KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Pengamen di Hari Sabtu

Hari ini, adalah hari Sabtu. Aku menaiki sebuah bus dari Surabaya yang melaju ke arah timur menuju ke kota Banyuwangi. Waktu sudah menjelang maghrib. Padahal rasanya baru satu jam yang lalu kudengar suara adzan dari masjid di pasar Ngopak, tempat aku menunggu bis untuk pulang ke Banyuwangi.

Suara adzan yang kudengar tadi masih saja menemaniku dan berusaha membawaku pada kenangan masa lalu, saat aku menunggu waktu atsar di sore hari. Sewaktu kecil, aku selalu ditugaskan untuk adzan untuk sholat atsar, namun aku tidak pernah tahu kapan sebenarnya waktu atsar tiba, sehingga aku hanya menunggu sampai ada orang lain yang adzan, baru setelah itu aku mulai adzan.

Kini aku sudah tidak bertugas lagi, setidaknya sudah lima tahun aku tidak pernah lagi menjadi seorang muadzin. Masjidkupun kini sangat sepi. Yang tertinggal hanyalah sebuah bangunan tua, yang berdiri sendiri ditemani sebuah bedug yang sobek di sisi kanannya. Saat aku lewat tadi, aku sempat melihat ada sebuah tangan menjulur dari sobekan tersebut. Rupanya ada yang tidur di dalam bedug.

Sembari terus berjalan meninggalkan kota kelahiranku, aku terus berusaha membuka kembali lembaran-lembaran lama, sambil sesekali menulisi kembali baris-baris yang semakin pudar. Mataku terus memilah-milah kenangan diantara barisan pohon tebu yang memagari pinggiran jalan.

Saat kulihat kilatan-kilatan cahaya matahari di sore hari yang keluar dari celah-celah yang dibuat oleh pematang-pematang sawah, aku seperti melihat bayangan anak-anak kecil berlari sambil dikejar bayangan mandor yang ingin menangkap anak-anak yang suka mencuri tebu.

Akupun menolehkan pandangan melihat kebawah, menelusuri jalur rel dari lori yang sudah tidak terpakai lagi. Aku berusaha menemukan paku-paku yang tersembunyi di balik rel-rel itu, yang disembunyikan oleh anak-anak yang ingin mencuri tebu. Rasanya aku masih bisa melihat rel-rel itu dengan dengan jelas, memilah-milah dan menemukan paku-paku bengkok yang diselipkan diantara rel kereta.

Banyak yang berubah sejak lima tahun berlalu. Tidak ada lagi truk-truk yang lewat membawa tebu. Tidak ada anak-anak yang berdiri di pinggir jalan, menunggu truk-truk tebu lewat untuk mencuri tebu-tebu dari truk tersebut. Tidak ada lagi suara mandor yang memarahi anak-anak yang berusaha mencuri tebu dari lori. Semuanya sudah berubah.

Aku memalingkan pandanganku dari luar bus menuju ke dalam. Tepat satu baris di depanku, seorang nenek-nenek dengan seenaknya duduk di tengah jalan, diatas karung singkong yang dibawanya dari pasar. Sementara itu, di belakang sana, seorang laki-laki setengah baya berusaha menawarkan kripik singkong seharga lima ratus rupiah yang sebenarnya dibelinya dengan harga 1000 rupiah untuk tiap lima bungkusnya. Aku tahu karena dulu aku juga pernah berjualan buku-buku do’a yang kubeli dengan harga Rp. 1000,- untuk tiga buah buku, lalu kujual lagi seharga Rp. 1000,- untuk tiap bukunya.

Diantara kerumunan orang-orang ini, ada dua orang penumpang yang menarik perhatianku. Yang pertama adalah seorang pengamen yang tidak henti-hentinya bernyanyi, dan yang kedua adalah seorang perempuan yang duduk tepat disebelahku.

Perempuan ini memakai kaos merah, dengan celana jeans. Tangannya memeluk seorang gadis kecil yang sangat manis yang duduk dipangkuannya. Sesekali gadis kecil ini turun dari pangkuan ibunya, dia berusaha berjalan ke depan dan menendang-nendang karung singkong yang ada di depannya. Kemudian dia berjalan pulang lagi dan menenggalamkan kepalanya di pangkuan ibunya.

