Amor De Mi Vida
November 15th, 2007 by Sulfiza Ariska
Noura, teman dekatku, pernah bercerita soal teman laki-lakinya, “Dia punya pacar lelaki dan pacar perempuan. Pacar lelakinya model papan atas, punya karier internasional. Pacar perempuannya sedang profesi psikologi―calon psikolog. Anaknya asyik―duplikatmu. Dia juga sama denganmu soal ketidakinginan terikat oleh konstruksi sosial.”
Tidak ingin terikat konstruksi sosial?
Kedengarannya menyenangkan. Dan akan selalu menyenangkan untuk telingaku. Ini perkara hidupku!
Tunggu…aku masih ingin tahu soal teman Noura!
“Pacar lelakinya tajir sekali, Adam!” mata Noura bersinar sewaktu menyebut kalimat ini. Sehingga, aku bisa menangkap percikan mozaik perak dalam pancaran wajahnya. “Dia sering berlibur ke luar negeri dengan biaya Pacar Lelakinya….”
“Berlibur bersama?” selaku sambil menggoyang gelas kopi yang sudah kureguk sebagian volumenya.
Noura tersenyum penuh arti. Wajah arabnya yang eksotis bersemu merah. “Si―ya! Mereka berlibur bersama.”
“Lalu pacar perempuannya bagaimana?”
“Mereka akan menikah tahun depan.”
“Hei! Itu menyakitkan, Noura!” seruku seperti meledakkan dokumen-dokumen api dalam dada.
“Dia mencintai keduanya!” bela Noura.
“Mentirosa! Bohong!”
Tampak perubahan rona wajah Noura. Ia menatapku dalam-dalam dengan tatapan tak mengerti.
“Adalah mustahil duduk pada dua kursi pada waktu yang bersamaan!”
“Ini soal cinta, Adam!” tegas Noura. Kata ‘cinta’ yang keluar dari bibir Noura terdengar menyayat telinga sehingga aku khawatir seisi hati pengunjung kafe akan terluka bila mendengarnya. “Cinta itu buta. Kau ingat Jack Twist dan Ennis dalam Brokeback Mountain?”
“Si―ya! Tapi, jika cinta kenapa harus menyakiti?” Kuhela nafas dalam-dalam, lalu kulanjutkan, “Jack dan Ennis membohongi diri sendiri, membohongi Alma dan Lureen, untuk kemudian saling menyakiti satu sama lain.”
Mendengar kata-kataku, wajah Noura seperti kehilangan warna. Kepalanya tertunduk. Seolah-olah dia bercermin pada volume gelasnya yang belum berkurang satu molekul pun.
“Temanmu itu pengecut, Noura! Katakan padanya, pilih salah satu atau tidak untuk keduanya!”
Noura tidak menjawab. Ia cuma menghepaskan nafas rapuh. Ia tentu ingat soal aku dan dua pacarku.
***
Pacarku ada dua. Mereka tak mengenal satu sama lain. Hanya Noura yang tahu soal dua pacarku.
Pacar keduaku Ashya. Kakak perempuan Noura!
Aku lebih muda sepuluh tahun daripada Ashya. Dalam hal ini, aku setuju kalau cinta itu buta karena tak mengenal usia.
Mulanya yang Noura tahu, Ashya sukar dipahami. “Kami menganggapnya gila!”
Benarkah Ashya gila?
Jika Ashya gila, maka aku jauh lebih gila. Aku tahu dia sudah dijodohkan dengan lelaki berdarah Arab, pengusaha besar di Denpasar. Tapi, waktu aku bertemu dengannya ketika dia berlibur ke Jakarta, kami jatuh cinta. Lalu, selama dia menyelesaikan sisa study doktoral filsafat di Australia, kami sering berkirim surat.
Ashya bercerita dalam sebuah surat….
Kautahu, Adam…..
