KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Salam Perpisahan

 

Kala itu senja mulai menyelimuti kota. Langirt berwarna kuning kebiruan. Namun di ufuk Barat, langit masih memerah. Rasanya sang mentari masih enggan untuk terbenam. Mungkin ia ingin menjadi sakasi kejadian di senja itu. Saat siang berganti malam. Saat para malaikat siang kembali menghadap Rabbnya dan digantikan dengan malaikat penjaga malam. Saat puluhan burung terbang di langit yang sudah mulai gelapkembali ke sarangnya dan beremu dengan anak-anaknya yang masih kecil.

      Farid duduk terdiam. Diam tanpa geming sedikitpun. Mulutnya terkunci rapat dan berat sekali untuk dibuka. Namun berbeda dengan hatinya. Ribuan kata sudah terucap. Tangisan dan kebahagiaan menjadi satu, sulit untuk dipisahkan bahkan tak mungkin. Berbagai hal dipikirkannya. Membuat hatinya makin menyelami samudera kehidupan yang amat dalam dan tak bertepi. Ia harus menyelam dalam perasaan gundahnya tanpa ada kata lelah. Tak enak memang, namun tak ada daya untuk menghentikannya.

      Seonggokan koper sudah ada di hadapannya, berisi tumpukan baju dan barang keperluan yang akan ia bawa. Senja itu Farid duduk di sebuah bangku bandara. Bandar udara internasional di kota tempat ia tinggal. Ia akan berangkat untuk melanjutkan studinya ke salah satu universitas terkemuka di Jerman. Meneruskan jenjang S2-nya demi memenuhi cita-cita ibunya. Ia berangkat hanya bermodalkan transport. Karena seluruh biaya studinya akan ditanggung tempat ia bekerja. Seharusnya ia bahagia saat itu.

      Farid menghadapkan wajahnya ke bangku sebelah kirinya. Seorang wanita yang sedang mengenakan jilbab1 sedang duduk dan hanyut dalam lamunan. Wajahnya bening bercahaya. Terlihat anggun dengan jilbab putih yang dikenaknnya. Wajahnya selalu tertunduk dalam kesejukan dzikir yang terucap lirih dari mulutnya. Wanita itu memangku seorang anak lelaki yang berumur kurang dari tiga tahun. Anak itu terlihat bersih dan lugu, sama seperti ibunya yang sedang memangkunya. Anak itu terlihat sibuk dengan mainan yang aia pegang.

      Sarah. Nama wanita itu adalah Sarah. Sarah adalah isteri Farid. Sudah empat tahun umur pernikahan mereka. Namun mereka baru dikaruniai satu orang anak laki-laki yang bernama zainal, yang sedang dipangku oleh Sarah.

      Ditatapnya Sarah lekat-lekat. Dan Farid masih belum bisa berkata sepatah katapun. Ia tatap isterinya dan anak lelakinya secara bergantian. Namun itu tak juga bisa membuatnya mengeluarkan suara. Malah semakin lama ia tatap isterinya itu, semakin berat ia tinggalkan. Rasa rindu dan sayang di hatinya semakin berontak tak karuan. Sementara ia selalu terbayang wajah isterinya yang jernih dengan dzikirnya dan anaknya yang masih terlihat sibuk dengan mainannya.

      Jantung Farid berdegup kencang. Mempercepat aliran darahnya ke seluruh tubuh. Dadanya terasa sesak dan terasa ada yang mencekik lehernhya. Sulit rasanya untuk bernafas lega. Mata Farid mulai berkaca-kaca. Bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan membasahi pipinya. Diusapnya lekas-lekas air matanya. Ia tak mau memancing kesedihan isteri tercintanya.

      “Sarah…!”, panggil Farid dengan lembut. Sarah menoleh Farid. Sarah terlihat galau. Farid menangkap dari wajahnya sepertinya ada yang ingin isterinya sampaikan. Namun Farid tak kuasa untuk menanyakannya. “Kita shalat dulu ya.”, lanjut Farid. “Ya mas.”, jawab Sarah lirih sambil membantu membereskan koper yang dibawa Farid.

