Giok Salju
November 15th, 2007 by Sulfiza Ariska
Mungkin setelah mati manusia hanya menjadi hampa.
Maka, yang kucari adalah kebenaran. Bukan yang lain.
Banyak sekali wanita yang berusaha memperkosaku. Aku jadi heran. Ada apa denganku?
“Kau tampan,” aku Mei. Ia guide-ku waktu mengunjungi Golden Summit di Gunung Emei, Provinsi Sichuan bagian selatan. Tubuhnya yang mungil lebih buas daripada sebelas monyet iseng di pepohonan sepanjang jalan menuju terminal cable car―kendaraan menuju Golden Summit. Um…bila kuingat-ingat, ia waktu itu tak ubahnya anaconda betina yang membelitku penuh nafsu.
“Damn! Ini cable car, Mei! Tak bisakah kau menunggu hingga di tempat yang aman?” tawarku sambil mendorong tubuhnya dengan kasar. Imajiku yang gila membuat tubuh gadis itu terjejal menerobos dinding cable car. Kemudian kulihat ‘anaconda betina’ itu terbang tanpa sayap.
TIDAK
Dia jatuh!
Oh!
Tiba-tiba nafasku sesak. Terasa seperti penderita asma akut.
Arrrrggghh….
Sebuah sentakan kuat melontarkanku kembali ke dunia nyata―bukan imaji. Ia―anaconda betina itu―masih di sini! Kemeja yang kubeli di tepi kota Shanghai direnggutnya buas hingga terbuka. Dua kancing lepas. Angin dari salah satu empat gunung suci umat Buddha di Cina ini menikam poro-pori dadaku yang telanjang―hanya dua tarikan nafas!
Lalu, anconda betina itu kembali beraksi. Ia mengigit-gigit payudaraku. God!! Benar-benar liar. Mungkin dia sudah bermetamorfosis menjadi succubus yang selalu dahaga kesucian laki-laki.
“NO!!” Mei kembali terjejal. Kupikir dia akan menjerit layu, tapi dia bertambah ganas―ia mengeluarkan sebilah belati dari dompetnya lalu menodongku. Imaji yang gila kembali merenggutku―kali ini menyelamatkan! Kuraih pistol dari saku ransel dan balas menodongnya.
“Nah! Kau kalah, Mei!” ejekku sinis. Nafasku dan nafasnya terengah-engah. Memburu. Efek todonganku membuat dia runtuh dan kembali menjadi Mei yang menyejukkan mata. Pistol mainan untuk Xuě kembali kumasukkan ke dalam ransel.
Sepanjang sisa laju cable car, Mei diam sejenak lalu dengan kejeniusan verbal ia membuka dialog yang membuatku tersugesti untuk melupakan insiden tadi.
Sewaktu Mei lengah di Golden Summit, aku menghilang ke Sea of Clouds. Sumpah! Aku tak mau jatuh ke lubang yang sama. Cukup sekali saja!
***
Sampai sekarang aku ingat Mei. Mungkin tak kan terlupakan sampai aku menua dan mati. Sebab, di antara sekian banyak kasus pemerkosaan, dia yang paling hot.
Sekian banyak?!
Ya. Berkali-kali.
Namun, sejauh ini aku tidak pernah melaporkan kasus ini ke polisi. Koruptor triliyunan saja bisa lenggang kangkung. Apa kata dunia bila seorang lelaki berbadan Rambo―aku―datang ke kantor polisi dan berkata, “Pak! Saya mau diperkosa.”
God!
***
Aku tak habis pikir juga. Jika ditanya, semua yang berusaha memperkosaku beralasan karena aku tampan.
Terakhir aku nyaris diperkosa sewaktu mengantar Xuě di sommerfest di kedutaan besar. Bu Dubes sendiri yang menginginkan dirku. Tentu saja kali ini tak berdaya di bawah todongan pistolnya. Aku bisa membedakan pistol asli dengan yang mainan. Jadinya, menurut saja saat dia menggiring ke gudang kedubes. Begitu pula ketika dia memerintahkan untuk nude. Patuh! Jika aku mati, bagaimana nasib Xuě??
