali nggak percaya.
”Lho, memangnya kenapa?” Malah Vada yang menyahut.
”Saya cuma nggak ngira aja. Mas itu tadi kan gayanya keren gitu, modis gitu lah. Makanya saya nggak nyangka kalo dia pernah pacaran sama Mbak. Soalnya…menurut saya Mbak kan penampilannya nggak semodis cowok itu.” Anita yang ternyata suka ceplas-ceplos itu mengatakan pendapatnya.
Mendengar itu Vada berusaha menahan tawanya. Sudut bibirnya berkedut-kedut menahan diri agar tidak tertarik ke atas dan menghasilkan sebuah tawa. Perkataan si Anita itu persis sama dengan apa yang pernah ia bilang pada kakaknya.
”Mbak kan nggak kayak cewek modern gitu deh,” tambah Anita yang membuat telinga Neva makin panas. Damn!
”Makanya…”
Belum selesai Anita menyelesaikan kalimatnya, Neva sudah ngeloyor pergi diiringi teriakan khawatir dari si pramuniaga yang baru sadar bahwa ia telah membuat kesalahan dan kehilangan seorang pembeli. Kayaknya setelah ini Neva akan mempertimbangkan lagi tentang menjadi cewek modern. Sedang Anita…yah…sepertinya ia akan lebih belajar mengerem mulutnya.
Tamat
Surabaya, 15 July 2006 (disela-sela kebosanan belajar Parasitologi)