War In The Exam
November 4th, 2007 by Lia
Hai, namaku Vian Septriani. Aku murid kelas tiga SMA Bintang Jaya yang sebentar lagi akan menghadapi ujian kelulusan dan ujian masuk universitas. Bukannya nyombong, tapi aku ini murid yang cukup bisa dibanggakan oleh sekolah lho! Setiap kenaikan kelas, pasti aku nggak jauh dari peringkat tiga besar. Sst, tapi ini semua sebenarnya ‘berkat’ seseorang.
Siapa? Bukan, bukan guru les, atau temen, atau pacar yang pinter ngajarin pelajaran. Dukun? Ehhh! Itu
kan nggak boleh! Terus siapa? Jawabannya, adalah Leo Chandra Wiratna, teman sekelasku, sekaligus sebangkuku tiga tahun berturut-turut(kok bisa ya? Mungkin karena tempat duduk selalu ditentukan urutan absen). Bukan, bukan, dia bukan cowokku. Jangan curigaan dulu dong! Gimana ya jelasinnya? Gini, sebenarnya waktu kami pertama masuk di kelas satu, aku nggak ada apa-apanya dibanding sama Leo!
Memang bukan berarti prestasiku buruk, tapi jadi sekedar lumayan saja nggak cukup bagiku, yang berasal dari keluarga kurang mampu dan mengincar program beasiswa. Minimal supaya jangan sampai Adit dan Aditya, adik kembarku jangan sampai ada yang nggak bisa sekolah, karena uangnya habis untuk bagianku! Begitulah kata Bapak dan Ibu. Apalagi mereka mengharapkan aku menjadi pengacara. Supaya bisa membela rakyat kecil seperti kami!
Nah, kembali ke cerita, sampai pertengahan semester satu, aku sudah stress banget! Karena bagaimanapun aku berusaha, tetap saja nggak bisa menyaingi Leo dan murid-murid papan atas lainya. Tapi, ternyata Tuhan masih sayang sama aku. Mendadak saja nilai Leo tururn drastis jadi biasa-biasa saja! Menurut teman-teman sih karena sekarang dia sedang memfokuskan diri ke piano. Kabarnya orangtua Leo musikus terkenal, yah, buah nggak jatuh jauh dari pohonnya ’
kan?
Singkatnya, gara-gara itu pula aku jadi mampu menggantikan posisi Leo di peringkat atas. Jujur aja aku ngerasa nggak enak. Habis itu namanya bukan hasil kerjaku sendiri
kan? Namun semuanya berkat sainganku yang mundur! Tapi akhirnya aku merasa kalau rasa bersalahku itu sia-sia saja. Toh, bukan mauku nilai Leo turun, orangnya juga sama sekali nggak kelihatan peduli. Dan memang Leo nggak membutuhkan peringkat itu atau beasiswa. Masa depannya yang terang-benderang sudah terjamin.
Jadi mestinya, aku bakal dengan lancar lulus dari SMA dengan gilang-gemilang, dan seusai dengan rencanaku menuju masa depan yang juga cerah. Tapi, tetap saja aku nggak boleh lengah, dan aku harus bekerja keras agar semuanya terjamin. Dan aku yakin banget kalau kerja kerasku ini bakal membawa hasil yang sepantasnya!
Yahhh, mestinya sih begitu…..
SMA Bintang Jaya sebulan sebelum ujian nasional.
“Vian, coba kalau soal nomor tujuh belas kamu cari perbandingannya!” suruh Bu Siska, guru Mat.
“Tujuh belas….” gumamku lirih. Otakku kosong sekali rasanya, mataku bahkan terlalu berat untuk membaca soalnya.
“Satu banding sepuluh,” bisik Leo.
“Eh, kamu!” bentakku pelan.
“Vian?” tanya Bu Siska.
“Satu banding sepuluh, Bu,” akhirnya aku terpaksa menjawabnya.
“Ya, benar. Mengapa bukan satu banding dua? Soal ini…..”
Aku sudah sibuk marah-marah sendiri di dalam hati sampai tak menghiraukan lagi penjelasan Bu Siska. Marah pada diriku sendiri yang tak berguna, marah pada soal mat yang tak dapat kukerjakan padahal kelihatan gampang, dan juga marah pada Leo! Padahal selama ini aku bersyukur sekali padanya karena dia sudah merelakan tempatnya padaku(biar dia nggak sengaja ngelakuinnya sih). Iya, ya, padahal aku tadi juga dibantu sama dia, kok aku malah marah? Mungkin karena harga diriku meningkat selama dua tahun ini, somehow….
