Sobekan di Ujung Bui
September 22nd, 2007 by frayla
Hari ini ruang pengadilan penuh dengan orang-orang yang tengah sibuk sendiri. Mereka seolah tidak mempedulikan aku yang duduk di kursi tengah, persis di depan kursi hakim. Aku tersenyum kecut memandang tanganku yang dihiasi sepasang logam melingkar kokoh.
Hari ini hakim akan membacakan keputusannya untuk kasus pidanaku. Sidang mulur hampir satu jam. Kasusku sebenarnya tidak terlalu istimewa, tapi cukup menarik perhatian beberapa kalangan. Banyak wartawan yang ingin mengetahui ujung dari kasusku untuk dijadikan headline koran besok pagi. Aku sendiri hanya bisa pasrah, sama seperti ketika polisi menyergapku kasar, seolah tak peduli aku wanita. Terlebih ketika mereka menemukan ribuan pil dan beberapa bungkus serbuk putih ada di dalam tas yang sedang kubawa. Itu bukan milikku, aku hanya seorang kurir. Namun apapun alibiku, tak ada yang percaya.
Ruang sidang kini semakin gerah dengan kepulan asap rokok orang-orang yang hadir dalam persidanganku. Aku menyeka keringat kecil yang mengalir lamban dari keningku. Mataku kemudian menerawang, dan aku pun tertegun. Sejenak.
*
“Rin, kamu pengen seperti kita kan? Cantik, popular, dan dikagumi. Kalau mau, kamu harus bisa dong beradaptasi sama lingkungan kita. Salah satunya dengan ini,” tukas elsa sambil menyodorkan sebutir pil berwarna kuning muda. Aku segera menggeleng.
“Ayolah, jadi anak jangan kuper banget! Kamu nggak bakal mati karena minum satu butir. Kamu bakal merasa ringan banget. Lagipula ini dosis ringan kok, cocok buat kaum pemula. Nanti kamu bakal ngerasain yang itu, lebih dasyat” bujuk Winda sambil menunjuk Meta yang tengah asyik dengan pipa kaca. Aku sejenak memandang mereka. Elsa, Winda, dan Meta adalah cewek popular di sekolah. Mereka selalu dijadikan kiblat cewek gaul, terlebih karena mereka model.
“Nggak ah, aku takut. Ini kan obat-obat terlarang, bahaya,” tolakku. Winda dan Elsa tertawa terkekeh.
“Buktinya kita nggak masalah kan? Justru dengan ini kita selalu bisa kurus, dasar kuno deh!” cela Elsa.
“Mau gabung sama kita nggak? Kalau mau, minum. Kalau nggak, pulang aja deh,” tukas Winda.
“Udah, minum aja! Setelah itu dunia kamu bakal berubah 180 derajat, dan kita jamin kamu pasti suka itu. Be beauty, be popular, be sexy!” celoteh Elsa. Aku terdiam, menjadi cantik, popular dan sexy seperti mereka? Siapa yang nggak mau sih!
Akhirnya aku ambil juga pil itu, dan dalam sekejap telah kutegak. Winda, Elsa, dan Meta tersenyum puas. Taklama aku merasa pusing. Mendadak tubuhku pun terasa ringan, semakin lama semakin ringan, bahkan terlalu ringan. Dan aku pun merasa hilang.
Sebulan setelah itu, aku berubah. Tidak lagi menjadi Rini yang cupu, berkacamata, dan kuper. Sekarang siapa sih yang tidak kenal Rinita Siswoyo. Ternyata masuk kelompok popular Elsa, Winda dan Meta membawa perubahan besar dalam diriku, dari model rambut hingga pergaulanku. Kini aku tidak lagi berteman dengan buku di perpustakaan, temanku sekarang adalah party. Bersenang-senang dan menikmati hidup dengan caraku sendiri.
Diantara kesenangan itu, aku pun menemukan seseorang. Namanya Yubi, saudara sepupu Elsa. Orangnya baik, manis, dan keren.
“Hai, aku Yubi. Boleh kenalan?” sapa Yubi awalnya. Aku terpana melihat Yubi saat itu. Perasaan unik yang tidak pernah kurasa sebelumnya.
