KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Binar-binar Cinta

            Langit Masih terlihat kelam, mentari Masih enggan menyapukan cahaya diantara awan-awan. Udara terasa sangat dingin setelah hujan membasahi bumi semalam, membuat aku Masih ingin bergelung dalam balutan selimut tebal sambil mendekap teman kecilku Winnie The Pooh, usai menunaikan sholat Subuh. Tapi kewajibanku sebagai seorang istri, melarangku untuk melakukan itu. Sebentar lagi Mas Lucky pulang dari mushola.

            “Sayang, Masak apa ?” ujar Mas Lucky setengah mengejutkan. Dilingkarkannya tangannya yang kekar ke pinggangku dengan mesra. Bibirku tersenyum “nasi goreng special kesukaan Mas”. Sedetik dua detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku, seraya melepaskan pelukkannya. Apa Mas Lucky lupa, hari ini adalah hari istimewa bagi kami. Genap setahun sudah kami mengarungi bahtera.

 

            “Cintaku, Mas berangkat ya. Hati-hati dirumah,” ujar Mas Lucky. “Ya Mas”, sahutku sambil kuraih lengan suamiku kucium tangannya, dan sebaliknya selalu ia mengecup kening, pipi, dan bibirku.

            “Assalam’ulaikum” ujarnya sambil melaju bersama sepeda motor bututnya yang memecahkan kesunyian pagi. Tak ingin membuang waktu bergegas aku mandi, bersiap-siap pergi ke pasar. Walaupun mungkin Mas Lucky lupa tapi tidak ada salahnya aku membuat masakan special hari ini. Aku ingin memasak bebek kuah kuning kesukaan Mas Lucky dan sebuah tart coklat kecil.

 

 

            Kriing…kriing…dering benda berwarna kuning disudut ruangan membuatku tersentak. Tak terasa aku tertidur disofa. Jarum jam menunjukan pukul setengah dua belas. Mas Lucky belum pulang. Malas rasanya aku beranjak, kepala terasa pusing, berdenyut-denyut.

            “Hallo, Assalamulaikum’’, aku menjawab telp dengan nada suara yang malas. “Walaikumsalam, Sayang maaf. Mas pulangnya agak telat ya, soalnya sekarang Mas masih di Bogor ada urusan sedikit.”

            Agak telat, bukannya sudah telat. Sekarang ini sudah hampir tengah malam Mas,lagi pula inikan malam Sabtu, besok hari libur kenapa kamu mendadak lembur…gerutuku dalam hati. “Ya..sudah tidak apa-apa Mas. Hati-hati ya di jalan.”sahutku berusaha menenangkan hati.

            “Nggak usah ditunggu, Mas bawa kunci kok. Cintaku, tidur saja duluan. Ok”, ujar Mas Lucky sambil mengakhiri telponnya.

            Hm…kuhela nafas panjangku. Sambil mengurut dada. Ingin rasanya menangis. Bagaimana mungkin, Mas Lucky benar-benar lupa. Mas, kenapa kamu bisa lupa, padahal baru setahun kita menikah. Apa yang salah Mas. Apa mungkin sudah ada perempuan lain yang mengusik relung hatimu. Ingin rasanya berteriak sekuatnya.

 

 

            Jam dua dinihari. Ting..tong! Bel pintu berbunyi. Yap..akhirnya malam yang menegangkan berlalu, Mas Lucky pulang. Kubuang jauh-jauh  kekesalan ini, kurapikan gaun ku, dan make-up tipis yang mulai luntur akibat guyuran tetesan tangis tadi.

            “Lho kok belum tidur, Sayang?” sapa Mas Lucky sambil tersenyum lebar, saat ku buka pintu ruang tamu. Aku cuma menggeleng, tanpa suara. Mas Lucky masuk, tanpa rasa bersalah dengan wajah tanpa dosa.  Ia memeluk dan mencium keningku. Maafin Mas yah, sudah membuat Kasihku menunggu. Mas Lucky berlalu, ia mencuci mukanya, menyikat gigi, sambil bersenandung.