Pokoknya aku nggak mau menerima bantuan dia lebih dari ini! Nggak lagi! Sekarang aku sudah berbeda, aku sudah lebih percaya diri sama kemampuanku, otakku juga sudah meningkat dibanding dulu. Seharusnya aku nggak usah dibantu juga pasti bisa, kalau aku mau berusaha, tapi… Ahh! Kok aku nggak berdaya banget sih!
Kejadian seperti ini bukan cuma sekali ini, tapi sudah berbelas-belas kali. Sedikit-sedikit Leo membisikkan jawaban padaku, bahkan di ulangan pun dia mencoba untuk melakukan hal yang sama(Tenang, yang ini nggak kuterima. Kalau nggak aku bakalan bunuh diri gara-gara menyesal). Sebenarnya ada apa sih dia mendadak jadi simpatik banget sama aku? Apa karena akhir-akhir ini aku kelihatan kurang tidur makanya tampangku kelihatan menyedihkan banget, dan seperti pengemis minta pertolongan?
Apa boleh buat kalau begitu! Soalnya, selain belajar, aku juga harus bantu-bantu Ibu sama Bapak. Ngurus si kembar, bantu ngerjain pekerjaan rumah tangga sama order jahitan Ibu. Akibatnya aku jadi kelelahan dan sering bangun telat.
Tapi bantuannya itu malah membuatku tambah stress dan emosional. Atau seperti kata Ibu, sifatku itu yang memang terlalu lurus dan harga diriku ketinggian. Yang mana juga boleh deh! Pokoknya Leo mesti berhenti!
“Leo, sori ngeganggu lu, boleh gua bicara sebentar?” akhirnya kuberanikan juga mengungkapkan isi hatiku.
“Ha? Soal?” tanyanya sambil memalingkan wajah dari bukunya dengan santai.
“Soal sikap lu yang akhir-akhir ini berlebihan sama gua,”
“Oh, soal jawaban. Nggak perlu terima kasih kok, gua cuman iseng,”
“Justru sebaliknya, gua ngerasa ini ngeberatin gua,”
“Kok?”
“Jujur aja, gua tahu mungkin gua kelihatan menyedihkan banget akhir-akhir ini, dan elu berniat baik menolong gua sebagai temen. Tapi gua nggak membutuhkan semua itu! Ngerti? Yang elu lakuin cuma nyiksa gua dengan rasa kesal akibat ketidakmampuan gua!”
“Oke, sori. Gua nggak bakal ngelakuinnya lagi,” jawabnya simpel seraya kembali memfokuskan diri pada buku.
“Yang bener?” tanyaku ragu.
“Iya, tenang aja!”
Rasanya aku menjadi lega, tapi aku sedikit merasa bersalah karena mungkin sikapku padanya sedikit kasar. Mungkin dia melakukannya karena nggak tahu sifatku yang terlalu ‘lurus’. Apa dia tersinggung ya? Ah, sudahlah….
Malam harinya
“Vian, kamu udah pulang toh,” sapa Ibu saat aku memasuki rumah.
“Iya, Bu. Maaf telat,” jawabku lesu. Badanku pegal sekali rasanya setelah mengikuti pelajaran tambahan untuk persiapan ujian di sekolah. Belum lagi aku harus pergi ke rumah Tono untuk menyelesaikan tugas kelompok. Capek deh!
“Nggak apa-apa. Eh, Vi, kamu bisa bantu Ibu ngirim jahitan ini ke rumah Bu Wita? Ibu mesti jagain si kembar, mereka ’
kan lagi masuk angin,” pinta Ibu.
“Aduh, Bu! Ini ’
kan udah jam delapan malam! Nggak bisa besok aja?” rengekku.
“Nggak bisa, Vi. Emang tuh, si Bu Wita ceroboh banget orangnya! Dia bilang nggak apa-apa kalau baju batiknya dikirim besok. Eh, mendadak dia telepon, bilang kawinannya ini malem!” tutur Ibu kesal.
“Emang Bapak ke mana?” tanyaku kesal. Bapaklah yang sebenarnya bertugas mengirim orderan ke tempat pelanggan.
“Lagi ngopi di warung Pak Mamad. Belum pulang dari tadi! Dia dan teman-teamnnya pasti keasyikan ngobrol,”
Please deh~!! Masa’ orangtua santai-santai ngopi sementara anaknya kerja paksa? Yang bener aja! Nggak kebalik?! Tapi kupandang wajah Ibu yang memelas, dan akhirnya… aku kalah. Wajarlah kalau Ibu nggak kuat nganterin barang itu. Si kembar memang suka rewel sampai Ibu kewalahan, apalagi mereka lagi sakit, parah deh! Bapak juga perlu istirahat setelah seharian kerja keras. OKE DEH! Aku nggak mau jadi anak durhaka!
