Pilihanku (II)
November 12th, 2007 by cynthia
Begitu mendengar perkataan Tania, Anissa tersadar. Dia lebih mengkhawatirkan Reza, padahal Tania telah mengatakan dengan jelas bahwa Adi sedang sekarat. Apakah Anissa telah menyadari, kepada siapakah perasaanya tercondong?
“Ayo ikut aku! Kamu harus mengatakan pada Adi bahwa kamu lebih mencintai Reza daripada dirinya!!” kata Tania sambil menarik tangan Anissa pergi meninggalkan ruang kelas. Anissa menahan Tania. “Aku.. Aku nggak bisa, Tan. Aku nggak bisa.” Tania yang melihat itu segera mencengkeram kedua lengan Anissa. “Nis, apa belum cukup kamu ngebuat dia sekarat seperti itu?! Apa sekarang kamu masih ingin ngasih harapan ke dia?! padahal sudah jelas kalo yang ada di hati kamu itu REZA!” Anissa mematung. Ia sama sekali tidak sanggup menyakiti Adi. Adi sudah terlalu baik, walaupun dia… tapi kenapa Adi harus bertengkar dengan Reza? Bukankah saat ini Adi bersama Tania. “Tunggu, Tan. Bukankah Adi dan kamu sudah jadian?”
Tania pun terdiam. Ia tertunduk lesu. “Aku memang suka sama Adi, tapi… dia nggak pernah menanggapi perasaanku. Dia hanya menganggapku teman. Itu semua karena dia cinta banget sama kamu! Kamu puas, kan? Sekarang terserah kamu, apa yang akan kamu lakukan. yang penting aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Adi lagi! Nggak akan!” detik kemudian Tania pergi meninggalkan Anissa yang kaget mendengar bahwa prasangkanya selama ini salah besar. Adi nggak pernah selingkuh, dia masih saja setia walaupun Anissa masih menggantungkan hubungan mereka.
Anissa hanya bisa berdiri dibalik pintu kamar rumah sakit. Dalam ruangan itu terbaring Adi yang harus menderita karena dirinya. Anissa ingin sekali masuk ke dalam dan melihat keadaan Adi, namun ia tak punya keberanian untuk masuk. Ia masih sangat merasa bersalah. Setelah berpikir panjang, Anissa pun mengurungkan niatnya. Ia belum siap bertemu dengan Adi. Saat akan beranjak dari tempat itu, Anissa bertabrakan dengan seseorang. Orang itu memakai baju rumah sakit dengan tangan kanan yang dibalut gips. Saat Anissa menengadah untuk melihat pria itu, ia kaget bukan main. Ia segera mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Cowok itu menatapnya dingin. Seakan tak ingin melihat Anissa lagi di dunia ini. Ia kelihatan sangat membenci gadis itu. Anissa memandan laki-laki itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, kelihatannya lukanya tidak begitu parah. Hanya tangannya yang berbalut gips dan beberapa lecet kecil memenuhi sebagian tubuhnya. Anissa pun bisa sedikit lega. “Rez, kamu… baik-baik saja kan?” Reza, cowok itu, hanya terdiam sambil berjalan meninggalkan Anissa sendirian. Anissa hanya bisa tersenyum pahit. Air matanya kembali mengalir. Hatinya sangat sakit, namun ia harus menerima bahwa Reza tak mungkin lagi mengusap air matanya, menggenggam erat tangannya dan memeluknya.
“Anissa…” Setelah Reza berlalu, Adi datang dengan kursi rodanya. Tangannya di balut gips dan dahinya tertutup perban, sedangkan wajahnya masih terlihat lebam. Pantas saja Tania begitu kecewa pada Anissa. “Adi?” Adi pun melempar senyum pada Anissa dan menggandeng tangan Anissa memasuki kamar pasiennya. Anissa hanya bisa diam dan mengikuti Adi. Dalam hati ia memohon agar Adi tidak terlalu baikpada dirinya.
