Kamu dan Kamu
November 4th, 2007 by leendha
Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu.Sementara Nadia yang ngajak ketemuan belum nongol juga.Aku makin kesal plus penasaran.Nadia bilang akan memberi kejutan.Mana dia nggak jelasin kejutan dalam rangka apa.Perasaan nggak ada yang ulang tahun atau ngerayain sesuatu.
In your mind-nya Anggun terdengar dari HP-ku.Nama Nadia tertera di layer ponsel.Langsung kupencet tombol ok.
“Halo Nad!Kamu dimana sih?Udah setengah jam aku nunggu.”ucapku tanpa basa basi.
“Aduh sorry kalau kamu nunggu kelamaan.Sabar aja deh.Kejutannya lima menit lagi pasti udah ada di depan kamu..”jawab Nadia.
“Lho bukan kamu yang bakalan dating.Emang kamu ngasih apaan sih?Kalau tahu gini kan mending dikirim ke rumah aja.
”
“Udah deh nggak usah protes segala.Kamu pasti kaget dan seneng banget bgitu tahu kejutannya. Udah ya selamat menanti.Bye.”
Nadia langsung menutup telepon.Padahal aku kan masih ingin nanya banyah hal.
“Dasar Nadia.Awas aja kalau dia mau ngerjain aku . Emang dia piker enak apa ninggu di sini kaya orang bego.”gumamku.
“Hai, Ta!Mau kemana?Udah nggak sabar ya nunggu kejutannya.”sapa seseorang.
Aku merasa akrab banget sama suara ini.Tapi mana mungin Ricky ada di sini. Dia kan lagi kuliah di luar negeri.Aku menoleh kea rah suara itu.Astaga ternyata benar Ricky.
“Kok bengong sih?Aku kangen banget sama kamu.”
“Ricky mendekat dan memeluk tubuhku.Aku masih bingung dan nggak percaya.Bukannya aku nggak seneng Ricky datang tapi akhir-akhir ini rasa kangenku padanya sudah berkurang bahkan hampir tak ada.
“Aku juga kangen sama kamu.Kenapa kamu nggak telepon dulu sih kalau mau dating?Terus kenapa aku telapon HP kamu nggak akif?”
“Tunggu dulu dong.Aku bias jelasin semuanya.Tapi kta pesan makanan dulu ya.”
Setelah memesan makanan aku kembali brtanya pada Ricky tentang alas an dia nggak hubungin aku hamper satu bulan ini.
“Aku minta maaf banget.Aku lagi banyak tugas.Selain itu HP aku hilang dan aku nggak inget semua nomor di HP-ku.”
“Masa sih.Tapi ya udahlah yang penting sekarang kita bisa sama-sama lagi.Berapa lama kamu di sini Rick?”ucapku mengaihkan pembicaraan.
Padahal sebenarnya aku tidak ingin mempersulit diriku sendiri.Aku ngerasa nggak berhak untuk marah pada Ricky karena di sini aku sudah dapat penggantinya.Aku coba bersikap tenang dan sebiasa mungkin supaya Ricky nggak curiga.
“Rencananya dua minggu aku di sini.Tadi siang akuke sekolah kamu lho tapi kamu sudah pulang dan aku ketemu Nadia.Nadia juga yang ngatur malam ini.”
Ya ampun aku tadi kan dijemput Rian.Gimana Kalu Ricky Lihat?Tapi kayaknya nggak karena sikapnya nggak ada yang aneh.
“Sayang, Dari tadi aku perhatiin kok kamu gelisah gitu sih.Ada apa?”
“Nggak kok aku Cuma……”
Hp-ku berdering lagi.Ternyata SMS dari Kak Doni. Sita km dmn?Rian nggu km dr tadi.Cept plng ya.
Aku semakin salah tingkah di depan Ricky.Aku nggak bermaksud untuk bohong tapi aku belum siap kalau harus merusak malam ini dengan terus terang tentang Rian.
