KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sebuah Liontin

Teriakan gembira menghiasi SMU Persada. Penerimaan rapor sekaligus awal dari hari libur telah ditunggu oleh para siswa dan siswi. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Di sudut kelas dua, tampak seorang siswi yang berpostur tinggi serta cantik sedang dikerumuni oleh teman-temannya. Ekspresinya sangat gembira sekali.
          “Sarah…selamat ya! Kamu jadi juara umum!” Teriakan seperti itu terdengar berulang-ulang dari

         “Ah…tapi itu
kan hanya kebetulan. Jangan terlalu membesarkan.”, katanya merendah.”
Kan semuanya berusaha untuk dapat berhasil.”

            “Iya, tapi tak ada yang mampu mengalahkan kemampuanmu”, kata salah satu temannya.

            “ Sudahlah, aku mau pulang dulu. Orang tuaku sudah menunggu. Yuk, sampai jumpa lagi!” Ia berlalu begitu saja. Tetapi dalam hatinya ia memikirkan Anton, temannya yang terpaksa tidak naik kelas karena kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh dan mengakibatkan ia tidak bisa ikut ujian karena dirawat di rumah sakit. Ia seorang pemuda tampan yang memiliki segudang harapan. Tapi ia merasa senang karena teman-temannya menghiburnya. Dan yang paling banyak memberikan adalah Sarah.

 

*          *          *

 

            Siang itu, di teras depan, sehari setelah penerimaan rapor, Anton duduk di kursi roda pemberian pamannya. Pandangannya kosong ke depan. Sekali-sekali ia menghembuskan napasnya. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya.

            “Hai Ton, kok melamun?”

            “Oh…” Hh…ternyata Sarah.”
Ada apa Sarah?”

            “ Aku hanya mau jenguk kamu, nih…aku bawain buah. Sekalian aku mau pamit sama kamu”, sambil menyerahkan bungkusan.

            “Pamit? Kamu mau pergi kemana?” Oh…Tuhan jangan tinggalkan aku lagi. Aku sudah merasakan sepinya tiada orang yang melihatku.

            “Aku mau pergi liburan. Ke kampung aja kok! Nanti aku bawain oleh-oleh”.

            “Berapa lama kamu di
sana?”

            “ Mungkin sampai masuk sekolah lagi. Tapi…” ia jongkok di samping kursi roda Anton dan memegang tangannya,”aku berjanji akan menulis
surat padamu. Jadi kamu tidak usah khawatir”.

            “Terima kasih kamu sangat perhatian padaku, Sarah”, Anton meremas tangannya yang lembut.

            “Hanya inilah yang dapat kuberikan, Ton. Oh…aku ingin menitipkan sesuatu padamu. Supaya nanti kamu bisa ingat aku terus”.

            “Apa itu ?” Sarah merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah liontin emas. Liontin itu berbentuk hati yang dihiasi dengan permata yang sangat indah. Liontin itu berkilau-kilau ditimpa matahari.

            “Ini…” Sarah menyerahkan kepada Anton.”Aku ingin kamu menyimpannya supaya kamu ingat terus sama aku. Ibaratnya ini sebagai nyawaku. Kalau ini hilang…entah apa yang terjadi padaku”.

            “Oh…Sarah, apa yang harus kukatakan padamu lagi. Kamu telah banyak membantuku. Aku tak dapat membalas kebaikanmu padaku.”

            “Sudahlah, Ton.
Kan sudah kubilang dari dulu kalau aku bisa bantu aku akan bantu. Jadi sekarang jangan pikirkan lagi,ya”.

            “Baiklah!”

            “Sekarang aku mau beres-beres dulu untuk berangkat besok. Salam untuk orang tuamu, ya! Bye!” Segera Sarah meninggalkan Anton. Anton memandangnya dengan lesu hingga ia keluar dari pagar. Dengan berlalunya Sarah dari hadapannya kemudian ia masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya. Dibukanya lemarinya dan ditariknya laci kecil yang ada di samping deretan baju yang digantung, diletakkannya liontin itu di dalamnya. Sejenak ia masih memandang kemilau liontin emas itu, menikmati keindahan yang terpancar. Seakan-akan wajah Sarah terbayang di
sana.

