Nobody’s Nobody
Oktober 22nd, 2007 by realtime
Sekarang sudah jam 10.00 malam. Sebenarnya Laboratorium Komputer ini sudah tutup sejak jam 09.30 tadi. Tidak ada lagi siswa yang mengerjakan tugas. Semuanya sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal aku sendirian. Memang selalu begitu hampir setiap harinya. Aku selalu jadi yang terakhir disini. Aku memang paling lambat kalau mengerjakan tugas. Tapi aku senang, karena dengan begini, aku bisa sendirian bersama mas Dewa.
Mas yang jaga lab ini, namanya mas Dewa. Orangnya baik sekali, lho!. Sebenarnya sih, namanya bukan Dewa. Tapi orang-orang disini memanggilnya mas Dewa, soalnya rambutnya panjang.
Mas Dewa orangnya baik. Dia selalu menungguku setiap malam. Dia tidak memarahiku seperti petugas yang lainnya. Untung sekali mas Dewa sering jaga malam, jadi aku bisa santai mengerjakan tugas, dan sekalian bisa minta diantar pulang, ^_^.
Selain menjagaku disini, mas Dewa juga sering ditugaskan untuk mengawasiku saat aku mengulang ujian. Aku tidak pernah bersedih, walaupun aku selalu dapat jelek dan harus mengulang. Karena kamu tahu! setiap kali aku mengulang, aku selalu bisa bersamanya. Aku selalu merasa bahwa aku bisa menjawab semua pertanyaan ketika bersamanya. Setidaknya setelah mengulang dua atau tiga kali, aku tidak perlu mengulang lagi. Aku tidak tahu, bila seandainya mas Dewa tidak mengawasiku. Mungkin aku harus meminta dispensasi supaya nilaiku bisa diangkat. Paling tidak dapat C sudah cukup, asalkan bisa lulus, aku sudah senang.
Mas Dewa orangnya pintar. Namun sayang, tidak ada yang tahu tentang dirinya. Kalau kamu sering bicara dengannya, dan melihat ke matanya, pasti kamu akan tahu kalau dia itu sebenarnya pintar. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu mata orang pintar itu sebenarnya seperti apa. Tapi aku selalu merasakan sesuatu yang lain ketika menatap matanya. Tidak banyak orang yang minta tolong sama mas Dewa, kecuali aku. Selama ini tidak pernah ada pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya. Kecuali satu pertanyaan. Mas Dewa tidak pernah mau menjawabnya.
Mas Dewa selalu disini, setiap malam. Dia duduk di depan pintu. Pandangannya menerawang jauh, entah kemana. Pernah sesekali aku lewat di depan sini, pukul 10 malam. Saat itu aku dihukum karena tidak bisa menyelesaikan tugas merangkum. Sebagai gantinya, aku disuruh menjaga perpustakaan agar bisa sekaligus mengerjakan tugas. Saat aku lewat sini di malam hari, aku melihat mas Dewa duduk di depan pintu, seperti saat dia menungguku. Padahal tidak ada lagi siswa di lab. Semua sudah pulang setelah jam 9. Hanya aku saja yang selalu pulang jam 11 karena tidak bisa menyelesaikan tugas dengan cepat.
Aku jadi bertanya dalam hati. Apakah benar mas Dewa benar-benar menungguku setiap harinya. Jangan-jangan, dia sebenarnya tidak menungguku, melainkan menunggu orang lain. Tapi siapa? Dan kalau seandainya dia tidak sedang menunggu orang itu, apakah mungkin aku bisa pulang malam hari seperti biasanya?.
Pernah aku bertanya kepada mas Dewa, apa dia tidak kesepian menungguku sendirian setiap harinya. Apalagi aku selalu pulang telat, dan aku selalu pulang terakhir.
Mendengar pertanyaanku, dia bukannya menjawab malah tersenyum. Dia bilang bahwa dia menunggu sendirian hanya kalau aku sedang di lab. Mendengar penjelasan itu aku jadi merasa bersalah. Tapi sebenarnya aku tahu dia berbohong. Kalau memang dia sedang menungguku, lalu kenapa dia tetap disini saat aku sedang tidak mengerjakan tugas.
Mas Dewa juga pernah bilang, sebenarnya kita tidak perlu merasa kesepian walau harus menunggu sendirian. Karena selama masih ada orang yang kita tunggu, itu artinya kita tidak sendiri. Dan selama masih ada orang yang menunggu kita, itu artinya diri hidup kita masih berarti. Mendengar perkataan itu aku jadi sangat senang sekali. Walau aku tahu, sebenarnya perkataannya itu tidak ditujukan padaku.
Kata orang, mas Dewa punya adik perempuan. Dia dulu sekolah disini. Anaknya sangat cantik dan pintar. Tapi sayangnya tidak banyak yang bisa kudengar tentang dirinya. Aku ingin bertanya langsung kepada mas Dewa. Tapi dia tidak pernah menjawab. Dia selalu tersenyum bila aku mengatakan tentang hal itu, seakan-akan cerita itu hanyalah sebuah gurauan dan tidak lebih dari sekedar gosip.
