KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Inginkan Cahaya

Gelap dalam pikiranku tak seperti terangnya sinar matahari siang ini. Kulihat cahayanya menyilaukan mata, panasnya membuat dahi mengeluarkan keringat. Aku hanya bisa mengusap keringat itu dengan lenganku sebagai tanda bahwa aku kelelahan. Mana sempat aku bawa sapu tangan dari rumah dengan kondisiku saat itu. ”Ya Allah, sepertinya aku tak sanggup lagi menahan semua ini”, begitulah gelora dalam batinku.***

Kini aku berada di sisi jalan sebuah jembatan, sebelumnya aku berlari menghindari perang dunia ketiga dan sengatan matahari. Bayangan atap besi penyangga kujadikan sebagai tempat berlindung. Memang di bawah jembatan ini pastinya ada sungai meski aku tidak melihatnya, walau begitu aku tak berpikir untuk mengakhiri hidupku dengan jatuh melayang ke bawah sana seperti yang kulihat di sinetron-sinetron meski aku lagi terdesak. Aku hanya bisa menyandarkan tubuhku di besi penyangga jembatan sambil tangan memegangi kepala yang botak termakan usia.Dengan usiaku saat ini, seharusnya pikirankupun ikut dewasa. Namun yang terjadi aku terlalu mementingkan diriku sendiri, tanpa tahu bahwa aku sudah bergelar ayah, bahkan saat ini anakku yang pertama sudah menginjak usia siap kawin. Dan perkataan istriku seakan mengingatkannya, ”Bapak itu gimana, tidur melulu, bukannya cari duit buat bayar utang dan buat sekolah anak-anak”. Mungkin karena dulunya aku seorang pangeran dari saudagar kaya di kampungku, makanya jadi begini. Mana mungkin aku berpikir tentang cari uang, uang sudah menjadi teman dalam hidupku saat itu, namun saat ini sepertinya temanku itu lari meninggalkanku ketika bapakku bangkrut dari usahanya. Tanggung jawab keluarga sekarang ada di tanganku, baru aku menyadarinya. Padahal seharusnya ketika aku berani mempersunting seorang perempuan, ketika itu pula aku harus siap dengan tanggung jawabku sebagai suami. Gaji bulananku, bukanlah jaminan bahwa aku sudah melakukannya. Sempat bapakku kumintai pertolongan. Ah, mana sempat saat ini Ia berpikir tentang cari uang, dengan usianya yang hampir punah termakan tanah. Yang ada di otaknya saat ini hanyalah bagaimana caranya menemukan jalan menuju surga, lainnya tidak.Anak yang biasa kuajak bermain ketika kecilpun tak bisa kumintai pertolongan. Hah, buah jatuh tak kan jauh dari pohonnya, layaknya aku dahulu tentang uang kami hanya bisa menaruh tangan di bawah. Sepintas aku membenci dan tak percaya dengan peribahasa tadi, jika aku melihat diriku saat ini. Beda dengan ayahku dahulu, selain bisa membiayai aku dan ibuku, iapun mampu membiayai ketiga istri mudanya. Sementara aku, mana mungkin aku kawin lagi, satupun aku tak berdaya bukan tak mau. Ditambah lagi aku sudah muak dengan nyanyian ngerock istriku diiringi suara nyaring pecahan piring dan gelas sebagai alat musiknya. Padahal di waktu bujang, aliran musik itu kugandrungi, ”Ya Allah, aku tak sanggup lagi menahan ini semua”.***

Pergi. Berarti aku meninggalkan luka bagi mereka, bagaimanapun aku mencintai mereka. Meninggalkan hutang sama artinya dengan kemiskinan dan kelaparan bagi mereka. Itu yang akan membuatku terpuruk dan membusuk di neraka, aku tak mau. Sebagai lelaki, aku tak berguna, tak bisa diandalkan.Aku masih berpikir. Dan masalahku sedikitpun tak berubah. Istriku tak segan-segan ngutang buat makan kami sehari-hari, dan akupun berani-beraninya ngutang untuk beli rokok. Gali lobang, tutup lobang, begitulah kira-kira perputaran keuangan keluarga yang kubuat. Masih mending, kalau dipikir lebih dalam sepertinya gali lobang terus, tanpa tahu gimana caranya menutup lobang yang kubuat itu.Mungkin sudah saatnya cara itu harus segera kutemukan seperti halnya ketika aku kuliah dulu. Saat itu aku terdesak untuk mengerjakan tugas kuliah yang jika tidak selesei dalam tempo satu minggu, aku dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang lagi. Ini membuatku terjepit, makanya saat itu kepala kujadikan kaki, kaki kujadikan kepala untuk menyeleseikannya. Semua terjadi karena kelalaianku, karena sebelumnya aku cuek-cuek saja, tak bertanggung jawab.***

