KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

-Isme

Surya, Jalan HZ. Mustofa Tasikmalaya, 07 Februari 2006, 22.00 WIB

Gerimis semakin deras, “Mudah-mudahan tidak menjadi hujan, ya Allah” batinku sambil terus berlari kecil dan tergesa. Sedikit-sedikit kulirik jam tanganku yang menunjukkan malam semakin larut. Nafasku semakin sengal, sedang basahnya baju kantorku makin menambah perasaanku yang tak menentu. Ya tak menentu, sebab setengah jam yang lalu aku mendapat SMS dari Istriku yang mengatakan bahawa anakku satu-satunya sedang sakit keras. Seluruh tubuhnya panas, dan Nabil anakku terus meracau “Ma…ma….dingin…..dingin sekali badan Nabil ma….” Akibat SMS itu aku yang seharusnya lembur malam ini, harus pulang dengan cepat. Untung saja ada Firman yang siap menggantikan pekerjaanku, sebab ia tahu akan permasalahanku.

DR. Kusuma Widyankara, Desa Kujang Ciamis, 07 Februari 2006, 22.05 WIB

“Ma…mama…. tolong bereskan tempat praktekku, aku lelah, aku mau istirahat sekarang, nanti kalau ada yang datang usir saja. Mau pasien kek…mau yang minta sumbangan kek…ataupun pasien sekarat sekalipun. Sebab aku adalah seorang DOKTER! Dan seorang DOKTER yang baik harus istirahat yang cukup agar besok aku tidak akan salah dalam mengurus pasien. Ok ma…jangan lupa ya, dan jangan berisik.”

Setelah berkata begitu akupun langsung masuk ke kamar dan berganti pakaian. Sejenak kulihat foto Albert Einstein yang sedang menjulurkan lidahnya dan foto wisudaku di sebelahnya. Tak terasa sudah hampir sekitar dua setengah tahun aku menjadi dokter setelah enam tahun menimba ilmu di Fakultas Kedokteran Spesialis Anak-anak di Universitas Indonesia Jakarta. Sambil memandangi kedua foto tersebit aku langsung teringat akan sumpah wisudaku dahulu. KAMI BERJANJI AKAN SELALU MENGAMALKAN ILMU YANG KAMI MILIKI DI MANAPUN DAN KAPANPUN KAMI BERADA, DAN SELALU MEMEGANG TEGUH KODE ETIK KEDOKTERAN. Ya Ikrar tersebut aku ucapkan dengan lantang, sebab pada waktu itu kami masih teringat akan petuah Einstein yang mengatakan bahawa Ilmu Pengetahuan selalu harus berguna bagi masyarakat luas. Setelah itu aku tersenyum geli, sebab bagiku, di jaman seperti ini mana ada orang yang mau susah karena menolong orang lain. Bukanlah manusia itu adalah serigala bagi manusia lainnya. Akupun tidak mau rugi, sebab pada suatu saat aku akan dirugikan oleh orang lain, oleh karena itu sebelum aku dirugikan orang lain, maka aku akan lebih dulu merugikan orang lain. Contohnya tadi ada seorang ibu yang ingin mengobati anaknya yang terkena Disentry, tetapi karena tidak punya uang, alias membayar semampunya, ya aku beri saja anak itu Vitamin, yang penting tidak celaka, dan aku tidak jadi rugi. Nah sekarang aku akan tidur dulu.

Surya, kediaman Keluarga Surya, Desa Panaragan Ciamis, 07 Februari 2006 23.15 WIB

“Bagaimana keadaan Nabil, Ma, makin parah?” tanyaku pada Laras istriku, setelah ia membukakanku pintu. “Belum pah, sedari tadi ia terus mengeluhkan badannya yang terasa dingin. Mama jadi takut pa, takut akan terjadi apa-apa pada Nabil.” Tas kantor langsung kuletakkan di atas meja ruang tamu. Kulonggarkan sedikit letak dasi ke bawah, dan kurebahkan badanku yang lelah ke kursi tamu dengan posisi menyender. Akupun termenung sebentar mencoba berpikir. “Bagaimana kejadiannya ma, kok bisa Nabil sampai seperti itu?” tanyaku pada istriku yang terlihat kalut. “Sekitar jam setengah sepuluh tadi Nabil tiba-tiba mengeluhkan perutnya sakit, juga tenggorokannya yang terasa panas. Semula mama hanya menganggap itu hanya panas dalam biasa, dan langsung saja aku berikan Obat Pereda Panas Dalam, tetapi kemudian rengekannya itu tak kunjung selesai malah makin parah hingga seperti ini.” Jawab istriku sambil terisak. “Sudah kau coba bawa ke dokter?” “Belum, sebab aku bingung tak tahu harus bagaimana, di samping menunggu papa pulang setelah papa membalas SMS yang kukirimkan.”

