KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Aku dan Malam Itu

Aku terhenyak, tak bisa beranjak dari tempatku duduk. Hatiku bergetar dipantul-pantulkan oleh kepanikan, dan aku tidak dapat menghentikan mataku yang membelalak. Ditekan oleh perasaan yang gila ini, satu-satunya yang aku harapkan adalah merasakan kakiku masih berpijak.

Malam itu diselimuti oleh hawa dingin yang menyusup masuk di antara tulang-tulangku, bintang-bintang bersembunyi di balik dekapan awan seperti enggan untuk bersua, jalanan sepi hanya menyisakan suara mesin mobil butut ini yang meredup perlahan-lahan. Di bawah lampu jalan rusak yang terus berkedip-kedip, aku mendapati diriku, merasakan kerut di wajah dan darah seakan berhenti mengalir di dalam tubuh ceking yang selama bertahun-tahun dihinggapi oleh rasa sakit yang datang dan pergi.

Aku merunduk mencoba menutup wajah tololku dari kesunyian yang hadir di sana. Menatap kedua kakiku sambil berharap ada seseorang datang untuk memegangi dadaku dan berbisik kecil lalu membuat sengatan listrik dalam tubuhku hilang ditelan angin. Sambil mencoba menahan rasa perih di dalam perut dan rasa bersalah yang menggoda pikiranku, aku berusaha untuk tidak menangis. Menangis karena menyadari bahwa aku hanyalah sehelai bunga kering dan tergeletak kesepian di bagian paling muram dari sebuah taman, dianggurkan begitu saja tanpa air dan sinar segar sang mentari, hanya bisa mendengar para kumbang dan kupu-kupu bercumbu dengan bunga-bunga tetangga. Menangis karena kembali mengakui diriku sebagai orang bodoh, tidak becus menjalankan sesuatu bahkan mobil yang hampir rusak ini dan terlalu gampang sakit hati lalu memutuskan untuk kabur dari rumah neraka di ujung jalan itu. Menangis karena di dalam kubah masalah yang datang beberapa detik yang lalu, aku hanya bisa diam dan tertunduk lesu.

Denyut jantungku menyeruak keluar menusuk ke dalam telinga lalu mencekik aliran napasku dan kemudian bergerombol membentuk palung senyap yang berisi rasa takut dan amarah yang menyatu menjadi kegelisahan. Aku mengingat nama Tuhan. Perlahan aku coba menghidupkan-Nya kembali di dalam pikiranku. Namun tidak berhasil, aku telah menembak-Nya dua tahun lalu dan mengubur kepercayaanku di balik bantal bersama dengan mimpi dan cita-cita lainnya. Kini yang tersisa hanya aku ditemani oleh perasaan bersalah yang nyala apinya selalu terang di setiap detikku yang gelap.

Mataku kugosok-gosok hingga merah, mencoba meraih batasan yang jelas antara dunia nyata dan ilusi. Sekali lagi aku melihat ke arah jalan, melihat kedipan lampu menyirami kaca depan mobil, dan tidak ada apa-apa di sana. Aku melihat sekeliling dan memastikan hanya aku yang ada di sini dengan suara jangkrik bersahutan dari tiap arah. Perasaan pecundang mendorongku untuk memberanikan diri meraih pintu mobil. Angin dingin menyambut keputusanku begitu aku membuka pintu, wajahku terhempas seakan ditampar olehnya, dan kini aku menggigil sendirian. Tak begitu lama sampai akhirnya aku berhasil menaruh kaki kananku di atas permukaan aspal yang retak karena ulah sang matahari.

Gemeretak geligiku menyatu dengan irama yang dipimpin gemetar kakiku. Aku memeluk diriku dengan erat bermaksud untuk menahan sinisnya malam hari. Melangkah dengan begitu pelannya menuju bagian depan mobil sambil mencoba menyalakan mesin akal sehatku. Tak kusangka aku berjalan cukup lama hanya untuk meraih jarak tak kurang dari 200 cm. Dengan badan membungkuk dan indera perasaku yang hampir mati, aku menahan ekspresi muka terkejutku begitu melihat wanita ber-sweater biru itu kini tergeletak tenang di jalan bersama dengan sekelibat warna merah yang aku lihat berlumuran dari keningnya.