“Mama-mama ….” suara kecil gadis itu terdengar di telingaku. Aku menoleh dan berusaha tersenyum kepada gadis mungil itu, dan dia pun tersenyum manis lalu kemudian semakin menenggelamkan kepalanya ke pangkuan ibunya.

Sementara aku terus bercengkrama dengan gadis yang mungil itu, di lain pihak, ibu gadis mungil itu tetap menunduk. Rambutnya yang hitam tampak mengkilap saat cahaya mentari sore yang menembus kaca jendela berusaha untuk membelainya. Ingin sekali aku memukul tangan yang usil itu, tapi aku takut tanganku akan mengenai tangan kecil si gadis mungil yang juga berusaha meraih rambut ibunya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis.

Aku belum sempat menyapa ibu dari anak yang manis itu. Mereka baru saja naik dari pasar ngopak, bersamaan dengan pengamen yang kini masih saja terus bernyanyi tanpa sesekalipun berhenti untuk meminta uang dari penumpang.

Belum sempat aku membuka percakapan, tiba-tiba saja suara kondektur yang serak dan keras berteriak dari pintu belakang.

“Grati.. grati .. pasar … pasar”

Dan bersamaan dengan suara itu pula, tiba-tiba saja pengamen itu berhenti bernyanyi, dan si ibu dari gadis yang mungil itu, menarik tangan buah hatinya, berdiri dari tempat duduknya dan pergi tanpa mengucap sebuah kata.

Hari ini aku memang lagi tidak beruntung, pikirku. Bertemu dengan gadis mungil yang cantik tanpa tahu namanya. Moga-moga saja Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang lain. Aku berharap akan ada gadis mungil lagi yang akan duduk disampingku.

Namun berbeda dari yang aku pikirkan. Bukannya gadis kecil yang kini duduk di sebelahku, melainkan pengamen yang sedari tadi menyanyi itu. Pengamen tidak boleh duduk, pikirku dalam hati dan hampir saja aku mengutarakan apa yang aku pikirkan, kalau saja bukan dia yang memulai menyapa.

“Apa kabar, Di … kamu tidak lupa padaku, kan?”

Aku yang masih berusaha mengharapkan gadis yang mungil itu kembali menjadi terkejut setelah mendengar sapaan dari pengamen barusan. Akupun berusaha mengingat-ingat wajah dari pengamen itu yang memang rasanya tidak asing, itulah sebabnya kenapa aku merasa ada yang aneh ketika aku melihatnya bernyanyi..

“Oh … Farid …. apa kabar?” Aku balas menyapa

“Kamu sudah lupa, ya? Sudah lima tahun kamu tidak pulang. Aku tahu suatu saat kamu pasti kembali. Setidaknya, selama makam ayahmu masih disini, pasti kau akan kembali untuk mengunjunginya, walau hanya sekali setelah lima lima tahun ini.”

“Ya” Jawabku datar. Aku tidak tahu harus berkata apa. Rasanya aku belum sempat menata kembali apa yang ada di kepalaku, setelah hanyut dibawa oleh senyuman si gadis mungil tadi

“Bagaimana kabar yang lain?” tanyaku sekenanya.

“Farida sekarang berjualan kedelai di pasar, kau tidak akan bisa menemuinya kecuali saat pasar tutup.”

“Aku tadi sempat ke rumahnya,” aku menimpali, “lalu aku mampir ke masjid”.

“Masjid itu sudah tutup sejak kamu pergi” Jawab Farid

“Ya, aku tahu. Tapi aku tidak tahu kenapa masjid itu harus tutup?”

“Entahlah, mungkin semuanya ada hubungannya denganmu. Sejak kamu pergi, semuanya jadi berubah.”

“Bagaimana kabar Yani?” tanyaku kemudian, sembari mengingat nama teman-teman lamaku.

Berbeda dari yang tadi. Kali ini pertanyaanku dijawab oleh alunan gitarnya. Farid tidak menjawab, seperti berusaha menungguku untuk bertanya yang lain. Tapi aku tidak menyerah. Cukup lama juga aku menunggu hingga mau bicara.