Lalu akupun kembali berpikir, di mana ada praktek dokter 24 jam, atau setidak-tidaknya buka pada jam-jam segini. Kamipun terlarut dalam kebingungan yang sama, diiringi suara rengekan Nabil yang terdengar menyayat telinga kami. Tiada tetangga yang mendengar sebab jarak antara rumahku dengan rumah terdekat sekitar satu setengah meter jauhnya. Sejenak aku teringat oleh perkataan Riswandi. Ia adalah rekanku yang sedari SMA yang menimba ilmu di Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia sekitar, kurang lebih delapan tahun lalu. Ketika itu, di hari wisudanya, ia mengatakan bahwa pada dasarnya sudah kewajiban seorang dokter untuk melayani pasien baik di waktu malam hari, selarut-larutnya malam tersebut, sebab itu adalah tanggung jawab profesinya, dan tidak bisa ditinggalkan secara moral. Setelah itu, akupun teringat kembali bahwa di Desa sebelah terdapat seorang Dokter Spesialis Anak-anak satu-satunya yang membuka praktek di Kecamatan kami.

“Mama, cepat persiapkan jaket Nabil, aku akan membawanya ke Dokter Kusuma di Desa Kujang sekarang. Aku akan mengganti pakaian dulu, jangan sampai ada dua pasien yang akan merepotkan DR. Kusuma malam ini.” Perintahku pada istriku yang langsung ditanggapinya dengan cekatan. Dan aku, langsung menuju kamar dan mengganti baju dan mengenakan jaket dengan segera.

Setelah Nabil selesai dipersiapkan oleh Laras, aku langsung menggendongya dan membawa ke luar. Saat itu malam mendung dan dinginnya sampai menembus sumsum tulang belakangku. Aku sangat khawatir malam itu. Khawatir akan turun hujan di tengah-tengah perjalananku malam itu. Sebab perjalanan menuju Desa Kujang tersebut sangatlah jauh, sekitar 3 kilometer jauhnya. Dan aku harus menggendong Nabil sampai sana tanpa kendaraan, sebab ojeg pada jam segini, sudah tidak ada yang beroperasi.

“Sudahlah, kau tunggu saja di rumah, biar aku saja sendriri yang membawa Nabil ke DR Kusuma. Kau istirahat saja, nanti sakit.” Laras menganggukan kepalanya tanda setuju. Tapi aku tahu di wajahnya masih menyimpan kekhawatiran yang amat sangat. Khawatir akan keselamatan anak kami satu-satunya yang baru berumur 5 tahun.

Surya dan Nabil, Jalan menuju DR. Kusuma, 08 Februari 2006 00.43 WIB

Aku menyusuri jalan perkampungan yang gelap. Di kanan dan kiriku adalah sawah yang terbentang luas. Kegelapan itu hanya aku siasati dengan sebuah senter di tangan kananku. Sedang tangan kiri kugunakan untuk memegang Nabil yang kugendong di belakangku. Sebentar-sebentar kubetulkan tempat Nabil kugendong, sebab ia makin lama, makin turun. Kulirik sebentar wajahnya, ia tampak tidur dengan menahan rasa yang tidak enak menjalar di tubuhnya, tidur akibat kelelahan menahan rasa tidak enak tersebut yang diungkapkannya melalui rengekan.

Di dalam perjalanan itu, aku terus menerus memikirkan apa yang dikatakan oleh Riswandi tentang tanggung jawab dokter tersebut. Mudah-mudahan saja ia tidak salah, dan DR. Kusuma adalah salah satu dari dokter yang dikatakan oleh Riswandi itu. Perjuangan melawan kegelapan yang amat sangat di perjalanan itu seakan menyatu dengan kekhawatiranku akan keadaan Nabil, anakku. Dan hal tersebut menyebabkan kakiku beberapa kali masuk ke dalam lubang yang tergenang air, akibat aku tidak konsentrasi dengan keadaan jalan. Dalam pikiranku saat itu adalah, bagaimana caranya agar Nabil tidak bangun kembali dan merengek kesakitan dan kedinginan, sebab rengekan itu cukup membuatku tenggelam pada kesedihan yang mendalam.

Surya dan Nabil, Depan rumah DR. Kusuma, 08 Februari 2006 02.57 WIB

Aku memandang sejenak rumah di depan mataku, rumah yang cukup megah bila dibandingkan dengan rumah lainnya. Pintu pagarnya sudah tergembok dengan rapat. Maka aku coba mengetuk pagar rumah tersebut.