Jadi dengan berat hati dan kaki aku melangkah menuju rumah Bu Wita, yang jaraknya bagaikan dari Sabang sampai Merauke… berjajar pulau-pulau. Sebenarnya aku udah siap meledak waktu sampai ke rumahnya. Tapi lagi-lagi, melihat Bu Wita yang minta maaf berulang-ulang dan memberiku uang tambahan, aku hanya bisa melemparkan senyum palsu. Hahihuheho…… serius, dongkol banget! Mana pas pulang abang-abang tukang ojek genit yang lagi pulang ke sarang pribadi pada ngeluarin rayuan gombal lagi! Idihhh!
“Nih, Bu. Duitnya,” ucapku lesu sewaktu akhirnya sampai di rumah. Langsung aku membaringkan diri di kursi kayu tua. Nggak seempuk sofa di rumah Tono memang, tapi tetap aja nyaman.
“Lho, kok ada lebih?”
“Katanya sih uang bela sungkawa buat kaki pegel Vian, Bu!”
“Hush!” tegur Ibu, tapi beliau tersenyum menanggapi candaanku. Lalu ia mengulurkan uang lebih itu padaku.
“Ah, nggak usah deh Bu. Ibu dan Bapak ’
kan perlu uang itu. Kebutuhan Vian udah cukup banget kok, nggak perlu duit jajan lagi!”
Senyum Ibu semakin lebar. “Memang hebat anak Ibu, dewasa benar jalan pikiran kamu! Nggak kayak remaja-remaja seumurmu yang tahunya belanja teruuus. Lihat aja, kalau sudah kerja nanti, pasti kamu bakal jauh lebih sukses daripada teman-temanmu!”
“Ah, Ibu bisa aja,” Aku tersipu malu. Senang juga rasanya dipuji.
“Kamu juga pasti berhasil mendapat beasiswa itu! Oh iya, ngomong-ngomong soal beasiswa, kamu nggak pergi mandi terus belajar buat jatah malam?”
GUBRAKK!!
Pulang sekolah
“Vian, perpustakaannya mau Ibu tutup lho. Soalnya sekarang sudah waktunya Ibu makan siang,” tutur Bu Sukma, pengurus perpustakaan.
“Nggak apa-apa kok, Bu! Kunci aja, aku nggak bakal ngelakuin yang aneh-aneh deh!”
“Yaah, kalau Vian sih Ibu percaya. Ya udah, Ibu tinggal dulu ya!”
“Ya, Bu!”
Aduh, tenangnya. Jujur aja, walau dari tadi aku menterengin buku kamus rumus-rumus Fisika, nggak satupun yang masuk ke otakku. Aku terlalu capek! Jadi perpustakaan yang ber-AC merupakan tempat yang patut direkomendasikan untuk melepas lelah sejenak. Yup, waktunya tidur sampai Bu Sukma balik!
“Hai.”
“Hiyaa!!!” Aku refleks berdiri.
“Nggak usah sampai begitu kali!” protes seseorang yang sukses kubuat pekak. Ternyata itu adalah…..
“Oh, elu Le,” kataku sambil kembali duduk seanggun mungkin. “Gua kayaknya nggak ngelihat lu tadi.”
“Ya iyalah, gua di belakang, tidur!” Dia menunjuk ke belakang lemari kamus Bahasa Inggris.
“Lu lagi ngapain? Lu nggak sering kemari ’
kan? Gua jarang lihat lu.”
“Iseng. Sekalian gua lagi nyari buku horor yang bagus,” jawabnya santai.
“Horor? Wah, nggak nyangka! Lu ternyata suka yang serem-serem.”
“Emang cuma bercanda! Gua kemari buat nyari inspirasi,” terangnya sambil menunjuk tumpukan kertas nggak jelas di tangan kirinya.
“Apaan tuh?” tanyaku penasaran. Sebenarnya aku lebih penasaran dengan sikapnya. Ternyata dia bisa bercanda juga(jayus sih). Padahal biasanya sikapnya dingin banget, lebih tepatnya cuek deh!
“Rahasia!”
“Yeee! Kalau begitu ngapain dikasih lihat ke gua?!”
“Nggaklah, bercanda. Ini lagu buatan gua sendiri. Nada-nadanya sih udah jadi, tinggal syairnya doang yang kurang pas. Makanya gua kemari.”
“Emang bisa dapat syair yang bagus di sini?”