Untunglah!
Sad ending bagi Bu Dubes. Ia baru sadar bahwa dia firgit lima menit sebelum mendorong tubuhku.
“Kau tampan,” katanya meringis sambil mengigit ujung telunjuk.
“Bukankah Mr. B lebih tampan?” balasku dengan tanya sambil mengenakan kembali celana dalam. Mr. B adalah aktor Cina yang berkarir di hollywood. Ia juga hadir bersama dua orang anak pra nikahnya. Sengaja kesebut B―inisialnya―ini untuk menjaga prifasi dia.
“Tidak!” kilah Bu Dubes. “Kau yang lebih tampan. Dulu aku pernah kencan dengannya dan dia tidak hangat di ranjang. Seperti bercinta dengan kursi rotan.”
Sebelum aku bertanya, dia mendahului, “Apa yang membuat kamu lebih tampan ya?”
Aku bingung.
“Kau memakai susuk aura cahaya ‘kan!” tebaknya.
Aku menggeleng. Tambah bingung.
***
Aku baru mengerti soal susuk aura cahaya setelah kontrak kerja di perusahaan eletronik Tiongkok selesai―kembali ke Yogyakarta dan mengurus perusahaan keluarga.
Susuk aura cahaya bisa mempercantik atau mempertampan diri yang memamakai. Pemasangannya dengan bantuan paranormal. Seorang kolega bisnis―yang juga berprofesi paranormal―yang menjelaskan. Bahkan, dia bersedia memasangkan susuk tanpa memungut bayaran. “Diskon seratus persen!” katanya tergelak. Aku ikut tertawa. Melihat tampangnya yang diam saja sudah membuat geli, apalagi waktu dia tertawa. Meskipun cerdas―pintar bermain dadu marketing―tubuhnya pelem (baca: penuh lemak), persis badan panda.
Bagiku panda hewan yang menyenangkan.
Andai saja aku berzodiak panda, betapa indahnya dunia.
Dalam astrologi, gerakan nasibku berada pada Ophiuchus yang menurutku tidak cool. Dalam bahasa Yunani Ophiuchus berarti penangkap ular. DAN aku sangat alergi pada ular. Hewan ini mengingatkan aku pada Mei.
Puiiih!
Jelas, Ophiuchus tidak cocok bagiku. Bukan aku yang menangkap ular, tapi ular yang menangkapku!
Hei, aku suka gratisan alias diskon seratus persen. Makanan gratis selalu terasa enak, bagaimana pula dengan susuk aura cahaya gratis?!
Aku sudah membuat janji untuk datang ke klinik temanku tersebut. Berkali-kali. Tapi tak ada yang sempat.
Sebagai satu-satunya manusia yang lolos dari seleksi alam―selain urusan kerja―hidupku untuk merawat keluargaku yang penyakitan. Ibu dan dua kakak perempuan mengidap kangker payudara. Ayahku meninggal dengan penyakit itu. Secara genetik keluargaku punya riwayat kangker payudara. Aku dan adik laki-laki lolos dari penyakit ini, tapi adikku itu tak lolos dari seleksi alam―dia diuji Tuhan dengan ’65 mawar’ sejak usia balita.
65 mawar adalah nama yang manis untul penyakit yang memuakkan; Cystic fibrosis―penyakit saluran pernafasan yang menyerang paru-paru.
Sibuk…sibuk…sibuk!
Aku tak punya waktu untuk memperindah tubuh ke gym dan salon. Apalagi untuk kencan. Semua waktu untuk kerja, kangker payudara, dan 65 mawar. Aku tak bisa mempercayakan keluargaku pada lima perawat dan empat pembantu. Bukan berlebih-lebihan, tapi aku cuma ingin meyakinkan diriku bahwa aku bisa menjaga orang-orang yang aku cintai. Ini membuatku bahagia.