“Kenapa kamu berdiri di depan pintu?” tanya Adi setelah seorang suster membantunya naik ke atas ranjang. Anissa hanya terdiam sambil terus menangis. Adi merentangkan salah satu tangannya dan mengusap air mata Anissa. “Aku nggak mau ngeliat kamu nangis. Aku belum mati kok” katanya sambil tersenyum. Perlahan, Anissa pun menghentikan tangisannya. “Di, aku minta maaf. Gara-gara aku…” telunjuk Adi telah berada di bibir Anissa sebelum gadis itu melanjutkan kata-katanya. “Ini bukan salahmu. Ini nggak ada hubungannya sama kamu kok. Untuk apa kamu minta maaf?” kata Adi sambil tersenyum lagi. “Tapi…”
“Ini semua salahku. Coba aja waktu itu aku nggak nekat ngejar-ngejar kamu, ini semua nggak bakal terjadi. Sekarang kamu dan Reza pasti baik-baik aja.”
“Nggak, Di! Mungkin kalo bukan kamu aku akan mencari cowok lain. Kamu tau sendiri bagaimana Reza. Dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dia hanya punya sedikit waktu buat aku. Justru kamu… Karena kamu, aku nggak ngrasa kesepian lagi. Karena kamu, aku bisa ketawa dan bersabar menghadapi Reza. Kalau bukan karena kamu, aku nggak tau apa yang akan terjadi”
“Tapi bagaimanapun juga yang kamu cintai… tetap Reza kan?” pertanyaan itu begitu menusuk Anissa. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. “Aku udah tau kok, Nis. Aku nya aja yang nekat. Kamu sama sekali nggak salah” SEkarang, mereka berdua hanya mematung. Tak ada satu orang pun yang berani mulai bicara.
“Kamu nggak usah ngawatirin aku lagi. Lebih baik sekarang kamu menemui Reza. Dia ada di kamar 310. Kamu ke kanan aja, ruanganya ada di dekat toilet umum.” kata Adi sambil menunjukkan arah kamar Reza. Anissa pun menggeleng. “Aku udah ketemu dia kok, Di. Lagipula… Aku rasa Reza nggak mau ketemu aku. Dia udah benci banget sama aku” Adi menepuk sebelah pipi Anissa pelan sambil tersenyum. “Ini bukan Anissa. Anissa yang aku kenal nggak akan nyerah gitu aja. Kamu nggak usah takut. Reza masih sayang banget sama kamu. Ini buktinya” kata Adi sambil menunjuk pada luka-luka yang menghiasi tubuhnya. Adi mengepalkan tangannya sambil bernyanyi dan berteriak memberi semangat pada Anissa. Anissa pun tertawa kecil. Adi memang orang yang sangat amat baik. Dia tetap memberi semangat walaupun sambil merintih sesekali.
Dengan support yang besar dari Adi, akhirnya Anissa pun memberanikan diri ke kamar Reza. Begitu sampai di depan pintu, Anissa membuang nafas dan memegang handle pintu kamar. Detik kemudian, dia memberanikan diri masuk ke dalam.
Begitu melangkahkan kaki masuk dalan ruangan yang bau obat itu, Anissa mendapati beberapa pasien dengan luka di sekujur tubuhnya. Anissa pun jadi ngeri. Dia pun berjalan mencari Reza. Di ruangan yang paling ujung, Anissa mendapati Reza sedang memandang ke luar jendela. Anissa pun memberanikan diri mendekati Reza.
“Rez…” Reza pun menoleh begitu mendengar panggilan Anissa yang telah berdiri di sampingnya. Reza hanya menoleh sepersekian detik, lalu kembali memandang keluar. Anissa memberanikan diri untuk memegang lengan kanan Reza. Reza tidak berdaya melepaskan karena tangan kanannya masih sakit. “Rez, aku mohon. Maafin aku… aku tau aku salah. Tapi aku sadar. Yang aku sayang itu cuma kamu…” Reza tidak memberi respon apapun. Ia tetap memandang ke arah luar jendela. “Reza!” kali ini Anissa memalingkan wajah Reza ke arah Anissa. Reza hanya memandang Anissa dengan dingin tanpa berbuat apa-apa. Anissa pun tertunduk dan menangis.