      Merekapun berjalan menuju tempat shalat di bandara. Farid terus memikirkan Sarah dan Zainal. Hatinya menaruh kekhawatiran yang amat dalam pada anak dan isterinya tersebut. Perasaannya menjadi bingung, bercampur antara cinta dan cita-cita. Terkadang ia berfikir bahwa kekhawatirannya tidak beralasan, namun ia benar-benar tidak bisa menghilangkannya. Dan ia yakin betul bahwa Sarah juga merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan.

      Indahnya cinta dalam kesician. Cinta tulus yang bersumber dari lautan asmara yang tenang dengan ombak yang tidak terlalu mebahayakan bahtera yang mengapung di atasnya. Cinta yang dikembangkan karena kaikhlasan pada Sang Pencipta. Cinta yang membawa keteduhanbagi setiap orang yang merasakannya. Yang menjauhkan dari syetan-syetan penghuni neraka dan mendekatkan diri pada iandahnya taman-taman syurga.

      Seusai shalat, Farid melihat jam tangannya. Pukul 18.45. Dua puluh menit lagi pesawat yang akan ia tumpangi akan lepas landas. Burung besi itu akan membawanya pergi ke suatu tempat yang akan memisahkan ia dengan isteri dan anaknya pada jarak yang amat jauh.

      Farid membenahi koper dan menggandeng tangan Sarah keluar dari ruangan yang tak terlalu besar, tempat ia tadi menunaikan shalat. Dilihatnya Zainal masih sibuk dengan mainan di tangannya. Namun mainan itu dilihatnya telah rusak. Padahal beberapa menit yang lalu, mainan itu masih baik-baik saja. Farid tidak terlalu berkonsenterasi untuk memperhatikannya.

      Setelah berjalan cukup jauh dari dari ruang shalat, Farid berhenti. Sarah dan Zainal yang mengikutinya dari belakangpun terhenti. Diletakkannya semua barang yang dipegangnya di lantai. Farid berbalik badan menatap Sarah. Sarah yang semula menatap wajah suaminya perlahan-lahan menundukkan kepalanya seakan-akan tak kuasa menahan sesuatu. Sama seperti sebelumnya, diam tak bergeming. Farid memegang jemari Sarah yang mungil. Ditatapnya wajah isterinya yang jernih. Mulut Sarah masih bergetar. Menggetarkan setiap kehidupan yang ada di sekitarnya dengan nama-nama Allah. Namun kali ini berbeda. Pipinya yang putih kemerahan basah. Bulir-bulir air mata telah membasahi pipi dan hatinya.

      “Sarah, kamu menangis?” tanya Farid dengan lirih. Kesedihan kembali mewarnai hati Farid. Lehernya kembali tercekik oleh kesedihan. Sepertinya kesedihan isterinya, ia rasakan berlipat-lipat. Belum sempat Sarah menjawab pertanyaan suaminya. Sarah rupanya tak kuat menanggung kesedihan berpisah dengan belahan hatinya. Dipeluknya tubuh suaminya. Dipeluknya tubuh suaminya lekat-lekat sambil menumpahkan linangan air matanya.

      Farid hanya bisa terdiam. Matanya mulai basah, sama dengan hatinya. Tapi kali ini Farid harus mampu menahan linangan air matanya. Ia benar-benar tidak ingin melihat isterinya larut dalam kesedihan. ”Abi, pesawat Zainal rusak. Tolong berikan yang bari bi…!” tiba-tiba suara Zainal memecahkan kesedihan mereka berdua. Farid dan Sarah seakan lupa bahwa anak mereka berada di samping mereka.

      Farid terdiam mendengar perkataan Zainal. Belum sempat Farid menjawab, anak semata wayangnya itu sudah kembali bertanya, “Abi, Ummi kenapa? Ko Ummi menangis? Abi, Abi mau kemana sih? Ko bawa koper banyak betul? Abi nanti pulang  ke rumah kan?” lanjut anaknya tanpa memberi kesempatan Farid uantuk menjawab.

