Pasangan Hidup
September 29th, 2007 by raghiel_vodka
Terik siang tak lagi terasa menyengat di Café Bonk kala itu, perbincanganku dengan Nezt dan Agni seputar pasangan hidup yang ideal mulai mengalir lancar begitu kami membicarakan masalah teman kami yang tidak direstui hubungannya oleh orang tua.
“Sebenarnya masalah ortu Fe apa sih?” -Disinilah pembicaraan kami bermula-
“Ya… Biasalah, setiap orang tua pasti menginginkan anaknya mendapat pasangan yang mapan secara finansial. Begitu pula ortu si Fe…”
“Bukannya Oje pacar Fe udah punya usaha sendiri?”
“Mungkin mereka pikir kurang mapan kali!”
“Kesian Fe, ya? Jadi backstreet gitu sekarang.”
“Sebenernya yang dilarang itu malah mengkhawatirkan, loh! Pernah kejadian temanku hamil diluar nikah dengan sengaja hanya karena tidak direstui hubungannya. Ya…. MBA gitu akhirnya. Their parents have no other choice selain menikahkan mereka, rite?”
Perbincangan masih terus berlanjut hingga gelas besar cappucino blend habis, dan masih akan berlanjut kemudian selama perjalanan.
Setiap ortu selalu memikirkan segala sesuatu demi kebahagiaan anaknya, absolutely! Terutama masalah pasangan yang nantinya akan menjadi pendamping seumur hidup (Karena idealnya menikah hanya sekali seumur hidup, kan?). Bibit, bebet, dan bobot tentu menjadi prioritas penilaian ortu. Bila pasangan yang “disuguhkan” sang anak tidak sesuai dengan kriteria yang mereka tetapkan, tentu saja restu tidak akan meluncur dengan mudah. Alasannya, kembali lagi pada kebahagiaan sang anak nantinya. Saya terkesan dengan ucapan seorang Nanny (Sorry, I forget her name!) dalam film Monster-in-law yang beberapa waktu lalu saya tonton ulang untuk ke-tiga kalinya. “Lalu kenapa kau berpikir anakmu tidak bahagia bersamanya?”. Sangat mengena sekali!
Sempat terfikir, kalau saja saya yang diposisikan pada masalah Fe, tentu tak banyak option yang ada demi meloloskan keinginan untuk bersama pasangan. Mungkin, dengan sangat terpaksa opsi “non-marital pregnancy” jadi pilihan yang harus ditempuh. Meski sebenarnya menghamili anak orang diluar nikah adalah perbuatan yang melanggar baik secara norma maupun agama, namun cara inilah yang berpeluang paling besar untuk mendapatkan “restu” dari ortu.
Ini bukanlah suatu anjuran bagi pasangan yang sedang bermasalah dengan restu orang tua tentunya, so don’t ever think to do this easily, dude! Karena, sebelumnya harus dipastikan bahwa calon pasangan adalah orang yang bertanggung jawab, dan juga meyakinkan diri sendiri bahwa pasangan yang dipilih benar-benar orang yang tepat, serta jangan pula mengasumsikan cara ini sebagai “test drive” sebelum menikah. Anggaplah ini suatu langkah sakral yang nantinya akan meloloskan restu dari ortu. Karena penyesalan selalu datang terlambat, jadi pilihan tersebut diatas dianjurkan bila keadaan benar-benar di ujung tanduk, bukannya jalan pintas, ingat itu!
Satu lagi, masalah finansial disini perlu di-red mark juga. Ortu sering kali mempermasalahkan calon pasangan berdasarkan tingkat kemapanan mereka, dalam masalah ekonomi tentunya! Mereka akan berpikir enam belas kali bila pasangan mereka mempunyai latar belakang yang “rata-rata”, dan tidak akan berpikir sama sekali untuk mengatakan tidak bila si calon tertempel plakat pengacara (pengangguran banyak acara), terutama lagi bila statusnya sebagai pengangguran permanen disebutkan sejak awal perkenalan. Saya setuju dengan putusan terakhir, meskipun bukan pendukung pepatah “Menikah dengan pasangan yang tidak punya apa-apa selain cinta? Mau dikasih makan apa? Makan ‘tuh cinta!” (Tolong ingatkan saya kalau yang saya sebutkan ini bukan pepatah!), seorang calon pasangan yang tidak mempunyai pekerjaan atau hanya bekerja sekenanya bukan pilihan yang tepat. Ini lebih kepada alasan usaha mandiri serta keuletan. Seseorang yang ulet bukannya memanfaatkan kesempatan serta menunggu datangnya peluang, tetapi mereka yang menciptakan kesempatan dan peluang tersebut. Saran saya, terutama kepada kaum pria lajang dan pengangguran, segera ciptakan peluang kalian, bung!
Dalam suatu pernikahan yang dibutuhkan tentu saja adalah cinta, atau setidaknya saling pengertian dan dukungan antar pasangan dalam mengahadapi konflik, termasuk masalah ekonomi. Jika point wajib tersebut tidak terpenuhi, apalah jadinya bila suatu saat kita dan pasangan dihadapkan pada suatu konflik besar, sementara disaat kita jatuh seseorang yang seharusnya kita jadikan shoulder to cry on tidak dapat memberikan tumpuan? Jangan ragu-ragu dan segera bersiap-siaplah menghadapi kehancuran serta menabunglah untuk proses sidang perceraian yang rumit, tentunya!
