Pilihanku (I)
November 12th, 2007 by cynthia
Anissa terduduk di sebuah kuesi taman dekat rumahnya. Air mata perlahan menitik dari kedua matanya. Beberapa menit yang lalu, ia melihat seorang cowok yang sudah 3 bulan ini menjadi kekasihnya, sedang bermesraan dengan Tania, sahabatnya. Dalam hati, Anissa bertanya apa salahku? Mengapa mereka begitu tega?
Dalam keterpurukannya itu, tiba-tiba sekotak tissue berada di depannya. Anissa menengadah untuk melihat siapa gerangan yang menyodorkan tissue itu?
“Kenapa kamu menangis?”tanya cowok yang kini sudah berada di depannya. Cowok itu tersenyum sambil menarik tissue dari kotak dan mengusapkan pada kedua pipi Anissa. Melihat cowok itu, Anissa hanya bisa terdiam. Ia kaget dengan kehadirannya. Lagipula, ia tak bisa menjawab alasan mengapa dia menangis.
“Nis, kamu kok diem aja? kamu nggak papa kan?” detik kemudian, Anissa tersadar dan menggelengkan kepalanya. Ia mengambil tissue dan segera mengusap air matanya. “Aku nggak papa kok, Rez” jawabnya sambil tersenyum. “Kamu yakin?” Anissa mengangguk sambil tersenyum. Ia meraih tangan Reza dan menggenggamnya erat. Reza hanya tersenyum sambil membelai rambut Anissa. Maaf, Reza, aku udah bohong sama kamu… Kalau kamu tau alasanku menangis, apa yang bakal kamu lakuin? apa kamu akan marah dan mencampakan aku sama seperti yang sudah dilakukan oleh Adi
“Ok, aku pulang dulu ya, Nis.” kata Reza dari dalam mobil sambil melambaikan tangan. Anissa pun balas melambai sambil tersenyum. Setelah mobil Reza melesat meninggalkan rumahnya, Anissa pun masuk ke dalam rumah.
Di dalam kamarnya, Anissa memandang dirinya di kaca. “Kenapa semua jadi begini? mungkin… ini karma karena aku udah ngeduain Reza.” Tak terasa, beberapa tetes air mata sudah meluncur jatuh ke pipinya. Hatinya begitu hancur dan sedih. Ia menyesal dan juga merasa kecewa. Ia sudah melukai Reza, dan pada akhirnya ia sendiri dicampakan oleh Adi.
Adi muncul dalam kehidupan Anissa saat ia menjalani masa pacaran selama 2 bulan dengan Reza. Adi adalah teman Reza di klub basket. Mereka sering pergi bersama. Dan otomatis, Anissa pun sering bertemu dengan Adi dan teman-teman Reza lainnya. Suatu hari, Adi menyatakan cintanya pada Anissa. Namun, Anissa menolak cintanya karena dia adalah pacar Reza. Adi tidak menyerah begitu saja. Sejak penolakan itu, ia semakin gencar mendekati Anissa.
Anissa yang merasa kesepian karena Reza yang selalu sibuk dengan kesibukannya pun akhirnya tak bisa mengingkari bahwa ada nama lain di dalam hatinya. Karena itulah, ia tak kuasa menolak saat Adi menyatakan cintanya untuk yang kedua kali. Namun, ia meminta Adi merahasiakan hubungan mereka dari semua teman-temanny, termasuk Reza. Awalnya Adi tidak setuju, namun akhirnya dia menerima juga.
Selama 3 bulan itu, Adi selalu membujuk Anissa untuk mengatakan yang sebenarnya pada Reza. Namun, Anissa tetap menolak karena dia belum bisa memilih antara Adi dan Reza. Anissa begitu mencintai keduanya. Mungkin karena hal itulah, Adi memilih berselingkuh dengan Tania yang jauh lebih bisa memberinya kebahagiaan.