Tarikan napasku keluar dari tempo normalnya. Seisi badanku lemas, namun aku masih tetap berusaha untuk berdiri. Lama-lama kedua tangan ikut bergetar, mengelilingi tubuhku dengan aura dosa yang sepertinya selalu hinggap seenak hati. Jantungku mencoba untuk tetap bernapas. Menahan dingin yang 10 kali lebih hebat dari sebelumnya. Lagi-lagi aku hanya berdiam cukup lama, menyaksikan ini semua dari balik mata yang jenuh dan usang.

Tanganku masih bergetar pelan saat aku menyentuh wanita itu. Sejenak aku merasa hangat mengalir menggantikan darah kotorku. Aku meraih pergelangan tangannya dan denyut nadi wanita malang itu terasa naik turun, seketika itu pula sepercik harapan muncul dari ufuk pikiranku. Untuk kulitku yang kasar, tangannya adalah yang terhalus yang pernah kurasakan. Aku tergoda untuk mengusapkannya ke dahiku seakan aku mendapatkan tangan malaikat untuk menyeka peluh keringat membusuk yang bercucuran karena telah berlari dari hidupku yang juga penuh hal busuk.

Tidak butuh waktu lama untuk mengangkatnya ke pangkuanku, badannya begitu ringan, kulitku bergesekan lembut dengan sweater tebalnya, dan aku sempat merasa sedang melakukan tugas Superman, menggendong wanita yang terluka. Rambutnya yang sebahu menutup setengah wajahnya, kepalanya menyentuh bagian dadaku dan aku melihat perlahan darahnya mengalir ke bajuku. Aku mencium aroma yang cukup wangi dari badannya, bajunya, atau mungkin lengannya, entahlah, yang jelas rambutnya begitu hitam, dan semakin aku melihat wajahnya ditutupi oleh rambut, semakin aku merasakan ada sinar kecantikan yang bisa kusingkapkan dari baliknya. Aku terus memandanginya dan akhirnya kurebahkan badannya dengan pelan-pelan di kursi belakang. Aku melakukannya dengan sangat hati-hati seperti yang seorang ibu lakukan pada bayinya, dan kini ia terlentang dengan kepala condong ke kanan.

Aku memperhatikan wanita itu. Ia memakai sweater biru yang dikancingkan semua, rok hitam selutut, dan sepasang sepatu boots kehijauan menutupi kedua kakinya dari jari sampai setengah betis. Beberapa jarinya dihiasi oleh cincin-cincin yang sekilas tampak hasil buatan sendiri, begitu juga dengan gelang-gelang dari kedua tangannya. Di kursi belakang mobilku yang kusam dan tak begitu terawat, dirinya tampak begitu terang. Di bawah sinar lampu jalan rusak yang berkedip-kedip ia tampak begitu mempesona dihujani oleh cahaya kuning. Sampai detik itu, aku merasa bersyukur, setidaknya perempuan ini belum didatangi ajalnya.

Wanita itu masih belum bersedia menampakkan setengah wajahnya. Dari tempatku berdiri, aku hanya bisa melihat hidungnya, mulutnya yang dihiasi darah dan mata kanannya yang menghitam ditutupi bayangan, sementara sisanya masih berada di balik rambut sedikit ikalnya.