“Kupikir kau tadi mampir sebentar ke desa” Kata Farid kemudian

“Ya… sehabis dari kuburan, aku mampir ke rumah Farida, tapi dia tidak ada, lalu aku pergi ke masjid dan ternyata juga sudah tutup. Lalu aku bermaksud mampir ke rumah Yani, namun juga tidak ada. Bahkan rumahnya pun sepi”

“Semuanya sudah pergi.” Kata Farid. “Kamu pasti sudah mendengar cerita dari orang-orang”

“Maksudmu, cerita itu? Apa kamu masih percaya dengan berita itu?” Tanyaku, sembari berusaha mengingat cerita yang baru saja kudengar dari penduduk desa. Mereka menceritakan tentang kepergian keluarga Yani yang dihubung-hubungkan dengan makhluk gaib. Ternyata mereka masih percaya saja dengan takhayul yang sudah berumur puluhan tahun itu. Manusia memang sulit untuk berubah.

“Semuanya adalah salahku” Kata Farid kemudian. “Mungkin kalau aku tidak memaksanya, semuanya tidak akan terjadi. Tapi ini juga salahmu, kalau saja kau tidak pergi, maka semuanya tidak akan terjadi. Mengapa kamu pulang sendiri malam itu? Kenapa kamu tidak pulang bersama kami, bukankah kita selalu pulang bersama? Lalu mengapa saat itu kamu tidak pulang ke rumah? melainkan hilang entah kemana. Lalu setelah lima tahun, tiba-tiba saja kau kembali dan bertanya seakan tidak terjadi apa-apa”

Aku sempat tidak mengerti apa yang dikatakan Farid barusan. Mengapa tiba-tiba dia melabrakku dengan pertanyaan-pertanyaan yang hampir tidak kumengerti. Aku berusaha berpikir sejenak, dan membuka kembali lembaran-lembaran kenangan yang aku miliki, hingga aku berhenti pada halaman dimana aku menemukan apa sebenarnya yang Farid maksudkan. Nampaknya Perkataan Farid membawaku kemalam disaat aku meninggalkan desa ini. Aku masih ingat bahwa malam itu aku juga menaiki bus menuju Banyuwangi.

Aku tidak tahu kenapa aku pergi, semuanya terjadi begitu saja. Yang aku tahu, malam itu ibu berlari sambil menangis menuju ke masjid tempat aku mengaji. Rambutnya yang biasa hitam, rapi dan mengkilat tampak acak-acakan. Matanya merah dan ada sedikit darah keluar dari kepalanya bercampur dengan lipstik dan air mata. Ibu menarik tanganku dan mengatakan bahwa aku harus segera pulang, atau ayah akan membunuhku. Aku tahu pasti ayah sedang marah-marah lagi. Aku bisa melihat dari tangan ibu yang memar saat dia menarikku.

Ibu bilang aku harus pulang. Tapi kemudian Ibu membawaku naik bus entah kemana. Di dalam bis aku tertidur, dan setelah aku bangun, Aku hanya tahu bahwa aku sudah jauh dari rumah. Dan kehidupankupun berubah semenjak saat itu pula. Aku tidak pernah berani menanyakan kenapa Ibu membawaku pergi. Mungkin karena jawabannya sudah jelas. Ibu takut, Ayah akan membunuh kami.

“Gara-gara kamu pulang lebih dahulu,” kata Farid kemudian, merobek lamunanku “Aku jadi harus pulang sendirian. Yani juga pulang sendirian. Dan sejak saat itu, semuanya tidak pernah kembali lagi.”

“Kamu tahu,” Farid melanjutkan, “dari dulu kita selalu pulang bersama. Kamu, Aku, Afid, dan Yani. Berkat kau, aku jadi bisa berjalan dengan Yani, walau ku tahu. Dia sebenarnya hanya ingin berjalan bersamamu saja”

“Tapi, bukankah dengan aku pulang lebih dahulu, kau jadi bisa jalan bersama Yani. Kalau tidak salah, Farida saat itu juga tidak masuk kan?” Kataku menimpali. Hal inilah yang sebenarnya sempat berada di pikiranku saat Ibu membawaku pergi. Mungkin dengan aku pulang duluan, Yani akan terpaksa pulang bersama Farid. Dan keesokan harinya aku berharap mereka akan tetap bersama. Sayang sekali keesokan harinya aku tidak bisa melihat mereka kembali.

