KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kepenatan setelah menjalani rutinitas
lepas sudah begitu gulir air mengguyur
badan.. butir debu berkalut minyak
hilang tersapu busa sabun. seperti
therapy dingin yang menyegarkan hingga
ke batang otak dan lipatan-lipatannya..

handuk terselempang di pinggang,
melangkah segera menuju kamar, dan
samar terendus aroma pengharum ruang
dari dalam. mulai terasa jauh lebih
dingin sekarang..

sambil mengenakan pakaian santai
sekenanya, pandanganku terarah
kesekeliling ruangan.. kamar ini hanya
satu kali seminggu aku tempati,
mungkinkah ia berubah? aku kitari
setiap celah dengan mataku..

dinding yang sama, berkabut coklat
dengan tempelan-tempelan gambar tokoh
favorit masa kecilku..

tempat tidur yang sama, seprei yang
baru diganti tidak merubah bentuknya
yang sudah mulai terlihat tua..

pintu coklat dengan unfinishing touch-
nya terbuka lebar membiarkan angin
menerobos meniup kelambu warna merah
darah berlapis putih..

cermin..
ada sesuatu di cermin..
berpikir sesaat tentang dying message,
pesan kematian yang sengaja dituliskan
seseorang sebelum mati..
siapa yang bunuh diri di kamarku?
pikiranku terlalu melambung tinggi
rupanya..

kertas lusuh dengan tulisan tangan yang
tidak kukenal..

kalimat pertama..
<seperti pernah kubaca sebelumnya.. >

kalimat kedua..
<aku kenal gaya kalimat ini.. >

paragraf pertama habis sudah kubaca..
<ini surat cinta masa kecilku, kan?! bagaimana bisa ada disini? >

pantun baris tengah berbunyi begini…
” nangka ya nangka, nek mateng legi,,
kanca ya kanca, nek seneng dadi..”

( nangka ya nangka, kalau matang manis,,
teman ya teman, kalau senang jadi )

konyolnya aku waktu itu..
tersipu..
ah, aku malu..

surat cinta monyet-ku waktu dulu,
mengingatkan aku saat-saat ditolak
gadis kecil pujaanku..
seperti apa sekarang dia?

ternyata kakakku yang meletakkan surat
cinta itu, ditemukannya diantara
lipatan barang-barang kurang berguna..
“biar kamu ingat gimana kamu dulu!”
alasannya.

manusia berubah, seiring waktu.. hal-
hal yang dulu kita anggap kewajaran
bisa saja jadi konyol dan menggelikan
saat ini.. mungkinkah aku dimasa yang
akan datang menganggap tingkah laku-ku
sekarang adalah kekonyolan? ataukah
kita akan merasa stagnant disini..
seperti inikah aku yang dewasa nantinya?
just let it go by the flow..

One Response to “Surat Cinta di Muka Cermin..”

  1. on 19 Mar 2008 at 14:39ima

    Ceritanya bagus juga sayang singkat

Tinggalkan Komentar