KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mimpi

Pagi itu, “mama…, Desi pergi sekolah dulu mah…!”, “hati-hati di jalan nak..!”, dengan suara agak serak menjawab panggilan ku. Kehidupan dengan segala cobaan yang harus ia lalui tanpa seorang pendamping , dan dia harus berjuang agar dapat menyekolah
kanku serta mencukupi kebutuhan sehari-hari

“Desi….!”, terdengar suara dari arah taman sekolah memanggil.

“ hai! Rin…” balasku manyapa dan menghampirinya.

Riuh suara siswa dan siswi yang berdatangan, canda tawa yang di selingi sedikit ejekan menambah cerahnya pagi, mereka adalah putra-putri bangsa yang akan menjadi penerus pembangunan di masa mendatang, tantangan zaman yang begitu berat akan mereka hadapi, dengan bekal ilmu yang cukup untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Di dalam kelas, Karin menyapa “Des…!, kamu tau gak, dery ngajak aku nonton loh nanti malam.”

“ bagus lah!” dengan sedikit acuh ku jawab.

“ Des..!, kamu ikut gak,” gak ah… ada yang harus ku kerjakan nanti malam, lagi pula ibuku pasti gak setuju, “ oke deh kalau begitu, aku pulang duluan yah!, bye….!”

“ Huh…!”, hembusan nafas panjang keluar dari hidung mancung menghias wajahku “ kata mamaku loh!!!.

Di usiaku yang masih muda, aku harus sudah membantu ibuku bekerja, ayahku yang menceraikan ibu, pergi meninggalkan kami, sungguh manusia yang tak mempunyai hati nurani, mereka tidak ada bedanya dengan binatang, yang selau mengerjakan sesuatu mengikut nafsu, padahal manusia telah di beri akal dan hati nurani oleh sang pencipta, agar dapat berfikir dan menggunakannya untuk hal-hal kebaikan.

“Teng…, teng…,” jam dinding pun berdentang, seakan memberi tahu kepada pemiliknya tentang betapa pentingnya waktu bagi manusia, waktu itu bagaikan pedang, yang siap menghujam manusia yang melalaikannya.

“Mah…” dengan nada manja aku memeluk mama, ”ma… desi sayang mama, desi akan lakukan apa saja untuk membahagiakan mama,” dalam hatiku berbicara, mama pun tersenyum seakan mengetahui apa yang ada dalam hatiku, terlihat jelas guratan diwajahnya yang melukiskan perjuangan mama di masa mudanya. Kembali pikiranku melayang menatap masa depan, apakah ia akan cerah secerah matahari di siang hari, atau kelam bak malam tanpa kehadiran sang ratu beserta dayang-dayangnya, dalam lamunan aku pun tertidur lelap di pelukan bunda.

Matahari tersenyum diufuk timur, mengantarkan para penduduk bumi, tuk memulai kehidupan, kicauan burung-burung melantunkan senandung pagi yang indah, “yah…,” karya Sutradara yang maha agung sungguh tiada dua, tapi banyak dari hambanya yang tidak menyadari bahwa itu semua adalah nikmat dari sang Pencipta,

anugrah yang senantiasa tercurah kepada makhluk di muka bumi ini. “Desi..!, kamu gak masuk sekolah?” mama menegurku, aku tersadar dari lamunan, lalu ku raih perlengkapan sekolah dan pergi.

Di sekolah, “Rin! Setelah lulus nanti kamu melanjutkan ke mana?,” tanya ku iseng, “ aku ikut ayah ku ke Kalimantan dan melanjutkan kuliah di sana,” “ yah… kita pasti jarang bertemu lagi dong…” dengan wajah sedih aku bergumam, “ Des, kan masih ada telfon,” dengan sedikit bujukan Karin meyakinkan sahabatnya, “ ya deh…, tapi janji loh kamu telfon aku,” “pasti Nona manis,” simbil mencubit pipi ku yang agak kemerahan. kami bersahabat sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga SMA, kemana pun aku pergi pasti di situ ada Karin, dan begitu juga sebaliknya, sampai-sampai ke WC pun kami bersama, tapi gak masuk bareng-bareng dong…., ” jangan berpikiran jorok deh, pamali kata orang tua dulu…!!!”

Pukul 02.00, bell pun berbunyi tanda berakhirnya pelajaran, para siswa-siswi keluar dari kelas masing-masing, begitu juga dengan aku dan Karin.

“Des, kamu pulang bareng aku gak?”

“gak deh, aku mau ke toko buku dulu, kamu duluan aja…”

Ku telusuri tepi jalan raya, yang sesak oleh pengguna kendaraan, hiruk pikuk jalan raya, menambah suasana siang menjadi lebih gerah, yah…, beginilah keadaan kota besar, sangat jauh berbeda dengan keadaan desa yang asri, sejuk, tentram, bebas dari polusi udara, dan pemandangannya indah….

‘brugg…., aku menabrak seorang pejalan kaki yang berlawanan arah denganku,

“ eah…, ma.., maaf, saya gak sengaja,” dengan muka pucat aku meminta maaf,

“eah! ga papa lagi, kamu gak salah ko! Aku yang kurang hati-hati,” di sertai sedikit sunggingan senyum pajalan kaki tersebut menjawab dan berlalu begitu saja.

Sesampainya di toko buku, aku mencari buku-buku yang aku perlukan, untuk persiapan ujian negara yang semakin dekat, setelah mendapatkan semua buku yang di cari, aku bergegas pulang kerumah. Dalam perjalanan pulang kerumah, aku teringat pada pemuda yang aku tabrak, ‘wajahnya yang tampan, senyumannya manis, kenapa aku gak nanyakan namanya, alamat rumahnya, nomor telfonya, agar aku bisa bertemu dia lagi “ agh…,” ku tepis bayangan yang bermain di mataku, “ mimpi kali yah…” dalam hati ku aku berkata sambil tersenyum nakal, membuat orang yang duduk disekitarku keheranan dan penuh tanda tanya.