 

*          *          *

 

            Keesokan paginya, Anton diajak orang tuanya untuk pergi berbelanja di mall. Setelah siap untuk pergi, ia memandang rumah sebelah, rumah Sarah. Dilihatnya rumah itu tampak kosong. Biasanya Sarah duduk di teras sambil membaca majalah ditemani ibunya. Tetapi aktivitas itu tidak dilihatnya pagi ini. ‘Ah…ternyata ia sudah pergi. Berapa lama kau harus menunggunya. Entah kenapa kalau aku berada di dekatnya aku merasa tenang dan tenteram. Atau inikah yang dinamakan cinta ? Aku tidak tahu.’

            Tiba-tiba ia mendengar bunyi mobil dihidupkan dan ia bergegas untuk pergi. Sejenak ia melupakan kepergian Sarah. Namun, ia tidak akan menyangka atas apa yang terjadi di antara mereka berdua. Suatu kejadian yang rasanya mustahil untuk ia lakukan sekarang.

            Sore itu juga Anton pulang dari jalan-jalan bersama orang tuanya. Tampak jelas pada wajahnya, ekspresi senang bercampur letih. Ia dapat melupakan sejenak kepergian Sarah. Masuk ia ke kamarnay dan tanpa basa-basi lagi ia menuju tempat tidur. Kemudia ia merebahkan tubuhnya di atasnya. Ketika kepalanya menyentuh alat mimpi, ia telah terbuai dengan mimpi-mimpi yang menjemputnya.

 

*          *          *

 

            Pagi yang cerah membuat Anton ingin berada di teras kesayangannya sambil membaca buku. Sepertinyaq ia telah dapat melupakan kepergian Sarah tanpa melupakan liontin emasnya. Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya. Ia menoleh kea rah sumber suara itu. Dengan pandangan kaget ia melihat Sarah di ujung jalan. Kemudian Sarah berlari-lari kecil menuju rumah Anton. Tiba-tiba sebuah mobil Hartop muncul dari tikungan dengan kecepatan tinggi. Sarah yang tak dapat menghindari mobil tersebut tertabrak dengan naasnya.

            Anton buyar dengan kesenangannya. Ia berteriak sekuat tenaganya. Yang dilihatnya mobil Hartop itu tiba-tiba pergi. Tabrak lari!! Ketika mobil Hartop itu berlalu, Sarah tampak bersimbah darah di sekujur tubuhnya. Tapi ia masih hidup dan tangannya menggapai-gapai sambil menyebut nama Anton.

            Seketika itu juga Anton tergerak untuk menolong. Ia melupakan perihal kakinya dan langsung berdiri. Alhasil ia terjatuh kembali. Dengan terseok-seok ia menuju pagar sambil menyebut nama Sarah. Ketika dijumpainya Sarah di jalanan, Sarah masih hidup. Anton berteriak minta tolong tetapi tidak seorangpun datang membantu. Tiba-tiba sebuah truk muncul dari tikungan dengan kecepatan tinggi menuju mereka berdua.

            “Ton…bangun Ton sudah jam
lima. Kamu kok tidur sampai berkeringat seperti ini. Ayo lekas mandi”, ibunya membangunkannya.

            “Eh…Oh…ya Bu”, jawab Anton. Kemudian ibunya pergi menyiapkan air panas untuk mandi. ‘Hh…ternyata hanya mimpi. Seram sekali mimpi tadi. Aku sampai merinding’, katanya dalam hati.

            Kemudian ia naik ke kursi rodanya. Teringat olehnya liontin emas itu. Ketika tangannya hendak meraih kunci lemari, ibunya sudah memanggilnya.

            ‘Ah…nanti saja aku melihatnya’. Kemudian ia pergi mandi.

 

*          *          *

 

            Kejadian yang mengejutkan terjadi! Pagi itu Anton sedang main playstation di ruang tengah. Ketika dilihatnya jam menunjukkan pukul sembilan ia menghentikan permainannya mengingat jam sepuluh ada acara yang ingin ditontonnya. Jadi ia mengistirahatkan TV-nya selama satu jam. Didorongnya kursi roda menuju kamarnya. Matanya tertuju pada lemari dan kemudian teringat ia tidak jdi melihat liontin emas itu. Karena tidak ada yang menghalanginya lagi ia mendorong kursi rodanya menuju lemari.

