Perubahan Opi (Part 1)
November 7th, 2007 by Nday
“HAAAH? Opiiii??”
Dua kalimat yang sudah Opi duga sebelumnya akan dilontarkan dua sahabatnya. Sementara Berli dan Dhira terbelalak kaget dan berulang kali menatap kain putih yang membungkus rambut cepak Opi, Opinya sendiri kini hanya cengar cengir nggak jelas.
“Kenapa? Kaget yiaa?”
“Nggak,.. Iya… Eh,, nggak!” Dhira jadi tak tahu apa yang sedang ia ucapkan sekarang. Otaknya sibuk berpusar hebat, membandingkan perubahan drastic Opi sang sangar berrambut 3 cm kini dengan manisnya mengenakan jilbab putih jernih. Dengan pin bunga-bunga lucu lagi! Gila. Dunia udah kebalik,,,
“Opi,, lo,, tidurnya tepat waktu kan semalem? Nggak begadang maen PS? Mungkin lo semacam mimpi dan berjalan sambil tidur gitu?” kata Berli masih dengan pose bengongnya.
“Apaan sih lo semua? Gue sadar. 1000 %..!” sahut Opi ketus lantaran mulai jengah diamati dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Soriii. I mean, lo nggak pernah ngasih pengumuman sebelumnya kalo lo mau pake jilbab. Lagipula…” bayangan Opi yang berrambut cepak terbalut seragam dekil dan sepatu converse belel berkelebat lagi di benak Berli, yang membuat gadis mungil berrambut ikal ini menggeleng kuat-kuat. “Lo kesambet apaan?”
“Kesambet malaikat… Hehe.. Astaghfrirullah!! Maap ya Allah,, Maap Malaikat. Opi nggak ada maksud apa-apa ngomong kayak tadi,,,” kata Opi sambil menegadahkan tangannya ke angkasa sambil memasang muka menyesal. Pemandangan yang aneh menurut Berli dan Dhira. Opi tobat??? Ya ampyun, beneran kesambet malaikat dia.
“Lagian, Pi. Ini kan udah mau kelulusan. Trus kenapa lo pake jilbabnya baru sekarang? Pake jahit rok biru segala lagi! Kenapa nggak ntar aja pas masuk SMA? Biar nggak boros..” kata Dhira sambil mengambil meja favorit mereka bertiga di Kantin.
“Eeee…sebenernya gue udah jahit ni rok dari awal kelas 2. tapi gue takut diketawain,, baru beraninya sekarang.”
“Opi.. Opi…” Berli tak dapat menahan gelengan kepalanya yang entah sudah mencapai angka berapa. Yang jelas perubahan ini benar-benar membuatnya kaget bukan kepalang. “Nggak papa sih lo pake jilbab. Malah bagus, keliatan bersih.”
“Maksud loo?” Opi mencibir.
“Hehe,,, eh, tapi benerin dulu tuh jilbab lo! Rambut keliatan tuh di jidat!” kata Dhira kejam. “Hee.. emang nggak berubah ya lo!”
“Haaah, mana mana mana…” Opi sibuk meraba dahinya, berusaha menemukan rambut yang mengintip keluar dari balik jilbabnya. “Huu, maklum dong lo! Kan gue pemula!”
“Hihihi… tapi lo cantikkan gini Pi. Keliatan rapi.” Kata Berli sambil menatap sahabatnya takjub. Berli sendiri yang beragama Kristiani sudah sering melihat perempuan memakai jilbab, tapi ia belum menemukan anak sebayanya mengenakannya, yang sering ia lihat ibu-ibu atau anak kuliahan. Makanya kini ia tampak takjub kalau ternyata jilbab pantas juga dikenakan anak seusianya.
“Makacih.. Makacih..” kata Opi sok imut, yang membuat Dhira dan Berli merinding.
“Oi, kita jadi kan daftar ke SMU yang sama? Ke SMU 1001?” Tanya Dhira tiba-tiba. Pertanyaan ini segera diangguki dengan semangat oleh Opi dan Berli yang memang sudah berjanji akan memasuki SMU yang sama. “Soalnya gue nggak mau pisah sama eloo..”
“Aaang Dhira.. kita juga nggak mau pisah sama elo.. Huhuhu…” sahut mereka berdua berlagak sedih dilanjutkan dengan adegan peluk-pelukan ala teletubbies yang membuat sekeliling menatap mereka dengan pandangan aneh.