“Ya, gitu deh! Buat setiap orang, pasti ada tempat-tempat tertentu yang memancing inspirasi dan ide-ide bagus. Kalau buat gua, di perpustakaan!”
“Lho, kalau begitu kenapa ini pertama kalinya gua lihat lu di sini?”
“Biasanya gua ngerjainnya di perpustakaan bokap. Tapi sekarang tempatnya lagi direnovasi. Katanya mau dibikin kedap suara atau apa gitu. Jadi gua lari ke sini deh!”
Dasar orang kaya!
“Emang lagunya soal apa? Mungkin gua bisa bantu nyariin lu kata-kata bagus. Gini-gini gua ’
kan kutu buku! Jadi tahu banyak kata-kata bagus!” tawarku.
“Nggak deh, tapi thanks. Soalnya gua mau nyelesain semuanya sendiri, kayak elu!”
Aku tertegun mendengar jawaban itu. Aku mendadak teringat rasa bersalah yang sebenarnya masih terpendam di hatiku sampai sekarang.
“Eh, Le. Maaf ya waktu itu! Gua akuin kalau gua emang orangnya agak ngeselin.”
“Nggak kok, justru gua yang salah. Tapi serius, gua kagum, ama sifat lu yang tegas.”
“Iya dong, calon pengacara masa depan nih!” candaku.
“Pengacara?”
“Iya, itu cita-cita gua. Memang pertama-tama sih nyokap-bokap yang mau, tapi lama-lama ketanam juga di benak gua. Pasti asyik bisa adu mulut sama tukang bikin dosa, buat ngebela orang bener!”
“Ohh..”
“Persis elu ’
kan?”
“Apanya?”
“Bukannya elu mau jadi pianis gara-gara ortu-lu yang mau? Tapi pasti elu lama-lama juga jadi suka ama jalan itu, kelihatan tahu!”
“………………” Dia hanya diam saja.
“Yahh, gua emang nggak tahu banyak soal lu, tapi gua tahu kalau hasrat kita untuk mencapai cita-cita sama. Buat lu, lu mesti rajin latihan supaya jadi pianis yang hebat. Kalau buat gua, gua mesti belajar keras supaya gua dapet beasiswa.”
“Beasiswa? Jadi selama ini lu belajar keras demi itu?”
“Ya iyalah! Keluarga gua ’
kan kurang mampu, apalagi gua masih punya dua adik kecil yang masih perlu biaya besar untuk sekolah.”
“Akhirnya gua tahu…..”
“Apanya? Alasannya?” tanyaku heran.
“Iya. Dan satu hal lagi, gua suka lu.”
“Hah? Becanda lagi? Nggak lucu deh.”
Aku tertawa sejenak. Diantara tiga leluconnya tadi, yang ini yang paling lucu. Tapi kulihat wajahnya baik-baik, kali ini dia nggak tampak main-main. Tatapan matanya tajam dan membuatku sedikit seram.
“Oi, Non. Lu jangan bikin gua takut gitu dong,” pintaku ragu.
“Nggak, kali ini gua nggak bercanda sama sekali. Dari kita kelas satu, gua udah suka sama lu. Gua sama lu-nya aja yang nggak nyadar,” terangnya perlahan-lahan.
“Gimana ceritanya?” tanyaku sambil tetap berusaha santai.
“Pas pertama gua ketemu lu sih emang nggak ada reaksi apa-apa. Cuma pas gua ngelihat lu kerja keras buat nyaingin gua dan anak-anak pintar lainnya, entah kenapa gua merasa tersentuh. Mungkin itu karena selama ini gua selalu cuek sama impian gua, yang waktu itu belum gua suka. Tapi begitu ngelihat elu, gua jadi merasa bersalah. Seharusnya, elu-lah yang berhak menempati posisi juara, bukan gua yang cuma main-main. Sejak itulah gua…..”
“Tunggu, tunggu! Itu artinya elu emang sengaja ngalah sama gua, begitu?!” amukku.
“Nggak, waktu itu gua…” ucap Leo terbata-bata.
Aku bener-bener nggak bisa mengontrol amarahku. Aku memang dan bersyukur kalau mundurnya rangking Leo adalah suatu kebetulan dan keberuntungan bagiku. Tapi kenyataan bahwa Leo sengaja mengalah membuatku merasa terhina. Aku nggak butuh simpati semacam itu!
“Jujur aja, gua nggak peduli lu cinta ama gua atau apa! Simpan aja buat dirilu sendiri! Gua nggak bakal lagi mau nerima belas kasihan dari lu! Apa menurut lu gua nggak bakal bisa kalau nggak dengan bantuan lu?!”