            Dibukanya lemari dan laci tempat penyimpanan, dan dilihatnya liontin itu tak ada lagi ditempatnya. Paras panic tampak pada muka Anton.

            “Mbak…Mbak…!!” Anton memanggil pembantunya.

            “Iya…ada apa?”

            “Mbak lihat tidak di laci ini ada kalung dari emas ?”

            “Tidak, Mas!”

            “Aduuh….bagaimana ini ? Itu punya Sarah, tetangga sebelah. Kalau kalung itu hilang apa yang akan dikatakannya padaku”, kata Anton dengan penuh kecemasan.

            “Dicari saja dulu, Mas. Siapa tahu tercecer”.

            “Tapi saya tidak pernah mengeluarkannya. Apalagi memakainya.”.

            “Dicari
kan’ tidak ada salahnya. Mudah-mudahan ketemu”, kata pembantunya.

            “Iya, Mbak!”

            Pencarian dimulai. Anton mulai dengan menggeledah lemrinya hingga ke sudut-sudut yang susah dijangkau. Pembantunya mencari di setiap jengkal kamarnya. Alhasil…nihil. Kecemasannya mulai tampak pada wajah Anton. Ia tak dapat memenuhi keinginan Sarah untuk dapat menyimpan liontin emasnya dengan baik. ‘Ya Tuhan…apa yang akan dikatakannya nanti ?’

            “Mbak, jangan bilang-bilang mama, ya. Besok kita cari lagi.

            “Iya, Mas. Aduuh…Mbak lupa!! Tadi Mbak goring ayam. Pasti gosong deh!” Pembantunya segera pergi ke dapur meninggalkan Anton dengan perasaan yang berkecamuk di dalamnya. Takut dengan reaksi Sarah nanti. Takut dengan apa yang akan dikatakannya nanti. Takut persahabatannya akan putus. Dan takut cintanya tak akan sampai pada Sarah.

           

*          *          *

 

            Sebuah
surat melayang keesokan paginya menuju rumah Anton dan ditujukan padanya. Tertulis di pengirim Sarah Romantika. Anton terkejut karena sudah seminggu sejak kehilangan itu terjadi ia gelisah. Ditambah sebuah
surat dari Sarah semakin membuat hatinya cemas tak menentu.

            Amplopnya berwarna merah jambu dengan gambar hati di tengahnya. Seakan-akan Anton merasakan kehadiran Sarah karena ini adalah warna favoritnya. Anton tahu karena ia pernah memberikan sesuatu kepada Sarah dan Sarah menyukainya dan mengatakan bahwa merah jambu adalah warna kesukaannya. Sejak saat itu, Anton ingat betul kalau Sarah sangat baik padanya.

            Dibukanya amplop itu dengan tangan gemetar. Seketika itu juga terpancar keharuman parfum Sarah yang biasanya ia pakai, dari kertas
surat yang ada di dalamnya. Hati Anton semakin terenyuh. Dibacanya kata demi kata dan kalimat demi kalimat.

            “Hai, Ton. Bagaimana kabarmu ? Aku di sini baik-baik aja kok. Ayah dan ibumu juga baik
kan ? Aku di sini senang sekali, Ton. Apalgi di sini banyak saudaraku. Tapi aku tetap ingat padamu. Oh…ya, kamu ingat sama aku tidak ? Pasti ingat dong! Soalnya
kan’ ada liontin emasku. Jadi umpamanya liontin itu sebagai perantara antara kita berdua agar saling mengingat. Setuju ?
            Nanti sekembalinya dari sini aku belikan oleh-oleh yang bagus deh untuk kamu. Pokoknya oke punya, pasti kamu suka. Juga oleh-oleh cerita pengalaman aku selama di sini. Aku pulangnya sekitar dua minggu lagi. Jadi tetap sabar menungguku pulang, ya. Eh…Ton udah dulu, ya, aku ngantuk banget nih. Aku mau tidur dulu. Yuk…Bye…!”

            Oh…Sarah aku tak dapat menahan apa yang akan terjadi padaku nanti setelah kamu pulang. Aku mengecewakanmu. Aku menyakiti hatimu. Maafkan aku Sarah !!

 

*          *          *

 

            “Sarah !”, ayah Sarah masuk denga tiba-tiba ke kamar Sarah esok paginya.

            “
Ada apa Ayah ? Kok terburu-buru ?”