Lagipula, apakah satu-satunya alasan kita menikah hanya untuk makan? Apabila masih ada diantara kita yang menjawab “iya”, saya yakin akan banyak sekali laki-laki yang memilih pekerjaan sebagai koki atau pemilik restaurant, karena wanita akan antri demi menikah dengan mereka, dan tidaklah sulit bagi mereka untuk berpoligami dengan 74 istri sekaligus.
Bagi saya, setidaknya mendapatkan pasangan meskipun dari kalangan “rata-rata” namun punya keuletan dan mampu menciptakan peluang sudah merupakan lebih dari cukup untuk mengatasi masalah finansial dalam rumah tangga. Toh, semua hal besar pasti dimulai dari yang kecil juga, bukan? Daripada calon pasangan yang sekedar mengandalkan warisan keluarga yang nantinya bakal habis digunakan?!
Tetapi, merupakan suatu anugerah apabila kita mendapatkan calon pasangan dari kalangan atas - atau istilahnya kaya bawaan lahir - ditambah dengan kelebihan-kelebihan lain seperti ulet bekerja, baik hati, tidak sombong, pandai mengatur keuangan, dan hal positif lainnya, kenapa kita harus berkata tidak saat mereka mengajak menikah?! What a life, huh?
pasangan hidup..hhmm.. ini masalah yang sedang ku hadapi saat ini, sebetulnya aku sudah mempunyai seorang ‘calon’, yang aku pikir dia sempurna segalanya, kecuali dari segi materi, materi yang belum bisa dia raih membuat hubungan kami belum bisa dilanjutkan ke gerbang pernikahan, entah sampai kapan aku harus menunggu……… ternyata dalam suatu hubungan tidak bisa hanya berlandaskan pada cinta semata karena materi pun tidak kalah pentingnya dengan cinta, hanya dengan materi kita bisa menyatukan cinta 2 insan….”
terasa untuk sebuah komparasi dengan pengalaman yang terjadi !
pasangan hidup…entah kenapa aku agak mati rasa pada cinta,tapi bukan berarti aku tak pernah jatuh cinta apalagi patah hati.mungkin aku bisa disebut siti nur baya millenium.aku sudah punya calon,tinggal menghitung bulan untuk menuju tangga kehidupan yang batu.tapi masalahnya aku tak mencintainya.ya maklum djodohin.aku pikir aku bisa belajar mencintainya,tapi kami cuma bertengkar dan bertengkar walaupun aku tahu dia cinta aku.pikiran kami berbeda jauh umurnya dewasa 38 sementara aku abru 20,jauh banget.sampe aku g bisa mengimbangi skapnya yang menurutku terlalu dewasa tak berbeda dengan almarhum ayahku.lalu nanti kalo dah nikah,apa dia akan terus menganggap aku anak kecil tak mengerti apa-apa sementara dia akan besar kepala karena setiap ahri telah berhasil membuat istrinya menjadi orang yang tak brguna?setiap hari tak ada kata-kata cinta yang ada cuma tausyiah,nasehat,ceramah,pidato n bla-bla.jadi bisakah aku mencintainya kalo sikapnya seperti itu karena mentang-mentang mengkuliahkan aku?menyekolahkan adik2ku?
wah.. ini bguz bgt bwt cwe2 yg sdang cri2 pasangan hidup,kita pasti disuguhkan pilihan2 sblm akhirnya qta memutuskan 1 orng terbaik atau tepat buat jd pasangan hidup kita… tapi terkadang qta slh memilih,sO just remendering,pilihlah pasangan hidup dgn kriteria sprti yg disebutkan dlm cerita di atas.. yang memiliki pekerjaan tetap dan lebih bguzz lg mapan, tampan dan bnyk warisan..hehe…
Ini wat cewek yaa… Berarti aku ga bisa join dunk
wow…
ok bgtz tema yang diambil
top dech
setuju banget dengan tulisan diatas, sebagai cewek kita memang harus berfikir rasional dalam percintaan, ataupun memilih pasangan hidup.
jangan jadi pemilih juga, toh gak ada makhluk yang sempurna didunia ini, aku pernah baca di buku la tahzan, katanya ni bagaimanapun anak2 kita, suami atau istri kita, pekerjaan, jabatan atau harta yang kita miliki terimalah dengan lapang, karena meski kita menemukan keburukan didalamnya kita juga akan menemukan kebaikan-kebaikannya yang lain.
aku juga setuju tu untuk mencari pasangan hidup yang ulet, dan tekun bukan sekadar kaya karena warisan orangtua sebagai cewek aku juga lebih respect sama cowok mandiri daripada cowok manja punya mobil tapi punya papi.
stju bgt msalah aku jga sama d tuntut ma ortu cri pacar yang mapan.aku mau bgt tapi aku percya n nyakin bgt kl pasangan hidup ku nnti tuh pacar yg dah lama qta jalain.
menurut aku ci gtu…
mank gak salah kalau tidak mementingan materi jagan terlalu mikirin cinta,sayang aja kal gak da materinya ,buat apa?
mnrtku klo cinta pasti bergerak(memperbaiki diri) … gak diem d kualitas diri yg sekarang ini
jd klo dah lama jalan.. tp g bergerak.. evaluasi dulu cintanya..
benarkah itu cinta sejati yg dia rasakan ???
temanya bgs bgtzz… dan saya sendiri sedanga mengalami…
syukron.. banyak yg bs saya dpt dr artikel ini