“Vi, gua cuma….”
“Cuma apa?!” tanyaku galak.
“Gua cuma pingin ngeliat wajah gembira lu sewaktu elu mendapatkan apa yang elu inginkan. Kayak waktu elu dipuji guru atau dapet peringkat tinggi di kelas. Karena gua suka banget sama elu yang lagi kayak begitu…..”
Mimiknya saat mengatakan hal itu kelihatan seperti anak kecil yang benar-benar terluka. Dia mengingatkanku ada Adit dan Aditya saat mereka dimarahi karena menarik-narik jemuran Ibu sehingga jatuh dan kotor. Padahal yang mereka inginkan hanyalah membantu Ibu sebisa mungkin.
Tapi kali ini simpatiku tak bisa memadamkan api kemarahan yang merah membara dia dalam hatiku.
“Eh, ada… siapa namanya? Oh iya, ada Leo juga toh! Kok Ibu nggak sadar ya kamu masuk?”
Kami berdua tertegun akan kehadiran Bu Sukma yang ternyata sudah kembali dari kantin. Aku buru-buru mengembalikan buku rumus Fisika itu ke terdekat dan kabur keluar. Aku nggak ingin mendengar sepatah katapun lagi dari Leo, tidak!
Di rumah
“Vian, udah selesai belum belajarnya? Kalau sudah, tolong ke warung Bu Inah, sabun mandi kita sudah habis tuh!”
Aku tidak menggubris permintaan Ibu. Aku terus-menerus menulis kalimat-kalimat kebencian unuk Leo dalam Bahasa Inggris, sehingga Ibu tak bisa mengerti artinya.
“Eh, Vian. Apaan sih yang kamu tulis itu? Fooolll….. man…..? Ha…te….? Salesman sate, atau salesman Hape?” canda Ibu.
Aku tetap diam merengut. Ibu langsung tahu kalau ada yang nggak beres.
“Kenapa Vian? Kamu sakit? Atau ada masalah di sekolah? Nilaimu bagus-bagus aja ’
kan?” tanyanya cemas sambil membelai lembut rambutku.
“Yang Ibu khawatirin cuma nilaiku?”
“Apa Vian?”
“Kalau begitu nggak masalah kalau otakku meledak yang penting rapotku bagus?!” teriakku histeris.
“Vian! Kamu ini kenapa sih, Nak?” timpal Ibu terkejut.
“Ibu nggak bakal ngerti! Selama ini Ibu cuma menyuruh Vian kerja paksa buat menjamin masa depan keluarga, nggak mikirin apa Vian capek atau enggak menghadapi semua beban itu. Mungkin di mata Bapak dan Ibu, Vian ini anak sempurna yang hebat dan bisa diandalkan. Dan Vian akui, Vian memang pengen jadi seperti itu supaya kalian bangga! Tapi Vian tetap cuma remaja biasa, Bu! Vian capek!” omelku tanpa henti.
Akhirnya semua kekesalan yang terpendam di hatiku selama ini keluar semua. Sekarang aku tahu apa penyebab aku merasa amat tertekan. Aku tahu mengapa aku tak bisa konsentrasi ke pelajaran. Karena hatiku sendiri merasa sangat lelah. Aku bukannya tak mau mengemban semua tugas yang mereka berikan ke pundakku. Hanya saja aku ingin, walau hanya sebentar saja, aku diberi waktu beristirahat, dan menikmati hidupku tanpa perlu buru-buru melaju ke depan.
“Bu, Mbak Vian kenapa? Kok teriak-teriak?” tanya Adit yang mendadak masuk ke kamar sambil menggengam tangan Aditya, adiknya.
“Nggak apa-apa kok sayang. Tinggalin Mbak Vian sebentar ya, dia lagi sibuk, jangan diganggu!”
Lalu Ibu bersama si kembar keluar dari kamar. Aku melempar diriku ke ranjang dan mulai menangis sekencang mungkin. Aku sudah tak peduli lagi apa pendapat keluargaku soal diriku. Aku hanya ingin sendiri, dan merasa tenang untuk yang pertama kalinya sejak aku masuk SMA.
Aku nggak tahu berapa lama aku menghabiskan waktu untuk menangis dan tidur setelahnya. Yang jelas, aku merasa kalau kedua mataku sakit banget waktu membukanya. Kusibak korden dan kulihat bahwa ternyata hari sudah malam. Perutku mulai terasa lapar tapi aku takut untuk keluar.
