KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mrs. Car (1)

Kau tahu, Griffith? Aku menyukaimu.

Aku tahu ini aneh, tapi itu benar dan selalu terjadi padaku.

Titania

Bumi berputar pada porosnya setiap detik, menit, jam, hingga tahun, bahkan abad. Menggilir siang dan malam pada waktu-waktu yang ditentukan. Seperti globe yang berputar di hadapan Titania. Jarinya yang putih menyentuh globe yang bersinar itu dan menyusuri suatu daerah yang amat kecil di pinggiran laut.

Mungkin karena di globe hanya sekitar satu inci dekatnya dengan laut, desa ini jadi dingin sekali, pikir Titania sambil merenung. Jarinya kembali menyentuh permukaan globe, seperti orang buta menyentuh buku Braille-nya.

Tiba-tiba suara pintu yang dibuka dengan keras mengagetkan Titania dari observasinya “mengelilingi dunia”. Ia melihat siapa gerangan yang membuka pintu. Seorang laki-laki muda bertubuh sedang keluar dan berjalan cepat melewati Titania tanpa bicara apa-apa. Mata Titania mengikutinya sampai laki-laki itu menghilang di balik pintu. Ia kembali menekuni globenya. Tak sampai dua detik, ia bangkit dari kursi empuknya yang nyaman dan berjalan mendekati jendela.

Titania menyibak gordennya. Sekelompok pemuda yang berjaket tebal dan bersepatu boots berada di teras rumahnya. Mereka bercakap-cakap dan tertawa keras. Lalu Titania melihat laki-laki tadi keluar rumah dan menghampiri pemuda-pemuda itu. Wajahnya bahagia sekali, seperti tak sabar ingin mengetahui suatu rahasia. Berbeda sekali ketika ia berjalan di depan Titania.

Titania mengangkat alisnya. Well, aku sih sudah biasa, katanya dalam hati sambil kembali ke kursinya. Ia sedang merapikan roknya ketika seorang perempuan muda bertubuh mungil mengetuk pintu dan masuk.

“Tehnya, Nyonya.”

Perempuan itu membawa sebuah nampan berisi poci dan cangkir. “Dan ini surat-surat hari ini, Nyonya.” Dengan sopan ia menunjuk setumpuk amplop-amplop putih yang diletakkan di samping cangkir.

“Oh ya. Terima kasih, Grace,” sahut Titania sambil tersenyum. Grace kemudian menganggukkan kepalanya dan keluar.

Titania menuangkan teh ke cangkirnya. Menyesapnya sebentar dan mulai memilah tumpukan surat-suratnya. Mmm..tagihan pajak..surat dari Bibi Emily…surat dari, siapa ini? oh… Dear Titania Car yang hebat, saya Philippe Waltz dan saya tertarik sekali dengan tema novel Anda yang baru, saya.. penggemarku, Titania terkekeh.

Ia menyimpan surat itu untuk dibaca ketika ia selesai memilah surat. Surat dokter…surat dokter? Aku bahkan lupa kapan terakhir aku sakit! Atas nama Mr. Griffith Car… oh ya, mungkin Griffith, ia sedikit pusing waktu itu. Tapi kapan ia ke dokter?

Alisnya yang pendek dan tipis sedikit bertaut. Titania melihat surat selanjutnya, dari tetangganya, Mr. Owen Ramsfield. Ia membuka dan membacanya. Dahinya semakin berkerut ketika membaca alinea-alinea terakhir dari surat yang penuh basa-basi itu dan memekik terkejut.

“Hah! Jangan konyol!” serunya. Titania membacanya sampai habis. “Oh, ayolah!” Titania menyimpan surat itu di mejanya dengan suara keras. Punggungnya yang tadi tegak dijatuhkan ke sandaran kursi. Titania mengomel dalam hati sambil bermuka sebal.

