Seharian ini aku mendekam di kamar. Ketika Ayah pulang dari kantor tadi, aku tidak keluar dari kamar untuk menyambutnya. Aku hanya menyimak saja suara langkah Ayah di balik pintu kamarku yang tertutup. Saat itu, aku merasa Ayah berhenti di depan pintu. Aku menunggu. Lalu terdengar langkah Ayah menjauh.
Kini aku bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukan Ayah. Aku melihat jam dinding. Jam lima sore. Kulihat di luar jendela angin bangkit dan menggeram. Pohon-pohon menggeriapkan mantel daun-daunnya. Dahan dan ranting pohon talok menggariti kusen dan jendela kamarku.
Apakah Ayah masih melakukan ritualnya itu?
Ingatan masa kecilku tersusun dari hari-hari pada jam lima sore ketika Ayah, hanya bersarung dan mengenakan singlet, duduk di kursi rotan di teras dan memangku selembar koran. Sambil membersihkan kacamata plusnya yang tebal dengan tisu, ia memandangi sangkar-sangkar burung yang kosong yang tergantung di langit-langit. Setelah mengenakan kacamata, ia menunduk dalam-dalam dan membaca koran di pangkuannya dengan kekhusyukan orang yang sedang berdoa.
Dua atau tiga menit kemudian, Ibu akan berjalan pelan, nyaris bersijingkat, menghampiri Ayah dan meletakkan segelas kopi dan sebungkus rokok kretek di meja kecil di samping kursi Ayah—tanpa pernah mengeluarkan suara. Lalu Ibu meninggalkan Ayah dengan ketenangan yang persis sama seperti saat datangnya.
Selama itu, Ayah tak pernah memindahkan wajahnya dari koran. Ketika membalik halaman-halaman koran, wajahnya tidak pernah mendongak. Ketika meraih gelas kopinya pun Ayah tidak menoleh, tetapi jangkauannya tidak pernah meleset. Dengan perlahan ia mendekatkan gelas ke bibirnya dan menyeruput kopi sambil terus membaca. Dua atau tiga seruputan, lalu ia meletakkan lagi gelas itu di meja. Gelas itu, dan juga rokok kretek itu, tak pernah disentuhnya lagi sampai ia selesai membaca.
Ayah baru beranjak ketika pengeras suara di masjid di tengah kampung melagukan kalimat pertama azan magrib. Saat itu, Ayah akan mendongak dan memandangi gelap menangkup Langit dengan perlahan. Setelah azan selesai, Ayah meletakkan koran di meja, menghabiskan kopinya, menyulut sebatang rokok dan masuk ke rumah.
Membaca koran dan minum kopi di teras setiap sore adalah kebiasaan yang tidak pernah absen dari jadwal harian Ayah. Kebiasan itu telah menjadi semacam ritual wajib baginya, yang begitu teratur dan tertibnya hingga menjadi penanda waktu yang dapat diandalkan sebagaimana jam dinding di ruang tengah. Kalau aku pulang agak sore karena ada kegiatan ekstrakurikuler dan melihat Ayah di teras, tanpa melihat jam aku bisa tahu bahwa aku telah ketinggalan film kartun kesukaanku di televisi, yang disiarkan mulai jam lima sore.
Teras hanya akan kosong jika Ayah sedang bertugas ke luar kota, yang seringkali bisa sampai dua atau tiga minggu atau bahkan berbulan-bulan. Namun, meskipun Ayah tidak ada di sana, Ibu tetap menyiapkan segelas kopi di meja kecil di samping kursi rotan itu—dengan langkah yang pelan nyaris bersijingkat dan tanpa suara.
Kupandangi ranselku yang tampak gembul dan teronggok di atas tempat tidur. Semua pakaianku sudah kumasukkan ke ransel itu. Ini hari terakhirku berada di rumah Ayah ini. Aku baru bisa ke sini lagi saat liburan semester depan. Kupikir tidak ada salahnya keluar dari kamar dan memeriksa apakah Ayah masih melakukan ritualnya itu. Setelah memasukkan buku harian dan pena ke dalam ransel, aku keluar dari kamar dengan langkah pelan, nyaris bersijingkat.
