Peluru Penghabisan
September 18th, 2007 by juru tulis
Bulan bundar bersinar sepucat mayat bercincin merah darah. Sinarnya mencabik kabut yang merundung malam dingin. Dua sosok berbayang dibawah sebuah pohon alpukat dipinggir jalanan aspal yang sedikit becek sisa gerimis sore tadi. Sudah berjam-jam Teguh dan Anggoro berdiri disitu tanpa menghiraukan hembusan angin lembab. Kadang mereka mengibaskan tangan mereka mencoba mengusir nyamuk yang dengan beringas berpesta pora menghisap darah keduanya.
Sebenarnya Anggoro tidak mengerti apa yang akan dikerjakannya disana. Dia hanya tahu Teguh mengajaknya kesuatu tempat malam itu, untuk balas dendam katanya, entah pada siapa dan kenapa. Anggoro menurut saja karena Teguh membawakan dirinya tiga paket serbuk putih yang sangat disukainya. Setelah itu dia hanya duduk disamping Teguh yang melarikan mobilnya, menerima sepucuk pistol dengan enam buah pelurunya, yang dia juga tak tahu darimana Teguh mendapatkannya. Anggoro bahkan tidak mengerti mengapa mereka harus berjalan sejauh lima ratus meter dari tempat mobil Teguh berhenti. Sekarang dia hanya berdiri sambil menikmati sisa pengaruh serbuk putih yang dihisapnya dalam-dalam sebelum pergi, yang masih merasuki tubuhnya dan membuat lamunannya melayang. Sebentar dia sadar dan membetulkan posisi tas ransel berisi tali yang diambil Teguh dari bagasi mobilnya tadi.
Sementara itu Teguh berdiri mematung, matanya tetap tertuju pada sebuah rumah besar tak bertetangga, menunggu. Masih ada cahaya yang menerobos kaca jendela rumah itu. Hatinya terbakar, terpancar jelas dari sorot mata tajam penuh kedengkian. Sesekali tangannya bergerak menghantarkan rokok mengepul ke mulutnya.
Cahaya mulai meredup dan berkurang dari dalam rumah. Teguh merasa tiba saatnya dia melancarkan rencana yang sudah tersusun rapih dalam otaknya.
“Ayo! Lo ikutin aja apa yang gue kerjain…” tiba-tiba Teguh berkata, membuyarkan lamunan Anggoro. Anggoro menginjak puntung rokoknya lalu mengikuti Teguh dari belakang tanpa bertanya. Begitu juga saat Teguh meloncati pagar rumah itu. Dan Anggoro masih diam saja ketika Teguh mencongkel salah satu jendela dengan pisau.
Anggoro segera mengikuti tubuh Teguh yang masuk melalui jendela setelah matanya meyakinkan tidak ada yang melihat gerak-gerik mereka. Pertanyaan mulai berputar dalam kepalanya, untuk apa mereka memasuki rumah ini seperti maling. Teguh bukanlah orang yang harus mencuri untuk alasan apapun, tidak seperti dirinya. Dia tahu itu karena sudah dua tahun dia mengenal Teguh. Dan selama itu tak terhitung uang yang Teguh keluarkan setiap kali mereka berdua bersenang-senang. Bahkan terkadang Anggoro harus mengandalkan kedatangan Teguh untuk mengisi perutnya yang lapar.
Tapi tetap, mulut Anggoro tidak bertanya, tidak bersuara.
Teguh mengeluarkan pistol dari balik jaket kulitnya. Anggoro mengikuti. Mereka berjalan mengendap mendekati sebuah pintu kamar. Berhati-hati Teguh menggeserkan daun pintu, sedikit berkerit. Gelap didalam. Tampak dua bayangan manusia, terlelap. Tiba-tiba Teguh bergerak dan menutupi muka salah satunya yang ternyata perempuan dengan bantal. Anggoro tanpa diperintah langsung menghajar yang lainnya dengan gagang pistol. Ternyata laki-laki itu masih mampu melawan. Anggoro segera menarik dia dengan tangan kirinya lalu menendang laki-laki itu hingga terjerembab disudut kamar. Tak berkutik setelah melihat pistol dalam genggaman Anggoro diarahkan ke kepalanya.
Sempat dalam gelap Anggoro melihat sekilas wajah perempuan itu, tapi dia tidak yakin apakah dia benar-benar mengenalinya.
“Ikat. Cepat!”
Anggoro tersentak, segera menurunkan tas ranselnya, mengeluarkan tali, lalu mengikat tangan dan kaki laki-laki yang tadi dia tendang. Satu tali dia lempar pada Teguh.
“Hari ini adalah hari pembalasan buat lo, bandot tua, karena lo… lo ninggalin bunda!”
“Teguh? Kamu Teguh?! Apa-apaan kamu? Mau apa, hah? Aku ini ayah kamu.”
Anggoro heran. Ayah? Laki-laki ini ayah Teguh? Kenapa?
“Apa? Gue nggak sudi punya ayah macam lo. Enak aja lo masi ngaku jadi ayah gue…”
“Kurang ajar! Kamu mau apa, Teguh?! Kamu…”
“Diam! Sumpal mulut busuknya.” Teguh membentak sambil melemparkan sesuatu, yang ternyata sebuah sarung bantal, pada Anggoro.
