KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Bidadari Pujaan Hati

Cahaya lampu neon berubah wujud jadi bidadari cantik, menggetarkan hati Rizal. Begitulah kiranya hasil proyektor otak dia. Kulitnya yang putih tak mungkin terbakar oleh sinar itu, tapi yang pasti hatinya terbakar oleh manisnya senyuman sang bidadari. “Oh… sakinah”. Iapun membalas senyuman itu. Mesra.“Sakinah, saat-saat seperti ini hatiku membutuhkanmu untuk memadamkan
asmara yang kian memuncak ketika aku merindukanmu”. Isi hatinya mampu keluar dari mulutnya. Lancar. Tak seperti ketika Ia sedang bersama orang yang lagi di puja sama hatinya itu. Ah, yang bisa dilakukannya hanya diam, bicara hanya mampu melalui mimpi atau saat Ia lagi sendiri mirip orang yang tak waras.Ketika Rizal memejamkan mata, ketika itu pula bidadari lenyap berubah wujud kembali jadi lampu neon. Kalau malam ini Ia berhasil bermimpi dengan bidadari itu, maka sudah dapat dipastikan sang bidadari menghilang untuk merasuk ke dalam sekujur tubuhnya.***

“San, lo mau kemana?”, katanya.“Kantin, ikut gak?”, jawab temannya bernama Insan.“Iya, gua ikut”, tanpa pikir panjang.Jelas terlihat semangat menggebu dalam dirinya meski ajakan itu bukanlah kata-kata yang keluar dari mulut seorang komandan perang. Kantin adalah lokasi strategis untuk dijadikan tempat melepas lelah akibat sanksi yang telah diterimanya tadi sehabis upacara bendera, selain itu (sebetulnya ini sebagai genderang pengiring langkah kakinya) iapun dapat melepaskan lelah hatinya akibat rindu ingin bertemu atau sekedar melihat sakinah.“Namanya Sakinah”, kata Insan pada Rizal yang lagi termangu memperhatikan sosok wanita populer di sekolah ini. Wanita itu duduk di kursi luar kelas sambil membaca buku, yang nampak adalah bagian samping kanan badannya. Sementara mereka duduk di kursi kantin dekat meja yang banyak gorengannya.“Iya, gua tau”.“Dia anak kelas 2, cantik ya, ramah lagi, juga baik hati, trus dia juga soleh lo, lu harus jago ngaji dulu buat ngedapetinnya, memang sih penampilannya gak seperti kayak cewek muslimah kebanyakan, tapi meski gak pake kerudung dia orangnya baik, trus tipe cewe penurut gitu sama orang tuanya”.“Iya, gua tau”.Terlihat sosok lelaki dengan rambut agak panjang untuk ukuran anak sekolah dan berwarna mirip bule, terus kalau lebih teliti lagi memperhatikan rambutnya maka akan ditemukan belahan sebelah kiri lebih pendek. Mungkin gaya baru atau mungkin kena razia Pak Asep, guru matematika sekaligus guru yang menangani bagian kesiswaan, biasanya yang akrab dengan guru ini adalah siswa yang berprestasi dan siswa yang nakal, siswa yang biasa-biasa saja cukup sulit untuk memasukan namanya dalam pikiran maupun hati beliau.“Agus, anak serba bisa di bidang olahraga. Baru-baru ini dia buat harum nama sekolah kita sebagai juara Badminton antar sekolah”, Insan promosi.