Lampu ruang tengah padam dan ruangan tampak remang sehingga cahaya sore membuat pintu depan yang terbuka tampak seperti menyala. Aku menyandarkan diri di kusen pintu dan memperhatikan Ayah, setengah berharap menemukan lagi pemandangan pada masa kecilku dulu.
Ayah memang masih ada, duduk di kursi teras dan memangku koran. Dan ia masih mengenakan singlet dan sarungnya. Tetapi koran itu dibiarkannya tak terbaca. Kulihat, Ayah hanya memandangi sangkar-sangkar kosong yang bergelantungan di langit-langit teras. Tatapannya menerawang. Mungkin Ayah tidak membaca korannya karena memang ritualnya tidak lengkap lagi. Tidak ada Ibu yang melangkah nyaris bersijingkat tanpa suara dan membawakan segelas kopi dan rokok untuknya. Dan kulihat memang tidak ada segelas kopi dan rokok kretek di meja kecil di samping kursinya.
Aku tercenung dan mulai berangan-angan. Kalau saja Paman tidak pernah datang sore itu, sore ini pasti masih ada segelas kopi untuk Ayah.
***
Ayah punya kegemaran yang aneh. Menurut Ibu, kegemaran itu baru muncul setelah Ayah dan Ibu menikah. Ayah gemar mengoleksi sangkar burung. Anehnya, ia tidak pernah mengisi sangkar-sangkarnya dengan burung, meskipun ia meletakkan tempat makan dan minum burung di sangkar-sangkar itu. Sejak dibawa dari toko, sangkar-sangkar itu tetap dibiarkan kosong tanpa penghuni. Padahal, sangkar koleksi Ayah bagus-bagus dan terbuat dari kayu pilihan. Ayah menggantungkan sangkar-sangkar kosong itu begitu saja di langit-langit teras.
Meskipun sangkar-sangkar itu tidak berpenghuni, tetapi Ibu selalu membersihkan sangkar-sangkar itu dengan tekun, seakan-akan memang ada burung yang menghuninya. Hasilnya, sangkar-sangkar koleksi Ayah selalu tampak bersih.
Ibu memang sangat suka kebersihan. Kalau ia membersihkan rumah, ia melakukannya dengan ketekunan seorang perajin emas. Semua sudut ruang tak bisa lolos dari sapu dan sulaknya. Tidak pernah ada debu yang dibiarkan tercecer di lantai. Laba-laba pasti sangat membenci Ibu karena Ibu tidak pernah mengizinkan ada sawang di rumah.
Meskipun Paman berulangkali menyarankan kepada Ibu agar membuang saja sangkar-sangkar kosong itu, tetapi Ibu tidak pernah melakukannya. Ibu justru semakin rajin membersihkan sangkar-sangkar itu.
Paman adalah adik kandung Ibu. Usia Paman dan Ibu terpaut lumayan jauh. Wajah Paman mirip dengan wajah Ibu dan, menurut Ibu, juga wajahku. Kata Ibu, cetak biru wajah kami bertiga adalah wajah kakek, ayah Ibu. Paman tidak pernah punya cukup uang untuk menghidupi dirinya sendiri. Jadi, untuk menghemat uangnya, Paman sering menumpang makan di rumah kami.
Aku mengingat Paman sebagai seorang pemuda berambut gondrong yang pakaiannya lebih sering awut-awutan dan tas ranselnya selalu gembung oleh buku-buku. Namun, bukan berarti Paman selalu berantakan. Aku ingat, kadang-kadang aku melihatnya datang ke rumah dengan pakaian yang rapi. Rambutnya dikucir dan dia benar-benar tampak macho. Pada saat itu, sebuah tustel selalu tergantung di lehernya. Kata Ibu, selain kuliah, Paman bekerja sambilan sebagai wartawan lepas di sebuah koran yang cukup besar di kota kami. Aku tahu di koran mana Paman bekerja karena koran itulah yang dibaca Ayah setiap sore.
Meskipun sering datang ke rumah, Paman tidak pernah akur dengan kakak iparnya, yaitu Ayah. Mereka hampir selalu bertengkar setiap kali bertemu. Kalau tidak bertengkar, mereka hanya saling berdiam diri, tidak pernah menyapa. Kalaupun terpaksa berbicara, mereka melakukannya dengan ringkas. Tetapi mereka lebih banyak berdiam diri atau bertengkar.