“Rinita, panggil saja Rini,” tukasku pelan. Yubi tersenyum manis. Perkenalan yang cukup singkat tapi juga cukup untuk menjadi awal perjalananku yang panjang. Dan benar kata Elsa, duniaku sudah berubah.
*
Meski baru seminggu aku mengenal Yubi, dia sudah merebut hatiku. Yubi yang pembalap itu memperlakukan aku dengan sangat manis. Aku seperti menemukan kasih sayang yang selama ini tidak pernah aku dapatkan dari keluarga dan orang-orang terdekatku. Mungkin aku memang tidak punya keluarga. Ibuku tidak tahu pergi kemana, sedangkan ayah sibuk dengan ibu baru yang sebenarnya lebih pantas menjadi kakakku. Ah..sudahlah, lupakan saja! Keluargaku sama sekali tidak menarik untuk diceritakan.
Duniaku memang sudah berubah, termasuk nilai-nilai pelajaranku di sekolah. Dulu aku tidak pernah mendapatkan nilai 8, karena aku selalu mendapat nilai 10 atau paling tidak 9 bila sedang apes. Tapi sekarang, nilaiku selalu 8 tapi ketawa alias 3, itupun kalau aku sedang tidak apes. Perubahan ini jelas mengundang segudang pertanyaan dari hampir seluruh guru di sekolahku. Yang aku herankan, aku sendiri tidak peduli dengan itu semua. Sama sekali tidak membuatku cemas.
Hingga suatu saat Yubi pergi dariku untuk selamanya. Yubi kecelakaan di sirkuit balapnya, dan meninggal. Saat itu aku tak punya alasan lagi untuk hidup. Seseorang yang kujadikan pegangan, kini telah tiada. Lalu aku harus berpegang pada apa?
Aku sangat kacau. Hanya bersama putaw, ekstasi, dan ganja aku bisa merasa lebih tenang. Semakin lama, aku semakin kecanduan parah. Awalnya gratis, namun akhirnya aku pun harus membayar. Uang sakuku amblas, bahkan barang-barangku pun habis kujual hanya untuk menikmati selinting ganja. Belum lagi hutangku pada Hendra, top bandar, yang semakin bertambah.
Daftar hitamku belum selesai. Taklama aku pun dikeluarkan dari sekolah karena kepergok membawa lintingan ganja di sekolah. Sialnya, Elsa, Winda, dan Meta justru memojokkan aku sebagai kambing hitam. Mereka sama sekali tidak menolongku. Saat inilah aku benar-benar tenggelam. Aku sadar, masa depanku hancur. Mendengar semua itu, ayah marah besar. Aku hampir habis dipukulnya. Tapi sungguh, tubuhku tidak merasa sakit sama sekali. Hanya hatiku yang luar biasa sakit.
“Ayah tidak berhak marah dengan Rini. Selama ini Ayah tidak peduli dengan apa pun yang terjadi pada Rini. Ayah hanya sibuk dengan istri muda ayah. Dan kenapa sekarang Ayah harus marah?” seruku lantang. Aku masih ingat, bagaimana mata Ayah saat itu semakin membesar dan merah. Aku pun masih ingat tamparan Ayah yang lebih keras dari sebelumnya. Bibirku pecah, darah segar mengalir dari sudut bibirku. Dan aku pun hanya tersenyum simpul.
“Ayah, pukulan inilah yang selama ini aku tunggu. Pukulan dimana berarti Ayah peduli padaku. Perhatian dimana bisa menyadarkan aku sebelum menyimpang terlalu jauh. Ini yang aku butuh. Tapi kenapa baru sekarang?” ucapku lirih. Ayah terdiam, dan kali ini untuk pertama kalinya setelah lama tidak, Ayah memelukku. Hangat. Erat. Aku terhenyak.
*
Lebih dari satu tahun aku tinggal di panti rehabilitasi. Aku mulai pulih dari kecanduanku setelah melewati penderitaan yang tidak pendek. Namun harga dari kesalahanku yang harus kutebus masih belum cukup. Ketika aku keluar dari panti rehabilitasi, Ayah sedang ada di rumah sakit. Ayah terkena stroke setelah bisnis yang selama ini dianggapnya sangat berharga—bahkan lebih berharga dari aku—bangkrut. Belum lagi istri muda Ayah ternyata lebih parah dari ibu, pergi tak tahu kemana serta membawa harta yang tersisa.
