KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Cantik

The Queen of Beauty, Kontes Ratu Tercantik Sejagad kembali digelar. Kontes yang berkolaborasi dengan United Nations ini kembali membawa embel-embel, Wanita tak hanya cantik, tapi juga punya kemampuan akademik yang memadai, kemampuan bersosialisasi dan berorganisasi. Kontes kali ini bertajuk “Perempuan Pembawa Misi Perdamaian”. Nantinya para pemenang dan nominator akan dikirim ke Negara-negara yang bertikai atau sedang ada masalah perang saudara sebagai delegasi PBB pembawa misi perdamaian dunia.

Kontes kecantikan sejagad yang diikuti oleh seluruh negera di dunia. Masing-masing negara mengirimkan satu orang wakilnya. Mereka mengoordinasi kontes kecantikan dalam negeri untuk memilih wakilnya dalam kontes internasional itu. Kontes “Gadis Indonesia” telah dibuka pendaftarannya sejak beberapa waktu lalu. Tiap-tiap propinsi hanya berhak mengirimkan satu orang dari daerahnya. Meskipun propinsi itu salah satu kotanya adalah ibu kota negara, tetap tak mendapat hak lebih untuk mengirimkan wakilnya lebih dari satu orang.

Seorang gadis dari sebuah daerah yang cukup terkenal sebagai kota yang banyak kedatangan muda-mudi untuk menuntut ilmu, turut ambil bagian. Dengan percaya diri, ia membeli formulir dan segera mengisinya. Tak lupa minta doa restu dari segenap keluarga, kawan dan tetangga. Agar lolos seleksi tahap pertama. Tak disangka, bukannya dukungan yang didapat, tetapi malah cemoohan.

“Aku nggak yakin kamu bisa lolos, deh…,” kata Lucia, teman gadis tadi. Gadis ini hanya bersungut-sungut kesal.

“Dukung dikit kenapa? Nggak seneng apa kalau temennya terkenal? Lihat, judulnya aja sama kayak namaku, ‘Gadis Indonesia’. Mestinya kamu doain, dong! Ada kemungkinan aku lolos seleksi daerah terus dikirim ke kontes ‘Gadis Indonesia’,” Gadis merajuk.

“Jangan cuma karena namamu ‘Gadis’ terus kamu jadi kepedean gitu… Ngaca, Dis.. Ngaca! Aku tahu tinggi badanmu mencukupi untuk ikut kontes, berat badanmu juga ideal. Tapi ngaca, Dis! Mukamu tuh biasa banget.. Aku nggak yakin kamu bisa lolos seleksi hingga mewakili propinsi kita,” kata-kata Lucia sangat mengena di hati Gadis. Teman apa teman, kok temannya ikut lomba bukannya didukung malah direndahkan. Gadis jadi sebal setengah mati. Setelah itu Lucia malah meninggalkan Gadis seorang diri.

“Apa aku nggak cantik?” tanya Gadis saat bercermin pada cermin yang besar di ruang tengah di rumahnya. Ia menilai mukanya sendiri. Wajahnya putih mulus tanpa jerawat. Tingginya semampai, badannya juga tidak terlalu gemuk. Rambutnya hitam legam dan sehat berkilauan. Meskipun begitu, tetap saja terlihat biasa dan tidak menarik.

“Kenapa? Yang terpenting bukan hanya cantik, kan?” ibu yang mengerti kegelisahan anaknya datang mendekat, “menurut ibu, kamu cantik, kok. Wajah kamu mirip ayah.”

Gadis hanya membatin, sebetulnya ibu berniat menghibur apa menghinanya? Memangnya ayahnya cantik? Mestinya kalau memuji, paling tidak wajahnya mirip ibunya atau neneknya, bukan ayahnya.

Berkas-berkas sudah dikumpulkan Gadis. Ijazah rapot Sekolah Menengah, sertifikat TOEFL, sertifikat les komputer, nilai-nilai semester-semester yang lalu, foto-foto dirinya, juga kegiatan-kegiatan yang pernah dan sedang diikutinya. Hari ini pengembalian formulir. Seleksi pertama kontes kecantikan tingkat propinsi yang diberi nama “Perawan Daerah” dimulai minggu depan. Nomor urut diambil ketika pengembalian formulir. Meskipun tak ada yang mendukung karena tak ada yang yakin dia akan menang, Gadis tetap pada pendiriannya. Sejak dulu ia bermimpi ingin menebarkan kedamaian di muka bumi. Kontes ini adalah salah satu jalan, begitu pikirnya.

