KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kak, Cacha Jatuh Cinta!

Aku sedang duduk sambil membolak-balik majalah saat adik perempuanku berkata lantang, “Kak, Cacha udah memutuskan.” “Memutuskan apa?” tanyaku tanpa menoleh.

Sesaat dia terdiam sambil melihat lantai. Wajahnya setengah gugup dan setengah bahagia. “Cacha mau terus terang sama dia!”

“Sama siapa, Cha?”

Cacha tidak menjawab. Wajahnya terus menatap lantai. Tapi dari ekspresinya, aku tahu jelas apa yang Cacha maksud.

“Kamu mau terus terang sama Dio?!!”
Begitulah, adikku ini sedang jatuh cinta! Kamu mungkin nggak akan terkejut kalau nggak tahu usianya. Cacha ini masih 4 tahun!

Kira-kira tiga bulan yang lalu Cacha menghampiriku dengan wajah sumringah dan berkata, “Kak, Cacha jatuh cinta!” Awalnya aku yakin Cacha cuma merasa ‘suka’ saja, bukan ‘cinta’. Cacha pasti cepat lupa dengan perasaannya itu. Tapi melihat kesungguhannya selama ini, aku mulai nggak yakin. Masa anak TK bisa jatuh cinta, sih?

Mungkin itu karena Cacha adalah anak paling kecil dalam keluargaku. Walaupun aku yang sudah di bangku SMA ini belum pernah punya pacar (menyedihkan ya?) tapi Kak Adhi yang sudah kuliah sering membawa pacarnya ke rumah. Mungkin Cacha ingin punya pacar seperti Kak Adhi!

Cacha mengangguk malu-malu.

“Kamu yakin, Cha?” tanyaku, “Kamu benar-benar yakin?”

Kali ini dia mengangguk mantap. “Cacha cuma mau beritahu Dio bahwa selama ini Dio selalu di hati Cacha. Cacha nggak mengharapkan Dio membalas perasaan Cacha, kok. Walaupun nantinya harus ditolak, Cacha pikir lebih baik Dio tahu. Jadi Cacha bisa memastikan, apa Dio juga cinta Cacha atau nggak.”

Ya ampun… apa benar anak ini umurnya 4 tahun?

Jadi saat itu juga kami berdua mempersiapkan rencana ‘berterus terang’ pada Dio. Cacha bersikeras ingin memberi Dio cokelat buatannya sendiri pada tanggal 14 Februari (dari mana Cacha tahu tentang hari Valentine?!) walaupun kami berdua sama sekali nggak pintar di dapur. Yah, karena ini acaranya Cacha, jadi aku mengiyakan saja. 14 Februari masih cukup lama, jadi semuanya bisa disiapkan serapi mungkin.

Kami membeli cokelat, cetakan cokelat, kertas pembungkus, dan tentu saja pitanya. Semuanya dibeli dengan uangku. Cacha janji nanti kalau dia sudah besar dan sudah punya uang yang banyak, dia akan menggantinya 10 kali lipat.

Kami memutuskan Mama, Papa, dan Kak Adhi nggak boleh tahu masalah ini. Akan lebih mudah kalau mereka nggak tahu.

Tapi sebagai akibatnya, kami berdua harus membuat cokelat itu pada malam hari, saat semuanya sudah tidur. Cacha—yang belum pernah sekalipun masuk dapur—bersikeras ingin mengerjakannya sendiri. Aku hanya memberitahu apa yang harus dilakukan Cacha dan sama sekali nggak boleh menyentuh cokelatnya.

14 Februari tiba. Cokelat berbentuk hati buatan Cacha sudah siap di dalam kertas pembungkus dengan pita biru. Tapi kelihatannya Cacha nya sendiri yang belum siap. Dia terus-terusan mengeluh gugup, nggak siap, takut, dan sebagainya.

Untungnya hari ini aku pulang pagi, ada rapat guru atau apalah. Jadi aku bisa menemani Cacha pergi ke sekolah dan menyatakan perasaannya pada Dio. Aku menunggu sampai Cacha pulang sekolah, karena saat itulah Cacha akan menyerahkan cokelatnya.

Di antara kerumunan anak-anak yang berebut keluar sekolah, aku melihat Cacha menarik tangan seorang anak laki-laki ke sudut yang sepi. Itu pasti Dio. Hmm… cakep sih. Kalau besar nanti pasti lebih cakep lagi. Aku mendekat, bersembunyi di belakang tembok agar bisa mendengar pembicaraan mereka lebih jelas.

“Hai…” kata Cacha gugup.

“Hm?” Dio menggumam. “Siapa ya?”

“Aku Cacha. Ngg… kita sekelas lho! Ingat, kan?”

Dio menggeleng.

Ada sedikit rasa terkejut di wajah Cacha. Tapi Cacha segera mengaduk-aduk tasnya, lalu mengeluarkan bungkusan cokelat. “Ini buat Dio,” kata Cacha sambil menunduk, “Cacha suka Dio, suka sekali!”

Sejenak Dio mengamati bungkusan berpita biru yang disodorkan Cacha. “Maaf, ya. Aku sudah punya, nih.” Dio mengeluarkan cokelat dari sakunya. “Dari Putri,” tambahnya sambil memasukkan kembali cokelatnya ke dalam saku.

Lalu entah dari mana, seorang anak perempuan mendekati Dio sambil menarik tangannya dan berkata, “Pulang, yuk.” Nah, yang itu pasti Putri.

“Yuk,” jawab Dio sambil ngeloyor pergi, tanpa menggubris Cacha.

