Saat Subuh di Kahayan
September 4th, 2007 by verra
Mendung mulai merambah ke horison langit. Agaknya hujan akan mengguyur pagi ini. Mobil yang kutumpangi sampai di pelataran seberang base camp. Sebentar lagi jarum jam menunjukan pukul dua tepat. Suasana yang tak jauh berbeda seperti ketika enam tahun lalu. Hutan-hutan masih tampak lebat meski sebagian pohon telah ditebang untuk diekspor kayunya. Debur sapa sungai kapuas tetap setia mengalun walaupun terdengar resah. Entahlah apa yang terjadi sejak kutinggalkan tanah Kaharingan.
Aku menghela napas lega. Tak terlihat penduduk melakukan upacara ritual. Pasalnya, aku tidak mencium bau daging babi tatkala melintasi area dapur umum. Atau biasanya para uma berkeliling menjajakan dagangannya yang tentu saja berisi daging babi dan celeng. Hiiiyyy…..sangat menjijikan! Pernah suatu kali aku muntah saat menyaksikan ritual peringatan kematian seorang penduduk yang menyajikan daging babi untuk disantap.
Kini sudah sedikit berbeda. Barangkali karena sebagian penduduk base camp adalah orang kota yang telah mengenyam pendidikan. Namun, aku sempat menjumpai sekelompok penduduk yang primitif spiritual di kampung seberang ketika Paman Argo mengajakku mampir sebentar ke rumah kerabatnya. Diam-diam kuperhatikan Paman lewat kaca spion. Dia masih terlihat tampan. Pasti dulu tak satupun gadis-gadis yang menolak cintanya. Menurut cerita Mama memang begitu. Yah, mungkin kecuali Mama yang tak sedikitpun tertarik pada Paman. Ah!sudahlah. untuk apa aku mengingat-ingat nostalgia.
“mau turun dimana Non..?” Aku terlonjak. Ingin turun tapi takut. Penampilan baruku pasti akan membuat semua orang kaget. Aduh bagaimana ya….?
“ apa mau ditelponin Bapak, Non..?” Aku mengangguk. Mungkin lebih baik begitu. Paman Argo segera mengambil handphonenya. Kuharap Papa cepat datang. Ah, itu dia!
“ turunlah Tanti….!” perlahan kubuka pintu mobil. Mata Papa membulat waktu melihat penampilanku. “ Tantiiii???kau…”
“ ya Pah…Tanti memutuskan untuk berhijab.” Kataku mantap.”Sudahlah, ayo cepat ke rumah!sebelum orang lain melihatmu..” Sepertinya Papa sangat khawatir karena kami masih berada di wilayah hulu Barito Papa menarik tanganku. Aku sampai lupa mengucapkan terima kasih pada Paman Argo.Kutatap sebuah gedung sederhana bertingkat satu lantai. Pondasinya kokoh walaupun terbuat dari kayu. Memang begitulah rata-rata rumah di hulu Barito. “ Selama liburan kau tak boleh ke Barito…” kata Papa ketika kami telah sampai di dalam rumah. “ kenapa Pa?”
“ Bahaya! Penduduk bisa menyangkamu orang asing. Kau tahu kan mereka tidak pernah mau menerima ajaran baru di kampung ini..”
“ Tapi Pa…Tanti pulang justru karena rindu Barito…Tanti ingin bertemu Nini..Barito kan tak jauh, Tanti hanya tinggal menyebrang sungai di belakang rumah kita. Papa takut, Tanti akan berdakwah di sini? Bukankan Papa sendiri seorang muslim? Lantas apa yang Papa lakukan selama bertahun-tahun sementara penduduk masih dalam keadaan musyrik?” wajah Papa memerah. Gurat kepedihan begitu tersirat di matanya.
“ Papa tak kuasa melawan mereka yang kadang menggunakan kekuatan ghaib…Pernah suatu kali Papa mengajari anak-anak mengaji di kampung Barito, ternyata penduduk lainnya tertarik untuk belajar Islam pada Papa, bahkan sebagian karyawan Papa telah menjadi muslim. Beberapa hari kemudian Mama terkena terserang gatal-gatal seperti kudisan. Sudah berobat sampai lima kali ke dokter spesialis tapi tak kunjung sembuh. Akhirnya Papa terpaksa mencari pengobatan alternatif..kelak Papa tahu bahwa Mama kena guna-guna “kenang Papa. Hatiku miris. Kenapa papa tidak pernah cerita padaku? Padahal tiap kali kita sering berkirim email.