Pada malam harinya, seperti biasa Adi menelpon Anissa. Untuk kesekian kalinya, Adi menanyakan hal yang sama pada Anissa. “Nis, mau sampai kapan kita backstreet kayak gini terus? Aku juga nggak enak sama Reza nya” kata Adi dari seberang. Anissa pun terdiam. Adi benar. Bagaimanapun juga yang nantinya paling menderita adalah Reza. Dia begitu baik dan setia, tapi Anissa hanya bisa menyakitinya. “Say, kamu masih disitu kan?” tanya Adi lagi. “Iya, iya, Di. Aku ngerti, tapi aku nggak tau. Aku bingung” Sekarang giliran Adi yang terdiam. Dalam hatinya, Adi sedikit kecewa pada Anissa yang sama sekali tidak memiliki pendirian. Tapi dia tahu bagaimana perasaan Anissa saat ini. “Jadi… Kamu tetap mau seperti ini dan membiarkan Reza seperti orang bodoh?” tanya Adi lagi. “Bu… Bukan begitu.. Aku cuma nggak mau nyakitin Reza. Aku nggak mau ngliat dia sedih” kali ini perasaan Anissa ikut berbicara. Ia sama sekali tidak ingin melihat Reza sedih dan kecewa pada dirinya.
“Jadi kamu lebih milih nyakitin aku?” pertanyaan Adi satu ini membuat Anissa terdiam seribu bahasa. Ia hanya terdiam, sedangkan air matanya mulai mengalir lagi. Dari balik telepon, Adi pun terpuruk dalam kesedihannya karena Anissa lebih memilih menyakiti dirinya. Ia benar-benar kecewa. “Aku…”
BRAK! “Apa yang akan membuat aku sedih?” tiba-tiba Reza muncul di kamar Anissa dengan wajah yang begitu sedih dan kecewa. Anissa yang kaget segera menutup telponnya. “Re..” Reza pun maju mendekati Anissa. “Katakan, Nis. Apa yang membuat aku sedih?” Anissa hanya bisa mematung. Semuanya akan berakhir.
Dalam keadaan seperti itu, handphone Anissa berbunyi. Reza yang menyadarinya segera merampas handphone itu dari tangan Anissa. Di layar handphone tertulis nama Adi. Tanpa pikir panjang, Reza segera menekan tombol jawab. “Say, kamu kenapa? Kok telponnya tiba-tiba dimatiin?” mendengar itu, Reza jadi shock dan nggak menyangka hal ini akan menimpa dirinya. Amaranhnya pun membeludak. Tanpa berkata-kata, Reza pun melempar handphone itu ke arah Anissa dan segera pergi. Anissa hanya bisa terdiam sambil terus menangis, ia tidak punya kekuatan untuk mengejar Reza. Sedangkan Adi bingung apa yang telah terjadi pada Anissa.
Semenjak hari itu, Reza sama sekali tidak menghubungi Anissa. Anissa pun tidak memiliki keberanian untuk menghubungi Reza. Ia merasa sangat bersalah. Demikian hal nya dengan Adi, Anissa sama sekali tidak mendegar kabar apapun tentang Adi. Sekarang, ia merasa sangat kesepian. Ini semua memang salahnku… rengeknya dalam hati.
“Anissa!!!” terdengar suara Tania berteriak-teriak memanggil nama Anissa dari ujung koridor sekolah. Suara itu bisa terdengar karena kelas Anissa memang cukup dekat dengan tempat itu. Oh, Tuhan… apa lagi yang akan terjadi? Jerit Anissa dalam hati. Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Anissa setelah Tania masuk dalam kelas. Anissa shock dan terdiam. Semua anak melihat ke arahnya. “Gara-gara kamu… Ini semua gara-gara kamu…” kata Tania sambil menggoncang-goncang tubuh Anissa. Air matanya mengalir deras, menutupi pandangan matanya. “Sekarang kamu puas kan, Nis?! Puas kan kamu?!!” Anissa semakin bingung dengan perkataan Tania. “Gara-gara kamu… Adi… Adi.. Adi masuk rumah sakit…” detik itu juga air mata meluncur dengan mulus dari mata Anissa. Adi? kenapa?
“Semalam… Semalam mereka bertengkar hebat ngerebutin kamu… dan akhirnya Adi kalah. Sekarang dia sedang sekarat di rumah sakit! Kenapa? Kenapa Adi tetap memilih kamu?! Padahal aku lebih baik!! Kenapa?!!” SEluruh raga Anissa melemas, ia hampir pingsan mendengar pernyataan Tania. Reza… Adi… “Ba… Bagaimana dengan Reza? Apa dia… baik-baik saja?” tanya Anissa dengan sisa tenaganya. Tania membelalak heran. “Di saat seperti ini, kamu masih mikirin Reza? Kalau memang kamu cinta sama Reza, kenapa kamu harus nyakitin Adi, Nis?! Kenapa?!”