KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

(Sebab) Aku Laki-Laki

Layar kotak ajaib berukuran 20 inci itu menampilkan sosok seorang bocah berpakaian putih biru sedang digelandang menuju kantor polisi. Dasar bocah… ia masih begitu polos. Ketika kamera televisi mengshootnya, bukannya ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya malah ia, bocah berpakaian putih biru tersebut tersenyum, cengengesan di depan kamera seakan-akan dia adalah seorang artis cilik yang baru memecahkan rekor penjualan album. Rasa sesal pun tampak cepat menguasai perubahan mimik wajah bocah berpakainan putih biru itu ketika salah seorang polisi mengintrograsinya. Dengan penuh kejujuran, bocah berpakaian putih biru menceritakan kronologis perbuatannya.

Ia pelaku sodomi. Bocah berpakaian putih biru tersebut menyodomi seorang bocah laki-laki, tetangganya dan kawan mainnya sendiri dengan imbalan sebatang coklat sebagai imbalan atas jasanya dan uang tutup mulut. Pada polisi, bocah berpakaian putih biru tersebut juga mengaku bahwa dulunya ia juga pernah di-begitu-kan. Ia pernah menjadi korban sodomi laki-laki yang sangat dekat hubungannya dengan keluarganya dan sudah dia anggap sebagai pamannya sendiri.

Kumatikan siaran televisi itu. Tak sanggup aku menyaksikan lebih jauh rentetan peristiwa sodomi yang telah banyak memakan korban itu. Seorang bocah disodomi, lalu ia menyodomi beberapa orang bocah, lalu bocah yang disosomi oleh bocah korban sodomi itu akan menyodomi beberapa orang bocah lainnya. Begitu seterusnya hingga rentetan peristiwa tersebut tidak pernah habis.

Lingkaran setan yang tak pernah putus. Debat kusir yang tak berkesudahan.

Alasan lainnya, kumatikan siaran berita tentang sodomi siang itu adalah karena berita itu membuat aku tiba-tiba merindukan kekasihku.

“Aku sangat merindukanmu, Sayangku. Aku rindu akan sodomimu. Sayangku, sodomilah aku.”

 

*****

Kekasihku adalah orang biasa. Dia WNI asli. Madura totok, bahkan. Memang… pilihanku ini mungkin lebih disebabkan aku tidak mempunyai keinginan muluk-muluk untuk mempunyai kekasih bule yang akan dengan segera meninggalkanku sesetelah dua bulan usia pernikahan kami. Atau mungkin pilihanku ini juga dikarenakan aku sadar kalau tampangku yang kurang dari standar baku ini tidak bakalan laku di pasaran albino-albino Arya itu, meskipun aku sudah masuk keranjang harga cuci gudang, obral, buy one get one, big sale bahkan seribu tiga. Tampangku tidak bakalan mampu kalau harus dibandingkan dengan tampang salah seorang artis papan atas ibukota yang kecantikannya membuat seorang lelaki (lagi-lagi lelaki bule) kepincut, sampai-sampai lelaki tersebut rela menceraikan istrinya yang sedang hamil dua bulan (dua bulan lagi, kan!). Tetapi aku juga tidak akan bertindak munafik seperti yang dilakukan oleh salah seorang artis papan atas lainya kalau dulu Tuhan memberiku kecantikan. Begitu insaf dari kehidupan glamour, artis itu segera saja menutup seluruh anggota tubuhnya dengan kain panjang, bahkan untuk keperluan bermain film, tidur dan kelon.

Walaupun seorang biasa, kekasihku juga tidak kalah tampan dengan pria-pria manapun juga. Tapi yang paling aku sukai dari kekasihku adalah kedisiplinannya. Terutama dalam bekerja. Ia seorang pemangkas rambut yang membuka usahanya dengan mendirikan sebuah gubuk kecil berwarna merah yang berdiri di samping sekolahku. Meski gubuk merahnya sering kosong oleh pengunjung, namun ia selalu menepati jadwal jam buka dan tutup. Hal tersebut membuatku merasa yakin untuk bersandar padanya. Mengaraungi lautan kehidupan di sisa hidupku bersamanya.

Aku tak pernah lupa bagaimana pertemuan kami pertama kali. Walaupun itu sudah dua puluh empat tahun yang lalu. Atau lebih tepatnya perkenalan pertama kami (sebab kalau untuk bertemu sepertinya kami sudah sering bertemu, bukankah gubuknya hanya berjarak bebarapa langkah dari kelasku) yang membuat aku selalu merindukannya.