“ Siapa yang berani melakukan perbuatan laknat itu Pa?”
“ Ya..siapa lagi kalau bukan Pak Dayau, kepala suku Kaharingan ini! Seandainya pun Papa bisa melumpuhkan kekuatannya…” Aku mengerti, memang tak seorangpun berani melawannya. Dialah yang paling fanatik menganut kaharingan. Siapapun yang berusaha ‘mengusik’ ketenangan penduduk Kaharingan, dia tak segan-segan mengirimkan guna-guna, teluh, bahkan santet! Ih, naudzubillah…
“ Papa yakin, Pak Dayau yang melakukannya?” Papa terlihat ragu. “ Entahlah, Tanti..Tapi siapa lagi kalau bukan dia!Di kampung ini dialah yang paling berkuasa. “ Dimana Mama sekarang Pa?”
“ Ada di rumah Nini…” Papa menangkap gelisah di wajahku. “ Tenanglah…Nini sudah muslim sejak setahun lalu…” Phufh!Syukurlah…
“ Tanti harus ke sana Pa…Tanti ingin melihat Mama.”
“ Tidak!terlalu berbahaya Tanti! Apalagi kemarin baru saja terjadi perkelahian antara suku kita dan orang madura.”
Aku mendengus kesal. Papa terlalu protect!
####
Fajar belum terlalu terang. Aku segera mengambil ransel. Papa pasti masih terlelap. Rumah Nini tak begitu jauh. Kurasa tak perlu mengajak Paman Argo. Perlahan kuturuni anak tangga yang lumayan tinggi karena rumahku berbentuk rumah panggung. Sama seperti rumah pada umumnya di kampung Kaharingan. Aku memakai mantel dan menutupi wajahku dengan cadar. Aku tak ingin penduduk mengenaliku. Pagi-pagi begini mereka sudah bangun kemudian menjajakan dagangannya. Di tepi sungai, nampak kapal- kapal ikan telah berlabuh. Sepertinya kapal milik orang Madura… Hatiku bersorak. Syukurlah! Bukankah mereka semua muslim!
“ Assalamualaikum…” seorang pria berbaju loreng hitam putih menyapaku. Aku menebar senyum. “ Wa’alaikumsalam…. Maaf Anda muslim?” dia mengangguk pelan. “ Subuh begini hendak kamana?” ups! Dia bisa bahasa Kaharingan. “ Maaf, Anda…”
“ Saya orang Madura…tapi lahir di Kaharingan 25 tahun yang lalu…”
“ Oww…Baiklah, bisa antar saya ke kampung Kahayan ?” Aku menatapnya. Ada sebilah ragu di matanya. “ Tenang…saya gadis Kahayan.”
“ Baiklah… Naiklah ke perahu!”
Pria itu melepaskan tali pengikat perahu di sebatang pohon. Lantas perlahan mendayung perahunya. Kupikir dia terlalu tampan untuk menjadi seorang yang menyewakan perahu. Wajahnya mengingatkan aku pada sosok yang kukenal 12 tahun silam. Sahabatku, Umar. Dia juga pemuda Madura. Aku heran, kenapa Papa tak menyukai orang Madura. Padahal mereka adalah saudara satu darah. Makanya Papa mengirimku ke Kota Palangkaraya. Selama enam tahun aku menimba ilmu di sana yang kelak kusebarkan buahnya di tanah kelahiranku.
“Hati-hati Nona…Akhir-akhir ini sering terjadi pertikaian di kampung seberang..Apalagi Anda seorang muslim..” Aku terkesiap.” Mereka bisa saling bebunuhan..Walaupun Nona ini gadis Kahayan, mungkin saja mereka tak akan mengenali…” aku tetap diam mendengarkan pemuda bertubuh kekar itu bercerita. “ Kalau boleh saya berpendapat, sebaiknya Sejenak Anda melepas tudung..”
“ APA? TAK MUNGKINLAH…Hijab ini kewajiban saya..”
“ Jangan emosi Nona…saya hanya menyarankan…Orang Kahayan tentunya tak suka jika seorang muslim fanatik selayaknya Nona memasuki wilayahnya..” Aku mulai terpancing. “ Sudahlah! Saya lebih tahu tentang Kahayan…Lagipula apa yang ditakutkan?hanya Allah-lah yang patut kita takutkan..Murka-Nya tentu lebih besar jika saya sampai melepas.”
“ Anda gadis yang tegas dan komitmen.”