Dia bahkan tidak pernah memberitahuku bahwa mobil Ford hitam itu belum sepenuhnya dibayar! Dan sekarang penjual mobil itu menagihnya, lucu sekali! Mr. Car yang mempunyai perusahaan tembakau dan kertas cetak itu sekarang berhutang demi sebuah mobil tua yang katanya ‘satu-satunya dan hanya terdapat di garasi Mr. Car’.

Titania mendengus kesal. Ia tahu suaminya bukannya tidak mampu membayar sisanya. Griffith mempunyai anggaran khusus dan berlebih untuk berkuda. Jika sudah melibatkan satu hal itu, ia sering melupakan semuanya. Dan yang menambah Titania kesal adalah Griffith hanya mengatakan Ford itu dibelinya dengan transaksi mudah seperti berbelanja selada di pasar. Griffith bangga sekali waktu itu dan ia sering memamerkannya di depan teman-temannya, karena ia tahu ia-lah satu-satunya pemilik mobil zaman perang itu. Ia tak pernah bilang padaku kalau mobil itu belum dibayar, mobil itu dibeli dari Mr. Owen, dan mobil itu belum lunas sudah selama hampir enam bulan!

Griffith mungkin tak kan pernah kembali ceria bersamaku. Kebaikannya mungkin tak kan muncul kembali…entah kapan itu, ya? Aku masih bisa melihat Griffith tersenyum padaku.

Titania dan Griffith menikah sekitar dua tahun yang lalu. Kala itu, Titania berumur dua puluh delapan dan Griffith tiga puluh. Madame Valerie adalah seorang peramal yang paling berpengaruh pada keputusan pernikahan mereka. Madame Valerie sebenarnya teman baik Annie Glover, ibu Titania. Ia mengatakan, “Annie, kulihat garis hidup Titania akan berujung pada pertemuannya dengan seseorang yang dekat dengan keluargamu. Laki-laki itu seseorang yang baik, penurut, agak pasif memang, tapi mempunyai usaha kebun yang bagus. Kukatakan, Annie, dengan sangat jelas.“

Mrs. Glover yang antusias pada hal-hal mistis langsung memercayai ramalan sahabatnya itu dan mengingatnya dengan baik sampai Titania dewasa. Mr. Glover sedang memulai usaha tembakau kecil-kecilan waktu itu, ketika ia bertemu dengan Luther Car, seorang pengusaha dan pengembang kaya. Mereka berdua ternyata saling membutuhkan dan menciptakan suatu hubungan dagang yang menguntungkan satu sama lain.

Luther Car kemudian mengenalkan anaknya pada keluarga Titania. Griffith Car diperkenalkannya sebagai penerus usaha tembakau yang sedang dijalinnya dengan ayah Titania.

Saat itu juga, Mrs. Glover langsung teringat apa yang dikatakan Madame Valerie. Dengan semangat ia mengusulkan ide itu dan disetujui oleh semua orang. Semua, kecuali Titania dan Griffith, mungkin, pada awalnya. Namun akhirnya, pada bulan Agustus yang cukup sejuk, mereka resmi menjadi suami istri.

Titania berpikir sangat bodoh melakukan pernikahannya dengan Griffith dengan alasan suatu ramalan dan singkatnya, lewat perjodohan. Tapi lama-kelamaan ia mulai merasa nyaman dengan Griffith. Griffith cukup perhatian pada Titania dan terkadang Titania melihat suaminya itu tersipu malu ketika mereka jalan berdua. Terlebih ketika Griffith menghadiahkannya sebuah mobil kuning pudar yang sangat cantik sebagai hadiah pernikahan. Titania mulai menerima dirinya yang menyukai Griffith.

Namun, perasaan membuncah itu perlahan terkikis. Griffith mulai berubah. Ia memang tak pernah mengatakan perasaannya langsung pada Titania, tapi setidaknya Titania dapat merasakannya. Tapi sejak enam bulan lalu sampai sekarang, Titania kehilangan angin lembut yang mengelus hatinya setiap hari. Griffith lebih suka berkumpul bersama teman-temannya di sebuah kedai di pinggir desa dibanding mengantar Titania ke festival. Ia semakin sibuk dengan kebun tembakaunya dan berkuda. Titania bahkan jarang makan malam bersama, karena Griffith selalu memajukan jam makan malamnya sendiri.