 

Kau satu terkasih, kulihat disinar matamu*)

Tersimpan kekayaan batinmu

Didalam senyummu kudengar bahasa kalbu mengalun bening menggetarkan

Kini dirimu yang selalu bertahta dibenakku

Dan aku kan mengiringi bersama disetiap langkahmu

 

            Tak terasa mendung kembali mengelayut dipeluk mataku, tak tahan aku tumpahkan kekesalanku. Mas apa kamu tidak melihat aku menunggumu semalaman, berdandan secantik mungkin, malam ini ulang tahun pernikahan kita Mas, rintihku dalam hati. Air mataku berderai, tak sanggup mengucapkan apapun.

 

 

“Yang…kenapa ?”tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir. Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap dimataku, tatapnya begitu teduh, menelisik seakan tahu kegalauan yang membucah dihatiku.

“Happy Anyversery Wedding Day, Honey..”bisiknya lirih, disertai kecupan lembut dikeningku. “Kamu cantik sekali malam ini, maaf  kalo Mas terlihat seperti melupakan hari ulang tahun kita. Kepeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya  juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya dihadapku. Masih dalam tunduk, air matanya terlihat mengalir.

“Kalo Mas tidak lupa, lantas kenapa Mas pulang terlambat ?” tanyaku sambil terisak. “Ini yang membuat Mas harus ke Bogor malam ini.” Disodorkannya sebuah bungkusan manis. Aku buka perlahan bungkusan kecil itu sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

“Sebenarnya malam ini Mas mau mengajakmu menginap disebuah cottage di Bogor sekalian kita weekend. Tapi besok mendadak ada meeting jadi Mas tidak libur.” Nggak bagus ya…? Ucapnya terbata. “Mas sudah bertekad setiap tahunnya dihari ulang tahun pernikahan kita, Mas akan memberikanmu perhiasan, satu karat, dua karat, tiga karat dan seterusnya sesuai dengan usia pernikahan kita setiap tahunnya.”

Matanya dihujamkan tepat dimataku, membuat jantungku berdetak kencang. Kubaca secarik kartu kecil putih dengan gambar bunga melati, bunga favoriteku. “untuk istriku tercinta, you are my inspiration”. Sebuah bros kecil  berlian berbentuk winnie the pooh mengajak ku tersenyum. Segala kesalku menguap entah kemana. Tiba-tiba aku malu, betapa tidak brsyukurnya aku.

 

 “Mas, lihat aku”. Mas lucky menatapku lekat. Aku melihat telaga bening dimatanya. Sejuk dan menentramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, begitu mengerti aku, memahami semua kecerewetan aku. “Mas makasih udah ngasih aku banyak hal,”bisikku diantara isakan. Mas ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian, yang selalu mengerti akan sikap kekanakkanku. Mas ngasih aku kesempatan untuk belajar menjadi istri yang sholehah agar bisa  meraih syurga-Nya. Dan sekarang Mas ngasih aku dede,”senyumku sambil mengelus perutku. Mas ngasih aku keluarga yang sayang sama aku. Mas juga masih mengizinkan aku tidur sambil memeluk winnie the pooh.”. Olala aku tertawa, dan Mas Lucky pun tak mampu menahan tawanya, kemudian tangannya lembut membelai rambutku.

“Iya..tapi istriku berjanjilah jika anak kita sudah lahir nanti, kamu tidak boleh lagi tidur sambil memeluk winnie the pooh, ok..ucapnya sambil mengerlingkan matanya.

 

 

Tak terasa hari sudah menjelang subuh, aku tak dapat memejamkan mataku. Sayup-sayup alunan ayat-ayat cinta Allah mulai menggema menunggu adzan. Mas Lucky tampak terlelap.Betapa beruntungnya aku. Rabbi, kupasrahkan hidup, mati dan cintaku hanya pada-Mu. Kukuhkanlah pernikahan ini sampai kami menghembuskan nafas terakhir. Setahun sudah aku mendampinginya, terngiang saat ia membacakan mahar pernikahan kami, sebuah puisi…

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

Bengkulu, 2 januari  2007, 21:38

*) bahasa kalbu, Titi DJ

 

 

3 Responses to “Binar-binar Cinta”

  1. on 15 Nov 2007 at 11:40eka

    wow…andai saja ku punya suami seperti lucky.

  2. on 16 Nov 2007 at 00:53aliya

    wow…syangnye lucky kat isterinye…bestnye…

  3. on 25 Jan 2008 at 09:40idha

    romantis buanget……

Tinggalkan Komentar