“Kumohon Rez… Maafin aku… Aku mohon… Aku cinta sama kamu… Aku sayang kamu Rez…” tangisan Anissa pun membeludak memenuhi ruangan itu. Ia tidak menghiraukan berapa banyak orang yang akan mendengar dan terganggu akan teriakannya. Baru kali ini Anissa tidak mempedulikan apa yang akan terjadi nantinya. “Kumohon pergi dari sini! Ini rumah sakit! Bukan taman atau rumah kamu! Tolong jangan buat aku malu!” akhirnya Reza pun berbicara walaupun hanya bermaksud mengusir Anissa. Tak lama kemudian, banyak orang yang berkerumun di ruangan Reza. Mereka seperti nonton drama gratis. Reza segera berusaha melepas tangan Anissa dari wajahnya dan kembali memalingkan wajahnya. Sedangkan Anissa hanya bisa menangis di samping ranjang Reza.
“Hei, kamu jahat sekali!! Maafkanlah dia! Toh, kamu hanya luka ringan kan?” beberapa orang yang menonton mereka ikut memberi komentar. Kebanyakan mereka memberi simpati pada Anissa. Anissa pun baru sadar bahwa sudah banyak orang yang mengerumuni mereka. Ia segera menghapus air matanya dan mencoba menahan malu. Ia menggunakan kesempatan ini untuk menarik perhatian Reza.
Bukannya makin reda, tangisan Anissa makin menjadi-jadi. Reza pun kaget dan kemarahannya memuncak. “Cukup! Cukup, Nis! Kamu pikir, dengan kamu nangis aku akan kasihan sama kamu!!Lebih baik kamu pergi sekarang!!” Anissa pun tak punya pilihan lain lagi. Ia pun nekat memalingkan wajah Reza dan menciumnya tepat di bibir.
Semua orang disana terkejut dan berteriak kecil. Reza sendiri pun terekejut. Ia terdiam untuk beberapa saat. Reza sama sekali nggak nyangka kalau Anissa akan nekat seperti ini. Setelah beberapa detik, Anissa melepaskan tangannya dari kepala Reza dengan muka merah padam. Reza pun tak kuasa menahan malu. “Ini bukti kalau aku benar-benar sayang sama kamu! Ini nggak pernah sekalipun aku lakukan sama orang lain, termasuk Adi! Aku mohon kamu maafin aku, Rez. Aku udah menanggung malu kayak gini, apa kamu masih mau mengeraskan hati?”
Reza terdiam beberapa saat. tak bisa dipungkiri. Hatinya terenyuh. Kemarahannya sedikit mencair karena Anissa rela menahan malu hanya untuk mendapat maaf darinya. Ia tau bahwa Anissa sangat bekerja keras untuk hal ini. Karena Anissa bukan orang yang bermuka tebal.
Di saat itu, seorang suster masuk dan membuyarkan kerumunan orang itu. Suster itu pun menegurku dan Reza karena mengganggu ketentraman rumah sakit. “Lihat apa yang sudah kamu lakukan!” kata Reza setelah suster itu pergi. “Maaf, habis aku nggak tau apalagi yang harus aku lakukan supaya kamu maafin aku…”
“Memangnya kamu pikir dengan kamu begitu, aku maafin kamu?” Anissa terdiam. Ia hanya menyalahkan dirinya. Kenapa semua yang dia lakukan salah? Reza menghela nafas. “Oke, aku bakal maafin kamu. Asal kamu janji kamu diem disitu untuk beberapa menit aja dan jangan berkutik” Anissa begitu senang mendengarnya. Air matanya pun kembali menetes. Kali ini karena bahagia. “Tadi itu… benar belum pernah kamu lakukan pada Adi?” Anissa hanya mengangguk. “apa kamu janji hal ini nggak akan terulang lagi?” tanya Adi. Sekali lagi, Anissa pun mengangguk.
Reza pun mendekatkan wajahnya pada Anissa yang dengan patuh, diam tak berkutik. Reza mengalungkan tangan kirinya ke bahu Anissa dan memeluknya dengan erat. “Kumohon, jangan begitu lagi. Aku sayang banget sama kamu. Aku juga minta maaf kalo aku kurang perhatian sama kamu. Maafin aku…” kata Reza sambil tersenyum. Anissa hanya bisa menangis dan membalas pelukan Reza. Ia berjanji dalam hati, ini nggak akan pernah terulang lagi.