Kampung
November 16th, 2007 by miftahelkautsar
Sore ini aku baru saja selesai meeting dengan para petinggi-petinggi perusahaan tempat dimana sekarang aku bekerja. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 05.15. Aku tersentak teringat bahwa aku belum menunaikan shalat ashar. Lekas-lekas kumasuki ruangan yang berukuran tak lebih dari dua kali dua meter, tempat karyawan di kantorku biasa melaksanakan shalat. Aku jadi teringat surau tempat shalatku di kampung dulu. Surau ini biasa igunakan shalat berjamaah oleh kaum laki-laki di kampungku. Memang cukup luas jika dibandingkan dengan ruangan tempatku sekarang shalat ini.
Selesai shalat kutatap langit kearah luar jendela. Dari lantai dua belas sebuah gedung bertingkat tempatku bekerja ini, tampak matahari yang kemerah-merahan mulai menghilang ditelan gedung-gedung pencakar langit yang ada di kota Jakarta. Bergegas kurapikan barang-barangku dan menuju tempat parkir mobil yang berada di baseman untuk mengendarai mobil sedanku pulang. Jalan raya nampak cukup sibuk, menambah ruwetnya pikiranku hari ini. Di perjalanan pulang pikiranku hanya tertuju pada keluargaku di rumah, isteriku dan kedua anakku uang masih bersekolah di sekolah dasar. Kupacu mobilku lebih cepat lagi yang sedang melaju di ruas jalan tol.
Hari ini terasa begitu melelahkan. Setibanya aku di rumah, isteriku datang untuk membukakan pintu rumah dan mencium tanganku. Beruntung aku memiliki isteri yang begitu berbakti pada suami sperti dia. Aisyah dan Hafidz, kedua anakku, sedang duduk dengan tenangnya menyaksikan siaran televisi.
Saat waktu maghrib tiba, aku dan Hafidz membiasakan diri untuk shalat di masjid dekat rumahku, sedangkan isteriku dan Aisyah shalat berjamaah di rumah. Di rumah kami, aku dan isteriku sepakat untuk menjalankan larangan menyalakan televise di waktu maghrib. Dan alhamdulillah sepanjang umur pernikahanku, kedua anakku selalu mentaatiya.
Untuk menuju ke masjid, kami berdua harus berjalan melewati satu blok perumahan. Bagi orang baru yang datang ke perumahan tempatku tinggal tidaklah sulit untuk mencari masjid. Disamping letaknya yang trategis di pusat perumahan, tata ruang di pusat perumahan inipun cukup baik. Sehingga hamper tidak pernah aku melihat ada yang tersesat atau kebingungan dalam mencari alamat sebuah rumah walapun perumahan ini cukuplah luas.
Di perjalanan pulang setelah melaksanakan shalat maghrib, Hafidz berjalan sambil sesekali berlari-lari di depanku. Tawanya yang riang sesekali menghiasi wajahnya demi mengajakku beranda. Mungkin perasaan senangnya timbul timbul akibat jarangnya ia bertemu denganku Memang akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengan anak-anakku. Proyek pengeboran sumur minyak bumi yang baru di Kalimantan yang sedang ditangani oleh perusahaanku telah menyedot segenap perhatian karyawan di kantorku termasuk aku. Waktu yang memungkinkan untuk bertemu dengan mereka adalah saat shalat subuh. Tapi itupun aku disibukkan dengan berbagai hal yang harus kupersiapkan untuk pergi ke kantor.
Kutatap wajah Hafidz yang tersenyum riang dengan indahnya. Makin kutatap wajahnya, makin mengingatkanku pada sesuatu. Mengingatkanku pada saat aku masih seumuran dengannya. Aktivitas keseharianku yang kulakukan saat aku masih seumuran dengannya di kampungku dulu. Aktivitas anak desa yang penuh dengan kenangan indah yang tak dapat dilupakan.
* * *
Kampung halamanku adalah suatu pedesaan yang cukup jauh dari perkotaan. Sekitar sepuluh kilometer dari perkotaan, atau sekitar 45 menit perjalanan jika ditempuh dengan kendaraan beroda empat. Memang terlihat cukup lama untuk tiba di kampunku. Jarak sekitar sepuluh kilometer ditempuh dalam waktu kurang lebi 45 menit. Iniadalah suatu hal yang bias dimaklumi karena jalan untuk meuju ke kampungku bukanlah jalan utama yang beraspal halus yang biasa dilewati oleh kendaraan-kendaraan beroda epat atau bahkan truk-truk besar. Hanyalah sebuh jalan tanah yang ditutup dengan kerikil-kerikil besar yang menghubungkan antara kampungku dengan jalan utama.