Lonceng tanda jam pelajaran berakhir berbunyi. Seluruh siswa langsung menghambur keluar dari pintu kelas masing-masing. Ada yang menuju tempat parkir sepeda, ada yang berjalan begitu saja menuju gerbang, ada yang berdiri di jalan raya menunggu angkutan yang lewat, semuanya itu mempunyai tujuan yang satu, untuk pulang. Sedangkan aku masih menunggu ayah yang akan datang menjemputku.

Entah mengapa hari itu ayah tidak segera muncul seperti biasanya. Udara panas sejak 4 jam yang lalu mulai terasa menerkam liurku sampai kering. Aku haus, tetapi aku harus menunggu ayahku datang dan menghabisinya setelah sampai di rumah. Saat itulah kekasihku mendekatiku. Mungkin karena melihatku gelisah, kekasihku (yang saat itu belum menjadi kekasihku) bertanya apa yang menyebabkan aku gelisah.

“Aku menunggu Ayah.” Jawabku.

“Tunggulah di sini agar kau tidak capai.” Katanya sambil menawarkan gubuknya.

“Aku tidak capai. Aku haus.”

“Kau mau ini?”

Mata kekasihku mengeluarkan air tetapi bukan air mata. Air itu keluar begitu saja dari sela-sela matanya. Air itu kuminum. Air yang keluar dari matanya yang berkilau. Itulah sodomi pertamaku. Ia menyodomi aku dengan matanya.

Di saat yang lain, air yang keluar dari matanya sudah tidak lagi mampu memuaskan rasa hausku. Kekasihku membuka kaosnya, juga kutangnya sehingga tampaklah dadanya yang bidang. Dari tubuhnya yang kekar keluar air. Bukan keringat. Aku meminumnya. Kekasihku meyodomi aku dengan dadanya.

Bahkan puting payudaranya ia sodorkan jika aku terlihat belum puas meminum air yang keluar dari mata dan tubuhnya. Puting kekasihku hitam mengkal. Dia menetekiku. Bukan dengan susu tetapi dengan air yang keluar dari putingnya. Aku meminumnya. Kekasihku menyodomi aku dengan putingnya.

Mulanya, saat ia menyodomiku dengan matanya, aku menjilati begitu saja air yang keluar dari mata kekasihku itu. Karena saat itu aku takut air itu akan berasa hambar atau bahkan beracun. Tetapi begitu ujung lidahku menyentuhnya, kurasakan kenikmatan dan sensasi yang teramat dalam. Kujilat, kuhisap, kukecap, kuteguk, kuminum seluruh air yang keluar dari tubuhnya.

Saat aku meminum air yang keluar dari tubuhnya, aku merasa bagai pelaut yang terombang-ambing di tengah lautan setelah kapalnya karam terhempas ombak dan badai. Pelaut tersebut merasa haus dan ingin minum untuk memuaskan dahaganya. Tetapi sayang, tidak ada apapun di sana yang dapat meredakan dahaganya selain air lautan. Tanpa pikir panjang, pelaut tersebut meminum air lautan. Terus dan terus tanpa pernah tahu bahwa air lautan membuat pelaut meraskakan kehausan yang tak terpuaskan.

Kini kekasihku semakin liar. Dia tak hanya muncul sebagai tukang potong rambut yang sehari-hari mangkal di tempat prakteknya, di pondok di samping sekolah. Dengan mengendap-endap dia muncul dari balik kabut putih, menyeruak di antara sekian banyak fantasi yang tercecer di dalam mimpi, bahkan muncul secara terang-terangan pada diri setiap orang.

Kekasihku muncul pada setiap majalah, tabloid dan koran yang aku baca. Kekasihku muncul dalam setiap siaran radio yang aku dengarkan, siaran televisi yang aku tonton, juga dalam game PS yang sedang aku mainkan. Kekasihku juga muncul di setiap spanduk-spanduk yang berjajar di pinggir jalan. Ia muncul pada billboard-billboard mewah bahkan website di internet. Tentu saja ia lakukan itu semua tak lain adalah untuk menuntaskan rasa hausku yang semakin akut. Kekasihku datang untuk menyodomiku dengan mata, dada dan putingnya.

Suatu kali dan ini yang membuatku shock, kekasihku muncul dalam diri guru biologiku yang sedang mengajar. Kali ini kekasihku tidak hanya bermaksud untuk menyodomi aku dengan matanya, dengan dadanya ataupun dengan putingnya melainkan dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berada di balik celana kekasihku.

Tanpa malu ia membuka celananya di hadapanku dan murid-murid yang lain. Sesuatu itu berbentuk silinder, berukuran panjang dua puluh centimeter dan tergantung di pangkal pahanya.

“Kau pasti haus. Kau harus mencobanya.” Kata kekasihku.