Ada kekacauan dalam konstruksi feminisme. Aku meragukan feminisme. Dalam pikiran gilaku, jangan-jangan ide ini dibuat oleh wanita-wanita frustasi.
Aku pernah terjebak dalam demonstrasi di depan kampus, para feminis! Para wanita yang pantas dikasihani itu menarik-narik abaya dan jilbabku. Menjadikan aku perangkat demo mereka.
Kata mereka, “Inilah contoh penindasan laki-laki terhadap perempuan dalam ruang religius. Wanita ini,”―mereka menudingku, “tertindas dalam mengekspresikan diri. Dalam muslim, wanita hanyalah milik suaminya. Segala sesuatu yang ada padanya adalah milik suaminya. Bahkan wanita tidak berhak memperlihatkan lingkar pinggang.
Kubalas!
“Hei wanita-wanita buncit! (kebetulan memang banyak yang obesitas)! Justru pakaian inilah lambang kemerdekaanku. Di mana aku tak dinilai dari wujud fisik melainkan dari apa yang aku perbuat dan pemikiranku (waktu menyebut ini pada mataku berlari bayanganmu). Pakaian ini membuatku bebas dari anoreksia dan diet yang menyiksa.”
“Bukankah dalam muslim bagian warisan untuk wanita hanya setengah dari bagian pria?” tanya seorang massa. “Bila wanita mendapat satu, maka pria mendapat dua bagian.”
“Itu membuatmu merasa tidak adil?” pancingku.
“TENTU!!”
“Bagaimana kalau seandainya kamu memiliki saudara laki-laki. Satu bagian warisan adalah tetap milikmu dan suamimu tak berhak mengusiknya, tetap hartamu. Sementara itu, anak-istri saudara laki-lakimu berhak atas dua bagian warisan milik saudara laki-lakimu itu karena dalam muslim laki-laki adalah pemimpin―pelindung!”
Kening perempuan yang bertanya itu berkerut.
“Analoginya…jika kau diwariskan $ 1.000.000, itu adalah milikmu meski kaumenikah. Sedangkan, $ 2.000.000 milik suamimu, adalah hakmu dan anak-anaknya.”
“Umm…,” dia tersenyum. “Kedengarannya indah,” ujarnya tanpa sadar.
“Itulah yang sesungguhnya!”
“Maaf!” seru perempuan lain. Ia enerjik. Dari pancaran matanya kutangkap kecerdasan yang jahat. “Di sini kami berjuang. Memperjuangkan ketertindasan. Bukan memperdebatkan soal religius atau fashion!” Tampaknya dia yang yang memimpin demonstrasi. Kulihat massa begitu hormat padanya―membentuk barisan oval dengan kami berdua sebagai pusat.
“Berapa tahun kau berjuang seperti ini?”
“Sepuluh tahun!!” Dia mempertontonkan dua telapak tangannya padaku seperti penyihir dalam buku CS Lewis.
“Apa sebenarnya yang kau perjuangkan?”
“Kesetaraan gender! Keadilan hak pada pria dan wanita. Bahwa kami (ia menepuk dada), kaum wanita tidak hanya sebagai alat pemuas dan mengurus anak di rumah. Bahwa wanita punya hak yang sama dalam pekerjaan.”
“Oo…jadi jika kaum pria membajak di sawah, kau juga berjuang agar bisa ikut membajak? Jika pria mengangkat logam-logam berat dan dibelit asap ubupan di bengkel, kau juga mau seperti itu?”
Mulut wanita itu, terkatup. Ia seperti ingat sesuatu. Sebelum dia berbicara, kuburu, “Kau pikir mendampingi suami, melahirkan―merawat―mendidik anak menjadi ksatria, dan mengurus rumah tangga bukan suatu pekerjaan?? Justru itulah tugas yang takkan bisa terhitung dengan nilai materi. Dalam rahim wanita lah terletak negara. Tak kan ada keluarga yang kuat tanpa seorang ibu yang hebat.”