“Assalamualaikum, permisi Pak Dokter. Assalamualaikum……. Assalamualaikum…. Assalamualaikum….” kuulang secara terus menerus kalimat tersebut sambil tanganku yang tak henti-hentinya mengetuk pagar rumah. Setelah lelah aku berhenti sejenak dan membawa Nabil ke sebuah tempat duduk bambu yang terletak persis di depan rumah tetangga Pak Dokter. Kemudian aku kembali menghampiri pintu pagar yang sedari tadi kuketuk, lalu kuulang kembali kegiatanku yang sempat terhenti akibat kelelahan menggendong Nabil. Tanpa sadar kegiatanku itu membangunkan tetangga depan rumah Pak Dokter, yang keluar akibat mendengar salamku barusan.

“Ada keperluan apa Pak, pagi-pagi buta seperti ini ingin bertemu dengan Pak Dokter?” tanya seorang lelaki paruh baya yang keluar diiringi oleh anggota keluarganya yang lain. “Maaf Pak jika terganggu, saya Surya dari Desa Panaragan, anak saya sedang sakit parah, saya ingin membawa anak saya tersebut ke Pak Dokter. Tuh..anak saya” kutunjukan letak Nabil kududukkan. “Sebab sepengetahuan saya DR. Kusuma ini adalah seorang Dokter Spesialis Anak-anak. Apakah Pak Dokternya ada Pak?” jawabku sambil nafas tersengal. “Pak Dokternya ada kok, kemarin sehabis Isya ia menutup Prakteknya dan setelah itu saya tidak melihat ia keluar lagi.” Kata seorang wanita paruh baya sambil membawakanku segelas air teh manis panas. “Berarti Pak Dokternya mungkin sedang istirahat sekarang? Bagaimana kalau saya menerobos pagar dan mencoba mengetuk daun pintunya, mungkin cara tersebut lebih efektif?” “Silahkan coba saja, tampaknya bapak sedang kesusahan, biar kalau ada apa-apa saya yang akan bicara. Bapak coba saja cara tersebut.”

Setelah bapak-bapak tersebut berkata seperti itu, aku langsung menerobos masuk dengan cara memanjat pintu pagar. Sedangkan keluarga tetangga depan rumah DR. Kusuma hanya memperhatikan gerakanku. Tetapi sesampainya di depan pintu rumahnya, niatku langsung surut, sebab di sana ada sebuah tulisan yang dituliskan besar-besar, TIDAK MENERIMA PASIEN APALAGI TAMU DI MALAM HARI ATAU DI SAAT KAMI ISTIRAHAT. Setelah berpikir sejenak, aku tetap pada pendirianku semula untuk mencoba mengetuk pintu rumah Pak Dokter.

DR. Kusuma Widyankara, Desa Kujang Ciamis, 08 Februari 2006, 03.05 WIB

“Yah…ayah…coba itu dengar ada yang mengetuk pintu rumah kita yah.” Suara istriku membangunkanku dari istirahatku yang nikmat.

“Alah….biarkan saja. Salah sendiri kenapa tidak dari tadi kalau mau berobat. Tugas aku itu kan dari pukul 10.00 sampai 19.30 WIB. Di luar jam tersebut aku sedang tidak bertugas. Jadi biarkan! Mengganggu saja! Orang lagi enak-enak tidur kok diganggu.” Jawabku tak kalah serunya dengan usaha mengetuk pintu rumahku. Setelah itu aku langsung menutup kepalaku dengan bantal karena merasa terganggu oleh pengetuk pintu itu.

“Ya sudah bagaimana ayah saja, kan ayah yang jadi dokternya. Sedangkan aku hanya resepsionis yang menjaga bagian administrasi saja.”

Surya, Depan Pintu Rumah DR. Kusuma, 08 Februari 2006 03.13 WIB

“Assalamualaikum. Maaf mengganggu Pak Dokter, saya ada keperluan yang sangat mendadak. Anak saya sakit keras. Assalamualaikum……” terus kuulangi kalimat tersebut sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah. Tapi hasilnya sia-sia saja.

Setelah aku merasa lelah dengan segala kesia-siaan, akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja dan menunggu matahari menjelang. Sesampainya di luar pekarangan rumah Pak Dokter, kulihat wajah iba dari sepasang Bapak dan Ibu paruh baya yang sedari tadi memperhatikan segala gerak gerikku dalam membangunkan pak Dokter. Kulihat Nabil sudah digendong oleh seorang anak gadis yang juga berasal dari keluarga tersebut.

“Tampaknya Pak Dokter kelelahan sampai-sampai tidak bisa mendengar ketukan pintu saya. Sebaiknya saya pulang, saya akan mencoba membawa anak saya ke Rumah Sakit di Kota nanti. Terima kasih pak atas bantuannya.” Kalimat keputusasaanku keluar begitu saja.

‘Tunggu, biar saya yang coba membangunkan.” Sahut bapak-bapak itu menanggapi keputusasaanku. “Mungkin saja jika saya yang membangunkan Pak Dokter akan bangun.”