“Iya, gua tau”.“Dan dia suka sama Sakinah”.“Iya, gua tau”, spontan, “Apa?”, lanjutnya setelah agak sadar, “Tapi gua gak peduli”, lanjutnya lagi sadar bahwa dia punya saingan, tapi meski begitu sebenarnya dalam pikirannya saingan untuk mendapatkan cinta sakinah pasti banyak. Dan kayaknya dia siap untuk berkompetisi terlihat dari tatapan matanya.Terlihat Agus duduk di sebelahnya sakinah, tercipta suasana yang cukup hangat. Di kantin ada sesuatu yang meledak, namun begitu tidak terdengar bunyi letupan hanya saja tercipta sebuah kepalan tangan, wajah berang. Sepertinya Rizal cemburu melihat mereka. “San, Agus itu anak kelas 3D kan?”.“Iya, pinggir kelas kita”.“Sampai sejauh mana kedekatan mereka”.“Sakinah sih, katanya cuman nganggap dia kakak, engga lebih, tapi tau tuh si Agus kayaknya cinta mati, atau mungkin pingin nyobain lezatnya bibir sakinah kali, kalo jadi kakak kan cuman bisa nganter pulang doang”.“Ha hah…”, hempaskan amarah.Langkah kaki bak Puteri Indonesia membuat ketawa Rizal hentak terhenti. Kini Ia seperti seseorang yang dipercaya untuk ajang kontes kecantikan itu. Lembut. Aduhai. Anggun. Begitulah penilaiannya terhadap wanita yang lagi jalan menuju tempatnya. Selepasnya wanita itu tersenyum padanya. Dan, “Sempurna”, bisik hatinya.“Bu, beli gorengan dibungkus ya”, kata Sakinah.Dari arah belakang, “Hallo Sakinah… pa kabar?”, Insan manja.“Eh, Kak Insan… baik”, jawab Sakinah sembari menoleh tidak sempurna hanya pipinya sebelah kanan yang nampak jelas dan putih. “Mari Kak…”, lanjutnya pamit.“Kemana???”, Insan mencoba merayu.“Mau ke kelas, makan gorengannya mau di kelas aja”, Sakinah sedikit centil sambil bibirnya mengeluarkan senyuman yang bikin para lelaki hatinya tertancap panah asmara. Nampak sempurna tubuhnya. Tinggi. Langsing. Tapi berisi.“Zal, tadi sakinah, senyum sama gue atau sama lo?”.“Tau…”, padahal hati Rizal berbunga dan berprasangka baik bahwa dia yang dapat senyum indah Sakinah.Bel, tanda waktu istirahatpun terdengar nyaring dan melengking panjang seperti peluit yang ditiup wasit ketika pertandingan sepakbola usai. Gerombolan siswapun berhamburan pergi dari kantin miliki Bu Euis, namun selepasnya mereka berbaris rapih di jalan menuju kelas masing-masing seperti gerombolan semut. Menurut survei yang dilakukan oleh mahasiswa kesehatan masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah ini. Kantinnya Bu Euis termasuk kategori bersih dan sehat sesuai standard kesehatan. Malahan menurut feeling Rizal bukan saja bersih dan sehat, tapi juga ada cinta. Faktanya, ia seperti membawa kekuatan baru ke dalam kelas sehabis pulang dari kantin, tapi kekuatan itu hanya mampu bertahan di jalan sampai Ia duduk, karena selepas itu kekuatannya patah oleh kedahsyatan pelajaran matematika yang tidak disukainya.***