      Mendengar pertanyaan anaknya yang terakhir, tangis Sarah makin menjadi-jadi. Makin kuat peluk Sarah dirasakan oleh Farid. “Mas tolong jawab pertanyaan Zainal! Tolong mas!” tiba-tiba Sarah bertanya di sela-sela tangisnya.

      Dengan lembut dan perlahan, dilepaskanna dekapan isterinya tersebut. Ditatapnya kembali wajah isterinya lekat-lekat. Diusapkannya jemari Farid untuk menghapus air mata di pipi Sarah. “Insya Allah, Sarah….!” jawabnya dengan lembut dan berusaha untuk tegar. “Mas Farid pergi dulu ya. Tolong rawat Zainal dengan baik!” pinta Farid sambil melepaskan jarinya setelah mengusap air mata isterinya.

      Farid pun pergi dengan membawa koper-kopernya. Menaiki sebuah pesawat yang akan membawanya jauh dari kasih sayang iaterinya. Sarah berusaha untuk menahan tangisnya. Digendongnya Zainal yang masih sibuk dengan pesawat mainannya yang rusak. “Yuk kita lihat Abi berangkat naik pesawat!”ajak Sarah sambil menggendong Zainal. Namun Zainal tak peduli dengan ajakan Umminya. Pesawat mainannya seakan lebih penting baginya.

      Sarah membawa Zainal ke arah dinding kaca yang dapat melihat pesawat yang ditumpangi Farid.  Sarah melihat jam tangannya. Pukul 19.05. Menurut jadwal, pesawat yang akan ditumpangi Farid akan lepas landas. Mulut Sarah terus bergetar menggetarkan kehidupan yang ada di sekelilingnya. Tanpa disadari ternyata seluruh malaikat pun bertasbih dan menggetarkan Arsy-nya Allah. Seluruh makhluk yang ada di sekitarnya pun bertasbih. Tasbih yang suci dan mensucikan.

      Pesawat pun mulai memasuki jalur tinggal landas. Perlahan bergerak namun pasti. Makin lama kecepatannya makin bertambah. Desingan mesin terasa makin kencang. Roda depan pesawat mulai terangkat dan diikuti roda belakangnya. Burung besi itu akan terbang, mengarungi luasnya angit yang kini sudah berwarna hitam. Sarah terus berdzikir mengiringi kepergian suaminya. Dzikir yang suci dan mensucikan.

      Tiba-tiba terlihat percikan bunga api dari bagian bawah pesawat yang telah tinggal landas. Bunga api itu semakin lama semakin jelas terlihat. Padahal pesawat tersebut telah terbang cukup tinggi. Beberapa saat kemudian timbullah ledakan besar. Apinya merah menyala, terang sekali. Membuat langit yang sudah berwarna hitam pekat menjadi merah laksana bunga mawar yang sedang mekar di pohonnya.

      Alam bertasbih. Para malaikat penjaga malam juga bertasbih. Seluruh makhluk yang ada di situ juga bertasbih. Bertasbih dengan memuji kebesaran Allah. Bertasbih dengan hingga menggetarkan Arsy-nya Allah. Menggetarkan setiap apa yang ada di situ. Termasuk juga menggetarkan pesawat tersebut beserta kehidupan yang ada di dalamnya. Tasbih yang suci dan mensucikan. Tasbih yang menjauhkan siapapun yang mengerjakannya dari para syeitan penghuni neraka dan mendekatkannya pada indahnya taman-taman di syurga.

      “Ummi…, pesawat Zainal rusak. Abi ingat kan untuk membelikan Zainal pesawat yang baru?” tanya Zainal pada Sarah. Bocah yang berumur hampir tiga tahun yang masih suci dari dosa.

Ya Allah, hamba sadar bahwa setiap kehidupan yang ada adalah milik-Mu. Dan hamba sadar bahwa pahala dan dosa adalah juga hak-Mu. Karena itu bimbinglah hamba untuk dapat menghirup segarnya taman syurga-Mu. Izinkanlah hamba untuk bertemu dengan para penghuni syurga-Mu. Dan izinkanlah hamba untuk melihat wajah keagungan-Mu.”

              • Diselesaikan di Jakarta

              • 19 Maret 2007

Tinggalkan Komentar