KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Suratku Untuk Angin Timur

Sayangku yang kini titirkan air mata untuk membaca berhelai rasa rindu hati ini, maaf jika berulangkali harus aku kibarkan kata maaf karena membiarkanmu kembali sendiri di malam para pasangan kembangkan sayap cinta kasih mereka untuk bermesra. Maaf juga jika aku tak mampu mengusir kerinduanmu dan tak mampu untuk menghangatkan dinginmu di malam ini. Jika aku harus berkata jujur, aku telah sembunyikan berjuta rasa kasih padamu seperti biasa. Aku telah pendam semua rasa sayang untuk kupugar kembali nanti saat hadapkan wajahku di depanmu.
Aku bukan kekasih yang baik karena tega membiarkan kebahagiaan malam yang seharusnya menjadi milikmu, lewat begitu saja di malam ini. Aku juga bukan pendamping yang baik karena telah tiupkan angin dan hawa sepi atas kesendirian padamu. Ingin rasanya aku biasakan diri untuk dapat merindumu seperti kau merinduku, namun mengapa bayang-bayang atas hasrat pada hal lain selalu mengaburkan apa yang ingin kurasakan. Hai kekasihku yang kini duduk dalam kerinduan, aku merasa malu karena aku telah tertawa, ceria, berbahagia di atas daun kerinduan yang kau layangkan bersama angin barat di udara.
Hai kau mentari hangat yang hiaskan bahagia, kesal, marah, ceria, dan sedih. Aku ucapkan terima kasih atas segala yang kau tebarkan dalam alam nyataku. Denganmu aku memperoleh kesempatan menghias langit dengan bintang pilihanku, kau biarkan aku dengan roman manis kesabaran yang bertahun-tahun kau tebarkan sebagai bibit hidup kelak. Kau selalu bilang bahwa kau merasa rendah diri jika pertemukan perbedaan antara aku dan dirimu….tapi…lebih baik kau cermati setiap darah yang mengalir dalam peredaran darah ini, di sana dapat kau temukan berjuta kata kagum atasmu. Ya…ia sulit untuk dapat kau lihat karena dengan sangat rapih aku tutupi dan sembunyikan dalam perjalananku lewati waktu dengan atau tanpamu. Kau bilang aku tak memperhatikan dan menyayangimu…tapi coba kau intip apa yang tertulis dalam setiap detak jantung yang memompa darahku hingga aku merasa hidup…disana selalu terhias namamu, kadang cepat dan kadang lambat, namun tak pernah satu detikpun ia alpa untuk bersitkan dirimu.
Aku dan dirimu memang beda saat curahkan rasa, itu karena kau dan aku tidak memulai nafas pada saat yang bersamaan, kau dan aku tidak memulai berjalan pada bumi yang sama, kau dan akupun tidak memulai bicara dengan kata yang sama. Kusebut kau sebagai angin timurku…karena timur adalah tempat dimana matahari mulai membagi cahayanya yang tumbuhkan kehidupan pada siapapun dan apapun yang berjalan dan bernafas di muka bumi. Kaulah permulaan dimana aku melatih diri untuk menjadi bijak, dewasa, serta berani menghadapi kenyataan hidup. Kaulah permulaan bagiku…semoga denganmu pun aku akhiri apa yang kusebut perjalanan manusia habiskan usia.
Kau yang berjalan sendiri di bawah keremangan purnama, akhir dari noda tinta di kertas ini adalah perwakilan dari apa yang menjadi hasratku untuk berucap secara jujur. Aku menyayangi, mengasihi, dan mencintaimu dengan segala rasa. Semoga esok nanti tapi entah kapan, dapat aku luahkan segala hasrat dan teriakkan batin untukmu dalam lingkaran ikatan hati di jari manismu sebagai tanda berawalnya cerita puncak kebahagiaan kita. Tunggulah aku mengetuk pintumu untuk itu, dan sementara ini kau tenggelamkanlah dirimu dalam segala hasratmu untuk mencapai apa yang banyak orang sebut sebagai kesuksessan hidup. Jangan pernah berhenti untuk terbangkan rasa cinta di udara untukku agar dapat ku terus menghirupnya dan hidup, kecuali jika Tuhan memang perintahkan batinmu untuk hentikan semua itu.
Permata dunia yang menjadi pelengkap dan pasangan jiwaku, semoga surat ini dapat menjadi tanda teriakkan dan jeritan hati akanmu. Semoga kau mengetahui betapa tak ingin aku melewatkan usia ini tanpa kenangan indah bersamamu. Semoga burung-burung di atas rantingpun dapat mengerti dan nyanyikan koor lagu kebahagiaan dihadapan anak dan cucu-cucu kita kelak, agar mereka tahu dan mengerti bahwa pernah hidup sebuah kisah kasih sejati antara dua anak manusia di muka bumi ini. Dan sekarang tidurlah kau bersama iringan lantunan syair cintaku dalam setiap detik mimpi yang pasti akan hadir untuk menemani malam panjang. Aku disini mencoba untuk menggapaimu dengan relung batinku, semoga kau yang terlelap dapat merasakan suara halus hatiku itu di daun telingamu malam ini. Esok aku akan meminta matahari membangunkanmu dengan kehangatan sinarnya yang lembut agar kau tahu bahwa begitupula rasa cinta yang kumiliki terhadapmu.

Tinggalkan Komentar