“Meskipun di rumah, kita tetap bisa mengembangkan potensi diri dan berarti bagi negara. Ada kecanggihan IT, kenapa tidak dimanfaatkan? Pun bisa membuka lembaga pendidikan di rumah kita. Sebagai wanita, sekarang tak perlu bermimpi hingga ke bulan bila kaum yang di bumi belum terselamatkan. SEBAGIAN BESAR BUTA AKSARA DI DUNIA ADALAH KAUM WANITA!!”
“Apa yang membuat negara rapuh? Sebab wanitanya rapuh. Kita memberhalakan egoisme, berkelana di luar rumah dengan alasan kesetaraan harkat, membuat anak melarikan diri pada drugs dan para suami berselingkuh, untuk kemudian kita dijadikan piala bergilir oleh bos di kantor.”
Seluruh massa demonstrasi ternganga, kecuali wanita tadi. Ia masih kukuh. Lalu kutuding wajahnya dengan telunjuk kiri, “Kau perempuan setan! Sepuluh tahun kau hancurkan masa depan anak-anak karena drugs, kau hancurkan rumah tangga orang lain, kau bantai kaummu―kaumku―kaum wanita!”
Inilah kesulitanku, Adam. Aku ekspresif. Sangat ekspresif! Aku tak bisa bertopeng. Kupikir perempuan tersebut akan meloncat dan mecekikku hingga mati. Ternyata tidak, dia pingsan! Inilah awal persahabatanku dengannya. Beberapa hari sesuadah peristiwa tersebut, dia menyuratiku dan jadilah kami teman.
Feminisme memang perlu diluruskan sebelum membantai kaum wanita.
Pada Noura kutunjukkan surat-surat Ashya. Ia membacanya dengan gemetar untuk kemudian, tangisnya pecah. Perempuan yang dipikirnya gila adalah sebuah keindahan yang belum bisa disentuhnya.
Diam-diam, Noura mencuri surat-surat Ashya. Aku sangat kehilangan. Baru kutemukan surat itu kemudian pada pameran LSM Wanita. Kulihat surat-surat dilapisi bingkai kaca. Dan, kutemukan senyum Noura mengambang seperti kuncup bunga yang mekar kala pagi menjelang. “Aku pencuri, Adam!” aku Noura.
“Dan juga kreatif!” sambungku. “Bagus! Aku tak berhak membelenggu mimpi-mimpi Ashya dalam laci mejaku.”
***
Aku mempercayai mimpi-mimpi Ashya sebagaimana dia tidak menilai kelaki-lakianku secara fisik dan verbal. Kami jatuh cinta.
Tapi Noura tahu, bagaimanapun, sudah ada cinta yang datang sebelum Ashya, pacar pertamaku. Seorang anak altar yang sebaya denganku.
Berawal ketika aku menemani Noura ke gereja, bagian dari rutinitas Noura sebagai mahasiswi jurusan Perbandingan Agama.
Aku melantunkan madah bakti dengan nada tinggi pria yang tidak cacat. Waktu itulah aku melihat dia pertama kali―dia menatapku, mata kami terkunci. Ada kerapuhan dan sejarah keji dalam pancaran wajahnya. Dalam simpul aliran kimia, ia menghipnotisku dengan jeritan sunyi dari masa lalu. Menghidupkan daya laki-lakiku―hasrat gila untuk melindungi―yang dibunuh patriarki, hidup kembali.
Noura pun meraup berkah dari sepasang laki-laki yang kasmaran, “Pacari saja dia. Buat dia membantuku mengerjakan tugas-tugas kristologi.”
Aku semakin rajin ke gereja, datang lebih awal. Sulit bertemu face to face. Yang cuma bisa kami lakukan adalah, menyanyikan madah bakti sambil bertatapan dari kejauhan.
Hingga….
Pernah aku membaca sebuah mitos di hari Natal.
Pada hari itu, kita akan menemukan jodoh kita di gereja.