Bajuku kini dihiasi oleh noda-noda merah yang membentuk gumpalan artistik seperti yang biasa ditemui di lukisan buatan Gajah atau Simpanse. Aku meraih handuk dari mobilku. Aku pikir ini cukup kelewatan, mencoba membersihkan darah dari wajahnya dengan handuk lusuh yang warnanya sudah sulit dimengerti, namun tidak ada pilihan lain. Aku memasukkan badanku ke dalam mobil dan mendekati wajahnya. Tangan kiriku memegang handuk bodoh itu dan tangan kananku mencoba menyingkap rambutnya. Aku melihat tanganku bergetar saat terjulur ke wajahnya, kurasa ini masih akibat dari pengaruh udara dingin yang menyerang sejak aku membuka pintu mobil tadi. Aku kembali melakukan sesuatu dengan hati-hati saat kusingkirkan rambut hitam yang menutup wajahnya. Kini warna merah darah menyampul parasnya. Sepertinya kepalanya terantuk aspal cukup keras setelah badannya kutabrakkan dengan cukup keras pula dari balik mobil butut dengan kualitas rem yang mengecewakan ini. Aku mengusapkan handuk mengelilingi mukanya, membasuhnya dengan air dari sisa botol minumanku, dan dengan cepat aku merasa menjadi seorang juru rawat. Darahnya mulai berhenti keluar, sehingga aku bisa melihat luka sobekan di dahinya yang untungnya tidak terlalu lebar. Sampai akhirnya aku melemparkan handuk yang kini berwarna merah dari genggamanku, dan aku bisa melihat wajahnya dengan lengkap, dari keningnya yang mengkilat, kedua matanya yang tertutup dengan anggun, hidungnya yang terbentuk sempurna, dan bibirnya yang merah muda namun sedikit menghitam tapi tetap sedap dilihat. Sepertinya tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Lama-lama aku memperhatikan, aku terkejut dan samar mulai terketuk lamunanku selama ini.

Tiap lekukan dari wajahnya melapisi dengan indah tulang tengkorak di bawahnya bersama dengan garis menghitam membentang sepanjang horison dua matanya yang kini tertutup dengan damai. Pemandangan ini membiusku dengan sangat cepat. Aku mengingat, mengingat, dan mengingat lagi tiap lembaran bayangan, fantasi, dan imajinasi yang juga diisi oleh harapan yang hampir setiap hari terlukis di kanvas pikiranku di saat-saat paling terasing dalam hidup. Aku menatap wanita itu sampai akhirnya aku sadar bahwa dirinya adalah pantulan dari cermin khayalanku selama ini. Wanita ini yang selalu kuimpikan menjadi penahan sensasi ledakan amarahku, yang menikmati rasa sepi dan dingin bersama, yang tenggelam dan berlayar di atas rakit memburu paus raksasa berdua, dan saling terborgol di pembaringan terakhirku kelak. Bingung? Tentu saja aku bingung karena aku selalu yakin apa yang ada di pikranku akan tetap ada di sana. Tapi wanita ini sekarang tergeletak di jok belakang mobilku dan dia nyata, bisa kusentuh dan kuhirup aroma tubuhnya dalam-dalam.

Aku melakukan penelitian, membandingkan tiap jengkal dari dirinya dengan yang ada di benakku. Blender di hatiku mencampurkan rasa kagum, heran, tidak percaya, dan sedikit ketakutan lalu menuangkannya menjadi segelas penuh rasa percaya. Dan kemudian aku tersenyum lagi sendiri. Menatapnya dengan pandangan rindu. Sambil tersenyum lemah.

Di tengah itu semua, ketika bulan akhirnya muncul di langit hitam, kelopak matanya bergetar dan mengirimkan sinyal getaran itu langsung ke jantung. Aku terkejut hampir mati. Kedua matanya terangkat tanpa daya, penuh penghayatan, ia sedang mencoba meraih kesadarannya. Jemari tangannya ikut bergerak-gerak. Seperti anak ayam yang mencoba keluar dari cangkang telurnya, ia bersusah payah membuka kedua matanya. Kedipan lampu jalan seakan memaksanya untuk tetap terpejam seperti tadi. Dengan menggerakkan kepala dan memainkan alisnya, ia berhasil bangun dari diamnya, dan langsung memandangiku.

Kulitku seperti berubah keriput oleh dingin yang membuat beku. Kita bertatapan langsung beberapa lama, jakunku turun-naik, keringatku terperosok seperti habis berlari-lari, mati rasa, aku tidak bisa berpikir apa yang harus kuucapkan. Yang kulakukan hanya balik memandanginya. Melihat bola matanya yang mempesona seperti bulatan-bulatan yang menyusun ekor burung merak dan menggodaku untuk tenggelam ke dalamnya. Energiku tercerabut, dihisap oleh caranya menatap. Tidak ada hal lain yang pantas mewakili diriku saat itu selain terkesima oleh sihir yang lahir dari sorotan dua benda yang hampir bundar itu.