Saat-saat seperti ini, enak kalau ada seseorang yang datang untuk sekedar menawariku rokok, kemudian akan kutarik dia ke dalam masalahku, kalau dapat memecahkannya, akan kujadikan Ia, dewa penyelamat bagi hidupku. Ah, mana ada orang di siang bolong begini, enakan tidur berdiam diri di rumah seperti kegiatanku sehabis ngantor.Aku masih berpikir. Terngiang suara murka istriku, ”Bapak ini gimana, katanya janji mau ada duit hari ini, nyatanya sepeserpun tak ada. Janji… janji melulu. Seninlah, rabulah, sudah berminggu-minggu. Bayar utang ke warung belum, trus ke Bu Sudibyo kan sudah janji hari ini, Pak Tarmana besok harus sudah ada karena duitnya mau dipake buat modal usaha anaknya, trus Pak Tarmin anaknya mau kawin. Mereka ngandelin duit mereka yang dipinjam oleh kita”. Tagihan hutang-hutangku seperti air hujan yang terus mengalir hingga bumi yang aku pijak jadi banjir, dikarenakan hutangku telah jatuh tempo. Sialnya, jumlahnya tak sedikit, tapi banyak. Harta warisan Bapakkupun tak bisa menutupinya. Seperti biasa gaji bulananku habis dipakai bayar kreditan motor Darman, anakku. Apakah mengakhiri hidupku adalah jalannya, aku tak mau. ”Oh Gusti, aku harus bagaimana ini”, isi hatiku selalu memanggil nama-Nya, padahal mana pernah aku mengingat-Nya selama ini. Bila kesulitan uang aku cukup bilang, ”Pak minta duitlah, buat bayar kuliah Darman”, lalu uangpun langsung ada di tanganku.***

Sebagai suami, mencari uang adalah kewajibanku. Untuk menafkahi keluarga, aku baru mengerti sekarang. Lagi-lagi gaji bulananku bukanlah jaminan, bahwa aku sudah melakukannya. Benar juga, aku telah membebani istriku dengan ikut memikirkan masalah ini, padahal tugasnya merawat rumah, hamil, melahirkan, menyusui, itu sudah cukup baginya sebagai pengabdiannya jadi istri, dan aku pegang itu sebagai perannya menjaga kehormatan keluarga. Sementara peranku sebagai khalifah, belumlah cukup. Tahta kerajaan keluarga ada di tanganku. Arahnya kemana?, itu tergantung padaku. Lagi-lagi baru aku menyadarinya.Aku masih terus berpikir. Sadar akan hal ini, mulai menggoyahkan masalah. Andai saja aku sudah melakukan peranku. Sebagai suami. Sebagai ayah. Pokoknya sebagai lelaki yang bertanggung jawab. Aku akan pede terbang melayang ke bawah sana. Faktanya, aku tersudutkan oleh tingkahku sendiri. Istri yang seharusnya mengeluarkan perkataan yang menyejukkan dari mulutnya untuk suami, tapi yang ada perkataan istriku seperti anak panah yang melesat menusuk jantungku. Makanya terciptalah pertikaian tadi, dan aku melarikan diri. Karenanya gelar sebagai pengecut layak aku sandang menempel di belakang nama.Aku masih terus berpikir. Kembali. Aku harus kembali, untuk membersihkan namaku, dan mempertahankan kehormatanku, khususnya sebagai seorang lelaki. Dengan kembalinya aku, sebenarnya aku memberikan secercah harapan bagi keluarga, meski aku nantinya akan disambut dengan tidak hangat.Kulihat ke atas matahari mulai meredup, sedikit memberi rasa nyaman bagiku. Tambah tak mau saja aku untuk terjun ke sungai. Dan aku masih terus berpikir. Andai saja ada sesuatu yang dapat meredupkan masalahku, seperti halnya yang terjadi pada sang surya di atas, pasti aku akan sujud syukur.Raja cahaya kupandangi seperti sepasang kekasih yang sedang memperhatikan meteor jatuh dalam sebuah film. Terdengar bisikan lirih, ”Tolong aku, terangilah pikiranku dengan cahaya-Mu”.

***

TAMAT

Tinggalkan Komentar