KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan November 2007

Waktu bergulir tiada henti

Menyapa perasaan yang telah kututup mati

Rasa…

Ingin kubuka semua luka hati…

Jerit tangis seorang anak

Terlukis dalam pantulan sebuah cermin…

Mungkin bisa membohongi semua orang..

Tapi tak bisa membohongi diri ini….

Lari…

Anak itu berlari….

Tak membiarkan orang menyentuh hidupnya…

Apa pedulinya kamu kepadaku?

Aku menganggapmu sama seperti mereka, sampah

Apa yang kamu tahu tentang diriku?

Kamu sama sekali tak tahu tentang diriku….

Katakan kalau kamu bisa merubah semuanya?

Tapi aku tahu….

Kamu hanya bisa berkata…..

Biarlah rasa ini tenggelam sampai ke dasar laut…

Terkubur dan tertutup selamanya…

Karena kutahu….

Kamu hanya bisa berkata…..

Ketika Shinta Ditolak Rama

Sinta adalah istri Rama, tertulis dengan jelas di cerita Ramayana. Sinta adalah wanita yang sangat-sangat diinginkan oleh Rahwana hingga Rahwana berusaha dengan berbagai macam cara baik halal maupun tidak untuk mendapatkannya. Sinta adalah kakak ipar Laksmana yang dijaganya dengan jiwa dan raga. Sinta adalah istri dan wanita yang dipuja. Sinta adalah wanita yang berbahagia.

Gadis di Tikungan Jalan 2

Gadis yang ketika kelelawar mengepakkan sayapnya sedang tidur nyenyak di atas ranjang yang hangat. Gadis yang seharusnya ketika bintang menyapa berada dalam kehangatan keluarga yang bahagia. Namun semua itu tak dirasakannya. Yang ia rasakan adalah dinginnya angin malam dan kelamnya kehidupan malam.

Tak Berjudul

terdesak diri oleh kelamnya hitam
terhimpit hati oleh luka sesaat
dalam harap kubertanya
adakah cemas mengikutiku?
sunyi..
senyap..
tak ada kegaduhan di sisiku..
kuberpaling!
berlari!
lenyap terhempas egoku..
sesak!
tak ada gairah meratap kesemuan ini..
Tapi dari balik jemu kutemukan harapan..
seberkas siluet menopangku..
membantuku merangkak, berjalan dan berlari..
tak ada gentar sedikitpun dalam memaknai kehidupan
menggelora!
menantang hempasan..
saat itu adalah bersamamu..
bersama kekasihku…

I
Ketika surya meninggakan semesta, senja menebarkan kehangatan di ujung cakrawala yang kelam. Malam pun menyambut kehangatan senja bersama angin dan awan. “Senja kenapa kau tebarkan dirimu pada malam?”. Senja pun sembunyikan hatinya pada malam.

Lalu, ingatkah kau pada seruling malam yang memberi lagu pada sepotong senja? Di sanalah senja menyerkap semesta.

I
Hari ini
Ditempat ini
Aku melewati hari
Bersama hangatnya mentari

Hari ini
Pagi tak lagi sepi
Keramaian ditempat ini kembali terjadi
Sama seperti saat sebelum aku pergi

Sapa, tawa dan canda murid terdengar begitu riang
Hingga ranting dan daun pepohonan ikut berdendang
Guru-guru pun tak ketinggalan meramaikan kebisingan
Mengucapkan pujian untuk mengawali kehidupan

I
Sejak kedatanganmu waktu itu
Hari-hari di kelas menjadi berwarna
Cara mengajarmu yang berilmu
Membuatku mengerti apa arti dunia

Sejak kedatanganmu waktu itu
Hari-hariku terasa begitu berbeda
Kharismamu yang amat menyentuh kalbu
Menumbuhkan rasa yang teramat berharga

Dalam setiap untaian kata dari bibirmu yang bermakna
Aku berucap kata menyapa setiap untaiannya ke dalam jiwa
Hingga diriku merasa tenang mendengar melodi suaranya

Dalam desahan angin yang menebarkan dedaunan sekolah
Aku memperhatikan setiap langkah hidupnya yang indah
Hingga hati dan jiwaku tumbuh seperti bunga yang merekah

Apa yang sedang aku rasakan sekarang ini kepadanya?
Sejak dia hadir dan aku dekat dengannya
Ada rasa sayang tertanam yang aku simpan untuknya…

II
Guruku…
Sejak kita pertama kali bertemu
Aku selalu memperhatikanmu
Hingga kedua mataku tak bisa lepas melihat teduhnya wajahmu

99 Tahun

Aku 16 tahun…….diam sesaat

mengikuti musim semi yang sempat tertidur pulas

lalu membasuh kekeringanku

yang berkembang mekar

Aku 30 tahun……diam sesat

yang mencintai pemikiran terbaikku

yang kata aku yang 16 tahun

“Kau mendewakan kata0katamu melalui mata kedewasan yang dipertanyakan”

Aku 70 tahun…..diam sesaat

Jangan Pergi

sudah kubilang padamu
‘jangan pergi’
tapi kau tetap saja pergi
apa terlalu sulit bagimu memahamiku?
apa terlalu sulit bagimu menemaniku?
apa terlalu berat untukmu
melapangkan dadamu untukku 
agar bisa kusandarkan lelahku
agar bisa kuceritakan kisah pedihku
agar bisa kubagi beban berat dipundakku
sebentar saja…
hanya sebentar saja…
tak perlu sampai rasa lelah ini hilang
setidaknya biarkan ini sedikit berkurang
jadi kumohon tetaplah tinggal
dan apa ini terlalu berlebihan?

apa kau pernah sadari sesuatu?
bahwa kadang aku merasa putus asa karenamu
bahwa kadang aku merasa telah tak mampu…
mengejarmu
aku telah tak mampu mengejarmu

karena kau terlalu jauh
karena kau terlalu angkuh
terlalu jauh dari hatiku
terlalu angkuh untuk cintaku

kau jauh
sangat jauh
kau angkuh
sangat angkuh

Next »