Kesibukanku makin bertambah sejak kuputuskan memberhentikan Xuě dari sekolah. Tepatnya, seminggu sebelum sebelum ujian kenaikan kelas 3 SD. Kondisi kesehatannya makin tak bersahabat; ruam-ruam dikulitnya semakin banyak dan mudah terserang demam untuk sembuh dalam waktu yang lama.
“Tak bisakah menunggu sampai tahun depan?” keluh guru matematikanya.
Aku menggeleng. Resah. Pilu. Patah.
“Sayang sekali, Pak!” keluhnya ngilu seperti merasakan keperihanku. “Dia sudah kami daftarkan untuk Olympiade Matematika Internasional di Istanbul tahun depan.”
Aku dan guru itu makin kacau. Kami tak bercakap-cakap lagi. Pandangan mata kami terfokus pada Xuě yang ribut dengan teman sekelasnya.
Hari ini tak ada pelajaran. Semua waktu untuk hari terakhir Xuě di sekolah. Xuě tertawa riang dengan teman-temannya, sementara itu aku ingin terbang ke balik dunia untuk mengungsikan pedih.
***
Setiap hari minggu, sepulang menjenguk ibu dan saudara-saudaraku di rumah keluarga besar, aku mengusir kemurungan dengan membaca takdir dengan tarot. Cuma iseng. Kartu ini kubeli sehabis mengikuti seminar IT di New Orleans.
“Anda berasal darimana, Sir?” tanya seorang teman sekamar suatu malam.
“Anda pasti dari Meksiko!” jawabku menyimpang.
Dia terkejut. Wajahnya tersipu malu. “Bagaimana Anda bisa tahu?” tanya dia sambil menghempaskan tubuhnya yang penuh otot di atas ranjangku. “Padahal banyak orang yang yang mengira aku orang Jerman,” tambahnya menjelaskan.
Secara fisik dia memang kejerman-jermanan. Tidak terlihat fisik latin. Namun, mataku tak bisa dibohongi. Bahasa Inggris aksen Spanyol-nya diperkuat dengan garis-garis tulang wajah meksiko―ini kupelajari sendiri dalam psikologi komunikasi.
“Bagaimana caranya?”
Aku mengangkat bahu. Biar dia penasaran dulu.
“Kau pakai tarot ya?”
“Apa itu tarot?”
Aku membayar info tarot ini dengan kejujuran. Tak apa-apa. Daripada dia tak bisa tidur semalaman.
Mendengar penjelasanku, dia mengangguk-angguk dengan tatapan mata tak berpindah dari jakunku.
Aku keliru.
Ternyata, teman yang mengaku bernama Rey tersebut sangat gelisah semalam. Terbukti, keesokan harinya di ruang seminar ada kantung mata di wajahnya.
***
Usai seminar―sebelum berpisah―Rey memeluk dan menciumku. Ciuman gaya baru, menurutku. Ia mengulum bibir dan mengisap lidahku. “Semoga di Meksiko aku bisa punya pacar setampan kamu,” katanya.
Hei!
Apakah perempuan Meksiko tampan-tampan?
Aku pasti salah dengar.
Jika ya aku tak ingin ke Meksiko.
Rey berpesan agar aku mengunjungi Museum Sejarah Voodoo New Orleans di Dumaine Street. “Belum ke New Orleans namanya sebelum melihat patung Marie Laveau,” katanya.
Marie Laveau si Ratu Voodoo New Orleans sudah lama keluar alam dunia. Tapi, penduduk New Orleans meyakini bahwa kekuatannya masih menguasai kota New Orleans. Mungkin aku yang aneh, menurutku ini tak masuk akal. Bagaimana mungkin meyakini kekuatan orang yang sudah mati. Bahkan, untuk melindungi dirinya dari kematian pun ia tak mampu. Bagaimana bisa ia melindungi kehidupan lain?
