KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Potongan Sore

Aku akan datang dan bersila ketika kau tengah tertidur. Aku akan mengumpulkan setiap berkas yang menggumpal ke permukaan. Aku akan menyibakkan tirai jendela dan membiarkan cahaya masuk ke tengah ruang. Aku akan menyeduh sisa embun tadi malam dan menuangkan sedikit rasa manis. Aku akan berdebar ketika kau perlahan membuka mata dengan rona yang meruap samar.

Di sore yang teduh ini, kubayangkan kau tengah duduk dengan nyaman di kursi panjang belakang rumahmu. Segelas kopi ringan dan halaman buku yang terbuka. Apa yang tengah kau baca? Sesekali kau menatap langit yang memamerkan awan dengan bentuk-bentuk yang menyerupai makhluk-makhluk yang tidak lagi ada. Adakah isyarat yang sampai dari biru dan putih yang bekelindan? Kau menggelengkan kepala sekadar untuk tidak mabuk dalam bujuk cuaca yang bergerak.
Terbentang dua dunia yang kau selami berganti-ganti dengan hasrat pecinta yang rakus. Haus yang akan terus tersisa ketika senja turun dan kau menyalakan lampu. Aku akan datang sebentar, sekadar untuk melihatmu. Apa yang akan kau ceritakan? Hari libur yang renyah, koran pagi tadi tertumpuk di bawah meja, sihir cuaca, kata-kata yang bertebaran terlalu banyak dan kau selalu meminta.
Kita hanya akan bertahan di sini. Sore sebelum matahari gugur ke dalam malam. Genggamlah sesuatu, apa saja yang tidak mengingatkanmu pada diri. Bertahan sebentar untuk mengucapkan kata-kata yang sudah diputihkan. Ucapkan kata yang menggigil di mulut pecinta yang resah. Mata yang tertunduk pada senyum yang tidak lagi meminta. Inilah sore yang terlalu banyak untuk seorang, dan tidak pernah cukup.

Selembar daun melayang jatuh dari ujung ranting yang menjulur sendirian. Bergerak pelan, terayun-ayun oleh bujuk angin. Jatuh di halaman buku yang terbuka. Warna yang telah menguning. Akhir sebuah masa. Kau terdiam, menyentuhnya dengan jari tanganmu. Menyentuh dengan hati-hati bila ia akan terluka. Apakah kau dengar nafas yang berhembus pelan? Menyusuri tulang daun yang teratur. Berapa banyak yang tertimbun di ingatan penyaksi yang sunyi? Kau ingat hari-hari ketika kau tengah memeluk tubuh perempuan di kursi panjang ini. Gelak tawa dan desah yang yang menggigilkan taman. Adakah kau dapati raut peristiwa di permukaan daun yang mengeras sebelum lapuk?
Kau meletakkannya dengan hati-hati di permukaan tanah. Ia seperti tengah menengadah ke sebuah arah. Ke sebuah hujan yang jauh dan membawa leluhurnya dari hutan yang semakin tergusur. Ia mungkin mengingatmu. Ia mungkin mengingatmu ketika bermain dengan kaki telanjang dan tangan tergores duri salak dan rumah-rumahan kecil di mana kau dan teman-temanmu membangun persembunyian. Ia mungkin mengingatmu ketika tertegun pada lengking suara seperti perempuan yang menangis mencari jalan pulang, dan kau berlari ke rumah dengan tubuh menggigil dan tengah malam mengigaukan wajah yang terlalu dipenuhi duka yang lebam.
Kau mungkin tidak mengingatnya. Atau kau mungkin mengingatnya seperti setiap kali kau tertegun pada tanaman berdebu di dalam pot atau pakis yang telanjang oleh asap knalpot di perempatan jalan. Selalu ada yang membersit, seperti sabetan daun ilalang yang menusuk dadamu. Kau tahu ada yang telah hilang, meski kau tidak tahu apa. Dan kau selalu ingin bergegas pulang.
Apakah kau masih terganggu oleh tangis perempuan di dalam hutan itu? Apakah kau mengingat cantik wajahnya yang membiusmu? Apakah ia yang kau cari pada setiap wajah perempuan yang kau temui. Dan kau selalu mendesah dengan hela nafas berat ketika hanya menemukan kekosongan yang semakin membutakan pencarianmu. Perempuan akan bertanya apa yang mengganggumu, dan kau menarik dirimu semakin dalam ke lorong-lorong rahasia di bawah sulur-sulur pohon yang menjuntai.
Lalu di rumah kecil ini kau membangun kuil keselamatanmu. Pohon-pohon yang kau tanam dan kau sirami setiap hari. Rumput yang kau biarkan menebal di kakimu. Laba-laba menjalin labirin di mana kau menitipkan persembahan bagi alter yang kau hidupi. Apakah seorang akan datang dengan benang berkilau untuk menebasmu? Apakah kau akan mengantarkannya pada pesiar tengah malam purnama yang kau intip lewat celah tembok? Apakah kau akan mengaduh? Apakah kau akan tersenyum pada genangan darah?
Berapa lama kau pergi? Apakah kau masih sesekali pulang untuk berjalan-jalan di hutan masa kecilmu? Ataukah ia sudah disulap menjadi sawah atau pabrik dengan atap seng mengkilat? Apakah masih kau temui teman-teman lamamu? Gadis kecil yang pernah kau impikan? Atau mungkin kau tidak pernah pulang karena tidak ingin mengotori ingatan? Apakah pulang, pada akhirnya? Mimpi yang dihidupi?
Mungkin kau masih menyimpan beberapa lembar foto tua di mana kau bisa tersenyum dengan perih yang lembut di ulu hati. Mungkin kau tidak. Mungkin karena tidak ada wajah perempuan yang kau cari di antara album foto tua milik orangtuamu. Mungkin karena tidak seorangpun mau bercerita padamu tentang seorang yang terbuang ke dalam malam. Mungkin karena cinta pernah begitu menakutkan dan ayahmu mendatangkan seorang dukun untuk menghapuskan igauanmu. Mungkin karena tidak seorangpun yang sanggup menyandang ingatan yang memalukan.
Lalu kau pergi. Memisahkan diri dari masa lalu dan beban orang-orang yang kau tinggalkan. Tapi berapa jauh kau bisa pergi? Malam-malam yang masih gemetar dalam horor mimpi yang sama. Dan kau terangsang oleh pucat wajah yang menangis. Peluh membanjiri tubuhmu ketika ia menyentuh dengan gerak yang begitu lambat, seolah sekian abad telah melintas di antara jemari tangannya. Kau menggelinjang dan meringkuk dalam rahim perempuan yang tidak pernah melahirkan seorang anak. Hingga kau terjaga dan ia tidak lagi ada. Kau menangis sebagai bayi yang terbuang.

