Kak, Cacha Jatuh Cinta!
November 16th, 2007 by afina ray
Aku sedang duduk sambil membolak-balik majalah saat adik perempuanku berkata lantang, “Kak, Cacha udah memutuskan.” “Memutuskan apa?” tanyaku tanpa menoleh.
Sesaat dia terdiam sambil melihat lantai. Wajahnya setengah gugup dan setengah bahagia. “Cacha mau terus terang sama dia!”
“Sama siapa, Cha?”
Cacha tidak menjawab. Wajahnya terus menatap lantai. Tapi dari ekspresinya, aku tahu jelas apa yang Cacha maksud.
“Kamu mau terus terang sama Dio?!!”
Begitulah, adikku ini sedang jatuh cinta! Kamu mungkin nggak akan terkejut kalau nggak tahu usianya. Cacha ini masih 4 tahun!
Kira-kira tiga bulan yang lalu Cacha menghampiriku dengan wajah sumringah dan berkata, “Kak, Cacha jatuh cinta!” Awalnya aku yakin Cacha cuma merasa ‘suka’ saja, bukan ‘cinta’. Cacha pasti cepat lupa dengan perasaannya itu. Tapi melihat kesungguhannya selama ini, aku mulai nggak yakin. Masa anak TK bisa jatuh cinta, sih?
Mungkin itu karena Cacha adalah anak paling kecil dalam keluargaku. Walaupun aku yang sudah di bangku SMA ini belum pernah punya pacar (menyedihkan ya?) tapi Kak Adhi yang sudah kuliah sering membawa pacarnya ke rumah. Mungkin Cacha ingin punya pacar seperti Kak Adhi!
Cacha mengangguk malu-malu.
“Kamu yakin, Cha?” tanyaku, “Kamu benar-benar yakin?”
Kali ini dia mengangguk mantap. “Cacha cuma mau beritahu Dio bahwa selama ini Dio selalu di hati Cacha. Cacha nggak mengharapkan Dio membalas perasaan Cacha, kok. Walaupun nantinya harus ditolak, Cacha pikir lebih baik Dio tahu. Jadi Cacha bisa memastikan, apa Dio juga cinta Cacha atau nggak.”
Ya ampun… apa benar anak ini umurnya 4 tahun?
Jadi saat itu juga kami berdua mempersiapkan rencana ‘berterus terang’ pada Dio. Cacha bersikeras ingin memberi Dio cokelat buatannya sendiri pada tanggal 14 Februari (dari mana Cacha tahu tentang hari Valentine?!) walaupun kami berdua sama sekali nggak pintar di dapur. Yah, karena ini acaranya Cacha, jadi aku mengiyakan saja. 14 Februari masih cukup lama, jadi semuanya bisa disiapkan serapi mungkin.
Kami membeli cokelat, cetakan cokelat, kertas pembungkus, dan tentu saja pitanya. Semuanya dibeli dengan uangku. Cacha janji nanti kalau dia sudah besar dan sudah punya uang yang banyak, dia akan menggantinya 10 kali lipat.
Kami memutuskan Mama, Papa, dan Kak Adhi nggak boleh tahu masalah ini. Akan lebih mudah kalau mereka nggak tahu.
Tapi sebagai akibatnya, kami berdua harus membuat cokelat itu pada malam hari, saat semuanya sudah tidur. Cacha—yang belum pernah sekalipun masuk dapur—bersikeras ingin mengerjakannya sendiri. Aku hanya memberitahu apa yang harus dilakukan Cacha dan sama sekali nggak boleh menyentuh cokelatnya.
14 Februari tiba. Cokelat berbentuk hati buatan Cacha sudah siap di dalam kertas pembungkus dengan pita biru. Tapi kelihatannya Cacha nya sendiri yang belum siap. Dia terus-terusan mengeluh gugup, nggak siap, takut, dan sebagainya.
Untungnya hari ini aku pulang pagi, ada rapat guru atau apalah. Jadi aku bisa menemani Cacha pergi ke sekolah dan menyatakan perasaannya pada Dio. Aku menunggu sampai Cacha pulang sekolah, karena saat itulah Cacha akan menyerahkan cokelatnya.
Di antara kerumunan anak-anak yang berebut keluar sekolah, aku melihat Cacha menarik tangan seorang anak laki-laki ke sudut yang sepi. Itu pasti Dio. Hmm… cakep sih. Kalau besar nanti pasti lebih cakep lagi. Aku mendekat, bersembunyi di belakang tembok agar bisa mendengar pembicaraan mereka lebih jelas.
“Hai…” kata Cacha gugup.
“Hm?” Dio menggumam. “Siapa ya?”
“Aku Cacha. Ngg… kita sekelas lho! Ingat, kan?”
Dio menggeleng.
Ada sedikit rasa terkejut di wajah Cacha. Tapi Cacha segera mengaduk-aduk tasnya, lalu mengeluarkan bungkusan cokelat. “Ini buat Dio,” kata Cacha sambil menunduk, “Cacha suka Dio, suka sekali!”