Maka, pada Natal di ujung 2005, aku datang ke gereja di pagi buta. Pada hari itu, mitos untukku adalah kenyataan. Aku menemukannya dalam kematian gereja. Ia berdoa novena dalam isak tangis. Dalam doanya disebut namaku.
Hei…dari mana dia tahu namaku?
“Aku admin situs website gereja. Ketika browsing, tak sengaja aku menemukan website-mu,” jelasnya.
Aku memang blogger. Internet adalah sekolahku setelah memutuskan drop dari Sastra Eropa pada tahun ketiga.
“Dan kau, Carol!” seruku menyebut nama babtisnya tanpa santun. Tepatnya Carolus Borromeus. Ia penasaran. Aku tak mau menyiksanya. Kujelaskan tanpa diminta, “Aku menanyakan soal kamu pada seorang jemaat. Dari dia, kutahu tempat tinggalmu. Kapan aku boleh ke kamarmu?”
Dia menatapku ragu. “Kau serius? Umm…maksudku kita seharusnya tidak….”
Kututup mulutnya dengan telunjuk. “Cinta bukan dosa ‘kan?!”
Ia terpaku. Menatapku penuh damba. Matanya berkaca-kaca.
Ada seratus bangku dalam gereja, kami duduk pada bangku paling depan di lajur kanan. Lenganku yang besar kulingkarkan di pinggangnya yang memprihatinkan―dia begitu kurus. Lalu, bagai orang yang akan memasuki sakramen perminyakan*, aku mendekapnya erat-erat. Tak ingin kehilangan. Tulang iganya seperti melesak kedalam otot dadaku.
“Datanglah ke kamarku lewat tengah malam. Aku menginginkanmu, Adam.”
ADAM
Oh…tak ada yang lebih membahagiakan didunia kejam ini selain waktu orang yang kau cintai menyebut namamu.
Hanya lelaki siput yang mempertuhan patriarki!
Dua minggu setelah Natal.
Lewat tengah malam, aku meloncati pagar tombak pastoran Xaverian dan memanjat jendela dari lantai ke lantai. Yang bernama babtis Carolus Borromeus, Glenn, sudah menungguku. Pintu jendela kamarnya tertutup, tapi tak dikunci.
“Kau datang juga, “sambutnya dalam keremangan cahaya lilin. “Hati-hati, jangan membuat suara ribut.
Tentu saja aku takkan membuat suara ribut, bahkan berisik sekalipun. Kung fu sudah membuatku lebih mahir daripada maling dalam melakukan pekerjaan maling. Sempurna. Lagipula, ini kencan pertama. Aku tak mau membuat kesalahan.
Benarkah lelaki adalah superior?―selalu perkasa―punya kuasa.
Betapa menyedihkan menjadi pengecut―menyimpan kebenaran dalam hidup yang cuma sekali ini. Dan, aku dan Glenn bukan pengecut!
“Adam…aku diperkosa pamanku,” aku Glenn. Ia menangis lirih. Menyembunyikan suaranya dalam nyanyian jangkrik yang mengerik di semak-semak taman pastoran. “Keluargaku tak berbuat apa-apa selain tertawa dan mengatakan ‘Mana mungkin lelaki diperkosa lelaki’. Maka…ya―beginilah jadinya. Ada sesuatu yang salah dalam diriku. Ini tidak baik makanya aku membiara.”
“Tapi cinta bukan dosa ‘kan?!”
Ia menjawab dengan diam.
“Kau aman denganku,” bisikku seraya mendekapnya kesetanan. Tubuhnya yang cuma tulang melesak dalam sel-sel ototku.
“Bagimana denganmu?” tanya Glen dalam dekapanku.
“Aku diperkosa banyak orang; keluargaku, teman-temanku, dan banyak lagi.”
Glenn mendesisi perih.