Perempuan menjulurkan tangan dan menyebutkan namanya dalam rapuh makna.
“Kopi pagi dan dering telepon di jalan macet. Itulah kita.”
“Aku selalu bangun jam 4 subuh dan tidur kembali jam 7 pagi.”
“Ritus apa yang kau lakukan di antara itu?”
“Ritus embun di telapak kaki.”
“Ya. Mereka katakan itu cukup baik untuk kesehatan, kecuali bahwa embun pun sudah dipenuhi jelaga.”
“Aku tidak risau tentang itu.”
“Maka aku akan belajar darimu.”
Pertemuan yang rutin. Pesiar senja. Makan malam.

Setelah membuka pintu, kau meraba tembok menyalakan lampu. Melangkah dari pintu, ia berdiri menatap ke seluruh ruangan.
Sunyi, ucapnya.
Kau terpengaruh memandang ke semua benda dan sudut yang telah kau kenali sebagai penemuan baru. Kau persilahkan dia duduk. Minum kopi, atau coklat?
Ia menengadah merasakan segar dari minuman yang mengalir ke tenggorokannya, tersenyum. Kembali menatap ke sekeliling.
“Ruang ini terlalu kosong”
Kau katakan kau suka seperti ini, memberi banyak ruang di mana kau bisa memilih untuk duduk dan berpindah dari sudut ke sudut dan menciptakan perspektif.
Dunia apa?
Tablo.
Ia katakan ia ingin berbaring tepat di tengah ruangan. Sendiri dalam keheningan yang sederhana. Tapi ada sesuatu, ia berkata terlalu banyak erang dan langkah di seluruh ruang dan ia terganggu karena ia takut akan tenggelam. Apakah kau dengar?
Kau katakan kau tidak lagi terganggu. Hanya kesunyian yang buta, dengan nafas yang berat dan menghembuskan dingin dalam kesedihan yang menggumpal. Bukankah kau sering melihat mereka bahkan di jalan terik, di antara keriuhan pasar dan asap knalpot.
Kau belum tidur?
Mereka masih di sini. Ia menyuruhmu bergeser lalu merebahkan diri di sampingmu. Ia berkata kamar ini terlalu lembab. Ia menatap lukisan, seorang hitam tengah memberkahi seorang yang mungkin tertidur, entah. Lalu ia menutup mata. Katanya tanganmu sangat dingin. Katanya pintu telah terkunci. Katanya kita akan tenggelam. Katanya tidak ada kehidupan di luar.
Katanya tanganmu sangat dingin…

Bisakah aku mencintaimu? Ia meraba telapak tanganmu. Apa yang terbaca? Dengan senyum yang getir ia berkata kau tidak bisa dicintai. Dan aku telah jatuh. Dan aku tidak bisa kembali. Maka aku akan mencintaimu dengan pedih.
Kau mengantarkannya berpesiar ke taman kecil di belakang rumah. Ia berkata ia akan tersesat di tempat ini. Ia berkata ia telah memulai sesuatu yang muskil. Aku tidak bisa berada di rumah ini. Kau mengangguk masgul.
Lalu memecah segala ruang yang kau jaga dalam dirimu. Lalu bertebar bercak pertemuan dengan tepi-tepi tajam menorehkan tatoo sebagai cerita kehilangan. Kita akan saling membaca bisu yang tidak hendak bercerita. Warna-warna di dasar jurang.
Dan suatu hari ia pergi, tidak pernah kembali.

Kubayangkan kau masih mematung di bangku sore ketika daun jatuh di halaman buku yang terbuka. Kau akan bersitahan untuk melihat ia terurai dan menyatu dalam peluk tanah. Ada buku dengan halaman yang terbuka. Ada gelas kopi yang sudah dingin, kursi panjang dengan cat yang mulai mengelupas di beberapa sisi, pohon-pohon yang merunduk dalam dingin cuaca, bentang rumput yang menengadah, tembok rumah yang mengitarimu, laba-laba masih menunggu serangga yang tersesat, tiang lampu kecil di pojok yang belum kau nyalakan, beberapa bejana air teronggok diam, langit di atasmu masih sama. Tidak ada yang mengetuk pintu. Tidak ada yang ingin kau lakukan.

Tinggalkan Komentar