Namun, aku tetap membeli tarot. Untuk hiburan. Gambarnya unik dan eksotis.
***
Hari minggu ini seperti seperti minggu-minggu yang lalu; murung. Mungkin bertambah murung. Sebab Rey sudah menemukan pujaan. Kurasa dia tak kan meneleponku untuk menggosip berjam-jam menghalau insomnia atau sekadar “Say hello”.
“Orang Asia juga. Anak laki-laki diplomat untuk Meksiko. Kami sudah hidup sekamar dua bulan. Kami sepakat menikah.
Orang mengatakan ada cinta yang datang karena keterbiasaan, tapi ini tak berlaku bagiku. Dia tak setampan kamu. Kurasa, aku akan terus berpetualang mencari orang sepertimu.
Apalah yang bisa diharapkan pada pernikahan sepasang laki-laki―cuma sehelai kertas nikah. Selingkuh sana-sini tak masalah karena tak ada resiko hamil. Pun cerai, tak ada anak yang dilahirkan. Tak perlu meributkan masa depan anak. Paling, cuma harta gono-gini. Tak kan ada rugi bagiku menyerahkan seluruh harta pada untuk anak itu bila sewaktu-waktu cerai. Dengan menyeludupkan 1 ton heroin ke negaramu, aku akan kembali kaya―lebih kaya daripada sekarang ini.
Well, bagaimana denganmu?”
“Aku sudah menikah,” jawabku.
“Apa?!” terdengar kabut dalam suaranya.
“Iya. Sekarang aku punya seorang anak laki-laki.”
“Valgame Dios! Moga kau bahagia,” suaranya makin berkabut seperti sembilu diraut. “Jujur! Aku mencintaimu. Sungguh. Bila kau menjadi duda, kabarkan padaku. Kutunggu!!”
Aku masih tak percaya apa yang sedang dibicarakan teman dari Meksiko itu. Bahkan hingga telepon terhenti. Apa bisa ya laki-laki menikahi laki-laki?
Sunyi kembali menyergap.
Hari ini pembantu-pembantu dan perawat Xuě sengaja kuliburkan. Tak ada perempuan di sini selain istriku; Kehidupan.
Ya. Aku menikahi Kehidupanku.
Tengah melamun menerobos kartu-kartu tarot yang berserakan di meja, sesuatu mengagetkan menyergap.
Zuuuuiiing…..
PALK!
Ugh!
Sebuah mini roket mendarat di atas meja. Kartu-kartu tarot berhamburan. Terdengar cekikikan dari arah perpustakaan. Lagi-lagi dia! Kutatap spy secret messenger tersebut, meraih, dan mengeluarkan sepotong kertas kecil dari tabung plastiknya. Kertas itu kosong, bersih, putih. Tapi aku tahu, pesan yang tertulis di sana. Sebelum aku menggunakan alat bantu untuk membaca pesan di kertas itu, Xuě menyerbu dan berdiri tegak seperti prajurit kecil. Fokus mata kami bertemu.
“Ayah!” serunya dengan vokal anak-anak. “Kenapa Ayah tak berlangganan koran? Kubaca, orang-orang sukses selalu membaca koran.”
Tanpa lepas menatapnya, kujawab lembut, “Itu dulu, Sayang. Koran zaman dulu banyak jurnal-jurnal imiah, penemuan baru, formula, dan filsafat. Tapi sekarang, beritanya klise; selalu ada korupsi, pembunuhan, selingkuh, pemerkosaan, bla bla bla. Itu cuma membuat Ayah sakit hati. Tak ada kebenaran!”
“Ouw! Begitu ya?! Ayah sakit hati dan tak ada kebenaran.”
“Iya. Bagaimana menurutmu?” kulempar pertanyaan kepadanya. Sengaja sih. Aku ingin melihat kemampuan filsafatnya.