“Lo suka ya sama Sakinah?”.Muka Rizal memerah, cukup memalukan bagi seorang lelaki.“Aghhh…”, Insan mengkhawatirkan kondisi Rizal.“Trus lo sendiri suka sama Sakinah?”, Rizal balik nanya.“Suka juga sih, tapi kan gua udah punya Dewi. Jantung hati gua”.Mendengarnya Rizal tersedak.Bangku paling belakang telah jadi rebutan para siswa sebelumnya, sejak pertama kali masuk di kelas ini. Mengapa? beranjak dari dugaan bahwa bangku paling belakang dapat dijadikan sebagai tempat ngobrol karena jauh dari pantauan guru. Terbukti dengan apa yang dilakukan Rizal dan Insan tadi. Bukannya mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.Saat inipun tetap.“Agus, lumayan keren juga kalo menurut gua”, Rizal memuji saingannya.“Hah, lu gak pede ya?”.“Iya, kayaknya gak mungkin Sakinah suka sama gua”.“Lu gak kalah keren kok sama si Agus, lu kurang nonjolin diri aja”.“Maksudnya?”.“Itu, kebiasaan lo nulis puisi buat pujaan hati lo, Sakinah bidadari terdampar di sekolah”.“Anjrit, lu buka catetan gua ya?”.“Heh… iya”, kata Insan tanpa ada rasa bersalah.Perbincangan mereka mulai diketahui oleh guru. Pak Asep kini tepat berada di hadapan mereka sambil berkacak pinggang dia mengerak-gerakan matanya. Nampak wajahnya yang sangar, dapat dipastikan kepala Pak Asep jangar (Sakit kepala) melihat ulah mereka. Selepasnya tangan kanan Pak Asep nunjuk batang hidung meraka, kali ini muka sangar berubah jadi bengis seperti ada endusan di hidung. Pak Asep lakukan isyarat bahwa mereka harus pergi meninggalkan kelas untuk kemudian dilanjutkan dengan berdiri sampai mata pelajaran matematika berakhir sambil kedua tangan memegang telinga. Cukup memalukan bagi anak sekolah menengah umum.“Lo sih???”, Rizal menggerutu.“Kok gua sih!!!”, jawab Insan tak mau kalah dan disalahkan. Sama-sama kesal.***

Hukuman belum berakhir sampai di situ. Pak Asep meminta izin pada Bu Sasongko (Guru Bahasa Indonesia) untuk tidak membolehkan mereka mengikuti pelajarannya. Apalah daya Bu Sasongko, izin itu seperti perintah yang harus dilakukan, mau tidak mau. Meski murid kesayangannya Rizal yang kena hukuman itu. Pak Asep sudah jadi kepanjangan tangan kepala sekolah, jadi apapun kebijakan yang dibuatnya, sama artinya dengan kebijakan yang dibuat oleh sang penguasa.Pak Asep kemudian membawa keduanya ke lapangan upacara. Sial, begitulah kiranya nasib Rizal, karena sudah dapat dipastikan Sakinah melihatnya dihukum. Ini baginya, memberi kesan negatif.Ternyata benar juga, setiap ada yang kena hukuman pasti akan jadi tontonan menarik bagi anak kelas dua yang lokasinya berada di sekitar lapangan upacara. Apalagi kalau tidak ada gurunya, adapun tetap ramai. Kebetulan saat ini guru-guru anak kelas dua belum pada masuk ke kelas, jadi kekosongan itu dapat dipakai untuk melihat kedua orang narapidana itu.“Kepada sang saka merah putih, hormat… grakk!!!”, Rizal seperti komandan upacara. Insan mengikuti perintahnya.Di dalam kelas nampak ketawa ketiwi anak-anak kelas dua, tidak terkecuali Sakinah.Hampir setengah jam mereka berdiri menghormat bendera, “Zal, panas banget, gua capek”, kata Insan.“Iya, gua juga, capek tambah malu”.“Lo pura-pura pingsan dong”.“Gak mau ah. Sakinah kan liatin. Elu aja”, Rizal jaga image.“Aghhh… gak ada cara lain Zal”.“Iya, elu aja yang pingsan, entar gua traktir lo deh”.“Beneran yah, kalo gua pingsan elu harus traktir gua, terserah gua menunya apa”.“Iya, cepetan, gua udah gak tahan nih”.Insan konsentrasi. Pingsan dalam kamus hidupnya selama ini belum pernah terjadi. Apa yang harus dia lakukan? masih belum terpikirkan.“Buruan panas nih”, Rizal tak sabar.Menara itu akhirnya jatuh juga. Tak ada yang menyangka sosok dengan tinggi badan ideal seperti olahragawan mencium bumi dengan cara seperti itu. Rizalpun teriak minta tolong. Sontak siswa yang lihat kejadian itu bergerombol menghampiri. Sakinah ambil bagian, matanya bertemu dengan mata Rizal. Seolah bertanya, ada apa? namun kondisi saat ini tak memungkinkan untuk mengadu asmara. Di bawanya Insan ke ruang UKS.“Ada apa ini?”, kata Pak Asep menghampiri yang tak lihat langsung kejadiannya.“Kak Insan pingsan Pak”, ucap Sakinah.“Udah kalian semuanya masuk lagi ke kelas, kecuali kamu Sakinah. Dan kau Rizal kembali menghormat bendera”, titah Pak Asep.Rizal hanya bengong. Tak seperti apa yang dipikirannya. Karena kejadian ini hukuman akan berakhir.“Tapi Pak, entar gimana kalo giliran kak Rizal yang pingsan”, bela Sakinah.“Ini perintah”, tetap hak preogratif masih milik Pak Asep.Kecewa seakan mengiringi langkah kaki Rizal kembali ke lapangan. Namun selepasnya kebahagiaan yang datang hingga hadir senyuman di bibirnya. “Sakinah belain gua”, bisik hatinya.“Hormat… grakk!!!”, semangat 45.***