“Siapa, Ta?”Tanya Ricky.
“Kak Doni. Dia nyuruh aku pulang mungkin mobilnya mau dipakai.Soalnya aku tadi bilang Cuma sebentar.Kamu nggak keberatan kan kalau kita balik sekarang?”tanyaku sedikit ragu.
“Sayang banget ya.Padahal kan aku masih kangen.Tapi nggak apa-apa deh.Karena malam ini akunggak bias anter kamu pulang, besok aku jemput ya berangkat sekolah”
“Nggak usah.Maksud aku aku nggak apa-apa kok bareng kak Doni aja.Lagian kamu kan masih cape.Istirahat aja dulu.”tolakku.
Ricky nggak maksa.Aku lega banget.Bisa gawat kalau Ricky dan Rian sama-sama jemput aku.Di depan kafe kami berpisah dan menuju mobil masing-masing.
Di jalan aku sama sekali nggak bias konsentrasi nyetir.Pikiranku dipenuhi oleh Ricky dan Rian.Dua cowok yang sama-sama kucintai.Walaupun aku udah jadian sama Rian,aku nggak bias bohongin diri aku sendiri kalau aku masih cinta sama Ricky.Andai Ricky kembali sebelum Rian menembakku.
Aku tahu aku salah karena telah menduakan Ricky.Tapi hal itu nggak akan terjadi kalau komunikasi aku dan Ricky baik-baik saja.Sebelum Ricky pergi kami berjanji untuk tetap saling mencintai dan setia.Tapi saat aku sulit menghubunginya,Rian mulai masuk dan mulai menggeser tempat Ricky di hatiku.
Rian adalah teman kuliah kak Doni.Diantara temen-temen kak Doni yang lain,emang Rian yang paling sering main ke rumah.Ternyata dia lagi pedekate sama aku.Awalnya sih aku nggak nanggepin Rian.Setelah beberapa kali ketemu,ternyata dia baik dan enak diajak ngobrol.Aku pun mulai tertarik dan kuiyakan saat dia bilang cinta sama aku.
Tapi kenapa saat Ricky muncul aku juga merasa senang.Apa cintaku padanya masih ada?Apa aku harus milih?Aku belum siap dan bingung jika harus nentuin pilihan sekarang.
Nggak terasa aku udah sampai di rumah.Tapi begitu aku masuk,nggak ada Rian.Apa kak Doni bohong?Aku pun mencari kak Doni di kamarnya.
“Mana Rian?Katanya ada Disini?”
“Udah pulang.Dia kelamaan nunggu kamu.Dari mana aja sih?Katanya cuma sebentar.”
“Dari kafe abis ketemu sama Ricky.”
“Apa?Jadi kamu belum putus sama dia.Ngapain sih kamu masih berhubungan sama dia?Terus Rian cuma kamu jadiin pelarian.Rian itu cowok baik,Sit.Kamu bakal nyesel kalau sampai bikin dia kecewa.Sekarang kamu milih siapa?”
“Aduh kak aku tuh juga lagi bingung banget.Pokoknya kakak jangan cerita dulu ke Rian soal Ricky.Setelah ambil keputusan,aku pasti akan cerita semua ke mereka..Oke?”
“Oke.Asal jangan kelamaan aja mikirnya.”
Kak Doni emang pengertian.Aku keluar dari kamar Kak Doni dan langsung ke kamar.Walaupun mataku terpejam,tetap saja aku nggak bisa tidur.Besoknya aku bangun kesiangan.Karena Rian udah jemput aku nggak sempat sarapan dan langsung berangkat.
“Tadi malam kemana Sit?”tanya Rian saat kami di perjalanan.
“Nggak kemana-mana kok.Cuma ngumpul bareng teman-teman.Waktu aku pulang kamu udah balik.Emang ada yang penting ya?”
“Nggak juga.Lagian aku kesana juga sama anak-anak kok.Emang Doni bilang aku sendiri.Biasalah mereka mau kenalan sama pacarku yang baru.Sita Velani Puteri.”
