Bukankah kau Lintang, gadis kecil yang menyanyikan puja di setiap debu jalan dan ricik tamborin dan raung knalpot? Matahari memerahkan rambutmu dan malam menuliskan gigil di tungkai-tungkai kecilmu. Bukankah kau Lintang, berlarian memburu uang receh dari tangan-tangan yang bergegas dan hanya sesaat menatap wajahmu? Tapi kau tidak peduli. Kau telah belajar untuk dilupakan. Teriakkan lagu cinta murahan dan lampu jalan menghela ke sebuah arah. Tapi kau akan tinggal. Karena kau mengenal semerbak bensin dan derak kaca yang retak.
Apakah kau menghitung hari-hari yang aus dalam panas jalan yang menguapkan segala jejak. Berapa tangan telah menyentuhmu dan berapa orang mengingatmu? Beberapa telah kau hapal wajahnya. Lelaki tua yang selalu terlihat keletihan mengayuh sepeda kumbangnya setiap sore. Sepasang mungkin suami istri dengan barang yang menyesaki sepeda motor tua yang seperti kelebihan beban. Tentu kau mengingatnya karena kau selalu tertawa melihat pantat besar perempuan itu menjorok hampir jatuh dari jok motor dengan tangan yang memeluk bungkusan besar yang membenamkan tubuhnya yang juga besar. Mereka selalu lewat jalan ini setiap hari. Dan beberapa orang. Dan semua orang berlintasan. Kau bertanya hendak ke mana semua orang?
Layang-layang mengapung di udara, terayun-ayun sejak semalam dari sebuah kampung dan kuning sawah. Kau akan berlari mengikuti gerombolan sebayamu dengan tangan-tangan teracung. Mengacuhkan para pengemudi yang menekan rem mendadak dan caci maki. Lihatlah ada sesuatu yang berkilat di ujung ekornya. Dan bulu-bulu yang terselip di juntaian benang kusut.
Mereka menghambur dengan tangan-tangan saling mencabik sekedar memuaskan hasrat memperebutkan sesuatu yang sebenarnya juga tidak terlalu diminati lagi. Dan layangan itu tidak lagi utuh ketika ia menghirup bau tanah dan seperti tersedak pada ujung-ujung rumput yang seperti dikenalnya. Dan kau mencangkung sendiri ketika temanmu saling menggerutu dan menyenggol bahu dan berlalu. Kau membungkuk di hadapan sisa benda ringkih itu, mencari-cari kilau yang kau lihat tadi. Kau tidak menemukan apapun. Hanya sobekan kertas di rangka bambu, dan bulu-bulu lembut yang panjang. Seperti bulu merpati atau? Bulu merpati tidak sepanjang ini. seorang bocah lelaki dengan perut buncit tertegun menatap bulu indah di tanganmu. Memanggil para serdadu jalan yang lapar untuk kembali mengitarimu.
“Ini bulu apa?”
“Mungkin bulu sayap burung bangau yang pulang setiap sore.”
“Nggak, bulu bangau nggak sebesar itu.”
Mereka saling menebak dengan ribut tanpa penyelesaian.
“Ini pastilah bulu burung garuda raksasa. Seperti Jatayu yang diceritakan pak dalang untuk menyelamatkan Shinta.”
“Nggak ada burung Jatayu. Itu hanya dongeng untuk bocah ingusan seperti kau.”
Kau mengernyitkan dahi dan berucap takjim.
“Ini pasti bulu sayap malaikat.”
Wajah-wajah itu melongo dengan mata-mata membesar dan bunyi perut dari seorang yang belum makan sejak pagi.
“Ya, ini pasti bulu sayap jibril yang tersangkut waktu dia terbang subuh-subuh untuk menjumputi do’a-do’a dari surau.”
Semuanya berebut untuk memegang bulu yang kini terlihat semakin berkilau, megah dalam putih. Tapi kau memeluknya di dadamu dan berkata bahwa bulu itu telah didatangkan untukmu. Ada aura perempuan agung, atau mungkin galak, yang memancar dari tatap matamu, dan mereka semua bubar pelan-pelan dengan gerutu. Membiarkanmu dengan penemuan besar yang menyihirmu.
Kau kembali ke tempatmu dan duduk di pinggiran kios rokok. Dengan tali rapia lusuh yang kau temukan di trotoar, kau mengikatkan bulu sayap itu di rambut panjangmu. Berlari megah ke lampu hijau perempatan jalan dan menyanyikan, lebih lantang, lagu cinta yang tidak kau mengerti. Perempuan dengan seragam guru sekolah negeri tersenyum dari motornya. Menghaturkan selembar ribuan ke tangan kecilmu dan berkata kau cantik seperti gadis India atau penggembala dari Tibet. Dan kau bernyanyi semakin lantang dan senja telah turun dengan jubah gelapnya dan kau merasakan angin dingin berhembus mempermainkan bulu sayap di tepi pelipismu.
Lelaki tua menghampirimu dan menanyakan uang yang kau dapatkan. Cepat tumpukan receh dan beberapa lembar uang ribuan itu masuk ke saku jaketnya, menyisakan beberapa rupiah untuk makan malammu.
Di warung angkringan kau melahap nasi kucing dan perempuan mengaduk teh hangat, menanyakan benda ganjil yang tersampir di antara rambutmu.