Bagaimana aku harus menghadapi Ibu dan Bapak setelah semua yang kukatakan barusan? Bahkan mungkin Bapak akan menamparku kalau aku keluar dari kamar dan mengataiku anak durhaka. Walau selama ini aku belum pernah mendapat sedikitpun omelan darinya, karena aku ‘anak andalannya’. Tapi aku tahu kalau Bapak bukan orang yang segan memakai kekuatan untuk orang yang dia anggap memerlukannya.
Jadi aku duduk saja di ranjang sambil termenung dalam diam. Setelah menangis pikiranku tampaknya mulai menjernih. Aku mulai memikirkan tentang semua hal yang kumiliki di luar rumah. Karena mengingat aku terkunci dalam kamarku sendiri saja sudah membuatku merasa semakin ngeri.
Aku mengingat sekolah, guru-guru yang lucu, atau yang killer. Temen-temen yang lucu-lucu dan kocak, walau agak bokep kadang. Dan aku jadi tersenyum-senyum sendiri, kayak orang gila, malah setelah itu air mataku perlahan mengalir kembali.
Lalu Leo, aku teringat tentang Leo. Semua kata-kata yang diucapkannya tadi, sekaran entah kenapa terasa manis dan menghangatkan. Aku memeluk lututku sambil mengenang semua ucapannya, sampai titik komanya kuingat semua dengan detil! Lalu aku kembali menangis dan tersenyum sendiri sambil menundukkan kepala dalam-dalam. Begitu terus dan menerus, sampai akhirnya kudengar Ibu mengetuk pintu.
“Vian, Ibu bawakan makanan nih! Kamu nggak lapar?
Ada cah kangkung pedes sama telur mata sapi kesukaan kamu lho!” seru Ibu dari balik pintu.
Pertama aku ragu membukakan pintu(aku benar-benar menguncinya lho!). Tapi mengingat setiap saat Bapak bisa saja mendobrak masuk dan melabrakku, aku jadi takut. Akhirnya dengan hati-hati kubukakan pintu untuk Ibu.
“Nih, Ibu taruh ya nampannya di meja. Harus dimakan lho! Kalau nggak kamu bakal sakit nanti!” tutur Ibu santai sambil menaruh nampan berisi makanan dan minuman di atas meja belajarku.
Aku hanya terdiam tanpa mengucapkan apapun. Aku merasa menyesal sekali sudah mengucapkan kata-kata yang begitu kasar pada Ibu. sementara beliau tidak marah dan bahkan berlaku seolah tak ernah terjadi apapun. Padahal aku yakin bahwa dia pasti sakit hati.
“Ibu tinggal dulu ya, Vi! Makan ya, habis itu ke ruang tamu. Kita kumpul-kumpul sekeluarga sambil nonton TV!” kata Ibu.
“Bu, maaf ya Bu….” Akhirnya aku membuka mulut juga. Tapi aku tak yakin Ibu mendengarnya sebab dia langsung berlalu pergi. Pasti suaraku terdengar begitu lirih.
Pelan-pelan aku menghabiskan makananku. Tapi bibirku terasa kering sehingga rasanya nggak seenak biasanya. Terlebih lagi, aku takut menghadap Bapak. Namun aku harus menghadapinya cepat atau lambat. Aku harus mempertanggungjawabkan apa yang kuucapkan dan kuperbuat.
Kubawa piring itu ke dapur, lalu kucuci sampai bersih. Perlahan-lahan tapi pasti, aku melangkah ke ruang tamu.
“Bu, Pak,” sapaku pelan.
Bapak dan Ibu sedang asyik duduk di kursi kayu tua kami. Sedangkan si kembar lebih memilih duduk di lantai .
“Sini-sini! Tuh, “Wulan”-nya sudah mulai dari tadi,” ajak Ibu.
“Iya, duduklah Vi! Kamu mau ketinggalan? Kali ini ceritanya seru lho!” tutur Bapak.
Aku heran karena semuanya tampak normal saja. Apa Ibu belum memberitahu Bapak soal kejadian tadi? atau kejadian tadi hanyalah mimpi? Atau malah jangan-jangan sekarang ini aku sedang bermimpi?
“Kenapa Mbak? Ayo duduk!” kata Adit.
“Iya nih, Mbak dari tadi sore aneh!” timpal Aditya.
Aduh, Aditya! Aku jadi kesal dan kagok gara-gara kepolosannya itu. Gimana kalau ternyata Ibu sengaja nggak memberitahu Bapak soal tadi sore? Kalau benar begitu, pasti Bapak bakal bertanya-tanya ada kejadian apa. Soalnya dari perkatan si kembar tadi pula aku tahu bahwa sekarang dan kejadian tadi sore bukanlah mimpi.