“ Jangan terlalu memuji…”
“ itu kenyataan bukan pujian.” Phufh! Aku memilih bungkam. Tak ada gunanya memperdebatkan hal sepele.
Perjalanan semakin jauh. Kampung Kaharingan sudah tak nampak. Kanan kiri sungai hanya serupa hutan belukar. Pohon-pohon tinggi besar dengan akar yang menjalar. Kadang aku bergidik ngeri melihat ular bergelantunangan di pohon.
“ Kita sampai. Saya hanya bisa mengantar Anda hingga di pinggir sungai. Artinya anda harus berjalan kurang lebih 300 meter melewati hutan larangan…” Cepat-cepat aku turun dari perahu tanpa ku pedulikan ocehan pemuda itu. Selintas kulihat dia menarik perahunya ke tengah sungai.
“ TUNGGUUUU….!!!!”
“ ADA APA LAGI….?” tanyanya dari kejauhan.
“ APA MAKSUDMU HUTAN LARANGAN….?”
” BERHATI-HATI SAJALAH…!SUKU PRIMITIF KAHAYAN MASIH BERSARANG DI SANA!!SAMPAI JUMPA!” Dia mengayuh perahunya dengan cepat. Aku menangkap keganjilan…Ah!sudahlah..Lebih baik sekarang aku melanjutkan perjalanan.
Sesekali mataku melirik ke atas dan ke samping. Barangkali ada seekor ular atau babi yang mengintaiku. Dua binatang itu sangat ku takuti. Ih..syeraaammm juga hutan ini. Gelap lagi! Untung aku membawa senter kecil. SREEKK!!! Bulu kudukku berdiri. Ada suara di belakangku. SREEEKK!!SREEEKK!!!SREKKK! Suaranya semakin jelas. Aku tak berani menengok ke belakang. Namun….WUUUSSSS!!! Tiba-tiba angin bertiup kencang. WUUUSSSS!!!!WUUUUSSSS!!!! Aku berlari mencari perlindungan. DUG! Kakiku tersandung batu. Aku jatuh tersungkur. Astaghfirullah!senterku hilang!!! Dimana senterku??? Aku meraba-raba tanah hutan. Jangan sampai aku kehilangan penerangan. aku harus menemukannya!Hei!aku menyentuh sesuatu. Apa ini? Bentuknya seperti kaki manusia. Satu…dua…tiga….empat….lima…….Ya Allah! Lima pasang! Tapi aku tak bisa melihatnya. Kaki manusia???? Jangan-jangannn…..
“ TIDAKKK!!!!!LEPASKANNN AKU!!!AKHHH…!” terlambat mereka membungkam mulutku. Aku tak bisa memberontak.
“ Ayo ikuttt!!!”
“Apa salahku???Kenapa kalian membawaku????”
“Sudah!Diam!!!Nanti kau akan tahu!!!”
“Tidak lepaskan akuuuu!!!!”
“Akh!banyak bicara!!!Bius dia!!!!” Salah satu dari mereka menyuntik nadiku. Dalam hitungan detik, aku merasa dunia berwarna putih…
#####
Agaknya ada secercah sinar menyusup kornea mataku. Seketika aku tersadar bahwa tempat ini asing! Tanganku terikat pada sebatang pohon. Kutatap sekelilingku. Ada api membara tepat di depanku! Saat ini nyata aku benar-benar melihat suku paling primitif di Indonesia. Astaghfirullah!separuh aurat mereka terbuka. Seorang lelaki tua mendekat padaku. Matanya menyeringai bagaikan elang yang hendak menerkam. Di kepalanya ada mahkota bulu. Ya Allah!dia sukuku!
” Siapakah kau, wahai orang asing???”
“ Saya bukan orang asing!saya gadis Dayak!” Lelaki itu tertawa lebar.
“ Ha…ha…haa…ha…kau ingin mengelabuhi kami?jangan mimpi!Kau pasti suku Madura!”
“ Apa yang membuatmu yakin?” Dia kian merapatkan wajahnya ke wajahku, aku menunduk. “ Dengar gadis manis…Seorang dayak kahayan tak ada yang muslim..APA KAU TAHU ITU HAH!!”
“ Lantas kenapa kalian membenci orang madura..?”
“ Kau ingin tahu..? Harik!keluarkan dia!” Tak lama keluarlah seorang wanita kahayan yang tubuhnya rapat terbalut kain. Perlahan dia mendongakan wajahnya. Aku terlonjak. Wanita itu, aku mengenalinya….
