KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

“Kita mesti telanjang, dan benar-benar bersih,

Suci lahir dan didalam batin”,

Itu penggalan syair Ebiet yang selalu dikirim Babe via sms, setiap kali aku mengadu akan semua keluh kesah masalahku. Sonny Harsono, dia tidak hanya menjadi pembimbing PKL ku di PG Bungamayang. Tapi juga menjadi teman, sekaligus seorang Bapak. Dia hanyalah sorang laki-laki biasa, bukan pejabat atau laki-laki dengan status sosial yang basah. Dibalik itu semua aku jatuh cinta padanya, aku sangat mengaguminya walaupun ia memiliki hobi yang sangat menyebalkan buatku, merokok.

Banyak hal yang kudapat darinya. Tidak hanya bagaimana proses pengolahan gula atau cara pengujian mutu. Tapi aku juga belajar tentang memaknai kehidupan, tentang cinta dan kesetian. Ya..tentang cinta. “jika kau mencintai maka itu karunia, jika engkau dicintai itu anugerah….syukurilah. Karena jika itu ada hidup kita akan lebih bermakna”.Itu tanggapan Babe, ketika aku becerita tentang cinta.

Cinta. Orang bila cinta sesuatu yang sangat indah, sekaligus menyakitkan. Cinta, sebuah kata yang hanya terdiri dari lima huruf. C…I…N…T…A…abstrak tapi berwujud dan memiliki kekuatan yang dahsyat. Yap..The power of love.

Aku tak tahu cinta seperti apa yang dimilikinya diawal pernikahanya dengan Mom. Sebuah rumah tangga yang awalnya dibangun dengan begitu banyak perbedaan. Sebuah rumah tangga yang awalnya dibangun dengan begitu banyak kesederhanaan. Sebesar apa cintanya ? Semua itu begitu sederhana, damai dan indah. Cinta mengalir sebening embun. Hingga akhirnya ia bisa dan benar-benar mampu menjadi mas’ul, qowwam (insya Allah) untuk Mom.

Mom, sampai aku menulis artikel ini tak banyak yang aku tahu tentang dia. Karena aku memang belum pernah berjumpa dengannya, kecuali dalam mimpi. Ya..aku pernah bermimpi bertemu dengan Mom, aku menangis dipelukkannya. Ketika hal itu ku kabarkan padanya via sms, dia membalas “Wah kalo gitu gue juga mau mimpi ketemu Dian Sastro, biar tambah muda…he..he..dan aku membalas, “ya udah nanti malam Betty doakan biar Bapak mimpi ketemu Madonna aja sekalian, gimana mau ndak..?”. Babe kembali me-replay sms ku,”Britney Spears aja, jangan Madonna, nanti keluarnya Maradona bisa berabe gue.”…Hm…Babe-Babe. Yah, itu panggilan sayangku untuknya. Karena ia adalah laki-laki ke-4 yang mengisi hatiku setelah Bapak kandungku, laki-laki yang menyebabkan aku ada, Ayah di Sidoarjo, dan Papa yang selalu menjagaku di Bungamayang.

Mom. Yang aku tahu namanya Dian. Mom adalah anak tunggal yang memiliki hobi yang sama denganku, doyan ngopi. Awal perkenalan mereka aku tidak begitu tahu. Yang jelas Mom adalah teman sepermainan salah seorang adik perempuan Babe. Sepertinya Babe sudah lama mengincar Mom, buktinya semua daftar informasi tentang mantan pacar Mom, Babe tahu. Dasar….Babe memang tipe laki-laki penggombal (Ups…bukankah semua laki-laki didunia ini adalah penggombal…???). Dengan penuh kesabaran Babe menanti Mom, hingga disaat dia tahu Mom putus dengan pacarnya alias jomblo, Babe langsung berteriak, bersorak girang seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah. It’s show time…one…two…three…tembak. Dooooor…tepat sasaran, dan Mom langsung pingsan jatuh kepelukkan hangat Babe.

Babe, dimataku dia termasuk tipe laki-laki yang cerdas, bertanggung jawab, ada jiwa Don juan nya, penggombal umumnya para lelaki. Dia sosok suami sekaligua Bapak yang sangat demokratis. Dia memberikan kebebasan kepada istri dan anak-anaknya. Diusianya yang sudah kepala lima aku yakin masih ada perempuan yang terpikat padanya. Buktinya aku salah satunya….(he..he…don’t think I’am falling in love with him like a boys with a girl, Okey). Babe sangat setia dan aku yakin dia akan selalu setia pada Mom. Pernah suatu malam dia sms padaku “Gue lagi sibuk ngerjain PR, banyak tugas besok mau ulangan sambil pacaran sama WIL…..itu tuh Wanita Idaman La………..ma.”