“Ini bulu sayap jibril yang tersangkut di layang-layang tadi malam.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Aku tahu saja.”
Ia terkekeh dan tidak lagi meragukan kesungguhanmu.
“Bila kau ketemu jibril, sampaikan salamku dan tanyakan kapan aku bisa kaya.”
“Nanti akan aku sampaikan,” jawabmu dengan takjim.
Kau segera berlari ke emperan toko yang sudah tutup dan perutmu sudah didamaikan dan semoga malam tidak terlalu dingin. Bulan bertengger redup dan waktu tengah merayap ke titik terdalamnya. Seorang temanmu sudah terkapar dengan tentram di atas kardus dan kau menyepak kakinya agar bergeser sedikit dan kau mengingat lagi do’a yang samar pernah kau hapalkan di sebuah waktu yang terasa begitu jauh. Lalu kayuhlah sampan kecil mimpi membawamu ke telaga hijau dan bintang-bintang menyanyikan hanya namamu. Dan sebuah suara memanggil. Kau mencari-cari tapi tidak seorangpun kau temukan. Apakah kau malam yang tengah mengajakku pergi ke sebuah dunia? Apakah kau telaga yang menyembunyikan istana para putri di dasarmu? Sampanmu bergerak semakin jauh dan suara itu masih terdengar menyatu dengan nyanyian bintang dan kau mulai menari kecil dan kecipak air membasahi kakimu dan kau tertawa dengan lengking yang mengejutkan burung-burung rawa. Dan keributan di sekitarmu dan temanmu meloncat dengan sigap melarikan diri dari petugas tibum dengan pentungan di tangan. Kau tidak sempat menghindar. Tangan kekar itu mencengkeram tubuh kecilmu dan dengan paksa mengangkutmu ke atas mobil. Beberapa lelaki gila dan pelacur dan banci meraung-raung dengan beringas dan kau menutup telingamu dan sumpah serapah dan tubuh-tubuh saling mendesak. Keributan itu terus berlanjut ketika mobil mulai melaju dan perempuan dengan gincu terlalu tebal mencakar wajah seorang petugas yang meraung kesakitan dan membalas dengan pukulan membabi buta dan darah terhambur dari hidung perempuan yang menjerit-jerit dan semuanya menggila dengan tangan dan kaki saling menerjang. Tubuh kecilmu terombang-ambing tanpa daya dan kepalamu terhempas dan bulu sayap telepas dari rambutmu. Tanpa sadar kau melompat dengan tangan terjulur meraih ujung tali rapia yang melayang di atas aspal jalan dan tubuhmu meluncur jatuh dan terdengar seperti suara ranting yang berderak ketika hujan menyelimuti hutan.
Perlu beberapa saat bagi sopir untuk menyadari teriakan sejawatnya di kursi belakang. Mobil itu akhirnya berhenti agak jauh dari tempat kau terjatuh. Beberapa orang segera melompat turun. Jalan sepi dan lampu di trotoar tidak menyala. Mereka mendapati percikan darah yang terlihat seperti gumpalan hitam di aspal dingin. Tapi kau tidak ada di sana. Seorang menyibak belukar di pinggir jalan sambil memanggil-manggilmu. Tidak ada apapun. Tidak ada tubuh kecilmu. Tidak ada bulu sayap putih yang terikat di tali rapia. Mereka terus berusaha mencarimu dengan sia-sia dan saling menyalahkan. Memanggil-manggil dengan suara serak dan tercium harum bunga yang dihembuskan angin malam. Seorang menggigil dan berkata ia gemetar pada sesuatu yang tersembunyi dalam gelap. Mereka saling memandang dan bergegas naik ke mobil. Deru mesin tergesa menjauhi gundah yang mengintai. Dan malam, yang berdiam dalam gelap.
Anak-anak itu sudah kembali ke jalan dan lama-lama mulai melupakanmu. Kembali memburu uang receh di belikat siang yang berkeringat. Dan roda yang berderit dan pejalan kaki yang resah. Mungkin tidak seorangpun pernah mengetahui bahwa kau ada. Mungkin kau dilahirkan oleh sang malam yang bersetubuh dengan sunyi ketika semua jiwa terlelap. Mungkin beringin di trotoar yang menasbihkan namamu. Dan mereka telah mengambilmu kembali.
Dan bukankah kau Lintang, matahari memerahkan rambutmu dan malam mengjarkanmu untuk bermimpi? Dibesarkan oleh gigil tamborin irama pekak jalan. Bukankah kau Lintang, melangkah kecil entah dari mana ketika teman-temanmu bergelimpangan di atas hamparan kardus dan aroma sampah?
Seorang terjaga dan mengigaukan namamu dengan gemetar. Wajah-wajah kecil itu terangkat dan saling menatap.
“Lintang sudah tidak ada.”
Mereka saling merapatkan tubuh dan terlalu letih untuk takut.
Malam merayap semakin dalam dan kau bernyanyi dan bulu-bulu putih berhamburan mengelilingimu. Mengitari tubuh-tubuh yang terkapar dalam gigil malam dan cahaya lampu berpendar terlalu redup dan sunyi membisikkan sesuatu seperti dzikir yang berulang.