“Mulanya aku berpikir demikian.” Farid menanggapi. “Namun kenyataan tidak seperti yang dibayangkan. Saat selesai mengaji aku terus menunggu Yani di depan masjid. Hatiku berdebar dan aku terus bertanya, kapan Yani akan pulang. Apakah aku berani mengajaknya pulang, ataukah aku akan membiarkan dia pulang sendirian di malam hari. Aku tahu Yani tidak akan berani pulang sendiri, tapi aku juga tidak berani mengajaknya. Maka yang aku lakukan hanyalah duduk dan menunggu”

“Lalu” Kataku kemudian, “apakah kamu berhasil mengajaknya pulang?”

“Waktu itu, jam dinding di depan masjid sudah menunjuk pukul 8 malam. Aku memutuskan untuk untuk masuk ke dalam, dan bertanya kepada Pak Yai. Namun ternyata kudapati bahwa Yani sudah pulang. Beliau bilang, dia sudah pulang duluan dari pintu belakang”

“Jadi, Yani pulang lewat belakang?”

“Ya” Kata Farid, dengan nada yang menurun. Aku bisa membaca nada-nada kekecewaan dari wajahnya. Dan diapun menyanyikan nada itu dalam alunan musk gitarnya.

“Ehm…” Tiba-tiba saja suara serak dan keras terdengar dari arah belakang. Seorang kondektur berdiri dengan nada sedikit marah. Aku tahu pengamen seharusnya tidak duduk, karena tempat duduk hanya untuk penumpang yang bayar.

“Probolinggo, dua orang” jawabku sambil menyodorkan beberapa lembar uang ribuan. Aku membayar karcis untuk kami berdua.

“Kau membayarkan lagi, sama seperti dulu” Kata Farid kemudian. “Aku masih ingat kau dulu yang membayar untuk gulali yang ingin kuberikan ke Yani. Tapi tentu saja aku berkata jujur padanya bahwa kaulah yang sebenarnya membeli, kalau tidak, pasti dia tidak akan mau menerimanya”

“Apa kau yakin, dia tidak akan menerimanya?” Tanyaku.

“Ya, sama seperti saat dia memilih untuk lewat pintu belakang, saat tahu kau sudah pulang duluan”

“Aku tidak tahu, Yani benar-benar nekat” Kataku

“Kamu masih ingat cerita itu kan” Kata Farid lagi.

Aku kembali membuka lembarang-lembaran itu. Kenapa dia selalu memaksaku untuk melakukannya.

Dulu pernah ada sebuah cerita dari mulut ke mulut. Bahwasanya ada hantu yang menunggu di jembatan yang berada di belakang masjid. Saat itu anak-anak, bahkan orang dewasa percaya dengan cerita tersebut. Ibuku selalu melarangku untuk melewati jembatan itu, walaupun setiap malam sering kulihat ibu sering pergi ke sana, dengan dandanan yang menor dan lipstik yang tebal.

Berbeda dengan Ibu yang pergi diam-diam di malam hari. Ayahku sering terlihat pergi di sore hari dan dia juga sering pulang dari daerah itu dengan mata merah dan mulutnya bau sekali di pagi hari. Dan biasanya, kalau ayah sudah pulang dengan keadaan seperti itu, maka dia akan memukuli ibu keesokan harinya.

Aku tidak tahu apa benar ada hantu di sana. Kenapa orang-orang begitu percaya, seakan-akan mereka menyembunyikan sesuatu. Sama seperti ketika Ayahku meninggal. Dia ditemukan di bawah jembatan, terjatuh dengan kepala terlebih dahulu. Penduduk bilang, saat itu Polisi sedang melakukan penggrebekan dan ayahku berusaha kabur, hingga dia terpeleset dan jatuh.

Diantara kami berempat, Yani adalah orang yang paling takut untuk lewat daerah tersebut. Dia tidak pernah lewat jembatan itu bahkan di siang hari. Itulah sebabnya aku tidak mengerti kenapa dia sampai nekat berbuat demikian, hanya karena menolak untuk pulang bersama Farid.