“Udah ah, jijik gue. Ya udah. Kita berdoa sajah supaya kita keterima di SMU terfavorit di Jakarta. SMA 1001!!!”
“YEEAHH!!!”
Opi melipat jilbab yang baru dibelinya hari ini di Pasar Mayestik bersama Dhira dan Berli. Seragam putih lengan panjang pun sudah ia beli sebanyak 3 potong untuk keperluan SMA-nya nanti. Opi tersenyum senang menatap pakaian-pakaian itu. Akhirnya impiannya selama ini tercapai juga. Memakai jilbab.
Opi beralih ke ranjang empuknya dan merebahkan diri di sana. Orang-orang anggap aku kuat, nggak cengeng, mandiri. Padahal aku sebenernya juga nggak bisa apa-apa kalau nggak ada Berli dan Dhira. Mereka penopang aku selama ini. Kalo nggak ada mereka, entah gimana nasib aku.
Opi bangkit dari tidur-tidur ayamnya dan menengadahkan tangan serta memejamkan mata. Dalam hati ia sibuk berdoa agar mereka bertiga diterima di SMA yang sama. Nggak usah di 1001 juga nggak apa-apa, karena mereka mengambil 3 pilihan SMA yang sama. Yang penting bisa terus bareng.
Ya ALLAH.. Tolong Opi. Mudah-mudahan Opi bisa satu SMA sama mereka!!!
Hari ini adalah hari yang menegangkan. Hari pengumuman masuk SMA.
Selama tiga hari kemarin mereka bertiga sempat dibuat ketar-ketir lantaran NEM seluruh murid SMP rata-rata mencapai angka 27 ke atas semua. Opi yang ber-NEM-kan 28.73 mungkin bisa bernapas lega. Tapi Berli yang hanya 27.34 dan Dhira yang Cuma 27.00 merasa was-was sekarang. Daya kapasitas SMU 1001 hanya 360 sedangkan pada hari kedua mereka berdua sudah di posisi 300 lebih sedikit. Berli posisi 211 dan Dhira posisi 234. Sekarang mereka berdua hanya bisa berharap dengan mukjizat supaya mereka berdua tak terlempat dari deretan murid itu.
“InsyaAllah masuk. Tenang aja. Gue doa juga kok semaleman. Malah udah tahajud!” ujar Opi menenangkan. Padahal dalam hati ia gelisah juga. Kini ia berjalan cepat-cepat menyusuri tepi jalan menuju SMA 1001. Hatinya sungguh tak tenang.
“Opii.. lo mah bisa tenang. Lha kita? Udah di ambang neraka neeh!” pekik Dhira tertahan sambil menggigit jempolnya.
“InsyaAllah. InsyaAllah. Kalo kita doa pasti ada jalan. Lo juga udah ke Gereja kan Ber?”
“Udah.. Tapi gue nggak tenang. Gue kan paling rendah di antara kalian.” Sungut Berli sambil memegang ujung rok-nya gelisah, mengabaikan jerit Opi kalau paha Berli kini terlihat seperempatnya.
Kini mereka sudah berada di depan pintu gerbang SMA 1001. Entah kenapa mereka kini berdiri sejenak sambil mamandang papan nama SMA 1001 sambil mengembuskan napas panjang. Mereka larut dengan pikiran masing-masing.
“Oi…” celetuk Dhira tiba-tiba. “Walaupun kita nggak satu sekolah, kita tetep temenan kan?”
“Ngomong apa sih Dhir? Jangan ngomong yang nggak-nggak ah.” Tepis Opi cemas.
“Iya, walaupun kita nggak satu sekolah, kita harus keep contact. Oke?” kini Berli yang bicara dengan suara bergetar. “Jadi… ayo masuk.”
Walaupun dengan jantung berdebar akhirnya mereka masuk kawasan SMA 1001 juga dengan mantap. Kini hati masing-masing sibuk berdoa agar harapan hati mereka bisa diterima di SMA yang sama bisa terwujud. Namun, siapa yang tahu, kini mereka hanya bisa berharap.
Sebelum menatap papan yang menjulang besar, mereka kembali menarik napas panjang.
“Siap?” Tanya Opi sok dramatis.
“Oke..” sahut Berli dan Dhira kompak.
Kini mata mereka serempak menatap papan pengumuman itu.
BERSAMBUNG! SENIN 5 NOVEMBER 2007- 7:04 PM
sambungannya kapan?