Selepas tiba di rumah, aku langsung menghempaskan tubuh di kasur. lelah, letih, gerah, itu lah yang ku rasakan, hembusan angin yang sepoi-sepoi, menyapa wajahku yang kelihatan sangat keletihan, rentetan kejadian yang aku alami tadi, menari-nari di benakku, sebelum aku benar-benar terlelap dalam tidurku.

Tidak lama kemudian, belaian lembut membangunkanku, “mama…., desi masih capek ma..,” aku tersenyum manja, “ makan dulu baru istirahat” mama bergumam, dengan malas-malasan aku bangkit dari ranjang di sertai mama.

Ku hirup udara pagi dengan aroma embun yang khas, hujan yang mengguyur tadi malam menyisakan kesejukannya, apakah yang aku rasakan sekarang, bisa aku rasakan lagi setelah ini, tahun depan , dua atau tiga tahun lagi, atau ini yang terakhir kalinya aku

merasakan kesejukan, sebelum tangan-tangan jahil merusaknya, sebelum pepohonan berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit, sebelum embun berubah menjadi kepulan asap dari kendaraan bermotor, sebelum kicauan burung berubah menjadi raungan kendaraan bermotor. Aku Cuma bisa berdoa, agar semua ini tetap bertahan. sekali lagi kuhirup udara dalam-dalam hingga memenuhi rongga pernafasanku, aku menikmati sekali keindahan pagi ini.

Tapi, seketika itu kekagumanku terhadap alam ini buyar, tatkala pandanganku tertumpu pada seorang lelaki yang berdiri tidah jauh dari tempatku, wajah lelaki itu seakan tidak asing lagi bagiku, aku mencoba memutar otak mencari tau siapa sebenarnya lelaki itu, apa aku pernah bertemu dia?.., atau aku pernah berkenalan dengannya?, belum lagi aku menemukan jawaban, lelaki itu menghampiriku dan menyapaku, ” hai…, sejuk yah pagi ini..,” “ ha.., hai…,” dengan tergagap aku menjawabnya, tatapannya yang dingin lurus kedepan memandangku membuat aku salah tingkah, “ uhg…, ngapain sih ni orang mandangin aku terus, aku kan jadi ge er”

Gerutuku dalam hati, lama kami berdiam dan saling pandang, lalu dia mulai berbicara, “

Masih ingat aku? “ siapa yah….?” Aku menyahut dengan penuh tanda tanya,

“ desi…,” suara panggilan dari mama membuyarkan fikiran ku, “ kita bertemu lain kali lagi” aku mengangguk tanpa berkata-kata dan bergegas menghampiri mamaku.

“ temani mama ke pasar ya..”

“ iya ma!”

Dalam pejalanan ke pasar bersama mama, pikiranku masih di penuhi tanda Tanya tentang siapa laki-laki itu, hingga gak terasa aku sudah tiba di rumah lagi, aku pun meletakkan barang belanjaan ibu, dan pergi ke kamar ku.

‘Tok…, tok…,’ pintu rumah ku ada yang mengetuk.

Aku segera bangkit dari dipanku dan pergi menuju pintu, ketika ku buka pintu, perasaan kaget, bingung, senang, masuk kedalam diriku setelah tau bahwa yang datang lelaki yang masih menjadi pertanyaan dalam benakku, aku jadi salah tingkah, dan dia

berkata, “nama ku Ari, aku yang nabrak kamu tempo hari….”

Semenjak itulah kami berdua menjadi dekat,dan selalu bersama, hari-hari kami selalu di penuhi canda dan tawa apabila kami mengingat kejadian tersebut, setiap hari ari datang ke rumah ku, ari juga membantu aku belajar untuk persiapan ujian akhir yang gak lama lagi akan akan datang, dia begitu berarti bagiku, sampi akhirnya ujian akhir untuk dapat melanjutkan ke jenjang university tiba, dan aku bersyukur sekali, ujian demi ujian aku lewati dengan mudah, hingga akhirnya waktu pengumuman tiba, dan aku lulus dengan hasil yang memuas kan, ternyata perjuangan ku selama ini tidak sia-sia.

Beberapa tahun kemudian, impianku untuk menikah dengan Ari pun terujud, setelah kami menikah, kami pergi ke bali untuk bulan madu.

Di pesawat, “ sayang….,” dengan manja ku lingkarkan tangan ku di tubuh ari, dan dia membalas dengan tatapan yang penuh kasih sayang, dia belai rambutku dengan mesra “ aku sayang kamu,” kata-kata itu membuat ku selalu ingin berada dalam pelukannya.

Ketika kami sedang asik bermesraan, terjadi guncangan keras, pesawat kami kehilangan kendali dan…..

Brug….” Aduh..,” aku terjatuh dari ranjang ku, dengan kesal aku memegang kepalaku yang masih sakit akibat terbentur, huuh….. aku menghela nafas, “ mimpi,” gumamku menyesal.

2 Responses to “Mimpi”

  1. on 06 Nov 2007 at 21:37suararaa

    sepertinya agak tidak fokus ceritanya? jadi agak tidak mengerti…

  2. on 04 Feb 2009 at 18:41Fila

    Cerpen terburuk yg pernah ak baca..
    Mnrutku cramu mmbuat cerpen mngngatkanku pada adikku yg msih SD
    Cerpen kmu tdak mmliki nyawa
    asal bikin ya?

Tinggalkan Komentar