KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

The Power of SMS

Makin hari teknologi semakin canggih, terutama di bidang komunikasi. Kalau dulu orang mengirimkan surat lewat burung merpati, sekarang tinggal menekan beberapa tombol di keypad ponsel maka pesan itu sampai kepada orang yang dituju. Ditambah lagi dengan beragamnya operator yang ada sekarang lengkap dengan beragam tarifnya, tentu saja komunikasi bukan lagi merupakan hal yang sulit.
Dalam hal percintaan, kecanggihan komunikasi itu membuat orang semakin mudah jatuh cinta. Semenjak salah satu operator GSM di nusantara ini mengeluarkan suatu produk yang memungkinkan berkirim sms tanpa tarif alias gratis, kelihatannya semakin banyak orang yang pacaran. Kalau dulu dua orang yang saling tertarik atau biasa disebut naksir-naksiran itu membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk jadian, sekarang hanya membutuhkan beberapa minggu berkirim sms nonstop maka mereka langsung bisa jadian. Luar biasa bukan kekuatan teknologi komunikasi akhir-akhir ini? Mungkin itu bisa disebut sebagai ‘the power of sms’.
Ngomong-ngomong soal ‘the power of sms’ saya punya pengalaman unik. Sebagai seorang mahasiswi kedokteran di salah satu universitas swasta di Jakarta, saya menyimpulkan bahwa dibutuhkan tiga kemampuan untuk menjadi seorang mahasiswa/i kedokteran. Tiga kemampuan tersebut adalah otak, uang, dan kemampuan bergossip. Kemampuan bergossip yang dimaksud di sini tentu saja bukan hanya kemampuan membicarakan kekurangan orang lain tetapi juga bersosialisasi dan menjadi pihak yang objektif. Baru tiga minggu saya menjadi mahasiswi, sudah ada gossip hot yang beredar di kampus, yaitu cewek ’07 jadian dengan cowok ’04. Saya terkejut bukan main. Pertanyaan pertama yang ada di benak saya adalah, “Kok cepet amat???” Belum selesai semester pertama, sudah ada lebih dari dua teman saya yang juga pacaran dengan senior padahal sebelumnya mereka belum saling mengenal satu sama lain. Usut punya usut, memang mereka bisa dibilang sms-an nonstop.
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan sms-an nonstop? Dua orang yang saling berkirim sms dari pagi, mulai mengucapkan “Met pagi. Hari ini mau ngapain?”, sampai di malam hari atau mungkin subuh, mengirimkan pesan, “Gud nite. Sweet dreams ” Lewat sms nonstop itu, dua orang ini akan saling mengetahui satu sama lain apa yang akan dilakukan selama sehari penuh, apa yang dimakan saat sarapan, makan siang, dan makan malam, masalah-masalah apa saja yang dihadapinya, makanan kesukaannya, dan masih banyak lagi. Mungkin bisa dibilang bahwa dua orang ini ‘benar-benar’ saling mengenal satu sama lain. Tetapi apakah mereka memang sungguh mengenal dengan baik lawan sms-an nonstop mereka??? Saya ragu.
Kegiatan sms-an nonstop itu adalah seperti melihat sebuah cokelat. Kelihatannya cokelat itu enak. Lapisan cokelatnya kelihatan mulus. Ukurannya yang besar semakin membuat cokelat itu menggiurkan. Tetapi apa isi cokelat itu, apa merknya, bagaimana rasanya, atau segala sesuatu yang ada di dalam cokelat itu tidak diketahui. Percayalah, bahwa sms-an nonstop tidak akan bisa mengetahui bagaimana pribadi seseorang sesungguhnya. Sama seperti melihat sebuah cokelat tidak akan pernah mengetahui bagaimana rasanya sampai benar-benar mencobanya.
Kemajuan teknologi merupakan suatu hal yang menarik. The power of sms lebih menarik lagi. Tetapi kadang kala ada hal-hal tertentu yang tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi. Cinta adalah suatu hal yang murni dan selamanya akan tetap murni apapun yang terjadi.

Tinggalkan Komentar