“Tapi….” Anggoro ragu.
“Udah, sumpal aja. Jangan lo denger iblis tua itu.”
Kembali Anggoro menurut.
“Lo liat, liat apa yang yang bakal gue kerjain ama pelacur ini. Pelacur yang ngancurin idup gue dan bunda. Liat! Sebelum gue cabut nyawa lo, juga pelacur ini.” keras Teguh membentak sambil mengacung-acungkan pistol kearah laki-laki yang menyebut dirinya ayah Teguh, sebelum tangannya yang menggenggam pistol menampar perempuan itu hingga terjatuh dari duduknya.
“Tahan mukanya, arahin kesini!”
Lagi Teguh memberi perintah pada Anggoro sambil membuka resleting celananya. Dilayangkannya lagi tamparan, lalu dengan kasar Teguh mulai melucuti perempuan itu, merobek semua yang dikenakannya, hingga tubuh putih mulus perempuan muda itu kini tanpa penutup. Teguh memperkosa perempuan itu penuh nafsu setelah menghajarnya berkali-kali. Perempuan itu tak mampu lagi melawan, hanya menangis. Anggoro sempat bergidik, tapi tak bernyali dia menghentikan kebiadaban Teguh yang masih tetap menindih perempuan itu sambil sesekali menampar mukanya, menendang kakinya atau meninju perutnya. Kini tidak lagi dia pegangi kepala laki-laki itu. Dibiarkannya laki-laki itu terkulai lemas tanpa daya. Dia mempertajam pandangannya dalam gelap, mencoba mengenali perempuan dibawah tubuh Teguh. Tapi dia tidak berhasil.
“Giliran lo sekarang!”
Anggoro kaget.
“Gila lo…”
“Ah, jangan munafik. Ayo cepat!”
“Nggak! Gue nggak mau. Mendingan kita cabut sekarang.”
Lama Teguh memelototi Anggoro. Sebelum dia tertawa.
“Hahaha… Kaya banci lo.”
Anggoro marah, dia mendekati Teguh bermaksud menghajarnya. Tapi ternyata Anggoro kurang ketat mengikat kaki laki-laki yang tersungkur tadi, karena dia sekarang bangkit dengan menggenggam lampu meja ditangannya yang masih terikat, lalu menghantamkan sejadinyanya ke kepala Anggoro. Karena kagetnya, Anggoro berbalik dan memuntahkan lima butiran timah dari pistolnya. Tiga peluru ditambahkan Teguh hingga laki-laki itu tersungkur dan tak mampu berkutik lagi. Anggoro tertegun penuh kengerian. Telinganya masih berdengung karena suara letusan pistol. Pandangannya tak bisa lepas dari darah yang memancar deras dari jalan masuk peluru kedalam dada laki-laki yang sekarang sudah tak bernyawa itu. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya.
Sesaat kemudian dia berbalik ketika Teguh menembakan satu peluru tepat di antara kedua mata perempuan yang baru saja diperkosanya hingga darah dan otaknya berpencar kesegala arah.
“Ayo cabut!”
Teguh berkata sambil meloncat dan menghilang di balik pintu.
Anggoro sudah berniat mengikuti Teguh, ketika matanya tertuju pada sebuah foto diatas meja rias yang terkena cahaya bulan yang terpantulkan cermin. Anggoro terpaku…
Wajah perempuan itu kini dapat dikenalinya. Wajah yang masih dicintainya, milik perempuan yang meninggalkannya dan tak pernah dia temui lagi setelah tiga tahun karena menjadi simpanan laki-laki tua kaya.
Dewi. Perempuan dalam kamar dengan kepala hancur ini adalah Dewi.
Anggoro bagai kerasukan mengejar Teguh yang sudah berada didekat jendela jalan mereka masuk, berdiri menunggu Anggoro sambil membakar sebatang rokok.
“Hei, ngapain sih lo? Turunin pistolnya, goblok! Kita cabut!” Teguh kaget hingga tidak jadi menghisap rokok yang baru dibakarnya karena kini Anggoro berdiri satu meter didepannya dengan pistol diarahkan tepat ke muka Teguh.
“Lo kenapa jadi gila? Turunin pistol lo…”
“Lo udah ngebunuh Dewi, sekarang lo harus mati!”
“Dewi? Maksud lo perempuan di kamar itu? Lo kenal dia? Dia hanya pelacur murahan. Pelacur, Anggoro. Lo bisa dapet seribu kaya…”
“Iblis!”
Dorr…
Sebuah peluru menghentikan kata-kata Teguh, menghancurkan batok kepalanya. Darah bercecer. Anggoro pucat. Dikejauhan terdengar sirine meraung memecah hening malam.
Anggoro meloncat memecahkan kaca jendela. Jatuh berguling lalu berlari. Meloncati pagar dan berbelok kekiri. Berlari…
Malam kelam mencekam. Bulan bundar melayang pucat di langit.
Keren… Bagus bgt cerpennya. Gila mang yg bkin, jago bgt. Alur ceritanya, pilihan kata2nya benar2 mampu meluapkan unsur rasa.