“Tidak usah pak biar saya pulang saja. Kasihan Pak Dokter, sedang asyik-asyiknya istirahat.” Timpalku sambil mengambil Nabil dari gendongan istri Bapak tersebut.

“Ya sudah, biar bapak suruh anak bapak yang laki-laki untuk mengantar anda sampai ke rumah. Kasihan jauh.”

Setelah itu anak yang dimaksud langsung mengambil sepeda motornya, menghidupkannya. Setelah mengucapkan terima kasih akupun langsung berpamitan pulang dengan pikiran kalut dan diiringi pandangan mata keluarga yang baik hati itu.

Surya, Nabil dan Laras, kediaman Keluarga Surya, 08 Februari 2006 04.00 WIB

Di atas tempat tidur Nabil, aku dan Laras terus menerus memandangi Nabil yang tertidur dengan siksaan rasa sakit yang dideritanya. Sedang panasnya sedari tadi belum juga turun. Tanganku tak henti-hentinya membelai lembut rambut Nabil. Sedangkan Laras mencoba mengompres kening Nabil dengan air es mengharapkan panasnya segera turun. Padahal aku tahu usaha itu akan sia-sia saja, entah ada apa pada saat itu aku berpikiran seperti itu. Seperti ada pandangan tertentu tentang masa depan Nabil yang aku sangat tidak menginginkannya.

Semakin lama aku memandangi Nabil, tak terasa mataku ini mulai meredup akibat kelelahanku sedari tadi, mulai dari kantor, ke rumah DR. Kusuma hingga sampai lagi di sini. Tak terasa mataku makin meredup…redup dan redup.

Surya, Nabil dan Laras, kediaman Keluarga Surya, 08 Februari 2006 06.30 WIB

Goyangan tangan Laras membangunkanku dari tidurku. Seperti ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan Laras padaku.

“Pak, coba lihat Nabil.” Pinta Laras dengan wajah yang sembab ditambah isaknya membuat kekhawatiranku makin menjadi. Akupun memandang wajah Nabil yang tertidur damai, ya damai, kedamaian yang membuat hatiku dan Laras tidak damai.

Lalu kuraba seluruh tubuh Nabil, dari mulai lengan hingga wajahnya yang damai tersebut. Dingin. Terasa dingin seperti udara tadi malam. Juga sedingin es yang digunakan Laras untuk mengompres Nabil.

DR. Kusuma dan Novita (Istri DR. Kusuma), tempat praktek sekaligus kediaman DR. Kusuma 08 Februari 2006 18.35 WIB

“Yah, ternyata yang mengetuk pintu rumah kita tadi malam adalah seorang laki-laki dari Desa sebelah yang ke sini untuk mengobati anaknya yang sakit keras. Kasihan lho pak dia rela jalan kaki untuk sampai ke sini. Tadi aku dengar sewaktu membeli gula pasir di warung Bu Haji. Yang cerita itu Bu Yudi tetangga depan rumah. Katanya juga, Pak Yudi lah yang mengijinkan laki-laki itu memanjat pagar kita.”

“Lancang sekali dia! Memang dia kira itu siapa. Ini adalah rumah pribadiku jadi tidak ada yang bisa masuk ke dalam rumahku tanpa ijin dariku langsung. Biarkan saja laki-laki itu. Kalau ia memang perlu kenapa tidak menunggu sampai praktekku buka. Dasar orang kampung suka sok tahu.” Cetusku menanggapi cerita Novita barusan. Lalu iapun ngeloyor ke dapur.

Surya, dan Warga Lainnya, Tempat Pemakaman Umum Panaragan, 08 Februari 2006 15.30 WIB

Aku memandang dengan nanar ketika Nabil untuk terakhir kalinya kulihat. Nabil pada saat itu tampak tenang sekali. Wajahnya tersenyum. Seperti tak ada beban yang memberatinya. Padahal di sini aku dan Laras sangat terpukul atas kejadian itu. Bagiku, semalam adalah malam yang sangat melelahkan dan tidak akan pernah kulupakan. Sebab dengan begitu aku jadi teringat akan perkataan Nietsche dalam bukunya yang terkenal Der Wille zur Maxht yang isinya mengatakan bahwa manusia hidup akan saling melukai, menindas dan memeras, bahkan saling membinasakan.

Dan mulai saat ini aku akan membenci seluruh profesi Dokter di seluruh dunia, termasuk Riswandi, sahabatku sendiri.

Tasikmalaya, Januari 2007

One Response to “-Isme”

  1. on 06 Nov 2007 at 21:30suararaa

    sakit apa kok tidak dijelaskan? dan mengapa sang bapak lebih memilih datang ke dokter daripada UGD rumah sakit yang buka 24 jam?

Tinggalkan Komentar