“ Mamaaa????” Semua menatapku penuh keheranan. “ Siapa kau sebenarnya?dan apa hubunganmu dengan wanita itu?”
“ Bukankah tadi sudah kukatakan, aku gadis kahayan!Aku putrinya!”
“ Apa?!?!?” kudengar mereka saling berbisik. Semburat sesal terlihat di wajah lelaki yang menangkapku. “ Jadi kau keturunan langsung Datuk Kari Abdullah…Tapi kau..”
“ Ya, aku muslim. Lagi pula apa ada yang salah denganku?Memilih agama adalah hak asasi manusia…”
“ Baiklah!Harik, lepaskan dia!” Dia melepaskan tali yang mengikat tanganku. Lalu aku menjelaskan pada mereka tentang statusku, agamaku, hukum di Indonesia, serta sampai perubahan jaman. “ …ini bukan lagi jaman purba di mana hukum rimba masih berlaku. Jika ada seoarang yang bersalah maka pihak berwajiblah yang berhak menangani untuk kemudian diadili….” Pengaruh mendiang kakekku cukup kuat di kampung ini. Tak heran mereka begitu terbius dengan apa yang ku katakan. Meski kutahu sebagian dari mereka tak mengerti apa yang kuucapkan. Tapi lelaki tua yang menyekapku tadi sangat mengerti. Dia sedikit lebih pintar dari yang lain. “….teknologi sudah berkembang sedemikian pesat, hak asasi manusia telah ditegakkan, jadi perbedaan suku, agama, dan ras bukan hal yang harus dipermasalahkan lagi…Justru dengan perbedaan kita harus semakin mempererat persatuan, bukankah perbedaan merupakan kekayaan buat negara kita…” Nampak lelaki tua itu manggut-manggut. Dia paham dengan penjelasanku. Dan dia pun berjanji akan menyampaikan pada teman-teman sukunya.
Aku mengalihkan pembicaraan. “ Maaf, Anda siapa? Dan kenapa mamaku bisa berada di sini..?”
“ Aku adalah kepala suku Kaharingan…Panggil saja Kai..” Masya Allah! Yang sedang kuhadapi, Pak Dayau! Tapi kenapa dia menyuruhku memanggil dengan sebutan Kai? Bukankah…..
“ Sudah bertahun-tahun…aku dan kakekmu, Datuk Kari, bersahabat. Keluarganya sudah seperti keluargaku. Jadi tidak salah kan jika akupun ingin menganggapmu sebagai cucuku..?”
Apa? Sahabat? Tidak mungkin! Papa saja sangat tidak menyukai Pak Dayau. Bahkan beliau mencurigai Pak Dayau yang mengguna-gunai mama…
“ Lihat mamamu…Kasihan dia…Tempo hari Nini membawa kemari. Dia memintaku untuk mengobatinya. Tapi aku tak sanggup…orang yang mengguna-gunai mamamu memakai ilmu hitam, sampai mamamu hilang ingatan…” DEG! Darahku terkesiap. Amnesia? Apa karena ini Papa melarangku kemari? Sungguh aneh! Papa mencurigai Pak Dayau sementara Nini sama sekali tidak. Kalu bukan dia, siapa yang melakukan perbuatan sesat itu…?
“ yang jelas pelakunya pasti orang Madura, makanya kami tak pernah mau menerima kehadiran mereka…”
“ Bagaimana mulanya, sehingga Anda begitu yakin?”
“ Tentu saja! Karena mereka iri pada suku Kahayan. Ikan – ikan hasil tangkapan kami lebih laku di jual, banyak pula diantara kami yang diterima bekerja sebagai penebang pohon oleh PT.Tunggal Pamenang, dan problem pemuda kahayan yang selalu menang dalam memperebutkan seorang gadis…”
Cuma masalah sepele! Tapi dibesar-besarkan. Memang sangat mengkhawatirkan. Beginilah kerasnya sukuku. Tak mau mengalah. Tiba-tiba seorang Kahayan lain lari tergopoh-gopoh…
“ Celaka….celaka!”
“ Narai gih?” mereka bercakap-cakap dengan bahasa Kahayan. “ Madura Kahayan kelahi….!”
“ apa sebabnya?”
“ mereka menuduh gadisnya telah diperkosa pemuda kita!”
“ APA!KURANG AJAR!BERANI PULA MEREKA BERUCAP BEGITU!!AYO KITA HADAPI MEEREKAA!!”