Tapi Bapak dan Ibu tetap santai-santai saja. Namun waktu aku duduk Bapak membuka mulut untuk memulai pembicaraan. Dalam sekejap, aku pikir tamatlah aku!
“Vian, Ibu sudah cerita sama Bapak semuanya soal keluhan kamu. Dan setelah kami pikir baik-baik, mungkin kamu memang benar. Kami terlalu memaksa kamu untuk menjadi sesuai kehendak kami. Maafkan kami, Vian. Bapak sama Ibu bukan orangtua yang baik. Kami nggak bisa menyadari bahwa sebenarnya kamu nggak sanggup menangani sekolah dan pekerjaan rumah sekaligus. Tepat seperti yang kamu bilang.”
“Nggak kok, Pak! Vian nggak bermaksud mengatakan itu semua. Vian cuma sedikit capek! Bapak dan Ibu nggak salah!” kilahku, walau aku tahu sebenarnya itu tak benar. Tapi aku tak mau melihat kedua orangtuaku bersedih hanya karena aku mengutarakan isi hatiku secara berlebihan.
“Nggak Vian, kamu nggak perlu lagi menipu diri kamu sendiri. Yang Bapak sama Ibu mau sampaikan adalah, kamu boleh-boleh saja beristirahat sejenak kalau kamu merasa nggak mampu. Karena kami nggak akan memaksa kamu lagi melakukan apapun demi keluarga ini. Toh, memang sebenarnya memenuhi kebutuhan keluarga adalah kewajiban Bapak sebagai orangtua. Tapi malah hal itu Bapak limpahkan ke kamu!”
“Tapi Pak, Vian senang kok! Vian juga pingin membantu mengurus kebutuhan keluarga!”
“Sekarang kamu nggak perlu khawatir soal itu Vian,” timpal Ibu.
“Emang kenapa Bu?”
“Bapak baru saja dapat pekerjaan baru. Dia bakal jadi supir buat seorang direktur yang cukup kaya. Rupanya Bapak selama ini minta dicarikan pekerjaan oleh teman-temannya yang sering ikut nongkrong di warung! Nah, temannya Bapak ada yang mau pulang kampung ke
Medan, jadi dia meminta Bapak untuk menggantikan posisinya!” jawabnya riang.
“Wah! Bagus dong, Pak! Bapak ’
kan pernah kerja jadi supir sebelum bantu Ibu nganter jahitan! Jadi Bapak pasti bisa ngelakuin pekerjaan yang satu ini!” seruku gembira. Adit dan Aditya ikut-ikutan meramaikan suasana dengan menarikan tarian Indian. Wuwuwuwuwu~!
“Jadi mulai sekarang kamu nggak perlu terlalu khawatir lagi, Vi! Kamu bisa sedikit santai karena apapun hasil ujianmu, Bapak akan menyekolahkanmu ke Universitas yang bagus, walau tanpa beasiswa!” tutur Bapak ikut bersemangat.
“Iya, Pak! Aku bakal jadi pengacara yang hebat! Yang nggak mau terima korupsi!” balasku yang ikut terbakar.
Suasana rumah kami ramai sekali malam itu. Entah sudah berapa lama aku tak merasakan hal ini terjadi di rumah kami. Sekarang setelah beban lepas dari punggung, aku justru semakin bersemangat dan semakin yakin bahwa aku bisa melakukannya. Pasti deh! Jamin!
Keesokan harinya, di sekolah
Setelah menarik napas berulang-ulang bagaikan penderita asma, aku mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Leo.
“Leo, sori ngeganggu lu, boleh gua bicara sebentar?”
“Lagi? Eh, maksud gua, boleh! Sori, soalnya cara ngomong lu sama persis kayak yang waktu itu!”
“Gua mau nyampein tantangan ke elu!”
“Hah?”
“Leo, dalam Ujian Nasional, Ujian Akhir Sekolah, Ulangan Umum Kelas Tiga, dan Ujian Praktek, gua nantang lu agar kita berlomba sungguh-sungguh untuk meraih nilai yang bagus, gimana?”
“Hah?”
“Kalau gua yang menang, lu harus janji untuk membuatkan satu lagu untuk gua, dalam jangka waktu satu hari satu malam.”
“Hah? Maksud gua, gua nggak mungkin bisa ciptain lagu cuma dalam satu malam!”
“Kalau elu yang menang, gua mau jadi cewek lu. Selama nggak ngeganggu belajar gua!”
“Serius lu?!”
“Nggaaak~! Ya serius lah! Tapi syaratnya, kita mesti main fair. Nggak ada nyontek-nyontekan, soal bocoran, apalagi ngalah-ngalahan!”