Aku selalu berharap bisa memahami perasaan mas Dewa. Kata kakek, bila ingin memahami perasaan seseorang, maka kita setidaknya harus memiliki pengalaman yang sama dan memiliki hidup yang mirip. Seorang guru akan memahami perasaan guru yang lain. Seorang siswa akan memahami perasaan sesama siswa. Tapi masalahnya, aku dan mas Dewa sangat tidak mirip. Secara fisik, mungkin ada kemiripan. Setidaknya mas Dewa memiliki mata dua, hidung satu, dan telinga dua seperti aku. Tapi itu saja tidak cukup. Karena untuk memahami pikiran orang lain, maka perasaan kita juga harus sama.
Aku selalu berharap, kalau saja aku bisa jadi pintar seperti mas Dewa, mungkin aku bisa memahami isi hatinya. Aku selalu membayangkan bagaimana seandainya jikalau aku jadi siswa paling pintar di sekolah. Mungkin tidak akan ada siswa yang mendapat nilai diatas C. Karena jika aku siswa paling pintar di sekolah, maka semua siswa akan berada di bawahku, dan mereka semua pasti akan mendapatkan nilai D dan E.
Tapi jika benar begitu, maka semua siswa akan mengulang dan pasti mas Dewa akan sangat sibuk sekali dan aku tidak akan bisa bersamanya lagi.
Lalu, bagaimana kalau seandainya aku sendiri yang dapat D. Kalau begitu, maka yang lain pasti akan dapat nilai E semuanya, karena aku yang paling pintar di kelas dan semua siswa seharusnya berada di bawahku. Mungkin harus ada nilai F supaya bisa lebih beragam.
Satu lagi yang tidak kumengerti apabila aku jadi orang paling pintar, adalah bagaimana isi kelas nantinya di pagi hari. Aku sering terlambat dan dihukum di luar kelas. Kalau tidak ada siswa yang lebih baik dariku, pasti semuanya akan terlambat dan dihukum bersama-sama. Jikalau benar begitu, pasti Pak guru akan repot sekali. Mungkin dia harus mengajar lewat jendela supaya anak-anak yang diluar bisa mendengarkan.
Setelah kupikir-pikir, jadi orang pintar tidak menyenangkan.
***
Sekarang sudah jam 10.30, tak terasa ternyata aku melamun cukup lama. Aku menoleh ke luar dan melihat mas Dewa duduk bersandar di pintu dengan pandangan seperti biasa, menerawang jauh entah kemana.
“Kupanggil, tidak ya?” Aku bertanya dalam hati, apakah aku harus memanggil mas Dewa untuk membantuku atau tidak.
“Mas ……!” Aku memutuskan untuk memanggil mas Dewa. Tapi sayangnya dia tidak menoleh. Mungkin dia tidak mendengar. “Mas ….!!” Aku memanggil lagi, dengan suara agak keras. Namun sekali lagi dia tidak menoleh. Perlahan aku jadi agak kesal dan ingin berteriak, namun segera kuurungkan niatku. Lalu akupun membereskan barang bawaanku dan beranjak pergi.
Sambil berjalan pulang, aku melihat mas Dewa dari belakang. Semakin lama kupandang, mas Dewa kelihatan semakin …. entahlah, aku jadi malu mengatakannya. Perlahan aku merasa sepertinya aku mulai suka sama mas Dewa, dan akupun mulai membayangkan yang tidak-tidak. Aku membayangkan bagaimana jika mas Dewa jadi pacarku nantinya. Bagaimanaya kalau seandainya nanti kami bisa bersama?
“Kamu sudah selesai… !” Tiba-tiba ucapan mas Dewa membelah khayalanku. Matanya yang jernih dan tajam menatap mataku dengan dalam. Aku jadi salah tingkah dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Eh .. ndak…. eh … ya, saya sudah selesai” Kataku, sambil terbata-bata.
“Kalau belum selesai, selesaikan saja dulu.” Kata mas Dewa lagi. Perkataannya menunjukkan seakan-akan dia bisa membaca pikiranku. Jangan-jangan dia tahu apa yang sedang aku pikirkan.
“Ah … enggak kok, saya nggak suka.. eh… saya suka eh sudah selesai, bener! sudah selesai kok!”
“Nggak suka sama siapa?”
“Mas Dewaa…. aaaah …. aduuuh, …. saya mau pulang dulu, terima kasih, ya Mas!”
Mas Dewa hanya tersenyum, aku tidak tahu apa dia benar-benar bisa membaca pikiranku atau tidak. Aku tidak berani menatap matanya lagi, dan akupun buru-buru melangkah pulang.
Bagaimanapun juga, aku hari ini sangat senang sekali. Kuharap setiap hari bisa seperti ini. Ngomong-ngomong, ujian lagi kapan ya ….