“ ITU MEEREKA SEDANG MENDEKAT KEMARI!!!” Aku sendiri bingung. Apa yang harus kulakukan?
“ Harik!kau bawa gadis ini dan mamanya ke tempat yang aman!cepat!” Harik menarik tanganku. Aku agak risih. Dia membawaku dan mama ke suatu tempat yang lumayan jauh dari lokasi tempatku disekap pertama kali. Sebuah rumah di atas pohon sehingga aku bisa melihat ke arah manapun yang kusuka. Aku benar-benar dapat melihat pertikaian itu! Astaghfirullah! Mereka menggunakan senjata tajam, semacam mandau! Aku kalang kabut. Semua ini tak boleh berlarut-larut. Tapi apa yang harus kulakukan? Telpon Papa..ya Papa. Ku rogoh saku celanaku. Ya Allah!aku tidak membawa HP.
“ Hendak kamana, hai ulu bawi?” Harik mencegatku turun dari rumah pohon.
“ Tak kah kau lihat? Mereka saling bebunuhan!”
“ Jangan bandel!kau perempuan!” Oh, dia juga bisa bahasa Indonesia rupanya…
“ Tidak!aku harus turun!kau tahu, kita bertikai dengan saudara satu bangsa!lepaskan aku!!!”
“ Tidak akan!!” Harik terus mencegahku. Selintas aku menatap Mama. Matanya seolah menyuruhku untuk menghentikan persengketaan ini. Aku semakin yakin.
“ Tantiiii!!!!!” Suara itu….Papa? ya itu memang Papa.
“ Biarkan aku turun!Papa menungguku di bawah!” Akhirnya Harik melepaskan aku. Dia tidak mengikutiku karena harus menjaga Mama.
Perkelahian Madura Kahayan sudah reda. Ternyata Papa membawa polisi sehingga semua bisa diatasi. Aku lega. Namun aku masih penasaran sebenarnya siapa yang mengguna-gunai Mama… Kulihat polisi sedang mendamaikan kedua belah pihak dan kemudian membawa Pak Dayau serta kepala suku Madura. “ Terima kasih atas kerjasamanya Pak. Kami mohon pamit untuk membawa mereka ke kantor polisi agar kami bisa mendapat keterangan yang jelas..”
“ ya sama-sama Pak, silakan…!” Papa menyalami polisi-polisi tersebut. “ Permisi Pak!”
Panas matahari telah menggusur pagi. Aku tak lagi melihat gelap karena ternyata aku telah berada di kampung Kahayan bukan di hutan larangan. Harik mengendong Mama turun dari rumah pohon. Lalu mendudukan di kursi roda.
” Pa…” Papa menganggukan kepala. “ Tak apa, semuanya pasti selesai…Papa tahu dimana mamamu harus berobat…” aku mengerutkan kening. Mudah-mudahan Papa tak membawa Mama kepada seseorang semacam Pak Dayau.“ Tapi siapa yang melakukan….”
“ Argo yang melakukan. “ kata Papa mantap. Bola mataku membulat. Paman Argo? Bagaimana mungkin…? selama ini beliau begitu baik padaku…
“ Kau mungkin tak percaya, tapi itulah kenyataannya. Argo diam-diam masih menyimpan dendam pada Papa…karena…” Papa menghentikan kalimatnya. Sejenak menatap Mama. “ karena apa Pa..?”
“ karena Argo juga mencintai Mama…namun mama lebih memilih Papa..”
Benakku melayang pada cerita Mama beberapa tahun yang lalu. Aku tak pernah menduga kalau bara di hati Paman Argo belum juga melepuh.
“ Sudahlah…ayo kita bawa Mama pulang. Seseorang telah menunggu untuk mengobatinya di rumah…” Aku mengangguk. Lantas kulirik Harik yang sejak tadi memandangku. “ Terima kasih Harik….” Dia menyunggingkan seulas senyum. Pertama kali….
#####
Bagus sekali….
wah,, bagus….
apapun bentuknya perbedaan kita harus dewasa menyikapi dan jangan bersikap apatis apalagi su’udzon. Setipa orang berhak menentukan langkah hidupnya dan mereka tidak pernah tahu akan terlahir sebagai suku bangsa apa atau dengan karakteristik bagaimana. Apapun kita harus bisa mensyukuri keadaan dan menerima dengan baik semua perbedaan. Belajar memaafkan mungkin tidak bisa memperbaiki masa lalu tapi bisa memperbaiki masa depan.