“Maksudku….aku produk gagal. Mereka tidak mengakui aku sebagai laki-laki. Harusnya aku perempuan karena wajahku seperti perempuan dan sifatku seperti perempuan. Bahkan setelah aku menguasai kung fu, aku tetap seorang perempuan di mata mereka. Dan ini lebih kejam dari pembantaian!”
Mendengar penjelasanku, Glenn terkesiap. Ia melepaskan dekapan dan mendorongku jarak satu depa. Ia mengulitiku dengan tatapan tak percaya, lalu mendekatiku lagi dan berbisik, “Kau cuma terlalu tampan untuk seorang laki-laki dan tutur bahasamu lembut, tapi tak kan menjadikanmu sebagai perempuan karena pemerkosa wanita, lelaki yang menghamili kekasihnya hingga hamil untuk kemudian meminta aborsi atau ditinggalkannya, dan suami-suami tak bertanggung jawab, mereka lebih betina daripada sapi betina. Lelaki dicipta Tuhan untuk bertanggung jawab. Tak dinamakan laki-laki bila tak bertanggung jawab.”
Kalimat Glenn itu membuat aku merasa hangat. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Telapak tangannya yang tipis membelai wajahku lembut. Terasa sengatan mentari musim semi mengalir dari pori-pori telapak tangannya tersebut. Berdekatan dengan orang yang kita cintai dan juga mencintai kita selalu membuat kita menjadi lebih baik.
“Jujur saja, pertama kali kulihat kau bernyanyi di gereja, aku merasa di surga. Kupikir kau malaikat….” Kalimat Glenn yang ini terdengar seperti madu yang mengalir di daun telinga. Ia pandai membuatku merasa bangga.
Ups!
Tanpa sadar aku mendorongnya dengan paksa ke atas ranjang.
Di atas lemari buku Glenn terdapat patung kecil ‘The Last Supper’. Mata Yesus seperti hidup dan mengawasi kami. Ah! Andai ia bisa bicara, dia pasti akan mengatakan, “Sepasang lelaki itu cuma berciuman, tak lebih.”
***
Pukul tiga dini hari, aku pamit pada Glenn, “Bagaimana caranya menatapmu di siang hari selain saat misa?”
“Temui aku di perpustakaan gereja setelah jam makan siang.”
Glenn membekali aku dengan dengan Injil dan beberapa buku rohani. “Untuk Noura!” katanya, “Aku punya empat Injil dan aku sudah tak membutuhkan buku-buku ini lagi.”
Hei….
Apakah aku tadi sempat berbicara soal Noura? Ingin aku bertanya. Tapi, jelas tak ada gunanya. Noura tentu senang dengan segala sesuatu yang gratisan, ia butuh untuk bahan kuliah. Dan, aku percaya pada kekuatan cinta. Akan banyak kita temukan mukjizat ketika berada dalam kuasa cinta putih.
***
Demikianlah….
Noura tak lagi susah mengerjakan tugas-tugas kristologi. Saat teman-teman kuliahnya terpaksa minum kopi campur garam―mengerjakan tugas-tugas kristologi, gadis Arab yang kupikir keren itu malah kursus merawat bayi. “Menjadi seorang ibu harus dipersiapkan sejak dini,” katanya beralasan. Ada benarnya juga, tapi kutahu dia happy mengurus bayi daripada bolak-balik ke gereja, melototi injil pasal demi pasal, dan berada di depan komputer mengetik tugas hingga pagi buta.
Glenn yang mengerjakan tugas-tugas kristologi Noura. Sebagai balasan, aku dengan senang hati mengajarinya bahasa Spanyol.
Suatu hari, di perpustakaan, pernah Glenn berkata, “Kata teman-temanku kau seorang muslim. Muslim itu agama teroris. Maka kau teroris. Tapi kurasa tidak, kau terlalu manis untuk jadi teroris. Kau memberiku satu kunci untuk masuk Vatikan. Kunci inggris** tak kan dipakai di sana, apalagi kunci Betawi.” Ia tersenyum. Semakin hari ia tampak sehat dan makin tampan. Jemaat yang mengatakan, mereka tak tahu bahwa itu adalah wajah orang yang tengah jatuh cinta.