“Kurasa kamu mulai mengerti.” Kata Farid kemudian. “Dia begitu membenciku sehingga harus melewati jembatan itu agar tidak pulang bersamaku”

“Menurut cerita penduduk, Yani memang tidak pulang saat itu” Aku menceritakan apa-apa yang sempat jadi perbincangan penduduk saat aku pulang menengok makam ayahku tadi.

“Dia diculik oleh makhluk yang tinggal di jembatan belakang masjid.” Kata Farid

“Kau percaya dengan hal itu” Tanyaku

“Kenyataannya dia tidak pulang ke rumah” Jawab Farid

“Tapi menurut cerita penduduk, dia dikembalikan lagi setelah tiga hari.”

“Aku juga mendengarnya demikian”

“Apa yang terjadi dengan Yani”

“Sudah kubilang, dia diculik Gendruwo”

Aku menghela nafas, rasanya aku ingin menyadarkan Farid bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.

“Aku tahu cerita itu bohong” Kata Farid kemudian, seakan dia bisa membaca pikiranku. “Aku tahu cerita itu tidak benar. Tapi apalah arti kebenaran, kalau semuanya bermuara pada tempat yang sama. Apapun yang terjadi padanya, semuanya menjelaskan bahwa itu adalah salahku”

“Kau tidak perlu menyalahkan diri seperti itu. Apa yang terjadi, semua sudah ditakdirkan. Yang terpenting kita harus selalu berusaha dan bangkit dari kesedihan. Bukankah setelah Yani pulang, kau pergi kerumahnya. Aku tahu pasti kau pergi ke sana. Kau masih menyayanginya kan?”

“Tentu saja. Saat itu, aku langsung kerumahnya, namun rumah mereka terkunci rapat. Keesokan harinya, aku melihat mereka menyewa truk untuk membawa barang-barang dari rumah mereka. Sepertinya mereka akan pindah entah kemana.”

“Apakah kau tahu dia pindah kemana?” Tanyaku kemudian.

“Aku berusaha mengikuti dari belakang. Apakah kau ingat yang kau ajarkan padaku saat kita pergi ke Banyu Biru” Farid balik bertanya.

Sekali lagi pikiranku melayang ke masa lalu, mengenang saat aku bermain di Banyu Biru. Kami dulu sering pergi ke sana sembari bergelayutan di belakang truk tebu.

“Dulu kaulah yang mengajariku bagaimana meloncat ke truk tebu.” Farid melanjutkan. “Pertama kita harus menunggu di perempatan, menunggu truk itu melaju perlahan karena dia harus berbelok. Lalu saat itu kita harus melompat pada saat yang tepat. Bukankah itu yang kau bilang, saat kita akan menumpang truk tebu untuk pergi ke Banyu Biru”

Aku tersenyum kecil, mengingat betapa aku dulu pernah melakukan hal bodoh seperti itu. Kini aku pasti tidak berani melakukannya lagi.

“Aku berusaha mengikuti nasehatmu dan melompat ke truk yang di sewa oleh keluarga Yani saat truk itu berbelok di perempatan. Namun truk itu tidak melaju perlahan saat berbelok seperti yang kamu katakan. Akupun terjatuh dan tidak tahu kemana truk itu pergi”

Aku terus terdiam mendengarkan cerita Farid, sampai tiba-tiba sekali lagi terdengar suara yang serak yang kini berasal dari belakang pintu.

“Linggo … linggo .. Problinggo gak parkir….”

Dan tanpa berbicara lagi, aku dan Farid beranjak dari tempat duduk.

“Apa ada kabar dari Yani?” Aku bertanya seraya berjalan menuju pintu belakang.

“Aku pernah dengar dari teman-teman bahwa mereka pernah sesekali melihat Yani naik bis di hari Sabtu. Kau tahu dari dulu aku selalu ingin mengantarnya pulang. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk mengamen di hari Sabtu, berharap suatu saat bisa bertemu kembali dengannya. Walaupun kami tidak pernah bercakap-cakap, namun aku senang dengan hanya memandangnya dari jauh.”

“Do’akan aku ya Di.” Kata Farid melanjutkan. Dia berdiri di pintu belakang, menunggu kesempatan agar dia bisa melompat dari bis. “Sebentar lagi aku mungkin bisa bekerja jadi kondektur bis. Dengan begitu aku mungkin bisa mengantarnya setiap hari. Kalau punya duit, aku juga bermaksud melamarnya.”

