KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Oktober 2007

Aku dan Malam Itu

Aku terhenyak, tak bisa beranjak dari tempatku duduk. Hatiku bergetar dipantul-pantulkan oleh kepanikan, dan aku tidak dapat menghentikan mataku yang membelalak. Ditekan oleh perasaan yang gila ini, satu-satunya yang aku harapkan adalah merasakan kakiku masih berpijak.

Bolehkah

bolehkah jika aku menamaimu teman
karena memang hanya kau yang memiliki pundak kehidupan
tempatku menyiramkan air mata
dan kau mengubahnya menjadi bunga
tapi bukankah menjadi teman
adalah beban yang tak bertimbang
bersusah kau mengubah hati
tuk menjadi sebilah belati
yang membelah kerapuhan jiwa
mengurai segala muram dan durja
dan menyusunnya
menjadi mega yang berwarna jingga

Fragmen Ketidakberdayaan

Tersibak jelas sebuah pengkhianatan akan nurani…

Dalam hati tetap menitikan penampikan yang dalam sampai ke kerongkongan serasa menyayat hati…

Hingga ujung hati yang paling dalam pun ikut tersayat dan akhirnya menangis sampai airmata mengering…

mendera mereka menari…

PALSU

Tangis Penyesalan

Tandus dan gersang

Penuh debu beterbangan

Ribuan mayat tampak berserakan

laksana daun berguguran

“Kapankah hujan akan turun?” Aku bertanya pada salah satu mayat yang terbujur kaku

Biar luruh sluruh darah kering itu!

Biar hilang bau busuk itu!

“Kapankah hujan akan turun?” Aku bertanya sekali lagi

Dulu dan Kini

Dulu…

Camar mengajakku terbang
ke taman surga
tak disangka
ia menjatuhkanku
pada sebuah lembah
securam khayalan
yang mengerikan
akupum terkapar

tapi……
kucoba tuk merangkai
setiap asa yang tersisa

kini…

akupun berdiri kembali
dengan secercah realita
meski tak setegar tiang bendera
dan kudapati camar itu bersayap patah

 

Masih ada yang tersisa

Dibalik pintu ruang diamku

Tersembunyi sekat-sekat tanya

Tentang rindu

Tentang cinta

Tentang doa-doa yang belum terjawab

Mungkin tak ada lagi untukku

Dia enggan menyapa anggan

Dalam kumparan waktu

Jauhnya jarak tak bergaris batas

Menunggu dalam kebisuan

Aku terkejut dan tersentak saat tahu telah memasuki alam masa laluku. Saat-saat aku masih memakai seragam putih biru, sambil menyangklong tas penuh buku-buku. Entah buku pelajaran, entah buku pegangan, ataupun buku-buku antah berantah. Aku sepenuhnya yakin saat itu berdiri di depan gerbang SMP ku. Jenjang sekolah yang membuatku mengalami untuk pertama kali perasaan cinta.

Doa Seorang Pensiunan

Seorang pensiunan
sepuluh hari sudah dia lepas dari kesibukan
dia berdoa dalam keheningan

Terima kasih Tuhan…..
Kau telah beri saya umur panjang
kau beri saya kesempatan ‘tuk menikmati pensiun ini
begitu nikmat
saya bisa hadir ditengah keluarga
bercanda
anak cucu senantiasa gembira
ku terlepas dari rutinitas kerja

Pada-MU

kudengar seruan MU
ke teringat pertuah bijak
langkah kaki penuh tanya
Untuk apa ini adanya

Basuhan keringat

legam melekat

jauhkan hati akan pekat

Pada MU aku mengingat

ketika hati terasa terjerat

Ya Robby…

sujud syukurku hanya padamu

ikhlas ku serahkan pada MU

Nobody’s Nobody

Sekarang sudah jam 10.00 malam. Sebenarnya Laboratorium Komputer ini sudah tutup sejak jam 09.30 tadi. Tidak ada lagi siswa yang mengerjakan tugas. Semuanya sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal aku sendirian. Memang selalu begitu hampir setiap harinya. Aku selalu jadi yang terakhir disini. Aku memang paling lambat kalau mengerjakan tugas. Tapi aku senang, karena dengan begini, aku bisa sendirian bersama mas Dewa.

Next »