Aku menangis di samping Ayah yang terbaring tak berdaya. Bukan karena kemiskinan yang kutangisi, tapi karena penyakit Ayah yang parah. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi selain seorang Ayah. Dan untuk pertama kali setelah sekian lama tidak pernah aku lakukan, aku berdoa kepada Tuhan. Entah, Tuhan masih mau mendengarku atau tidak.
“Tuhan, aku memang tidak pandai berdoa. Mungkin aku juga tidak pantas meminta. Tapi Ayah adalah satu-satunya yang aku punya, aku mohon, selamatkan Ayah…”
*
Aku perlu uang. Uang untuk membayar semua biaya rumah sakit. Belum lagi hutang-hutangku pada Hendra. Aku bingung harus bagaimana. Hendra menawarkan pekerjaan padaku. Sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan pekerjaan yang ditawarkan Hendra. Tapi aku tidak punya pilihan lain, selain menerima pekerjaan itu.
Sial! Ternyata Hendra ingin memerasku. Hendra memanfaatkan keputusasaanku. Yah…Hendra memang menghapus hutang-hutangku, bahkan memberiku sejumlah uang untuk menebus biaya pengobatan Ayah. Namun dibalik itu, Hendra memperlakukan aku lebih rendah dari seorang pelacur, aku harus memberikan tubuhku pada Hendra. Belum lagi tugasku menjadi kurir bisnis obat terlarang yang dilakoni Hendra. Aku tidak bisa keluar dari lingkaran setan ini. Hendra akan membunuhku, bila aku berkhianat.
Hingga suatu saat, aku ditugasi mengamankan barang dalam jumlah besar. Hendra melakukan traksaksi. Ternyata aksi itu diketahui polisi. Mendadak kami dikepung polisi. Firasatku mengatakan, ini berita buruk.
Hendra segera melarikan diri. Tapi malang, usahanya berakhir dengan timah panas yang menembus kaki dan dada kirinya. Aku tersenyum masam, dia memang pantas mendapatkannya.
*
Suasana kian ramai. Semakin siang, hawa di ruang sidang semakin gerah. Aku tersadar dari lamunanku ketika majelis hakim akhirnya datang juga. Mata ketua hakim menatapku tajam.
“Mohon tenang!” seru hakim ketua sambil mengetuk palu di meja. Suasana pun sedikit lebih tenang. Kini aku merasa semua perhatian tertuju ke arahku.
“Menimbang, mengingat, dan memperhatikan bukti dan….bla…bla ..bla” celoteh hakim yang bertele-tele.
“….kami memutuskan bahwa Saudari Rinita Siswoyo dinyatakan bersalah.” Yah…semua orang juga tahu aku memang bersalah.
“…Dan karenanya, Saudari Rinita Siswoyo dikenai hukuman…” aku menahan nafas untuk mendengar vonis dari hakim padaku.
“Mati,” putus hakim diakhiri dengan pukulan palu tiga kali. Aku menghela nafas pasrah. Sudah dua kali aku naik banding, ternyata hukumannya tetap sama. MATI. Ingin menyesali semua, tapi percuma. Semua sudah terjadi, mungkin semua ini memang harus berakhir, segera.
*
“Wi, sedang baca apaan?” tanya Marsih, wanita terpidana 4 tahun penjara akibat kasus aborsi. Tiwi—terpidana 3 tahun akibat kasus penipuan—menyodorkan beberapa helai sobekan kertas.
“Gue baca itu. Tadi gue temuin di pojokan, punya tahanan yang tadi pagi dieksekusi kali,” tukas Tiwi. Marsih membaca kertas-kertas itu.
“Oo…Rini, si Putri Narkoba. Kasihan juga ya, nasibnya. Masih muda banget, cakep lagi. Kasihan mesti di tembak mati,” ujar Marsih.
“Yah…nasib orang siapa yang tahu, Sih. Nah, kita saja nggak pernah mimpi tinggal di bui kan? Nyatanya sekarang….” tukas Tiwi sambil menerawang jauh dari balik terlali besi.
***************