            “Kita harus segera kembali malam ini”

            “Lho, mengapa Ayah ? Kita
kan’ baru seminggu di sini. Sarah masih ingin jalan-jalan dengan saudara yang lain”. Sarah memperlihatkan ekspresi kekecewaan.

            “Ayah mengerti. Hanya…direktur Ayah di kantor mendesak Ayah terus agar kembali. Jika tidak kembali, masa depan perusahaan akan hancur. Ayah sebenarnya tidak ingin kembali secepat ini, tapi ayah juga memikirkan orang lain.”

            “Iya…tapi Ayah kemarin meyakinkan kami bahwa tidak ada yang mengganggu liburan kita. Bagaimana Yah ?” Sarah duduk di tempat tidur.

            “Waktu itu direktur ayah juga meyakinkan tidak rapat selama kita pergi. Tapi ini
kan’ kebijaksanaan direktur. Ayah tidak bisa membantah. Mungkin direktur ayah juga tidak mau mengganggu liburan kita. Ia pasti tidak ada jalan lain lagi. Tolong mengerti Sarah!” Ayahnya duduk di sebelahnya.

            Sarah diam membisu.

            “Lagipula kita juga sudah liburan di sini. Mana menurut Sarah lebih baik, kita bersenang-senang di sini melihat kehancuran perusahaan orang lain dan juga mengakibatkan banyak keluarga yang kepala keluarganya putus kerja atau kita pulang…menyelamatkan perusahaan orang lain dan tidak menyebabkan PHK bagi orang lain ?”

            Sarah terkejut.

            “Baik. Ayah benar. Kita pulang”, Sarah menatap ayahnya dengan bangga dan memeluknya. “Ayah benar-benar seorang Ayah yang bijaksana. Sarah senang punya Ayah seperti ini.”

            “Sudah”, ayah melepaskan pelukan anaknya. “Ini sudah tugas ayah. Jadi sekarang kamu beres-beres barangmu. Jangan sampai ada yang ketinggalan”. Ayahnya menuju pintu dan keluar.

            Sarah menatap sebuah benda yang ada di meja yang sudah dibungkus dengan rapi.

            “Untung sudah kubeli oleh-oleh untuk Anton. Aku tahu ia sangat menginginkan barang itu”, kata Sarah senang.

 

*          *          *

 

            Malam itu bus melaju dengan kencang di bawah hujan lebat mengguyur. Sarah duduk di samping ibunya.

            “Bu…yang Sarah titip tadi sudah Ibu masukkan ke dalam tas
kan’ ?”

            “Oh…yang dibungkus itu. Sudah. Tapi untuk siapa sih? Pakai dibungkus segala”.

            “Untuk Anton. Tetangga sebelah.”

            “Yang kakinya lumpuh itu. Ibu kasihan melihatnya.”

            “Iya, Bu. Sarah juga. Sarah ingin membahagiakannya. Sarah mencintainya.”

 

*          *          *

 

            Anton bangun telat dari biasanya. Ia tidak tahu perihal kepulangan Sarah. Kemudian ia mandi dan pergi ke teras seperti biasanya. Tiba-tiba dilihatnya rumah sebelah – rumah Sarah sudah penuh dengan orang. Semuanya berpakaian hitam.’
Ada apa?’ Tanya Anton dalam hati.

            “Kemudian ia mendorong kursi rodanya keluar menuju rumah Sarah. Tiba-tiba dilihatnya seorang teman sekelasnya keluar dari rumah Sarah sambil menangis dan menuju ke arahnya.

            “Tin, ada apa ? Mengapa kamu menangis ? Dan…dan mengapa semua berpakaian hitam”, Tanya Anton agak cemas.

            “Keterlaluan kamu, Ton. Kamu sebelah rumah tapi tidak tahu”.

            “Sarah!” Tina agak menjerit.” Sarah meninggal akibat kecelakaan bus tadi malam”. Tina kemudian pergi meninggalkan Anton sambil terus menangis.

            Suatu kilatan cahaya tampak pada mata Anton. Terpaku ia mendengar berita yang tidak disangka-sangkanya ini. Mulutnya bergetar dan tidak terasa air matanya mengalir jatuh ke pipinya.

            “Tidaaaaaaaak!!” Anton menjerit sambil menelungkupkan kepalanya ke kakinya. Menangisi kematian Sarah.