Dio dan Putri sudah pergi. Kaki Cacha seperti dipaku, dia nggak bergeser sedikit pun dari tempatnya. Aku segera menghampirinya, lalu memeluknya. Cacha mendekapku erat tanpa bersuara. Lalu pelan-pelan, aku merasakan sesuatu membasahi bahuku. Cacha menangis.
Esoknya, esoknya, esoknya, dan esoknya lagi, Cacha selalu murung sambil memandangi cokelat berbentuk hati di mejanya. Aku sering berusaha meyakinkan Cacha bahwa Dio itu bukan anak yang baik. Anak seperti itu nggak pantas menerima cokelat Cacha. Aku sering memberinya motivasi dan nasihat, tapi Cacha tetap seperti patung. Aku nggak yakin dia mendengarkan ucapanku.

Lalu hari ini, saat aku sedang duduk santai di teras sambil membolak-balik majalah, aku dikagetkan oleh sebuah suara yang berteriak keras, “KAKAK……!!!”

Aku baru sadar bahwa di sampingku ada Cacha. Bukan patung Cacha lagi, tapi benar-benar Cacha. Cacha yang selalu ceria. Tangannya menggandeng seorang anak laki-laki berkacamata yang tersenyum kikuk sambil menunduk malu-malu.

“Kenalkan, Kak,” kata Cacha, “Ini Randy!”

Aku menjabat tangan anak itu dan menyadari bahwa tangannya bergetar hebat. “Halo Randy,” kataku berusaha mencairkan ketegangannya.

Cacha tersenyum penuh arti sambil menatap Randy. Randy melirik Cacha malu-malu sambil tetap menunduk. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu…

“Randy ini pacar Cacha, Kak!” Kata-kata Cacha itu memperjelas semuanya. “Kami baru jadian hari ini!”

“Lho, kok…?” Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutku.

“Iya, Kak. Gimana? Randy lebih keren kan daripada Dio!”

Wah wah wah… anak-anak jaman sekarang…

15 Responses to “Kak, Cacha Jatuh Cinta!”

  1. on 04 Apr 2007 at 20:58Nur Faishal

    Bagus, bagus. Aku tertarik dengan cerpen ini, apalagi awal membaca judulnya. Terkesan kekanak-kanakan tapi jujur. Dua paduan karakter tokoh bisa ditemukan dari cerpen ini: lugu sekaligus berani. Bagus, bagus… Sebagai penikmat sastra, aku pengin bener kenalan sekaligus berbagi pengalaman, pengetahuan, dan bagi-bagi tips mengembangkan kreatifitas. Salam hangat buat Vi2n dari aku… Good Luck!

  2. on 05 Apr 2007 at 11:36ainiyah

    lumayan bagus ini cerita tapi sayang kok kayaknya endingnya belum selesai

  3. on 05 Apr 2007 at 13:31anok

    lucu bgt……
    thanks bisa buat aq ketawa habis baca cerpen nih, soale dari maren2 BT bgt …^-^
    Tp nggak nyangka ya anak TK kok dah jatuh cinta pake patah hati segala… hehehe

  4. on 26 Apr 2007 at 03:33vi2n

    wuah-wuah,

    thx bgt yg udah nyempatin buat ngisi komen…
    ^__- (senang syekallii…)

    _vi2n_

  5. on 30 Apr 2007 at 11:38rakhma

    lucuna… tapi kok kayaknya lum selesai?

  6. on 03 May 2007 at 17:20astrud

    lucu…lucu…lucu…
    lucu abis…
    kejadian itu terjadi juga sama gw…
    cuma, di cerita ini endingnya kurang ya… masih gantung tuh…
    masih ada yang harus ditambahin… tapi ok’s lah.

  7. on 06 May 2007 at 09:39414

    menarik….., tp sayang ya belum selesai.

  8. on 10 May 2007 at 11:57nnnn

    kok…menggantung banget ceritanya.

  9. on 11 May 2007 at 11:55vi2n

    iya, blum selesai. saya sudah kontak kolomkita dan ngirim naskah yang utuh. tapi belum ditindak lanjuti nieh….

  10. on 14 May 2007 at 08:01eddy_deh

    Bagus…

    satu hal yang kuperlukan saat ini adalah keberanian…
    kayak diajarin anak TK ni..

    Thanx for the Author

  11. on 05 Jul 2007 at 09:29417994

    wuieh……… critanya lucu bgt………..
    ngegemezin…………..anak TK udah brani nembak co_……Hebat”..!!
    Duh, lucunya……….

  12. on 13 Sep 2007 at 14:21syaima

    lucu Bangetz..
    tapi ending’na lum kelar ya,,,..??????
    di lanjutin dunkz..
    salut deh wat anak tk yg berani ungkapin isi hatinya dengan ju2r..
    Qu z kagak berani Ungkapin pErasaanQu kE oRang Qu sayank,,
    BAguz bAngetz..
    Lumayan nGilangin bEte nUnggu Bedug MAgrib Wat bUka pUaSa..
    Whahahahah…
    dI lAnjutIn yA cEritanYA…………

  13. on 17 Nov 2007 at 13:37tedy hafiz

    wah cerita mnarik,bagus,and penuh makna,
    ada lanjutannya lgi g?

  14. on 13 May 2008 at 15:51daunjambu

    Wah.. Bagus bangEtZz crItanyaaa….

    Ditambah tampilan web yg berlatar belakang pink ini bikin suasana hati semakin tenang. Makasih buat yang nulis cerita karena udah sedikit menghilangkan kepenatanku yang lagi PKL ini, hehe :D

  15. on 26 Sep 2008 at 14:53Fransisca

    Dugh cuy.., mne crtanye ??
    Cz gw bka d hp negh

Tinggalkan Komentar