Sejenak Dio mengamati bungkusan berpita biru yang disodorkan Cacha. “Maaf, ya. Aku sudah punya, nih.” Dio mengeluarkan cokelat dari sakunya. “Dari Putri,” tambahnya sambil memasukkan kembali cokelatnya ke dalam saku.
Lalu entah dari mana, seorang anak perempuan mendekati Dio sambil menarik tangannya dan berkata, “Pulang, yuk.” Nah, yang itu pasti Putri.
“Yuk,” jawab Dio sambil ngeloyor pergi, tanpa menggubris Cacha.
Dio dan Putri sudah pergi. Kaki Cacha seperti dipaku, dia nggak bergeser sedikit pun dari tempatnya. Aku segera menghampirinya, lalu memeluknya. Cacha mendekapku erat tanpa bersuara. Lalu pelan-pelan, aku merasakan sesuatu membasahi bahuku. Cacha menangis.
Esoknya, esoknya, esoknya, dan esoknya lagi, Cacha selalu murung sambil memandangi cokelat berbentuk hati di mejanya. Aku sering berusaha meyakinkan Cacha bahwa Dio itu bukan anak yang baik. Anak seperti itu nggak pantas menerima cokelat Cacha. Aku sering memberinya motivasi dan nasihat, tapi Cacha tetap seperti patung. Aku nggak yakin dia mendengarkan ucapanku.
Lalu hari ini, saat aku sedang duduk santai di teras sambil membolak-balik majalah, aku dikagetkan oleh sebuah suara yang berteriak keras, “KAKAK……!!!”
Aku baru sadar bahwa di sampingku ada Cacha. Bukan patung Cacha lagi, tapi benar-benar Cacha. Cacha yang selalu ceria. Tangannya menggandeng seorang anak laki-laki berkacamata yang tersenyum kikuk sambil menunduk malu-malu.
“Kenalkan, Kak,” kata Cacha, “Ini Randy!”
Aku menjabat tangan anak itu dan menyadari bahwa tangannya bergetar hebat. “Halo Randy,” kataku berusaha mencairkan ketegangannya.
Cacha tersenyum penuh arti sambil menatap Randy. Randy melirik Cacha malu-malu sambil tetap menunduk. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu…
“Randy ini pacar Cacha, Kak!” Kata-kata Cacha itu memperjelas semuanya. “Kami baru jadian hari ini!”
“Lho, kok…?” Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
“Iya, Kak. Gimana? Randy lebih keren kan daripada Dio!”
Wah wah wah… anak-anak jaman sekarang…
Bagus, bagus. Aku tertarik dengan cerpen ini, apalagi awal membaca judulnya. Terkesan kekanak-kanakan tapi jujur. Dua paduan karakter tokoh bisa ditemukan dari cerpen ini: lugu sekaligus berani. Bagus, bagus… Sebagai penikmat sastra, aku pengin bener kenalan sekaligus berbagi pengalaman, pengetahuan, dan bagi-bagi tips mengembangkan kreatifitas. Salam hangat buat Vi2n dari aku… Good Luck!
lumayan bagus ini cerita tapi sayang kok kayaknya endingnya belum selesai
lucu bgt……
thanks bisa buat aq ketawa habis baca cerpen nih, soale dari maren2 BT bgt …^-^
Tp nggak nyangka ya anak TK kok dah jatuh cinta pake patah hati segala… hehehe
wuah-wuah,
thx bgt yg udah nyempatin buat ngisi komen…
^__- (senang syekallii…)
_vi2n_
lucuna… tapi kok kayaknya lum selesai?
lucu…lucu…lucu…
lucu abis…
kejadian itu terjadi juga sama gw…
cuma, di cerita ini endingnya kurang ya… masih gantung tuh…
masih ada yang harus ditambahin… tapi ok’s lah.
menarik….., tp sayang ya belum selesai.
kok…menggantung banget ceritanya.
iya, blum selesai. saya sudah kontak kolomkita dan ngirim naskah yang utuh. tapi belum ditindak lanjuti nieh….
Bagus…
satu hal yang kuperlukan saat ini adalah keberanian…
kayak diajarin anak TK ni..
Thanx for the Author
wuieh……… critanya lucu bgt………..
ngegemezin…………..anak TK udah brani nembak co_……Hebat”..!!
Duh, lucunya……….
lucu Bangetz..
tapi ending’na lum kelar ya,,,..??????
di lanjutin dunkz..
salut deh wat anak tk yg berani ungkapin isi hatinya dengan ju2r..
Qu z kagak berani Ungkapin pErasaanQu kE oRang Qu sayank,,
BAguz bAngetz..
Lumayan nGilangin bEte nUnggu Bedug MAgrib Wat bUka pUaSa..
Whahahahah…
dI lAnjutIn yA cEritanYA…………
wah cerita mnarik,bagus,and penuh makna,
ada lanjutannya lgi g?
Wah.. Bagus bangEtZz crItanyaaa….
Ditambah tampilan web yg berlatar belakang pink ini bikin suasana hati semakin tenang. Makasih buat yang nulis cerita karena udah sedikit menghilangkan kepenatanku yang lagi PKL ini, hehe
Dugh cuy.., mne crtanye ??
Cz gw bka d hp negh