Seleksi pertama terdiri dari beberapa sesi. Sesi pemotretan, sesi wawancara, sesi diskusi dan juga ada tes tertulis. Gadis menjalani seleksi pertama tersebut dengan penuh percaya diri walaupun minim dukungan. Pada akhirnya Gadis berhasil menjebol Kontes Kecantikan Tingkat Nasional, “Gadis Indonesia” dengan menjadi kandidat wakil dari Yogyakarta. Kini semua orang tahu bahwa Gadis, meskipun tidak cantik, tetap bisa menjadi salah satu kandidat mewakili propinsinya. Dia telah mengalahkan peserta-peserta lain yang jauh lebih cantik dan lebih molek dari dirinya. Sampai sejauh ini Gadis percaya slogan kontes semacam ini memang benar-benar tidak hanya menilai secara fisik.

Peserta-peserta “Gadis Indonesia” memang cantik-cantik dan juga berbakat. Gadis agak merasa minder juga. Mereka semua dengan dukungan penuh dari keluarga dan kerabat dekat bisa menapaki hingga melaju tingkat nasional. Prestasi-prestasi mereka tak kalah juga dengan Gadis. Umumnya mereka memenangkan lomba model, lomba gadis sampul, masuk nominasi sebagai artis, dan seabreg prestasi yang tak Gadis punyai. Gadis tak pernah memenangkan lomba-lomba kecantikan semacam itu. Wajahnya yang biasa tak sanggup menandingi perempuan-perempuan cantik yang bertebaran. Kalau bukan karena kontes yang tak hanya mementingkan kecantikan tetapi juga bakat, pasti ia sudah tersingkir sejak awal dan teman-temannya tak merasa rugi tak mendukungnya. Sekarang malah teman-teman Gadis mendekatinya untuk meminta maaf karena tak mendukung dan berjanji akan mendukung langkah Gadis selanjutnya. Sikap teman-teman yang munafik dan setengah-setengah mirip dengan sikap pemerintah Indonesia yang setangah hati menegakkan perdamaian di muka bumi. Terbukti dari semakin lunaknya sikap Indonesia terhadap penjajah dunia dan terkesan tidak memikirkan negara terjajah yang sampai saat ini masih menangis darah.

Seleksi “Gadis Indonesia” memasuki tahap akhir. Sesi-sesi yang diujikan mirip dengan seleksi tingkat Propinsi ditambah dengan sesi orasi dan tes kemapuan berbahasa Inggris. Sesi orasi untuk menilai kemampuan berbicara, kemampuan mempengaruhi, dan kemampuan mengendalikan diri di depan orang banyak. Kontes kecantikan tak lupa ada sesi pemotretan. Semua nilai-nilai diakumulasi dan diperlihatkan nilai-nilai dari masing-masing tes pada para penonton. Gadis menempati urutan terendah pada sesi pemotretan, meskipun nilai-nilai pada sesi lain termasuk tiga besar, paling maksimal lima besar. Keputusan final ada para penonton. Penonton memilih berdasarkan kemampuan mana yang paling penting untuk menjadi duta perdamaian dunia, mewakili Indonesia dalam kontes The Queen of Beauty.

Detik-detik yang mendebarkan bagi Gadis. Teringat akan sedikitnya kawan yang mendukungnya, keringat mengucur di pelipisnya, memudarkan bedak yang demikian tebalnya. Pikiran negative cepat-cepat dihapus, dia pun teringat janji-janji temannya yang bakalan mendukungnya itu. Kepercayaan dirinya berhasil dipulihkan, keringat pun berhenti menetes.

Juara-juara disebut pembawa acara dari bawah ke atas. Debaran kencang jantung Gadis belum mau berhenti. Dimulai dari Juara Harapan II, Juara Harapan I, Juara III dan seterusnya. Pelan-pelan, satu persatu nama disebut, menciptakan atmosfer ketegangan di seluruh ruangan. Pembawa acara sudah mulai membacakan Juara III. Jantung Gadis semakin gemuruh. Dia sangat bertekad menjadi Juara I, bukan II, bukan III. Ia ingin sekali mewakili Indonesia dalam kontes The Queen of Beauty.

“Juara III….,” pembawa acara berhenti sejenak, kemudian berujar, “diwakili dari Jawa…,” katanya diam lagi, melirik peserta-peserta dari Jawa. Peserta DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta terlihat harap-harap cemas namanya disebut. “Tepatnya dari Propinsi… DI Yogyakarta!” setengah berteriak, menggemuruhkan seluruh penonton di studio. Dengan lantang dia melanjutkan, “Gadis Amalia Sekar…! Silakan maju ke depan.”