            Setelah dapat menenangkan diri, Anton mencoba masuk ke dalam. Ia dibantu oleh beberapa orang di
sana. Setelah masuk ke ruang tengah dilihatnya ibu Sarah masih menangisi tubuh kaku yang dingin itu. Ibunya penuh luka di tangan dan kakinya. Anton mendekat. Ia semakin jelas melihat wajah pucat itu.

            ‘Ia masih tetap cantik’ kata Anton dalam hati. Ibu Sarah melihat Anton mendekat.

            “Kamu pasti Anton
kan’?”

            “I…Iya, Bu.”

            “Mari, nak, ibu bantu turun. Kamu pasti sangat sedih. Dia
kan’ sahabatmu yang paling setia.”

            “Terima kasih, Bu”. Anton semakin dekat melihat wajah Sarah yang sudah dingin itu. Ia menyesal telah menghilangkan liontin itu. Ia teringat kata-kata Sarah dulu ‘Liontin ini ibaratnya sebagai nyawaku. Kalau ini hilang entah apa yang terjadi padaku.’.

            “Bu…aku yang membunuh Sarah”, katanya tiba-tiba. Ibu Sarah kaget.

            “Bicara apa kamu, nak. Ini kecelakaan”.

            “Tapi…tapi…”

            “Sudahlah….Oh..ya, Sarah menitipkan sesuatu padamu sebelum pulang. Sebentar ibu ambilkan.”

            Bungkusan itu tampak sedikit hancur, tapi isi dalamnya tidak hancur.

            “Ini, Nak. Ia membelikanmu dengan hati riang.” Ibu Sarah menyerahkan kepada Anton.

            “Terima kasih, Bu!”

            “Ia sangat mencintaimu. Sarah mengatakan pada ibu.”

            Anton kaget dan memandang ibu Sarah agak lama kemudian diam membisu.’Aku juga mencintainya, Bu’. Anton naik ke kursi rodanya keluar sambil membawa bungkusan itu.

            Ia pergi menuju jembatan sungai dekat rumahnya. Jembatan itu terbuat dari kayu yang dibuat melengkung. Sungai itu tidak terlalu lebar tapi cukup dalam.

            Anton memandang ke dalam air yang jernih itu.’Sarah mengapa kau pergi begitu cepat ? Apa karena aku menghilangkan liontin itu ? Maafkan aku Sarah!’

            Kemudian ia membuka bunkusan itu dan mendapatkan kotak berwarna coklat yang sudah agak penyok. Dibukanya dan di dalamnya terdapat lencana gitar yang berlapisi dengan perak. Benda idamannya selama ini.

            “Ini tak berarti lagi bagiku. Kau sudah tiada. Apa yang dapat kulakukan lagi untuk menebus dosaku. Maafkan aku Sarah!!!”. Ia berteriak. “Aku masih ingin bersamamu lagi.”

            Tiba-tiba Anton dapat melihat wajah Sarah yang cantik di atas permukaan air sungai yang tenang. Samar-samar didengarnya suara Sarah.

            “Kemarilah Ton, kita masih bisa bersama. Kemarilah Ton.”

            Anton tersenyum melihat wajah Sarah di
sana.

            “Benarkah kita masih bisa bersama ?”

            “Betul, kita bisa bersama selamanya, tanpa ada yang menghalanginya. Hanya kita berdua. Kemarilah, Ton”.

            Tiba-tiba Anton sudah melayang-layang di udara bersama kursi rodanya masuk ke dalam sungai. Tenggelam bersama perasaan yang menggelegak di dalam sanubari mereka berdua. Keinginan untuk selalu bersama. Selamanya.

2 Responses to “Sebuah Liontin”

  1. on 09 Apr 2008 at 15:58hana

    ada gakkk sssiiiiicccccccchhhhhhh cerita tentang naik kelas

  2. on 09 Apr 2008 at 15:59hana

    wwwwww bbbbbbbbbboooooooooosssssssssssseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnn ccccccccccccccccccccccceeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnyyyyyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaa bbbbbbbbbbbbbeeeeeeeeeeeeeggggggggggiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnniiiiiiiiiiiii meeeeeeeeeellllllllllluuuuuuuuuuuuulllllllllllllluuuuuuuuu,
    kalo gak bisa mending gak usah

Tinggalkan Komentar