Hidup dengan bertani dan beternak adalah mata pencaharian yang umum digeluti oleh penduduk di kampungku. Sebagian dari mereka ada juga yang hidup dari hasil penjualan kebunnya. Namun itu hanyalah sebagian kecil. Begitupun halnya dengan ayahku. Diatas lahan seluas lima ratus meter pesegi, ayahku menanamkan padinya. Hasilnyapun cukup untuk membiayaiku sekolah dan kebutuhan kami sehari-hari pada waktu itu. Kamipun memilikidua ekor sapi yang biasa kami gunakan untuk membajak sawh yang kami miliki.
Siang hari, sepulangnya aku dari sekolah, biasanya aku langsung pergi ke sawah. Tugasku adalah menjaga padi-padi tersebut agar tidak diganggu oleh burung-burung liar. Siang hari adalah waktu yang ukup panas untuk beraktivitas di luar rumah. Namun aku bias mengerjakanna dengan menyenangkan. Tak perlu harus turun ke sawah atau berpanas-panasan di pinggir pematang, aku cukup menjaga sawahku dari saung yang ada di pinggir sawah.
Disawahku ada sebuah orang-orangan sawah, boneka kayu yang mirip sekali dengan manusia. Kuberikan ia baju dan topi. Bila dilihat dari kejauhan memang agak mirip dengan manusia. Pada lengannya kuikatkan seutas tali yang cukup panjang. Kemudian ujung yang lain dari tali tersebut kuikatkan pada saung tempat aku menunggu. Dan pada tali tersebut kugantungkan kaleng-kaleng bekas dengan jarak yang agak berdekatan. Kutunggu sampai saatnya burung-burung pengganggu itu datang. Ketingga sudah banyak burung-burung yang hinggap, kutarik tali-tali tersebut secara tiba-tiba. Tangan orang-orangan sawah bergerak seakan-akan seorang manusia yang sedang mengusir burung-burung tersebut dan kaleng-kalengpun riuh berbunyi. Secara spontan burung-burungpun berterbangan.
Senang rasa hatiku saat aku berhasil mengusir mereka dari sawahku. Ini artinya aku berhasil melaksanakan tugasku. Tapi memang tak selamanya tugas ini menyenangkan. Ada saat-saatnya aku merasa bosan. Saat situasi yang menjemukan itu tiba, kuhabiskan waktuku dengan tidur di saung. Nikmat sekali rasanya tidur di saung yang teduh dibawah teriknya matahari dan dalam hembusan angin yang semilir. Ondisi ini memang bias membuat setiap orang terkantuk-kantuk. Alam memang akan bersahabat dengan kita jika kita bersahabat dengannya. Dan ayah langsung menegurku saat ia menjumpaiku dalam keadaan tertidur.
Di sore hari adalah waktuku untuk mengaji di surau. Surau tempatku mengaji jaraknya sekitar tiga puluh meter dari rumahku. Belajar membaca Al-Quran dan menuntut ilmu agama pada seorang ustad (guru). Hampir setiap hari aku mengaji di suaru dan tidak ada tawar menawar untuk hal yang satu ini. Jadwal mengajiku dimulai dari pukul empat sore hingga senja tiba.
Sepulangnya aku dari mgaji, sesudah shalat maghrib tentunya, adalah jadwalku untuk belajar. Belajar di malam hari dengan diterangi oleh cahaya rembulan dan ditemani cahaya lampu minyak adalah kebiasaanku sehari-hari. Memang begini kondisi perkampunganku yang cukup jauh dari perkotaan. Listrik baru saja masuk ke kampungku. Di kampungku, listrik dipandang cukup mewah. Hanya kantor kepala desa dan rumah orang-orang tertentu yang rumahnya diterangi oleh lampu. Itupun hanya lampu pijar yang remang-remang. Tapi memang jauh lebih baik jika dibangdingkan dengan lampu minyak.