Gadis serasa lemas. Antara bahagia dan kecewa bercampur jadi satu. Dia pun segera maju menerima piala dan hadiah-hadiah lainnya yang menggiurkan dan terasa glamour. Hadiah-hadiah diterima dengan senyum. Belum benar-benar lapang dadanya bila belum mengetahui siapa Sang Juara, sang Gadis Indonesia.

“Silvanka Vivienna….! Silakan maju ke depan,” pembawa acara membacakan nama Sang Juara. Gadis melirik papan billboard, melihat perolehan skor Silva dalam tiap sesi. Sesi pemotretan menempati urutan tertinggi dengan nilai 876, hasil dari penilaian sepuluh juri. Selain sesi pemotretan, ternyata pada sesi lainnya Silva hanya menduduki peringkat-peringkat di bawah Gadis walaupun masuk sepuluh besar, maksimal dua puluh besar. Tes kemampuan bahasa Inggrisnya payah sekali dan kemampuan orasinya juga rendah. Banyak kata-kata sama yang digunakan. Kemampuan diskusinya juga tak terlalu bagus mengingat Silva lebih banyak diam daripada mengeluarkan pendapat. Seperti apapun Gadis membandingkannya, orang-orang di Indonesia tetap memilihnya. Semua itu tak mengubah keputusan final.

“Silakan Gadis Indonesia 2006, Preeta Shentya memberikan mahkota kebesaran kepada Gadis Indonesia 2007, Silvanka Vivienna,” pembawa acara masih membacakan urutan acara, sementara perlahan-lahan Gadis tak sanggup menahan bulir-bulir air mata yang mulai berjatuhan di pipinya menghapus bedak dan juga kemerlap glitter yang menempel pada bawah matanya.

***

Apa yang kamu ketahui tentang perdamaian? Apakah perdamaian adalah salah satu pihak menang dan yang lain mengalah? Bukankah dalam perdamaian tak ada menang dan kalah? Bisakah kamu memahami hal itu? Hanya bermodalkan wajah yang molek dan tubuh langsing kamu tak bisa mengerti arti perdamaian. Kamu hanyalah robot cantik yang dengan patuh melaksanakan misi perdamaian versi orang-orang ‘yang di atas’. Kamu bahkan tak tahu apa-apa mengenai perdamaian. Kamu hanya tahu cantik. Kamu hanya tahu merawat wajah, badan, rambut, kaki dan kukumu, bukan merawat wajah dunia dengan damai. Pikiran-pikiran berkecamuk dalam benak Gadis saat menyaksikan The Queen of Beauty yang disiarkan secara langsung di teve. Silvanka mewakili Indonesia maju dalam kontes itu. Dia sungguh kesal dan dongkol.

Saat itu Gadis tak lagi percaya tagline kontes kecantkan macam itu yang menyebut: Wanita tak hanya cantik, tapi juga punya kemampuan akademik yang memadai, kemampuan bersosialisasi dan berorganisasi. Kalau betul begitu, mengapa mesti ada sesi pemotretan dengan bikini? Apa hubungan bikini dengan perdamaian? Mengapa yang dipilih justru yang cantik dan bukan yang berbakat dan berkemampuan? Gadis semakin kecewa saat Silvanka terpilih menjadi nominasi, masuk dalam sepuluh besar wanita-wanita cantik sedunia.

“Wanita tak hanya cantik, tapi juga punya kemampuan akademik yang memadai, kemampuan bersosialisasi dan berorganisasi” memang hanyalah sebuah embel-embel karena yang terpenting memang hanya cantiknya saja. Yang lain hanya turut mendukung kecantikan tersebut, mem-blow up agar cantik terlihat semakin bersinar. Cantik memang hanya cantik…

*selesai*

3 Responses to “Cantik”

  1. on 06 Nov 2007 at 11:15dee

    kecantikan tidak dapat hanya dilihat dari penampilan luarnya saja tetapi mempunyai hati nurani yang baik..karena penampilan seseorang bisa menipu keadaan aslinya..

  2. on 08 Nov 2007 at 18:58rakhma

    setuju!!!

  3. on 12 Nov 2007 at 21:37Mariani Tri Agustina

    woww!! keren nih, sesuai realita banget, hehehe.. salut bw keberaniannya!

Tinggalkan Komentar