Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Cerpen on Oktober 26th, 2007 2 Comments »
Aku terhenyak, tak bisa beranjak dari tempatku duduk. Hatiku bergetar dipantul-pantulkan oleh kepanikan, dan aku tidak dapat menghentikan mataku yang membelalak. Ditekan oleh perasaan yang gila ini, satu-satunya yang aku harapkan adalah merasakan kakiku masih berpijak.
Posted in Puisi on Oktober 26th, 2007 No Comments »
bolehkah jika aku menamaimu teman
karena memang hanya kau yang memiliki pundak kehidupan
tempatku menyiramkan air mata
dan kau mengubahnya menjadi bunga
tapi bukankah menjadi teman
adalah beban yang tak bertimbang
bersusah kau mengubah hati
tuk menjadi sebilah belati
yang membelah kerapuhan jiwa
mengurai segala muram dan durja
dan menyusunnya
menjadi mega yang berwarna jingga
Permanent link to this post (56 words, estimated 13 secs reading time)
Posted in Intermezzo, Asa on Oktober 24th, 2007 No Comments »
Tersibak jelas sebuah pengkhianatan akan nurani…
Dalam hati tetap menitikan penampikan yang dalam sampai ke kerongkongan serasa menyayat hati…
Hingga ujung hati yang paling dalam pun ikut tersayat dan akhirnya menangis sampai airmata mengering…
mendera mereka menari…
PALSU
Permanent link to this post (39 words, estimated 9 secs reading time)
Posted in Puisi on Oktober 24th, 2007 No Comments »
Tandus dan gersang
Penuh debu beterbangan
Ribuan mayat tampak berserakan
laksana daun berguguran
“Kapankah hujan akan turun?” Aku bertanya pada salah satu mayat yang terbujur kaku
Biar luruh sluruh darah kering itu!
Biar hilang bau busuk itu!
“Kapankah hujan akan turun?” Aku bertanya sekali lagi
Posted in Puisi on Oktober 24th, 2007 No Comments »
Dulu…
Camar mengajakku terbang
ke taman surga
tak disangka
ia menjatuhkanku
pada sebuah lembah
securam khayalan
yang mengerikan
akupum terkapar
tapi……
kucoba tuk merangkai
setiap asa yang tersisa
kini…
akupun berdiri kembali
dengan secercah realita
meski tak setegar tiang bendera
dan kudapati camar itu bersayap patah
Masih ada yang tersisa
Dibalik pintu ruang diamku
Tersembunyi sekat-sekat tanya
Tentang rindu
Tentang cinta
Tentang doa-doa yang belum terjawab
Mungkin tak ada lagi untukku
Dia enggan menyapa anggan
Dalam kumparan waktu
Jauhnya jarak tak bergaris batas
Menunggu dalam kebisuan
Aku terkejut dan tersentak saat tahu telah memasuki alam masa laluku. Saat-saat aku masih memakai seragam putih biru, sambil menyangklong tas penuh buku-buku. Entah buku pelajaran, entah buku pegangan, ataupun buku-buku antah berantah. Aku sepenuhnya yakin saat itu berdiri di depan gerbang SMP ku. Jenjang sekolah yang membuatku mengalami untuk pertama kali perasaan cinta.
Posted in Puisi, Cerita Kehidupan on Oktober 22nd, 2007 No Comments »
Seorang pensiunan
sepuluh hari sudah dia lepas dari kesibukan
dia berdoa dalam keheningan
Terima kasih Tuhan…..
Kau telah beri saya umur panjang
kau beri saya kesempatan ‘tuk menikmati pensiun ini
begitu nikmat
saya bisa hadir ditengah keluarga
bercanda
anak cucu senantiasa gembira
ku terlepas dari rutinitas kerja
kudengar seruan MU
ke teringat pertuah bijak
langkah kaki penuh tanya
Untuk apa ini adanya
Basuhan keringat
legam melekat
jauhkan hati akan pekat
Pada MU aku mengingat
ketika hati terasa terjerat
Ya Robby…
sujud syukurku hanya padamu
ikhlas ku serahkan pada MU
Posted in Cerpen on Oktober 22nd, 2007 No Comments »
Sekarang sudah jam 10.00 malam. Sebenarnya Laboratorium Komputer ini sudah tutup sejak jam 09.30 tadi. Tidak ada lagi siswa yang mengerjakan tugas. Semuanya sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal aku sendirian. Memang selalu begitu hampir setiap harinya. Aku selalu jadi yang terakhir disini. Aku memang paling lambat kalau mengerjakan tugas. Tapi aku senang, karena dengan begini, aku bisa sendirian bersama mas Dewa.