Di hari libur adalah aktuku untuk bermain. Bermain sepeda di pagi hari bersama teman-temanku. Hanya sepeda yang bisa menjadi temanbermainku, karena hanya sepeda yang kumiliki. Kukayuh sepeda tanpa tujuan bersama teman-temanku. Entah kemana, kemanapun, yang penting hatiku merasa senang. Walaupun hari libur adalah hariku untuk bermain, pulang tepat pada waktunya adalah suatu keharusan. Karena di sore hari adalah waktunya aku untuk mengaji di suau. Jalan utama adalah jarak terjauh yang pernah kutempuh bersama teman-temanku. Aku tak pernah berani untuk menempuh jarak yang lebih jauh lagi. Karena biasanya jalan itu ditemouh oleh bus-bus dan truk-truk besar serta mobil-mobil antar kota. Mengerikan dan membahayakan bila bermain-main di pinggir jalan utama. Ketika tiba di jalan utama biasanya aku dan teman-temanku hanya berhenti di pinggir jalan dan melihat-lihat kendaraan yang melewati jalan tersebut.
Kemanapun kami pergi, da suatu kebiasaan yang hapir tak pernah kami tinggalkan. Yaitu mengakhiri perjalanan kami di sungai. Suangai yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumahku. Sungai ini adalah sungai yang digunakan para penduduk di kampungku untuk mengairi sawahnya. Airnya jernih sekali. Di pinggir ungi tersebut tumbuh rerumputan liar yang menghijau. Tak jarang ditepinya ditumbuhi bungabunga yang bermekaran. Kurebahkan punggungku pada rerumputan tersebut. Kutatapi langit luas yang bersih dan membiru. Berterbangan kupu-kupu dengan berbagai warna. Kunikmati hembusan angin yang menyejukkan dan suara kiau burung yang merdu. Sebuah nyanyian alam yang terkadang membuatku tertidur dan terlambat untuk pulang ke rumah.
* * *
Suasana pedesaan yang amat berbeda jika dibandingkan dengan kehidupanku saat ini. Tidak ada lagi sawah, tidak ada lagi sepeda, tidak ada lagi sungai, burung, suaru, dan berbagai kenagan lainnya.
Namun entah mengapa aku tetap merindukan kampung halamanku. Aku rindu menjaga sawahku dari gangguan burung-burung liar. Aku rindu ditegur ayah saat aku tertidur lelap di saung saat menjaga sawah dari gangguan burung-burung liar Aku rindu dengan sungai tempatku dulu bermain. Melepas lelah sambil ditemani kicauan burung dan belaian rumput. Sungguh indah kenangan kampungku dimasa lalu. Kerinduanku makin mnjadi-jadi ketika angan-anganku menjelajahi kenangan-kenganganku di masa lalu.
Lamunanku tiba-tiba terhenti katika Hafidz mengetuk-ngetuk pintu rumahku, ingin dibukakan pintu. Tawanya masih terlihat riang. Tak putus asa mengajakku bercanda. Kukejar dia ke dalam rumah demi memenuhi keinginannya untuk bercanda denganku. Ia langsung lari bersembunyi di kamarnya di lantai dua. Kunyalakan televisi di ruang tengah. Kubiarkan televisi tersebut pada salah satu stasiun televise yang sedang menyiarkan berita. Isteriku dating dan menjamuku dengan segelas the hangat. Aisyah berlari menghampiriku. ”Abi, Aisyah punya cerita bi…”,teriaknya dengan keras. Putriku yang satu ini memang memiliki kebiasaan yang khas. Kutatap wajahnya lkat-lekat. Sama manisnya dengan wajah umminya. Diam-diam aku berencana unuk mengajak keluargaku untuk berlibur ke kampong halamanku.
Saat mendengar cerita dari Aisyah, tiba-tiba perhatianku tersedot pada berita di televisi. “Tiga desa lagi tenggelam akibat semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo….”, begitu pembaca berita tersebut menyebutkan. Yang lebih membuatku kaget adalah, kampungku termasuk kedalam salah satu desa yang disebutkan baru tenggelam.
Tiba-tiba sesaat pikiranku kembali ke lamunanku setelah shalat maghrib tadi. Berarti kampong halamanku telah musnah. Sudah tak ada lagi sungai, sawah, saung, burung-burung di sawah, orang-orangan sawah, surau dan berbagai kenagan indah. Semua kenangan indah yang kau damba-dambakan itu telah lenyap terendam Lumpur panas bersama kapung halamanku tercinta.