“Paling juga teman-teman kak Doni yang biasa main ke rumah kan .Mereka tuh udah pada tahu aku nggak perlu dikenalin segala.”
Rian nggak jawab.Dia hanya memperlihatkan senyumannya yang manis.Aku jadi ngerasa bingung.Saat bareng Ricky,ingat Rian.Sekarang Rian disampingku aku mikirin Ricky.
“Sit,mau turun nggak?Udah sampai nih.”
“Eh iya.Bye…”
Aku turun dari mobil Rian dan langsung ke kelas.Waktu istirahat,Ricky menelponku dan bilang mau jemput.Taoi aku langsung melarangnya dengan berbagai alasan.Begitupun besok dan besoknya lagi.Setelah mengambil keputusan,aku ngajak Ricky ketemu.
“Rick,aku mau ngomong sesuatu sama kamu.Aku harap kamu bisa ngerti.”
Aku menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan kata-kataku
.
“Selama kamu di luar negeri, aku udah punya yang lain Rick.Aku tahu aku salah dan aku mohon kamu mau maafin aku.”
“Kenapa sih, Sit?Apa kamu nggak sayang lagi sama aku?”
“Sekali lagi aku minta maaf.Sebetar lagi kamu akan pergi lagi dan kita udah nggak bisa kaya dulu lagi.Aku tahu kamu pasti marah tapi aku harap kamu mengerti.”Pintaku.
Setelah itu aku meninggalkan Ricky.Ada sedikit rasa kehilangan tapi aku merasa lega
banget.Sekarang aku tidak merasa bersalah lagi pada Rian.
Besoknya aku bangun lebih pagi.Aku sudah berencana mengatakan semua pada Rian.jam dinding sudah menunjukan pukul 06.30 tapi Rian belum datang juga.Kalau aku nggak segera berangkat bias telat ke sekolah.
Aku telepon HP Rian tapi tidak aktif.Aku cari kak Doni untuk nganter aku.Tapi kak Doni nggak ada di kamarnya.Aku mendengar suara mobil.Pasti Rian.Aku langsung ke depan tapi yang kutemui Kak Doni.
“Ayo Sit.”Ajaknya.
Aku menurut saja.Tahu saja Kak Doni aku belum berangkat.Tapi pagi-pagi begini Kak Doni baru pulang.Aku jadi curiga.
“Kak Doni dari mana sih” Tanyaku.
Tapi Kak Doni diam saja.Arah mobil nggak ke sekolah lagi.
“Kak Doni gimana sih sekolahku itu belok kiri bukan kanan.” Ucapku kesal.
Dia pura-pua nggak dengar lagi.Sampai akhirnya kak Doni Berhenti di sdepan rumah sakit.
“Ngapain sih kita kesini? Siapa yang sakit?” Tanyaku heran.
Tetap saja dia nggak mau ngomong.Dia hanya menarik tanganku dan membawaku ke sebuah kamar.
“Sit, kamu tabah ya. Tadi malam Rian Kecelakaan dan dia….”
Aku langsung membuka pintu kamar rumah sakit.Aku hanya melihat seorang yang terbaring tak bergerak. Perlahan ku mendekat.Aku berusaha menyakinkan diriku bahwa dia bukan Rian.Tapi tidak. Raga yang sudah tak bernyawa itu memang Rian. Orang yang benar-benar kucintai.
Menurut gue, cerpennya indah, bagus, dan menarik. Teruskan membuat cerpen, ya!
Cerpen lu bagus walaupun akhirnya sad ending. Gua thanks banget sama kamu karena cerpen ini gua gunakan untuk teks dan ulangan kelompok drama gue di SMP Tarakanita 4. Jakarta. Gua adalah ketua kelompoknya dan akan dilaksanakan pementasannya Selasa, 27 November 2007 dengan sedikit perubahan. Sekali lagi, Thank You Very Much!