“Oke deh! Janji siswa! Sumpah pramuka! Ikatan mafia!”
“Apaan tuh?”
Mungkin kalian bertanya-tanya ngapain juga aku bikin perjanjian kayak begini. Eiit! Jangan salah, aku bukannya suka sama Leo lho(belum, mungkin)! Tapi aku sudah menemukan cara yang tepat untuk menstimulasi otakku dan menang secara jujur dan adil untuk mendapat peringkat terbaik! Yaitu menjadikan Leo rival abadiku. Yah, nggak selamanya sih. Cuma sampai kami lulus doang memang.
Tapi dengan begini, aku bisa merasakan serunya persaingan sejati. Nggak ada lagi kemujuran atau simpati. Cuma mengerahkan kemampuan masing-masing. Seperti yang bakal kulakukan saat aku jadi pengacara nanti.
Nah, sebenarnya aku pingin simpan ending cerita ini, biar kalian penasaran. Tapi, itu pasti bikin kalian kesal. Coba tebak siapa yang menang? Aku dong! Yahh, memang sih aku masih kalah dengan… Grrr! Dua anak jenius lainnya yang namanya enggan kusebutkan sampai akhir! Tapi tetap saja aku dapat beasiswanya biar hampir di ambang-ambang. Amin!
Gimana dong si Leo? Kami sampai sekarang masih suka ketemu, kok. Orang satu universitas! Cuma beda jurusan aja! Ohh, hukumannya? Dia ngelaksanain sih, tapi dia cu-rang. Soalnya dia nggak perlu repot-repot bikin lagu dengan SKS(Sistem Kebut Semalam). Karena lagu yang dia bawa di perpustakaan itu emang dia khusus dedikasikan untuk aku. Pantesan aku nggak boleh lihat!
Sayang aku nggak jadi pacaran sama dia? Yahh, emang dia agak kecewa sih. Tapi dia kayaknya nggak se-desperate itu deh! Lagian mau nggak mau kayaknya aku bakal jadian juga sama dia. Akhirnya tiba juga saatnya mengakui pada kalian semua kalau aku mulai suka sama dia. Tapi untuk sementara begini aja dulu deh!
Keluargaku?
Ada yang penasaran juga ternyata. Baik-baik saja. Bapak tampaknya menikmati sekali pekerjaan barunya, dan usaha jahit-menjahit Ibu semakin terkenal. Adit dan Aditya, si kembar yang manis sudah siap masuk SD tahun ini(nggak sabar melihat mereka pakai seragam)! Jadi, bisa kalian perkirakan ’
kan bagaimana keadaan keuangan kami sekarang? Kapan-kapan coba mampir deh, buat nyicipin kangkung pedes termashyur buatan Ibu! Kami sekeluarga bakal nyambut kalian semua dengan sederhana dan hangat!
Nah, buat penutup, aku bakal memperlihatkan lagu yang udah dibuatkan sama Leo untukku. Nggak nyangka ternyata lagunya cukup pendek lho! Pakai Bahasa Indonesia lagi! Padahal seingatku dia megang kertas setumpuk pas di perpustakaan. Tapi maaf ya kalau cuma syairnya saja. Lagian aku cuma ingat syairnya doang dan kurang ahli dalam not-not nggak jelas. Aku sendiri baru mendengar dari mulut Leo langsung. Dan kalau boleh jujur suaranya emang kurang…. padahal dia calon pianis, lho! Tapi aku berharap suatu hari nanti dia bakal memainkan lagu itu di piano untukku.
Dan kalau ada yang bingung sama sikap Leo yang sebenarnya, lucu atau cool, aku udah tahu jawabannya. Ternyata sikap aslinya Leo emang childish abis! Dia itu bersikap dingin pada awalnya juga bukan karena sengaja sok keren, tapi katanya dia nggak bisa ngomong sama aku di depan banyak orang. Sekarang sih udah nggak. Untungnya……
Anyway, langsung aja kita ngelihatin(bukan ngedengerin, nadanya ngebayangin sendiri aja) ‘Hanya Senyum-mu Saja” by Leo Chandra Wiratna, See You!
Hanya Senyum-mu Saja
Di saat ku tak mampuTerbangun dari mimpikuKuyakin itulah dirimu Yang meluruskan hatiku
Itu bukan wajahmuDan juga bukan suaramuYang membuatku merasaBunga mekar di hatiku
Hanya senyum-muYang yakinkan-kuAku jatuh hati padamu
nggak cape nulis banyak bgt kaya gitu?