Walaupun satu rumah, mereka akhirnya jarang bertemu dan berbicara. Griffith menghabiskan banyak waktu di ruang kerjanya atau di perpustakaan dengan teman-temannya. Titania pun—merasa tidak nyaman dengan Griffith—lebih sering di kamarnya, menyelesaikan novelnya.

Seperti tadi, Griffith pergi tanpa pamit. Titania hanya dapat melihatnya berlalu begitu saja tanpa tahu harus berbuat apa. Ia bingung, sebenarnya apa yang membuat suaminya berubah seperti orang lain. Titania berpikir mungkin ia pernah melakukan kesalahan dan tidak menyadarinya. Tapi apa? Titania tak bisa mengerti jika Griffith tak bicara.

Herbert, teman dekat Griffith yang Titania tahu cukup sering ke rumah, pernah mengatakan sesuatu yang membuat hatinya semakin tak enak.

“Kau tahu toko aksesoris ’Goldie’ di dekat pacuan kuda, Titania? Kupikir kau menyukainya dan sering membeli perhiasanmu disana. Griffith dan aku sering kesana. Kami melihat-lihat kalung-kalung dan giwang. Pemiliknya merasa heran mengapa kami, para lelaki, sering mengunjungi tokonya yang menjual barang wanita. Lalu sedetik kemudian, kami merasa tidak asing lagi di sana. Pemilik itu adalah Gwendolyn Brown. Aku hanya memberitahumu saja, Titania, Gwen adalah kekasih Griffith dulu dan Griffith sering ke sana akhir-akhir ini. Tapi, mungkin hanya teman lama yang sudah tidak bertemu saja, ya, Titania?“

Titania hanya mengiyakan. Lidahnya terasa terlalu pahit untuk bicara. Mungkin bukan karena aku pernah berbuat salah padanya, pikir Titania, atau mungkin juga aku pernah menyakiti hatinya dan mungkin aku ini gadis yang membosankan lalu Griffith bertemu Gwendolyn yang jauh lebih dulu dikenalnya dan lebih menarik, karenanya ia berubah menjadi dingin.

Aaah…

Titania kembali menyesap tehnya yang sudah agak dingin. Perasaannya kini jauh lebih baik dibanding dulu ketika pertama kali mengetahui Gwendolyn. Air matanya hampir meleleh waktu itu, dadanya sesak, dan seluruh tubuhnya terasa tertusuk-tusuk ketika melihat Griffith.

Titania pernah membandingkan dirinya dengan wanita bernama Gwendolyn itu dan terkadang ia merasa rendah diri. Tapi, sekarang ia tak pernah berpikiran seperti itu lagi. Bagaimanapun, Griffith adalah suaminya. Dialah yang menghidupi Titania dua tahun terakhir ini. Titania pun banyak membantu Griffith dalam banyak hal, termasuk usaha tembakaunya. Tidak mungkin Griffith, pikir Titania, membenciku hanya karena fisik. Lagipula, aku cukup menarik.

Titania menghampiri sebuah cermin besar. Sekarang ia menghadapi bayangannya sendiri. Rambut hitam legam pendek berombak. Poni menyamping yang menutupi seluruh dahinya. Hidung panjang dan runcing milik ayahnya. Kurasa tak ada yang salah, katanya dalam hati membanggakan diri. Tubuhnya padat berisi dengan kulit seputih salju. Tingginya rata-rata untuk ukuran wanita seusianya. Titania mengelus gaun selututnya yang berwarna salem itu apik, seakan menghilangkan debu yang tak terlihat.

Titania berkacak pinggang. Tersenyum, lalu kembali ke mejanya, melihat kembali surat-suratnya.

Bersambung…..

Tinggalkan Komentar