“Amin” Jawabku. Aku pun mendekati pintu belakang sambil berusaha melihat ke jalan.

“Apakah kamu pernah bertemu Yani” Tanyaku kemudian.

Mendengar pertanyanku Farid terdiam sesaat sebelum menjawab. “Kamu tidak akan bisa mengingatnya lagi. Bahkan saat kau bertemu denganya, kau tidak bisa mengingatnya. Aku juga hampir tidak bisa mengenalnya lagi, saat pertama bertemu kembali. Tapi aku tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Aku tidak akan pernah lupa dengan sifat-sifatnya. Yani yang pendiam. Yani yang pemalu. Yani yang selalu menundukkan wajahnya saat bertemu. Kalau kau tidak menyapanya terlebih dahulu, maka dia akan terus menunduk dan tidak bicara apa-apa. Dia memang sudah berubah, tapi dia tetap Yani yang dulu dan aku akan tetap mencintainya untuk selamanya.”

Selesai berbicara, Farid langsung melompat dari bis. Akupun menyusulnya dari belakang. Hampir saja aku terjatuh dari bis karena aku tidak sadar karena ternyata bisnya begitu dekat dengan trotoar. Rasanya aku sudah tidak sepintar dulu ketika aku melompat dari truk.

Sesaat setelah aku berhasil menyeimbangkan diri. Kulihat Farid sudah naik ke bis yang lain. Samar-samar seperti kudengar alunan gitarnya menyanyikan lagu lama. Lagu yang pernah kondang saat kami masih bersama.

Sebenarnya aku masih ingin bercakap-cakap dengan Farid. Aku ingin menanyakan kabar Farida dan teman-teman yang lain. Tapi tampaknya Farid tidak mau berkata-kata lagi. Mungkin dia sudah tidak bisa lagi mengungkap masa lalu yang terlalu pedih baginya. Semoga dia bisa memulai hidup baru, sama halnya dengan diriku.

Akupun berjalan menyusuri jalan yang semakin gelap. Perlahan-lahan mulai kudengar alunan adzan dari masjid yang kulalui. Saat aku menoleh, aku melihat anak-anak yang sedang bercengkrama di halaman. Ingatanku kembali ke masa lalu. Saat Aku dan Farid selalu bermain di halaman, sambil berusaha menarik perhatian Yani yang mengintip di balik selambu.

Sebenarnya Yani tidak pernah membenci Farid, dia hanya agak pemalu. Apalagi bila harus berjalan berdua. Aku ingat malam itu Farida tidak datang karena sakit, sehingga yang tertinggal hanyalah Farid dan Yani. Aku tidak tahu kalau ternyata hari itu adalah hari terakhir kami bersama.

Sembari berjalan, aku terus membayangkan Yani di dalam benakku. Yani yang pendiam, Yani yang selalu menunduk, Yani yang selalu menunggu untuk di sapa, Yani yang selalu takut dan berlindung di balik teman-temannya, Yani yang manis, semanis gadis mungil yang tersenyum sambil menenggalamkan kepala ke dalam pelukannya. Yani yang suka berbaju merah, semerah pipinya saat dia tersipu. Tak kusangka setelah lima tahun berlalu, aku akan bertemu mereka kembali di hari yang sama saat kami berpisah dahulu.

Mungkin, di hari Sabtu yang akan datang, di dalam bis yang berangkat dari Surabaya, aku akan bertemu lagi dengan mereka. Saat itu Farid akan menjadi kondektur, yang mengantarkan Yani pulang ke Grati. Mungkinkah gadis kecil itu akan tersenyum lagi padaku, ataukah mungkin aku bisa membuat ibunya tersenyum? Sama seperti saat aku membuatnya tersenyum di hari yang lalu. Mungkin kali ini aku harus menyapanya. Entahlah, tapi aku merasa, Sabtu yang akan datang, tidak akan begitu lama.

One Response to “Pengamen di Hari Sabtu”

  1. on 06 Nov 2007 at 21:52suararaa

    bagus… bikin penasaran………

Tinggalkan Komentar