Aku menyambut baik tawarannya dan tanpa ragu segera kusesap benda yang menggantung pada pangkal paha kekasihku. Aku kehausan.

“Apa ini? Mana airnya?” Tanyaku bingung pada kekasihku. Sebab selama kusesap benda yang menggantung pada pangkal paha kekasihku itu, tak kudapati sekalipun benda tersebut mengeluarkan air.

“Kau harus menghisapnya dengan cukup lama.”

“Kenapa harus begitu? Kenapa begitu susah?”

“Kau harus berusaha, Sayang” Kata kekasihku mesrah tanpa memberikan penjelasan.

Setelah satu jam aku bergelut dan menyesap benda yang tergantung pada pangkal paha kekasihku, aku capek dan berpeluh. Tampaknya kekasihku juga, ia capek, berpeluh dan menegang. Dan di saat itulah, benda yang menggantung pada pangkal paha kekasihku mengeluarkan air.

Segera kuminum air itu. Segar sekali rasanya. Rasa hausku terpuaskan di detik itu. Setelahnya? Siapa yang tahu.

“Aku suka benda ini. Apa namanya?” Tanyaku.

“Penis.”

Itulah saat pertama kalinya kekasihku menyodomiku dengan penis. Dan setelahnya, setiap dia muncul pada tubuh-tubuh yang lain, bahkan mungkin juga tubuh teman-temanku, aku selalu memintanya untuk menyodomiku dengan penis.

 

*****

“Kekasihku, aku haus.”

Sesaat lagi alunan kebo giro akan menggiring aku ke dalam prosesi perhikahan. Tetapi pernikahan bukan dengan kekasihku. Aku harus menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Aku tidak mencintai dia. Sebab dia bukan kekasihku. Sebab dia tidak tampan seperti kekasihku. Sebab dia tidak bisa menawarkan hausku seperti kekasihku melakukannya…………….

Nikah… Kawin… Sex… Gulat Ranjang…. Persatuan antara dua manusia.

……………Sebab tidak mungkin bagi diriku untuk menikah, membentuk suatu ikatan dan bersatu dengan kekasihku. Apapun bentuknya. Fisik, batin bahkan pikiran. Orant tuaku tidak menyetujuinya sebab persatuanku dengan kekasihku adalah persatuan yang tidak normal. Sebab aku mencintai kekasihku tetapi aku tidak pernah tahu apakah kekasihku mencintaiku atau tidak. Sebab aku laki-laki.

Leces, 20 Juli 2004.

11 Responses to “(Sebab) Aku Laki-Laki”

  1. on 06 Feb 2008 at 09:33Deden

    HOHOHOHOHOH
    …..
    T_t….
    SERU JG TP KURANG KLIMAKS……
    WEQ……(T-T)….

  2. on 30 Mar 2008 at 12:35Angga

    Haaaaaa… Jadi si tokoh utama lekong ya

  3. on 02 Apr 2008 at 17:12Stebby Julionatan

    terima kasih atas commet-commentnya

  4. on 23 May 2008 at 14:33Nyochan

    Hmmmm…
    Anal sex plus sodomi nich ceritanya?
    Oke lah.. meskipun sebage cewe saya lebih suka adegan lesbian (coz I am, haha)
    Rajin2 nulis dan tingkatkan kualitas yah! Jangan takut bereksplorasi di luar batas. TApi jangan juga terus2an ngeliat hubungan sesama jenis hanya dari segi hasrat, passion atau seks. Thx. Lam kenal.

  5. on 11 Jun 2008 at 09:20Lilc

    Biaza aja
    Malah trkezan vulgar and ngebingungin

  6. on 11 Jun 2008 at 19:53BonX

    ok… tenang saja, saya selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas tulisan saya. ternyata, menulis cerita tentang homoseksualitas bukanlah keahlian saya. *sedih* hehehehe

  7. on 08 Jul 2008 at 15:55dede hendi

    ceritanya vulgar banget ya…
    kalau cerita yang bagus dikit kek

  8. on 20 Aug 2008 at 22:22alin

    hehehe,,, gw sich oke-oke aja dgn tipe cerita begini, daripada yang bahasanya mentari dan rembulan menari-nari diantara pelangi… huexxx

  9. on 22 Aug 2008 at 07:26BonX

    hehehe,,, makasih ya, lin.

  10. on 16 Sep 2008 at 14:24indah

    boleh juga, berani dalam menceritakan sesuatu secara vulgar dan sangat jelas.. :-)

  11. on 16 Sep 2008 at 20:57BonX

    terima kasih, ndah… :)

Tinggalkan Komentar