Bel sekolah tanda pelajaran berakhir, belum juga membuat hukuman yang diterima Rizal selesei. Hanya kalimat, “Jangan ulangi lagi kesalahan kamu” yang dapat menuntaskan hukuman itu. Ia mendapatkan jatah injury time lima belas menit dibanding teman-temannya yang lain. Namun teman sejati selalu setia menemani.“San, Sakinah belain gua tadi”, kata Rizal laporan sambil jalan.“Iyeee, gua tau”.Respon yang dipikir biasa saja membuat Rizal tak melanjutkan kebahagiaannya.“Habis ini, lu mau kemana?”, katanya.“Gua ada janji ama Dewi, lu pulang sendiri ya?”.“Iya deh, Eh… lu liat Sakinah gak?”, tapi perasaan itu masih ada.“Gue liat tadi bareng sama si Agus”.“Ya… keduluan deh ah”, seakan memupus rasa yang ada.“Alah, mana berani lu ngajak jalan”.“Heh…”, Rizal ketawa karena tersinggung.“Gua duluan ya!”, pamit Insan sembari berlalu.“Makasih ya…”.Setelah beberapa langkah kaki menjauh, “Awas janji lo, traktir gua besok ya, He heh…”, kata Insan.Sosok lelaki mirip bintang film Nicholas Saputra bingung dengan tujuannya saat ini. Ia sendiri. Tadi teman sejatinya pergi dengan kekasihnya. Sang pujaanpun pergi duluan tak menunggunya. Duduk di dekat pohon yang rindang taman sekolah, apalagi kalau bukan menulis yang dilakukannya. Sepi. Seolah hanya angin yang menemaninya, padahal kalau dirinya tidak mendramatisir keadaan, masih banyak teman selain manusia dan angin yang menemani, contohnya angkot yang lalu lalang.Sakinah, dara mirip bintang sinetron Nabila Syakieb itu telah mengisi hati Rizal. Hanya saja tak ada yang tahu, selain kertas bertuliskan nama bidadari pujaan hati dan Insan yang tak sengaja membaca puisi dari isi kertas itu. Ah, iapun tak ingin larut dalam kesendirian. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah. ***