Sejak berhenti sekolah, Xuě punya hobi baru: membaca koleksi buku-buku filsafat koleksiku di perpustakaan privat. Aku tak bisa melarang. Asal dia senang, aku rela melakukan apa saja.
Satu regukan anggur kemudian dia berkata, “Kebenaran akan membuat kita menjadi lebih tampan, Ayah!” kata-kata itu tergelincir ringan dari bibir mungilnya secepat molekul-molekul air menguap di terik gurun. Aku tersedak. Cepat-cepat kukemudikan emosi.
“Benarkah?” pancingku lagi. Ia mengangguk yakin. “Bagaimana menurutmu dengan ayahmu ini?” pertanyaan bodoh, namun aku berdebar-debar menunggu jawabannya.
Ia menatapku inci demi inci. Lalu berkata, “Kurasa, aku tak pernah melihat pria yang lebih tampan daripada Ayah.”
“Masa sih?”
“Sumpah!” sahutnya sambil mengancungkan dua jari―telunjuk dan jari tengah. “Aku bangga punya ayah seperti Ayah. Tapi―”
Dadaku yang tenang sejenak kembali berdebar.
“Elemen keberanian untuk menderita akan membuat ketampanan itu menjadi sempurna.”
XUĚ!!
Dalam buku kecil petunjuk penggunaan tarot terselip selembar diagnosa dokter. Bayangan kertas itu berganti-ganti dengan wajah suci Xuě. Tuhan! Jangan hari ini. Buat aku tak percaya pada coretan takdir di tangan dokter. Firmankan padaku bahwa ini hanya mimpi buruk!
Aku tak bisa hari ini. Dan tak kan pernah bisa! Aku tahu; aku tak bisa tanpa dia―aku musnah tanpa Xuě.
“Ayah kenapa?” tanya Xuě menyentakku dari galau. Aku tersenyum―senyum palsu.
Perlahan, aku turun dari kursi dan berlutut di hadapan Xuě. “Sayang. Kau bilang tadi ayah tampan. Um…kalau begitu, Xuě lebih tampan.”
“Benarkah?”
Aku mengangguk penuh emosi. Untung dia tidak melihat kilau sayatan luka di bola mataku. Ia tertawa senang. Umurnya sekarang delapan tahun dua bulan tiga hari. Dialah giok keberuntunganku. Kutemukan di depan flatku di Tiongkok dalam badai salju. Umurnya baru beberapa jam waktu kutemukan. Ini kutahu dari plasenta dan darah persalinan yang melilitnya. Makanya kuberi nama Xuě yừ. Xuě berari salju. Yừ berarti batu giok.
Xuě yừ mengidap HIV+.
“Xuě….” ujarku ngilu sambil melingkarkan tangan di pinggangnya yang kecil. Ia pun melingkarkan tangannya yang tinggal kulit pembalut tulang ke leherku.
“Ya..Ayah!” sahutnya tanpa beban.
“Bolehkah ayah tahu isi pesanmu tanpa alat bantu?”
Ia menatapku dengan keraguan kanak-kanak, malu-malu manja.
“Ayolah…sekali ini saja,” desakku. Ya! Sekali ini saja. Jika diagnosa itu benar, aku takkan bisa minta kali yang kedua.
“Baiklah, Ayah,” ujarnya lembut. “Apa sih yang tidak bagimu? Isinya―,”
Xuě mendekapku hangat, lalu berbisik lemah, “Je t’aime!”
***
Je t’aime: aku mencintamu, bahasa Prancis
memeang bagus ceitanya, tetapi alangkah lebih bagusnya, karena saya mengira ini cerita yang lebih untuk orang dewasa, maka bukan hal yang salah jika penggambaran saat menggoyang ranjang lebih detail, seperti novel yang pernah saya baca. mungkin bagi beberapa pemikat novel seperti ini akan lebih suka dengan penggambaran yang jelas key