Kalau bertengkar, mereka tampak menakutkan bagiku. Suatu kali, aku pernah melihat mereka pernah berdebat tentang suatu perkara yang saat itu belum kupahami. Aku hanya ingat beberapa kata seperti korupsi dan mentalitas birokrasi. Pertengkaran mereka sengit sekali. Saat itu, Ayah sampai mengacung-ngacungkan korannya di depan wajah Paman yang merah padam. Kali lain, ganti Paman yang menuding-nuding Ayah sambil mencaci maki.
Pertengkaran yang paling bersejarah dalam hidupku terjadi pada suatu sore. Saat itu, Ayah baru saja memulai ritualnya. Ibu belum datang mengantarkan kopi. Tiba-tiba saja Paman datang dan melemparkan setumpukan kertas di atas koran yang sedang dibaca Ayah. Saat itu, Ayah tampak benar-benar murka karena ia sampai menggebrak meja hingga gelas kopinya terguling ke lantai. Ayah juga berdiri dan menuding-nuding muka Paman. Beberapa kata yang sempat kuingat diucapkan Ayah adalah tidak tahu terima kasih, kurang ajar, dan serentetan caci maki. Sambil bersandar di kusen pintu, aku menyaksikan mereka bertengkar dan saling mencaci. Lalu Ibu menghampiriku dan menutup kedua mataku.
Aku tidak pernah tahu isi kertas-kertas yang dilemparkan Paman itu. Namun, sejak pertengkaran itu, Paman tidak pernah datang-datang lagi. Aku dan Ibu pindah ke rumah Kakek dan beberapa saat kemudian, saat aku sudah lebih dewasa, aku tahu bahwa Ayah dan Ibu telah bercerai. Ibu memegang hak perwalian atas diriku, putri satu-satunya.
***
Aku masih memperhatikan Ayah yang sedang menerawang sangkar-sangkar kosongnya. Aku mencoba menduga-duga apa yang tengah dipikirkan Ayah. Mungkin ia sedang mengenang kembali masa-masa tenang dan damai ketika Ibu dan aku masih tinggal bersamanya. Atau mungkin ia sedang mengerahkan khayalannya untuk menciptakan cerita tentang sangkar-sangkar kosongnya. Atau mungkin juga ia sedang menyesali nasibnya karena tidak pernah ada lagi segelas kopi untuknya setiap sore.
Entahlah. Aku tidak pernah merasa dekat dengan Ayah. Kami tidak pernah punya cukup waktu untuk bersama. Sejak dulu, Ayah lebih sering disibukkan oleh pekerjaannya di sebuah departemen, yang membuatnya seringkali harus bertugas keluar kota dalam waktu lama.
Ayah tidak beranjak dari kursinya ketika azan magrib terdengar. Ayah masih bergeming ketika azan selesai dan sisa-sisa cahaya sore telah digantikan warna malam. Aku merasa kasihan melihat Ayah duduk di teras yang gelap. Ia tampak terpencil dan kesepian dalam usia tuanya. Kami memang tidak dekat, tetapi bagaimanapun juga ia adalah ayahku.
Aku tidak tahu apakah setiba di rumah nanti aku akan bercerita kepada Ibu tentang Ayah. Kalau aku bercerita, mungkin tidak berpengaruh apa-apa kepada Ibu. Sejak aku dan Ibu tidak tinggal lagi di rumah Ayah ini, Ibu selalu membuatkan kopi untuk seorang laki-laki lain yang juga kupanggil dengan sebutan Ayah, di sebuah rumah yang tertera sebagai alamatku di kartu pengenal.
Ini hari terakhirku di rumah Ayah. Aku bertanya-tanya, apa yang bisa kulakukan untuk membuat Ayah senang. Lalu aku melangkah ke dapur dan menyeduh segelas kopi. Dengan langkah pelan nyaris bersijingkat dan tanpa suara, aku meletakkan kopi itu di meja kecil di samping Ayah. Ayah menoleh kepadaku. Selama beberapa saat kami saling bertatapan. Lalu kulihat Ayah tersenyum. Rasanya aku melihat kelegaan di wajahnya yang penuh keriput itu.***