KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kunanti Hujan di Pucuk Musim Kemarau
- sebuah prelude untuk orang-orang tercinta

Oleh: Stebby Julionatan

Ku nanti hujan di pucuk musim kemarau
yang tak kunjung merekah
menuai lembaran-lembaran taram
dari tebaran jejak di rekah tanah,
dan ibu – anak yang berlomba memetik kutu
juga mulai membicarakan musim yang enggan berganti.

Ku nanti rintihan awan di buta pagi
saat kelelawar melahap semua cahaya
dari permainan kartu nasib semalam,
dimana orang-orang merapal mantra dalam ronda
mengoyak kebahagiaan dari gumpalan awan
lalu disulam di sarung mereka.

Di golok sang pawang,
darah induk sapi telah membajak cerita
tentang bianglala sebagai jembatan para dewi
tentang senandung bambu di atas tanah basah.

Ranting cemara.
Kicau parkit.
Daun angsoka.
Deretan pohon sedar.
Partitur di musim gugur.

Ribuan setanggi berenang mengarungi langit
membuahi impian yang lelap di selasar

99 hari…
kunanti hujan di pucuk musim kemarau
bersama kata yang meruntuhkan tanggul-tanggul keresahan,
tapi bibit-bibit awan itu tetap saja mandul.

November, 2 2007.

10 Responses to “Kunanti Hujan di Pucuk Musim Kemarau”

  1. on 13 Nov 2007 at 18:34bagus

    mmm… dalem banget.

    sepertinya kamu merindukan kehadiran seseorang yang kamu cintai ya? rindu banget… tapi sayangnya orang tersebut tidak melihat kehadiran diri kamu di dalam kehidupannya.

    kaya lagunya band Dewa nih: “baru ku sadari… cintaku bertepuk sebelah tangan…”

  2. on 16 Nov 2007 at 21:07sari

    aku suka kata-kata terakhirnya:

    “kunanti hujan di pucuk musim kemarau
    bersama kata yang meruntuhkan tanggul-tanggul keresahan,
    tapi bibit-bibit awan itu tetap saja mandul”

    dapet dari mana sih kata2 bagus macam itu untuk menggambarkan sesuatu ketidakpastian yang kita nanti?

  3. on 23 Jan 2008 at 08:45djami'at_smp4

    Woww… itu sebuah puisi berkelas, cukup bagus untuk dibaca ! inspirasi yang begitu menonjol… rekat dengan kehidupan desa yang memanjakan dan berharap hujan.
    Buat lagi… yang lain, sukses selalu!!!

  4. on 12 Feb 2008 at 01:09anien

    Cool! Keren banget penataan bahasanya.

  5. on 18 Feb 2008 at 14:16dinda

    puisi baguss..terus berkarya ya..

  6. on 02 Mar 2008 at 22:55poetra

    sebuah keterasingan dan ketersiksaan yang menghasilkan
    seperti kata sebuah pepatah:
    “there is a rainbow after the rain”

  7. on 05 Mar 2008 at 19:26Bagus budi antoney

    Mau donk baca cerpen yang bagus2 kayak gtu!! Kamu emang huebat banget salut…dech, mm…! Terus berkarya yach gue tunggu keluaran cerpen kamu yg baru.

  8. on 06 Sep 2008 at 22:14hermawan

    “GAMBATE” Terus Berkarya…Jangan Berhenti…Karya Yang Bagus ^^

  9. on 24 Oct 2008 at 16:51artofbo

    wow….wow….wow!

  10. on 13 Nov 2008 at 18:20jess

    baguuus bangeeet… ya amppuun ampe gimanaa gitu rasanya. duh keren. keren.

Tinggalkan Komentar