Tanpa diduga, diperjalanan Ia bertemu dengan Sakinah dan Agus yang lagi bertengkar. Sebelumnya Ia baru turun dari angkot. Pertikaian antara Adik dan Kakak itu (menurut Sakinah) bermula dari kenakalan Agus yang mencoba membawa Sakinah ke tempat yang sepi dengan sepeda motor. Sinyal kuat dirasa oleh Sakinah karena tak biasanya mereka pulang lewat jalan itu. Sakinahpun marah. Aguspun dengan nafsu terendahnya marah dan hendak mencium Sakinah dengan paksa. Sakinah menampar Agus. Kemudian Sakinah lari. Di dapatlah Sakinah dalam pelukan Rizal.“Elo jangan ikut campur deh”, Agus sepertinya masih menyisakkan nafsu terendahnya.“Elu mu ngapain?”, Rizal tak mau kalah.“Sakinah milik gua, kembaliin”.“Wah!!! Dasar ya lo, dasar tak tau diri lo”, Rizal dengan nafsu pemberani. Jantan. Tak mau kalah.“Zal, awas ya lo. Kalo berani gua tantangin elu main badminton buat ngedapetin Sakinah”, sambil menunjukkan tangannya agak sedikit kekanak-kanakan.“Siapa takut!!!”, Rizal terjebak. Mana mungkin dia bisa mengalahkan juara I Badminton antar sekolah se-Kabupaten Bandung.“Kalo elu bisa ngalahin gua, lo boleh deh ambil Sakinah dengan tenang tanpa diganggu sama gue dan gue bakalan mukul Pak Asep di kantornya. Tapi kalo elu kalah lu jangan deketin Sakinah dan elu harus nampar Pak Asep di kantornya”, sebuah perjanjian dilayangkan Agus.“Oke!!!”, Terjebak lagi.“Awas ya lo”, kata David Beckham gadungan itu sambil berlalu tak tau malu.Akhirnya, yang dinanti dalam khayalan kesampaian juga. Rizal berhasil berduaan dengan Sakinah (Tapi kalau mau lebih teliti, pastinya mereka tak berdua saja, ada setan yang menemani). Diam. Kemudian lahirlah senyuman. Lalu ada getaran yang muncul. “Kamu gak papa”, kata Rizal agak terbata-bata.“Enggak. Makasih ya kak”, Sakinah anggun sekali mengucapkannya, agak tersipu malu. Itulah daya tarik wanita.Angin selalu saja ada di tiap suasana romantis. Berjalan berdua di sebuah trotoar. Bila ada yang melihat jalan mereka, pikiran orang itu akan langsung bilang bahwa mereka sepasang kekasih, hanya saja tidak bergandengan tangan, masih malu-malu seperti baru jadian. Sebuah halte mengakhiri perjalanan mereka. Duduk. Angin masih tetap ada.“Kak makasih ya tadi”, Sakinah kikuk karena diliatin Rizal dengan penuh cinta.“Sama-sama”, tak tau harus bilang apa.Kapan lagi waktu yang tepat, kalau bukan saat ini. Hatinya seolah-olah ingin mengeluarkan sebuah bahasa yang selama ini sulit sekali untuk diungkapkan. Tiba saatnya. “Sakinah, aku… aku…”, kata Rizal belum selesei.“Iya Kak”, seakan memotong.“Aku…”, cukup lama untuk sampai pada kalimat, “Sayang kamu”, akhirnya Rizal berhasil juga.Mendengarnya muka Sakinah tak kalah merahnya dengan muka Rizal. Ia lagi-lagi lakukan hal yang menjadi daya tariknya, tersipu malu. Anggukan seolah mengisyaratkan bahwa aku mau jadi pacar kamu, karena secara tidak langsung bila lelaki bilang sayang, itu sama artinya dengan maukah kamu jadi pacarku? atau maukah kamu menikah denganku?Angin mendadak diam, tak seperti biasanya. Kedua sejoli itu hendak menyatukan asmara mereka lewat ciuman. Namun suara Adzan seperti mengingatkan bahwa itu perbuatan dosa. Ciumanpun tak terjadi. Karena Rizal keburu sadar.***

Kecewa, begitulah apa yang dirasakan Rizal saat ini. Tadi cuman mimpi. Tuhan telah menyadarkannya lewat panggilan untuk meraih kebahagiaan yang lebih hakiki, bukan cuman mimpi bila melakukannya dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Sadar akan hal itu Iapun mengucap syukur.Untung, kini yang tersisa. “Kalo tadi gua gak mimpi, pastinya gua bakalan malu banget, karena gua bakalan nampar Pak Asep dan kehilangan Sakinah. Trus gua juga bakalan ngeluarin duit gua buat nraktir si Insan”. Aduh!!!, untung cuman mimpi. Tapi sebagai konsekuensinya Ia harus mandi dulu meski tak dirasa ada yang basah di celananya sebelum menghadap Tuhan untuk meminta hambanya yang cantik itu jadi kekasihnya.

***

TAMAT

Tinggalkan Komentar