Ia bangkit dan mengambil posisi duduk berhadapan dengan badanku yang sedikit membungkuk. Kedua matanya terus mengawasiku sementara liurku sedikit demi sedikit meleleh. Tangan-tangan yang telah kurasakan kelembutannya itu kini meraih kepalanya, merasakan sedikit goresan di kening dan tetesan darah merah yang sebelumnya melumuri wajahnya. Ia meregangkan lehernya, tangannya turun menyentuh setiap anggota tubuhnya, memeriksa setiap inchi dari kesempurnaan fisik yang ia terima sejak lahir. Setelah ia yakin dengan keadaannya, ia kembali memandangku, kali ini dengan lebih dalam. Pertama kali dalam hidup, aku merasakan momen yang begitu…nyata.

”Huff…Aku kira aku sudah mati, (memegang kepalanya) kepalaku pusing…Kau menabrakku?”

”Y-y-ya…tapi aku tidak…”

”Dan kau menolongku. Terima kasih. Biasanya mereka meninggalkan korbannya di jalan seperti binatang mati, terutama di jalanan sepi seperti ini.”

”(Aku diam menatapnya dengan gugup)…”

”(Memandangiku, mata bulatnya membuatku gugup dan salah tingkah)…”

”(Aku bertambah gugup, karena dia hanya memandangiku)…”

”(Perlahan bibirnya melebar, mulai tersenyum) Tenang saja, aku tidak akan menuntutmu. Lagipula aku hanya merasa pusing, setidaknya kakiku belum hilang.”

”(Aku kembali diam, terpesona dengan senyumnya. Seharusnya aku membalas senyumnya karena ia sedang bercanda denganku. Bodoh!)…”

”(Kembali menatapku, mengatupkan bibirnya kembali, sepertinya kecewa karena tidak berhasil membuatku tersenyum) Mmm…Aku pikir sepertinya kita pernah bertemu.”

”Oh…ya? (mencoba terlihat seperti berpikir). Aku tidak tahu, sepertinya tidak. Tapi…kuakui wajahmu familiar bagiku.”

”Oh ya? Wajahmu juga. Apa mungkin kita pernah satu sekolah? Atau bertetangga?”

”Tidak…Tidak mungkin (sedikit terkekeh). Sepertinya tidak mungkin orang sepertiku…Pokoknya tidak pernah.”

”Tapi…bagaimana aku bisa merasa mengenalmu, seperti sudah lama berkenalan. Dan apa yang membuatku familiar? Apa aku mirip seseorang?”

”Entahlah…sulit dijelaskan. Kau tidak mirip seseorang, siapapun yang kukenal. Tapi aku mengenal wajahmu cukup lama. Jangan diambil pusing, ini memang tidak mudah dimengerti.”

”Coba ulangi lagi, aku tidak mengerti. Jadi kau pernah melihatku?

”Tidak. Tapi mungkin juga iya. Sebenarnya tidak juga, kita belum pernah bertemu.”

”(Terdiam, pandangannya seperti menghakimi diriku orang aneh) Hmm…”

”(Aku ikut diam, mencoba mengartikan kata ’hmm’ yang diucapkannya)…”

”Aku seperti pernah melihatmu…berkali-kali…(mengerutkan dahi)”

”Berkali-kali? Yakin? Aku juga…Emm maksudku, aku jarang bepergian. Jadi…”

”Kau pernah masuk TV? Atau majalah mungkin?”

”(Terkekeh memperlihatkan sedikit gigiku) TV? Majalah? Aku bukan salah satu dari mereka (menunjuk ke arah billboard di jalan bergambar 5 artis sinetron yang ’dipaksa’ menyanyi dan tergabung dalam sebuah grup yang ’tidak biasa’)”

”(Melihat ke arah billboard sebentar, lalu menatapku dengan tersenyum) Ya tentu saja. Maksudku bukan seperti mereka, tapi…entahlah, aku bingung.”

”(Aku diam sebentar, lalu pelan-pelan senyum ke arahnya)…”

”(Membalas senyumku dengan lebih baik)…”

”Mungkin kau perlu beristirahat untuk menyegarkan pikiranmu kembali.”

”Iya juga, aku merasa sedikit pusing.”

”(Bicara dalam hati) Kau mirip seperti yang aku impikan.”