Betapa bahagianya mereka, diusia pernikahan mereka yang sudah seperempat abad, mereka tetap mempu mempertahankan keromatisan dan kemesraan walaupun dipisahkan dengan jarak yang cukup jauh, Lampung-Nganjuk. Mereka masih tetap layaknya sepasang kekasih yang penuh kemesraan dan penuh cinta.

Aku yakin, mereka bukanlah tidak pernah “ribut”. Mereka toh manusia biasa yang pasti bisa khilaf. Tapi mereka mampu melewati gelombang-gelombang tersebut. Biasa dengan sedikit negosiasi plus rayuan gombal badai pasti berlalu. Mereka melewati semuanya dengan penuh kesabaran dan keyakinan bahwa pernikahan bukanlah untuk kesenangan semata tapi lebih untuk sebuah pertanggungjawaban kepada-Nya, Sang Pemilik Cinta.

Melihat indahnya pernikahan mereka, aku cemburu. Aku ingin menjadi perempuan yang bahagia seperti Mom. Dan Babe pernah bilang” Kau ingin..?Buat keluarga seperti yang kau dambakan dan realisasikan ! Itu saran gue, ojolali rek undangane…suer..kamu pasti bisa, Okey”. Entahlah…aku tidak tahu, karena sampai saat ini aku belum menemukan “pejantan tangguh impianku”.

Aku ingin merasakan kebahagian yang dirasakan Mom, memiliki seorang suami yang setia. Aku ingin mengekspresikan diriku sebagai seorang perempuan. Membangunkan suami sebelum fajar menyingsing, memasak untuk suami tercinta, menyetrika, ya…melakukan segala sesuatu untuk suami demi menyempurnakan ibadah seorang istri.

Tapi aku tidak tahu. “Laki-laki banyak yang brengsek, suka nyakitin. “Tidak semua laki-laki, perempuan juga banyak, bahkan lebih gombal seperti gombalnya Mukiyo, itu sangat terkenal di Jawa”. Babe selalu menghiburku dan menguatkan hatiku untuk menikah.

Babe..doakan jika besok, lusa atau entah kapan. Jika kau menemukan laki-laki yang sholatnya terjaga dan cerdas maka aku akan menikah dengannya, dan kau “Pejantan Tangguh” impianku, dimanapun kau berada saat ini aku yakin, siapapun engkau,engkau adalah yang terbaik dari Allah untukku. Karena bersamamu, aku bisa sama-sama belajar tekun berproses labih baik lagi. Belajar memaknai cinta dalam kerangka menyulam kesetian seperti Mom dan Babe. Alhamdulillah. Amin.

17 : 26, hari ketiga 2007

3 Responses to “Belajar dari Babe dan Mom : Menyulam Kesetiaan”

  1. on 29 Apr 2008 at 17:55triyanto

    Benar tuh dik…. dulu saya magang di PG Bunga Mayang (1995) sangat dekat dengan beliau ……… sering ke Kotabumi sekedar jalan-jalan boncengan sepeda motor …………….. terkenang sampai sekarang. Kalau boleh tahu berapa no HP beliau ya?

  2. on 10 May 2008 at 08:31haries satyawardhana

    Assalamualaikum mbak..
    Hahahahahahahaha………..
    baca tulisan ini jadi kangen ma bapak. untung momennya pas, bapak lagi ke bandung, jadi baca sama-sama deh. hehehehehehehe……
    ada juga yang nulis ya…..
    terimakasih dah jaga bapak waktu magang di BM, soale anak2nya ini sekolahe jauh2 semua. ketemu pas lebaran doang. :-(
    salam kenal
    Haries

  3. on 10 May 2008 at 08:32Sonny Harsono

    Dik, aku udah pensiun per desember 2007, udah boyong pulang ke jawa timur,baru 2 bln menikmati pensiun, dipanggil lagi ke direksi…..jadi pekerja kontrakan honorer…sementara dikontrak 6 bln……gitu loh….yah tak jalani aja,ngalir seperti air,…untuk membantu “revitalisasi pabrik gula Bungamayang dan Cintamanis”…….

Tinggalkan Komentar