Aku balas tersenyum lalu bangkit ke sisi rak buku tempat dia berdiri. Kutatap tajam matanya, “Teman-temanmu benar. Aku memang teroris…,” suaraku sadis. Mulut Glen membentuk huruf ‘O’ seperti mulut botol. Aku senang. “teroris cinta!” lanjutku sambil mendekapnya dan menghujani dengan ciuman.
“Valgame Dios! Demi Tuhan!” Belum apa-apa, Glenn melepaskan diri dan menjauh dariku. “Kau boleh saja jadi teroris, Adamku! Tapi jangan di sini….”
***
Amor de mi vida. Hidupku untuk cinta.
Di usiaku yang hampir seperempat abad, tetap saja cinta sulit untuk kupahami.
Bahasa Spanyol Glenn sudah mahir. Sudah bisa membaca Alkitab dalam bahasa Spanyol. Tapi, aku tak bisa menunggu sampai dia menguasai dua bahasa lain yang dipakai di Basilika. Aku harus pergi. Untuk kebaikan Ashya dan dirinya.
“Kau serius?”
“Si! Aku tak mau membuat Tuhanmu cemburu. Dia lebih mencintaimu dibandingkan aku. Dia memberimu apa yang mustahil akan bisa kuberi. Dia memberimu udara, cahaya matahari, kicau burung di pagi hari, dan bau tanah sesudah hujan. Sebelum bertemu denganku, kau sudah memilih Tuhan. Aku harus senang melihat kau bahagia dengan Tuhanmu,” jelasku di malam kami yang terakhir.
Sehari sebelum kepulangan Ashya ke Tanah Air, aku beranjak Prancis dan mengurung diri yang murung di Nancy, kota di Prancis timur.
Ashya tak perlu dikucilkan keluarga karena melirik daun muda dari ras yang berbeda. Dia mapan dan punya calon suami yang sangat mapan. Sedangkan aku hanya lelaki yang krisis identitas diri.
Glenn bahagia dengan Tuhannya. Demikian pula Ashya, masa depannya lebih cerah tanpa diriku. Tapi masalahnya sekarang, apakah aku bahagia dengan kebahagiaan mereka?
Entahlah….
Valgame Dios! Aku merasa tidak utuh. Sedih. Namun kusadari, ini bukan luka. Hanya saja aku tak tahu namanya.
“Animo. Animo,” ucapku lirih pada diriku sendiri. Jangan bersedih. Hidup takkan berhenti sebelum aku mati. Saat mengatakan ini, Longfellow seperti bangkit dari alam kubur dan berkata padaku, “Diamlah, hati yang sedih, jangan mengeluh lagi, di balik awan-awan masih bersinar matahari.”
***
Suatu hari di musim semi, aku terbangun mendahului pagi. Sebuah suara serupa petikan dawai harpa membangunkanku.
Bangunlah jiwa yang agung
Bangunlah jiwa yang agung
Seperti tersihir, aku melayang ringan bagai sehelai serat sutra ke pintu jendela.
Daun jendela terkuak sendiri.
Lalu, pada kanvas jendela kutemukan mukjizat; sebilah cahaya perak yang menerobos ke dalam kamar, membuat kamarku benderang.
Valgame Dios!
Apakah aku sudah mati?
Dalam kesunyian yang kupilih, tak ada yang lain kecuali dua cinta di hatiku. Aku tidak ke masjid dan beribadah sesuai muslim. Pun ke gereja aku tidak bertujuan memuja Yesus, tapi karena motif lain, menyalurkan hobi bernyanyi. Namun, saat ini aku merasa berada di surga. Mungkin Tuhan sudah memilih cinta sebagai agama.
***
*sakramen untuk orang yang sekarat
**bahasa Inggris tidak digunakan di Vatikan