”Apa ?”

”(Tolol! Aku kira aku mengatakannya di dalam hati!) Ehh…tidak. Tidak apa-apa. Mmm-mungkin aku perlu mengantarmu ke rumah sakit.”

”(Tersenyum lebar) Ya, aku mulai terganggu dengan kepalaku.”

Setitik darah meluncur dari luka sobekan di kepalanya menuju punggung telapak tangan kirinya. Wanita itu menunduk memperhatikan cairan merah kental tersebut yang perlahan bertambah banyak. Aku melihat segerombolan darah mulai keluar dan hendak membasahi wajahnya lagi seperti tadi. Sedikit rasa panik tiba di ubun-ubunku mendorong tanganku untuk meraih handuk berlumuran darah di kursi depan dan menyumbat keningnya. Ia tetap duduk tenang, merasakan tetesan demi tetesan di atas alisnya yang melengkung dan menipis di bagian ekor.

Aku menyuruhnya pindah ke kursi depan dan memutuskan untuk dengan cepat membawanya ke rumah sakit yang kebetulan tidak begitu jauh dari sini. Mobilku beregerak pelan meninggalkan jalan, tempat di mana sebelumnya ia terbaring tanpa tenaga.

Dalam perjalanan, ia memegangi handuk menutupi lukanya. Menerobos malam hanya aku dan dirinya ditemani rasa sunyi yang berteriak kencang di batinku. Pandanganku terbagi dua antara jalan di depan dan menatap dirinya dari samping. Hari yang dingin memeluk diriku, merasukiku untuk menikmati saat ini dengan memperlambat laju mobil dan waktu yang berdetak. Ada diam yang duduk di antara kita, yang menelantarkan rasa benci dalam dada namun menerbitkan sinar syukur dari timur bukit hati yang terbungkus oleh besarnya kebahagiaan batin. Aku merasa, hari ini aku mulai menerima Tuhan kembali dan juga sebaliknya.

Mobilku menepi di depan pintu rumah sakit yang serba putih. Ia membuka pintu dengan cepat sebelum aku sempat berpikir untuk membukakan pintu untuknya. Kemudian ia turun, melambaikan tangannya ke arahku sebagai isyarat bagiku untuk tetap berada di dalam mobil, tidak usah ikut turun atau mengantarnya ke dalam, lalu pintu mobil tertutup dengan halus. Tangan kirinya masih menahan handuk di kepalanya, sementara tangan kananya berputar memintaku untuk membuka kaca. Ia merunduk, menatap mataku kembali, tersenyum sambil berkata :

”Hey, saat pertama kali sadar dan melihat wajahmu…aku kira aku sudah mati atau di tempat lain di atas sana. Karena aku baru ingat sekarang…aku pernah bertemu denganmu di dalam mimpiku. Dan itu…terjadi berkali-kali. Terima kasih telah menolongku dan…menemaniku selama…ini.”

***

Aku melambaikan tangan merasakan arus angin melawanku hingga mataku pun berair. Sementara bagian lain di dalam kepalaku, di dalam tulang tengkorak, di suatu tempat di otakku, mengingat beberapa hal yang baru saja lewat. Aku mengingat pancaran bola mata yang menerangi sisi hatiku yang sedemikian gelap lewat sorotannya yang begitu empuk melebihi sandaran bantalku. Aku mengingat senyuman yang terpotret dengan jelas dan setiap kali melihatnya aku seperti tersapu ke dalam pusaran yang meringankan berat badanku. Aku mengingat kelembutan dari tangan-tangan malaikat walau hanya setitik namun membuat kulit ariku terbebas dari rasa hausnya yang panjang. Dan aku mengingat apakah aku sempat menanyakan namanya atau tidak, karena aku tidak tahu harus memanggilnya apa sampai saat ini.

***

2 Responses to “Aku dan Malam Itu”

  1. on 26 Oct 2007 at 19:43KHARISMADANI

    wah cerpennya puitis banget!

  2. on 28 Dec 2007 at 23:05muhamad kosim

    kak ,ceritamu sangat enak untuk di nikmati & mnrt q, U sangat cocok sbg puitis smg dapat menciptakan buku

Tinggalkan Komentar